Andalan
Diposkan pada ODOP

#ODOP20 Parahyangan Scenery on The Lodaya Train

Cara lain menikmati pemandangan bumi parahyangan adalah dengan naik kereta. Melihat dari balik jendela kereta api keindahan yang tersembunyi. Sebab, umumnya jalur kereta api “tersembunyi”. Tidak seperti jalan raya yang sudah maju.

Kali ini, saya akan membagi apa yang saya lihat dari kereta api Lodaya dari Bandung dengan tujuan akhir Solo Balapan. Perjalanan saya sendiri akan berakhir di Stasiun Klaten, sebelum Solo untuk pulang ke kampung halaman.

Kereta api berangkat dari Bandung pukul 07.20 WIB tanpa delay. Sebuah reformasi perkeretaapian yang sangat terasa disamping kenyamanan dan keamanan. Perubahan yang begitu dinikmati oleh para pengguna kereta utamanya sejak Dirut KA dijabat oleh Pak Ignasius Jonan yang sekarang ditunjuk menjadi Menteri ESDM setelah sebelumnya menjabat Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.

Ular besi gesit berjalan di atas jalurnya meninggalkan Kota Bandung. Pemandangan awal yang saya lihat adalah bangunan semi hingga permanen membelakangi jalur kereta. Sepertinya bangunan ini liar atau berdiri di atas lahan PT KAI. Membayangkan ada sebuah lahan semacam bahu jalan di jalan raya, baru jalan dan rumah menghadap ke arah jalur kereta. Pasti lebih cantik dilihat dari atas kereta. Di beberapa titik memang sudah ada cuma sebentar saja.

Jpeg
Stadiin GBLA dari kereta Lodaya (dok. pri)

Meninggalkan bangunan padat di Kota Bandung menyambut hamparan sawah padi menghijau. Nun kejauhan Stadion Gelora Bandung Lautan Api kebanggaan warga Bandung menyembul seperti kapsul raksasa atau siput raksasa ya… Mulai dari sini panorama akan berganti lansekap alami yang memanjakan mata.

“Mama…mama ada sawah!” tunjuk anak kecil girang kepada ibunya yang duduk di belakang saya. Lahan pertanian yang memang langka ditemui warga kota.

Jpeg
Jalan lingkar Nagreg dari atas Kereta Api Lodaya (dok. pri)

Rumah -rumah tradisional orang Sunda mulai menggantikan hunian modern. Bangunan yang bertahan ini akan mulai banyak dijumpai begitu masuk daerah Cicalengka. Rumah mungil semi panggung dengan dinding dari bambu. Di kiri kanannya kadang terdapat balong atau kolam ikan yang menambah kesan sejuk rumah. Sayangnya banyak rumah terkesan tak terawat dengan cat yang mulai pudar atau percikan tanah merah ke dinding yang tidak dibersihkan. Padahal ini unik.

Jpeg

Itu dulu ya ceritanya. Ini juga ditulis di atas kereta dengan keterbatasan sinyal.

Nantikan cerita selanjutnya. Don’t go anywhere 😀

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada lomba blogging, ODOP

Akhirnya Menemukan Tetralogi Buru Preloved di Prelo

Screenshot_2017-08-18-01-04-27

Hai Temans, apa kabar? Yang selalu semangat dan bergembira. Seperti saya yang lagi happy karena menemukan Tetralogi Buru incaran. Beberapa hari yang lalu, saya mengecek di beberapa toko buku online. Namun kecewa karena stok sudah tidak tersedia. Akhirnya berjodoh di Prelo, jual beli barang bekas berkualitas.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini fenomenal banget. Bahkan kutipan-kutipan dalam bukunya sering dijadikan qoute favorit mereka yang gemar menulis. Seperti saya juga yang mulai mengenal novel-novel Pram waktu kuliah. Saat itu baca novel pinjaman. Setelah menikah dan pindah ke rumah sendiri, pingin banget Tetralogi Buru ini jadi koleksi perpustakaan mini di rumah. Sampai jadi salahsatu daftar resolusi 2017 hihi… 😀 Tapi ya gitu, karena buku lama jadi kesulitan untuk menemukan satu set tetralogi yang berisi empat buku. Mungkin di Palasari ada dengan harga relatif murah tapi saya tidak suka dengan buku KW. Cara membajak seperti ini saya tidak setuju kasihan banget sama penulisnya. Menulis dengan buah pikiran dan menguras energi yang dibalas dengan royalti tapi produknya malah diduplikat secara tidak bertanggung jawab.

Prelo ini menjamin banget kalau dagangannya original. Sebab, dagangan yang di upload penjual akan di review terlebih dahulu oleh tim Prelo. Kalau memang tidak masuk kriteria ya tidak bisa dipajang. Makanya senang banget ketemu Tetralogi Buru yang masih segel. Alasan dijual karena memiliki dua set. Wah, sampai alasan menjual juga ada. Keren ya, jadi kita sebagai pembeli juga tahu kenapa barang tersebut dijual. Kita juga tidak ragu membeli second.

Screenshot_2017-08-18-01-05-48

Selain buku, saya juga lagi mengincar mesin jahit portable. Karena lagi belajar membuat tas serut multifungsi. Dijahitnya sementara masih manual memakai tangan. Tidak rapi dan waktunya lama. Rencananya mau bikin banyak untuk souvenir bag. Kalau pakai mesin jahit beneran belum bisa mengoperasikan. Harganya juga lumayan. Makanya pilihannya jatuh ke mesin jahit mini portable bekasNah lho, di Prelo juga ada. Harganya sangat terjangkau 160 ribu rupiah.

20170819_080051
tas serut hasil uji coba

Begitu masuk ke aplikasi Prelo ini, lovelist saya langsung banyak banget. Sebagian di lovelist terlebih dahulu karena belinya harus disesuaikan dengan prioritas, ibu rumah tangga. Istilahnya langsung lapar mata kalau tidak bisa mengerem. Soalnya di Prelo, Tupperware juga ada. Perempuan mana yang tidak mengetahui merk ini, kayanya hampir semuanya tahu dan suka, ya. Saya sendiri bukan tipe orang yang suka belanja. Saya cenderung memiliki sedikit barang tapi yang awet. Ada istilah ada harga ada rupa. Mungkin itu yang cocok untuk menggambarkan Tupperware ini. Namun, di Prelo yang paling membuat tidak sabar, harganya yang jauh di bawah katalog. Sangat menggiurkan dech. Bunda, boleh cek sendiri, kok!

My Lovelist on Prelo, ada lagi kamus Bahasa Jerman second. Saya ini ibu rumah tangga yang banyak maunya. Sebelum menikah sudah mempunyai rencana untuk kursus Bahasa Jerman. Namun, Tuhan memberi skenario yang lain. Saya belum bisa membagi waktu dan memutuskan fokus pada anak dan keluarga terlebih dahulu. Setelah dirasa bisamempunyai cukup waktu, saya perlahan mencoba belajar bahasa Jerman secara otodidak dengan bantuan internet dan youtube. Tentu saja saya membutuhkan kamus donk. Sudah mengecek ke Toko buku tapi karena pertimbangan prioritas ditunda dulu beli kamusnya. Sampai akhirnya ada yang menawarkan Kamus Bahasa Jerman bekas. Tidak apa-apa toh kondisinya masih layak.

Screenshot_2017-08-19-06-38-48

Itu tadi sebagian lovelist saya di Prelo. Ngomong-ngomong tentang Prelo, kenapa harus belanja di Prelo?

  • Meskipun labelnya, jual beli barang bekas tapi tidak melulu barang yang dijual sudah dipakai. Ada keterangan barang masih baru 95-100% alias belum digunakan. Alasannya bisa karena tidak dipakai sampai kelebihan stok.
  • Harga lebih murah dan berkualitas. Setidaknya saya langsung tahu harus kemana mencari barang bekas idaman yang tidak mengecewakan.
  • Adanya kategori dan filter yang membuat belanja lebih efektif. Kategorinya women, men, beauty, book, gadget, antique, hobby, baby & kids, dan living. Filter-nya bisa berdasarkan urutan (populer, terkini, harga terendah, dan harga tertinggi), kondisi (masih baru 95-100%, sangat bagus 85-95%, bagus 70-85%, dan cukup <70%), free ongkos kirim, lokasi penjual, ukuran, dan rentang harga.
  • Gampang cara bertransaksi dan bayarnya.
  • Pas buat dompet ibu rumah tangga seperti saya.

Penasaran. Download Prelo sekarang, yuk. Lovelist barang incaran, Temans dan cobain belanja. Kalau ada yang cocok langsung chat dengan penjualnya dan klik beli. Nih, saya ada voucher Rp 25.000. Gunakan kode referral berikut ya:

rinadarmaRmh

Share juga pengalaman kamu menggunakan Prelo dan raih hadiahnya 🙂

 

 

header-blog-vol-2-mobile-rev

 

 

Andalan
Diposkan pada Echi's Wife, ODOP

#ODOP17 Perbedaan Karakter Anak

Bunda… Setiap anak itu unik. Kalau kata ibu saya, beda anak beda hati. Kalau anaknya dua ya hatinya dua. Mengerti maksudnya tidak? Jadi kira-kira begini, beda anak beda perlakuannya. Kita sebagai ibunya harus bisa membelah hati sesuai karakter mereka. Antara anak yang satu dengan yang lain tidak bisa diperlakukan sama. Makanya terkadang hasil didikan sama tapi anaknya tumbuh berbeda. Karena harus kita sadari meskipun anak terlahir kembar tapi sifat mereka berbeda.

Saya sedang belajar dan terus belajar dalam mendidik anak. Anak sulung saya perempuan dan adiknya laki-laki, terpaut umur dua tahun. Meskipun, sekarang masih balita justru yang rewel yang perempuan, si anak pertama. Kalau secara teori, yang besar yang mengalah, yang besar harus menjadi contoh. Memang benar tapi harus sesuai situasi dan kondisi juga ya, Bund.

20170505_120807
Foto: dok. pribadi

Anak Sulung, Si Pemimpin 

Anak sulung biasanya mendapat perhatian yang sangat dari orang tua, dari masa kehamilan hingga lahir. Karenanya, orang tua biasanya menaruh banyak harapan pada anak sulung. Harapan menjadi contoh bagi saudara yang lain maupun harapan jika tumbuh besar nanti. Jika tidak hati-hati kecenderungan orang tua ini akan menjadi beban baginya. Rata-rata karakter yang dimiliki si sulung adalah sosok yang dapat diandalkan, terstruktur, rapi, cenderung serius, penuh kendali, mencapai prestasi, dan berjiwa pemimpin.

Meski begitu sebagai orang tua kita tetap harus memberinya pilihan sesuai bakat dan kemampuannya. Biarkan juga dia berkembang optimal tanpa melulu dikte dari kita.

Anak Bungsu, Si Jenaka

Kerasa sih saya sama saya, ketika anak pertama, saya begitu detail dengan perkembangannya. Saya juga menanti-nanti, kapan ia tumbuh gigi, merangkak, berjalan, dan lainnya. Nah, giliran adiknya bukannya tidak memperhatikan ya tapi rasanya saya lebih percaya diri dalam mengasuh. Anak pun rasanya tumbuh dengan sendirinya. Karena perbedaan pola pengasuhan tersebut umumnya anak terkecil tumbuh menjadi pribadi menyenangkan, jenaka, ceria, rileks, mudah bergaul, sederhana, dan spontan.

Yang tidak boleh dilalaikan sebagai orang tua adalah tetap harus memupuk jiwa pemimpinnya. Apalagi kalau dia laki-laki. Meskipun dilahirkan bukan anak pertama tapi saya lebih mengarahkan jiwa pemimpin ini pada anak kedua. Boleh jadi secara urutan anak kedua saya laki-laki dan anak pertama perempuan. Tapi dalam pengasuhannya saya membaliknya. Seperti kata psikolog Valensia Gowanda, urutan lahir bukan hanya berdasarkan urutan kelahiran tetapi juga peran urutan lahir yang diberikan orang tua untuk anak. Seperti saya yang memperlakukan anak kedua sebagai pemimpin. Kalau bunda gimana?

Nah, selain karakter sulung dan bungsu, ada juga yang ditakdirkan menjadi anak tunggal. Anak tunggal ini biasanya perfeksionis dan umumnya serius. Karena mendapat curahan kasih sayang dari kedua orang tua, ia tumbuh dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, kurang bisa menyesuaikan dengan diri dengan kebutuhan teman sebayanya.

Jika memiliki anak tunggal, sebagai orangtua harus melatih empati maupun kemampuan negoisasi karena ia tidak memiliki kakak atau adik. Kita juga tidak boleh mempunyai banyak harapan kepada anak tunggal. Biarkan ia tetap mandiri dan bertumbuh dengan style-nya.

Beda lagi dengan anak tengah, si fleksibel. Karena mempunyai kakak dan adik, ia pun merasa lebih nyaman. Karenanya, anak tengah biasanya mudah menyesuaikan diri, mementingkan persahabatan, pendamai, namun cenderung “memberontak” atau tampil beda.

Sebagai orang tua kita harus menyediakan waktu ekstra untuk anak tengah agar ia tetap berekspresi sesuai gayanya. Memastikan ia juga disayang seperti kakak dan adiknya sehingga tidak minder dalam pergaulan.

Selain urutan kelahiran, menurut Valensia, jarak usia juga perlu dipertimbangkan. Misalnya jarak anak pertama dan kedua selisih lima tahun. Biasanya anak pertama akan memiliki sifat anak tunggal dan anak kedua menjadi si sulung.

Begitu kira-kira, bunda, meskipun begitu pola asuh tetap sesuaikan dengan kepribadian anak agar mereka tumbuh optimal menjadi generasi emas. Sebagai ibunya, kita adalah orang yang paling mengetahui tentang anak kita. Jadi ibu itu tidak gampang tapi tidak berarti susah juga. Semoga kita bisa menjadi ibu yang amanah buat anak-anak kita ya 🙂

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Echi's Wife, ODOP

#ODOP16 Refleksi 72TH Indonesia Kerja Bersama

72thindonesia

 

17 Agustus, 72 tahun yang lalu, para pendiri bangsa ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hari penuh semangat, penuh sukacita usai melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing. Cita-cita, impian bangsa segera terajut untuk lepas dari keterpurukan dan menjelma menjadi bangsa yang berdikari.

Bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri adalah salahsatu cita-cita presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Sebuah cita-cita mulia yang sudah seharusnya diteruskan oleh generasi mudanya.

Indonesia diberi modal anugerah kekayaan alam yang melimpah. Negara pemilik hutan tropis terluas ketiga di dunia. Negeri dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Modal alam yang harus diimbangi dengan sumberdaya manusia yang memadai.

Belum lama ini, Indonesia mengimpor garam, mengapa? Indonesia dengan sawah yang luas, tanah yang subur? Mengapa memasukkan beras dari negara lain? Kita juga mempunyai perkebunan tebu lalu kenapa mesti impor gula? Belum cabe yang harus membeli dari negara lain. Itu hanya salahsatu contoh masalah bangsa ini.

Impor dilakukan ketika stok yang ada tidak mencukupi kebutuhan dalam periode tertentu. Apakah berarti petani, nelayan tidak bekerja? Mereka bekerja kok setiap hari. Lalu bagaimana rasanya, setiap hari berpeluh dengan harapan harga jual hasil panen tinggi tapi anjlok karena digempur barang impor? Petani berjaya di negeri sendiri, kapan?

Teknologi yang harus digenjot oleh pemerintah. Kebanyakan masyarakat Indonesia di sektor agraris, maritim, bahkan pertambangan masih bekerja secara tradisional atau konvensional. Itulah salahsatu penyebab kita seperti kekurangan bahan pangan karena harus menunggu dari tanam sampai panen. Modernisasi harus masuk ke sektor ini. Sektor-sektor strategis bangsa ini. Pemerintah setidaknya bisa menyediakan banyak beasiswa untuk generasi muda di sektor ini untuk belajar di luar negeri lalu mengadaptasinya ke Indonesia. Kebanyakan lulusan luar negeri dengan jurusan tertentu terkadang malah bingung mau bekerja apa di Indonesia? Tugas pemerintah memfasilitasi ini agar aset bangsa dengan kecermelangan daya pikir mereka tidak diambil bangsa lain. Tapi untuk memajukan bangsa ini menjadi Macan Asia, visi Presiden Soeharto, presiden kedua Indonesia.

Presiden Joko Widodo mempunyai tugas berat karena nampaknya sebagian generasi muda terlena dengan era digital. Era serba mudah serba cepat bahkan era pasar global sudah memasuki Indonesia. Ketika dengan mudahnya kita menjumpai orang asing -bukan turis- yang bekerja di bumi pertiwi.

Mari kita dukung revolusi mental demi generasi emas Indonesia 2045, dan semangat bekerja maupun berkarya yang beliau tularkan lewat berbagai kesempatan.

Hari merdeka bukan hanya sekedar upacara, gegap gempita perlombaan, berburu diskon independent day, tapi lebih dari itu. Mari isi kemerdekaan dengan peran kita masing-masing. Setiap peran boleh berbeda tugas tapi satu tujuan. Indonesia. Sebab cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

 

Selamat 72 tahun Indonesiaku,

Semoga kami bisa menjadi pengemban amanah yang kau titipkan,

Indonesia yang gemah ripah loh jinawi – kekayaan alam yang berlimpah,

Sehingga terwujud Indonesia yang baldatun thoyyibatun warrobun ghofurrun – negeri yang aman tenteram dalam naungan ridho dan ampunan Alloh

Amiin…

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Book Review, ODOP

#ODOP15 [Book Review] Critical Eleven; Skenario Tuhan

20170814_064559

Judul Critical Eleven

A novel by Ika Natassa

Paperback, 344 pages

Published August 10th 2015 by PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN139786020318929
BLURB
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

 

REVIEW

Mungkin terlambat banget ya me-review novel yang edisi pertama sudah cetak dari tahun 2015. Sedangkan saya baru membeli edisi keduapuluh dengan cover film tentu saja karena novel karya ke tujuh Ika Natassa ini sudah difilmkan. Ini buku kedua Ika Natassa yang saya baca. Twivortiare adalah buku yang saya baca di tahun 2012 dipinjami teman waktu di Jakarta. Menggunakan twitter dalam ceritanya membuat saya kurang bisa mengikuti alur ceritanya ya karena dulu saya belum sefamiliar ini dengan twitter.

Novel Critical Eleven ini sendiri maupun setelah film-nya sudah rilis, saya belum tahu ceritanya sampai menamatkannya sendiri. Karena saya pada umumnya lebih suka novel perjalanan, rekam sejarah, dan motivasi seperti karya Mbak Hanum Salsabila Rais, Pramoedya Ananta Toer. Cerita novel ini bisa menjadi koleksi perpustakaan pribadi karena buku yang ingin saya beli di toko buku online sudah tidak ready (saya telat Pre Order) daripada ribet refund saya mengganti buku yang ready dalam 24 jam. “Ini novel sudah difilmkan dan pemerannya Reza Rahardian (kepincut di akting Habibie Ainun) pasti bagus.” pikir saya. Tapi sebenarnya yang paling menarik tangan gatal membelinya adalah hadiah special post card-nya.

Review ini sudah ada dua bagian yang saya tulis sebelumnya yaitu mengenai perjalanan dan belajar dari kehilangan. Di tulisan ini saya akan melihat secara keseluruhan.

Ringkasan kisahnya Tanya Letitia Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) bertemu secara meet-cute dalam penerbangan Jakarta-Sidney. Meminjam istilah penerbangan critical eleven, 11 menit waktu krusial dalam penerbangan yaitu tiga menit take off dan delapan menit landing, keduanya saling tertarik. Hubungan berlanjut hingga setahun dari pertemuan mereka memutuskan menikah.

Tidak ada hambatan berarti, pernikahan sempurna layaknya impian banyak pasangan di dunia meskipun mereka saling LDR. Karena Ale tetap harus bekerja sebagai tukang minyak di laut lepas Teluk Meksiko. Dia pulang kurang lebih sebulan sekali setelah menempuh 26 jam penerbangan.

Kehidupan pernikahan yang bahagia itu kandas setelah bayi yang dalam kandungan penuh semangat itu meninggal sebelum dilahirkan. Tak dijelaskan secara pasti tapi pembaca sudah bisa menebak alasannya adalah kesibukan Anya dan jam terbang yang tinggi, menurut saya. Suatu ketika Ale keceplosan mengatakan bahwa jika Anya tak terlalu sibuk Aidan – nama bayi mereka- pasti masih hidup. Kalimat inilah yang memicu prahara rumah tangga romantis mereka.

Selama enam bulan mereka satu atap tapi pisah kamar tak banyak bicara. Perubahan drastis ditunjukkan oleh Anya sedangkan Ale terus menerus berusaha membuat kondisi lebih baik. Mungkin sikap Anya ini lebay tapi ya itulah respon seorang ibu yang berduka. Setiap wanita adalah makhluk lemah yang ingin dilindungi dipenuhi kasih sayang oleh pendampingnya mungkin begitu maksud penulis. Tapi Ale tidak peka. Ia hanyalah lelaki dengan logika bukan sisi emosional.

Saya mengira-ira bagaimana keduanya rujuk. Aidan-lah yang membuat papa-mamanya bersatu. Keduanya bertemu di pemakaman dan hilanglah semua benci menjadi kerinduan akan cinta. Dan, Anya hamil kembali. Bagaimanapun seorang anak ialah pengikat antara seorang ayah dan ibu, benar kan?

Kisah kehilangan bayi merupakan cerita yang dekat dengan kehidupan kita tapi diracik dengan metropop, gaya hidup kaum urban yang glamour. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Anya dan Ale. Meski novel berbahasa Indonesia banyak juga percakapan dalam bahasa Inggris. Saya yang sudah lama tak belajar bahasa Inggris pun harus membuka kamus agar tak kehilangan maknanya. Ciri khas novel Ika, selalu ada selingan percakapan Bahasa Inggrisnya. Maklumlah, Ika menyelesaikan novel pertamanya di usia 19 tahun dengan Bahasa Inggris.

Novel ini menunjukkan riset dan pengetahuan luas penulisnya. Tebakan saya terbukti di halaman belakang novel dimana penulis mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantunya dari Dewi Lestari, dokter kandungan, insinyur perminyakan, psikologi, tukang kopi, dan lain-lain.

Overall, saya suka buku ini, meski tidak dekat dengan kehidupan saya. Tapi memberikan gambaran baru tentang kehidupan kaum urban Jakarta sana yang mungkin tak terjamah oleh sebagian yang lain di Indonesia. Mereka rela menghabiskan uang demi liburan ke luar negeri, sepatu hak tinggi yang katanya membuat seksi, jam tangan super mahal simbol prestisius yang bahkan sebagian lain masyarakat Indonesia tak peduli dengan hal itu.

Pelajaran yang saya dapat adalah jangan pernah menganggap tidak penting setiap perjalananmu, selalu ada hikmah dibaliknya. Saat kita kehilangan bukan berarti kita kehilangan seluruh dunia tapi Alloh hendak menunjukkan siapa yang paling menyayangimu dan membuatmu naik kelas jika lulus dari ujian-Nya. Setiap kehilangan akan digantikan kado terindah. Sebagai manusia kita tidak boleh serakah bagaimanapun sempurnanya kehidupan tak ada gading yang tak retak. Karena itu setiap hari kita belajar, belajar menjadi manusia terbaik. Tidak perlu melulu belajar itu membaca buku tapi juga mendengarkan kisah orang lain, membaca apa yang kita lihat, belajar dari pengalaman orang lain, dan sebagainya.

Eh hampir kelewat padahal menurut saya ini menarik. Di bagian akhir cerita Ale flashback pertemuan pertamanya dengan Anya. Sewaktu keduanya telah saling mengucapkan salam perpisahan dan Ale meninggalkan Anya, ada dorongan yang membuat Ale menoleh. Saat itu Anya tengah menolong seorang kakek menurunkan bagasinya. Ale tersenyum tanpa diketahui Anya. Dalam hati Ale berkata benar-benar menginginkan Anya sebagai istrinya. Silakan dimaknai sendiri ya hehe…

Okay, sekian pandangan novel ini versi saya, kalau menurut Temans yang sudah membaca atau menonton filmnya bagaimana?

 

#ODOP # BloggerMuslimahIndonesia

 

 

 

Andalan
Diposkan pada Book Review, ODOP

#ODOP14 Belajar Kehilangan dari Critical Eleven

20170815_063251-1-1

Mungkin kalau dulu kamu ga terlalu sibuk, Aidan masih…” (hal.77)

Sebuah kalimat dari Aldebaran Risjad (Ale) yang terus terngiang oleh Tanya Letitia Baskoro (Anya). Kata-kata yang menjadi sumber tragedi dalam pernikahan mereka.

Aidan Athaillah Risjad, nama calon bayi mereka digariskan untuk menjemput ibundanya kelak di surga. Anya melahirkan bayinya tanpa nyawa setelah hampir sembilan bulan mengandung. Ale yang begitu menantikan jagoan kecilnya menerima tubuh mungil itu dari dokter untuk dikembalikan kepada Pencipta-Nya.

Anya terus berduka sejak kehilangan bayinya. Kamar Aidan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya dibiarkan. Bahkan, ia selalu membawa pakaian atau sekedar kaus kaki Aidan untuk menemani perjalanannya. Setiap malam ia memeluk pakaian Aidan. Ia sudah kehilangan kepercayaan pada laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya yang dikenalnya dalam “11 menit” perjalanan di pesawat. Karena sebuah kalimat.

Jika kemarin kita belajar makna perjalanan melalui novel Critical Eleven oleh Ika Natassa ini, di tulisan ini kita belajar menghadapi kehilangan.

Saya merasakan emosi yang diaduk-aduk ketika membaca buku ini. Memang ini hanyalah fiksi tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar. Ibu saya kehilangan dua bayinya. Kakak dan adik saya. Traumanya sampai sekarang. Jika ada bayi tetangga yang meninggal atau saudara, ibu tidak akan pernah sanggup bertakziah. Meski sudah lewat 25 tahun, duka seorang ibu nampaknya tidak akan pernah terhapus waktu. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Temans yang sudah pernah kehilangan apapun itu, dia pasti orang yang kuat, benar kan?

Kita harus mengikhlaskan orang yang sudah meninggal dunia. Karena sejatinya semua bukan milik kita tapi milik Alloh SWT, tempat berpulang. Bukan saling menyalahkan. Seperti Ale. Mungkin itu hanya kalimat pengandaian tapi itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung Anya berkali-kali. Dari kisah ini, kita belajar memilih kalimat jika ada saudara, teman, atau tetangga yang kehilangan. Jika kita tidak mempunyai kalimat lebih baik diam. Karena Alloh sudah menuntun kita mengucapkan, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ketika ditimpa musibah.

Back to cerita, apakah Anya dan Ale akan berbaikan setelah enam bulan berbeda kamar. Ale yang keberadaannya tak dianggap lagi oleh Anya. Dan, apakah Anya dan Ale sanggup mengikhlaskan Aidan?

Tunggu ya, saya selesaikan bacanya….

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Andalan
Diposkan pada ODOP, Review buku

#ODOP13 Mencari Makna Travel dalam Novel Critical Eleven

20170814_064559

Critical Eleven merupakan novel ketujuh Ika Natassa. Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini sudah cetak ke dua puluh kali di bulan Mei 2017. Kisahnya sudah diangkat dalam layar lebar terlihat juga dari sampul cover-nya.

Kisahnya tentang Tanya Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) yang bertemu pertama kali di sebuah pesawat penerbangan ke Sidney. Mengadaptasi dari istilah penerbangan critical eleven, 11 menit krusial yaitu tiga menit pertama pesawat take off dan delapan menit menuju landing. Bagaimana dengan Anya dan Ale, saya sendiri belum mengetahui ceritanya karena belum selesai baca novelnya. Tapi dibanding kisah drama cintanya saya lebih senang mengulik makna travel di novel ini yang tentu saja akan menambah wawasan kita dalam melakukan travelling.

Screenshot_2017-08-14-06-47-13-1

Travel is remarkable thing, right? Di pesawat, di bus, di kereta api, berjalan kaki, it somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. Di negara kita yang kurang paham bahasanya, travel is learning to communicate with just a smile. It’s where broken English is welcomed with a smile instead of being greeted by a grammar Nazi.

It’s simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but stranger.

But you know what travel means to me tonight?

This.

Ngobrol panjang tanpa pretensi apa-apa dengan seseorang. About nothing and everything.

Isn’t it funny that sometimes the best conversations are the ones that lead to nowhere? Ketika percakapan itu sendiri cukup gregetnya untuk jadi main act. Bukan sekedar opening act atau foreplay seperti biasanya. (hal. 9-10)

This is another thing that travel does to you. The sheer joy of laughing freely with a complete stranger. Just because laughing is a pretty good idea at the moment. (hal. 12-13)

Hmmm…

Kalau saya memaknainya, travel bukan sekedar tiba di lokasi tujuan tapi juga proses menuju tempat tujuan. Seperti arti travel itu sendiri perjalanan. Tersenyum dan mencoba berkomunikasi dengan penumpang di sebelah kita. Maupun sekedar ngobrol yang tidak penting dengan orang yang duduk di sebelah kita. Kalau pun kita naik kendaraan pribadi ada kalanya juga kita akan singgah sekedar mengisi bensin atau berhenti makan.

Jadi ingat waktu saya sering melakukan perjalanan sendiri dulu dengan kereta api maupun pesawat sudah tak terhitung berapa kenalan saya. Tak sekedar itu juga berlanjut dengan bertukar nomor handphone dan silaturahim meski sekedar ber-say hello. Dari obrolan yang tidak penting itu biasanya akan menjadi penting suatu ketika nanti. Misalnya saya membutuhkan tanaman hias eh ada kenalan yang ayahnya jualan, kebetulan sekali bukan? Harganya pun pertemanan. Jangan pernah menganggap sesuatu itu tidak penting.

Seperti Anya dan Ale ini meet cute di dalam pesawat.

Balik lagi ada yang sudah baca novel ini sampai kelar? Pecinta buku Ika Natassa pasti sudah apalagi sudah ada filmnya. Karena saya belum beres bacanya, saya akan melanjutkan membaca lagi. Sengaja sih tidak baca cepat sedang berganti gaya membaca. Tidak seperti dulu asal baca tahu jalan ceritanya, sudah. Padahal penulisnya sudah capek-capek memilih kata dan pesan yang ingin disampaikan. Sekarang baca bukunya mau dipahami dan diresapi. Begitu juga kalau baca Al Qur’an tidak mengejar khatam berapa kali tapi mending satu hari satu halaman plus terjemahan yang dibaca pelan-pelan (dihayati).

Penasaran cerita Anya dan Ale selanjutnya. Dan Travel. Bersambung ya…

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Mencari Stalagtit Penghasil Bunyi Gooongg

“Senternya… Di dalam gelap!” Para tukang penyewaan senter itu segera menghampiri kami. Mereka berebut setiap wisatawan tampak berkunjung. Mencoba mengais rezeki bermodalkan senter penerang kegelapan. Kami menolak halus dan berlalu dari satu ke yang lainnya.

Hujan menyambut kami, saya dan suami begitu tiba di pelataran Goa Gong. Goa terindah di Asia Tenggara. Ikon Kota seribu satu goa, Pacitan. Sudah lewat duhur kami sampai usai menikmati merdunya Seruling Laut di Pantai Klayar. Takut keburu senja, kami segera meniti anak tangga menuju Gua Gong. Melewati dua patung penjaga, kalau tidak salah namanya patung gandapura. Patung penyambut yang biasa terdapat di candi. Kadang juga dijumpai di rumah maupun hotel penganut atau pecinta Jawa kuno.

jalan di dalam goa gong
Goa Gong (Foto: Wisata Kita)

Begitu memasuki lorong gua, ornamen gua yang cantik segera menyambut kami. Stalagtit yang tergantung dan stalagmit yang menjulang dipendar warna warni lampu bak pelangi. Menyusuri lorong gua sedalam kurang lebih 256 meter ini jalurnya sudah memadai. Guanya pun tak benar-benar gelap, beberapa lampu pijar membuat dalam gua temaram. Sehingga wisatawan bisa masuk sendiri meski pemandu tetap akan merayu menjajakan dongengannya.

Tak seperti keberadaan candi yang biasanya ditemukan oleh orang asing misalnya Candi Borobudur di Magelang yang ditemukan oleh Thomas Stanford Raffles, gua ini ditemukan oleh dua orang penduduk lokal. Namanya Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo sekitar tahun 1930. Mereka hendak mencari mata air karena kondisi Dusun Pule saat itu dilanda kemarau panjang. Berdasarkan sumber cerita dengan menggunakan obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang diikat, mereka mencoba menelusuri lorong-lorong gua. Setelah menghabiskan tujuh ikat obor, mereka menemukan beberapa sendang dan mandi di dalamnya.

Batu Gong-nya Dimana?

Goa ini dinamakan Goa Gong karena berdasarkan pengakuan masyarakat konon sering terdengar bunyi gong dari dalam goa ini. Gong alat tetabuhan musik Jawa yang bila dipukul akan memantulkan bunyi gooonggg dengan cukup keras.

Secara ilmiah suara mirip gong yang didengar oleh masyarakat sekitar merupakan bunyi tetes-tetes air yang jatuh di dasar gua. Suara tersebut kemudian bergema dan menyerupai bunyi gong. Namun, tak ada salahnya mencoba mencari batu gong kan ya?

Kami pun penasaran mencari batu gong tersebut. Kami mulai menuruni anak tangga yang cukup curam. Di dalam gua pun dibagi dalam beberapa ruang yang sudah ditandai dan terlihat jelas. Meski fasilitas tangga sudah baik dan berpagar pembatas dari besi tapi tetap harus berhati-hati. Terlalu asyik mengagumi fenomena alam ini bisa membuat kita terlena dan tergelincir. Batuan di dalam gua ini memiliki ujung-ujung yang lancip sehingga jika terkena bisa merobek kulit. Namun, batuan yang merupakan endapan beberapa mineral ini sangat keras tidak rapuh. Meski begitu kita tidak boleh sembarangan memegang. Sayang kan kalau kotor dan mengurangi nilai keindahan maupun estetikanya.

keindahan goa gong (1)
Ornamen Goa Gong ( Foto: Wisata-Kita.com)

Sembari menuruni anak tangga, ornamen yang terbuat dari karst, kristal, dan marmer membuat takjub. Keberadaan ornamen di dalam Gua Gong membuatnya menjadi gua terlengkap di Jawa. Siapapun pasti terpesona. Karena bingung mendiskripsikannya mengutip artikel Goa Gong, Keajaiban Dunia dari Pacitan, salah satu keindahannya adalah menyerupai gorden dengan bintik-bintik seperti mutiara di dalamnya. Beberapa stalagtit dan stalagmit pun diberi nama yaitu Cello Giri, Selo Citro Cipto Agung, Cello Pakuan Bomo, Cello Adi Citro Buwono, Cello Bantaran Angin dan Cello Susuh Angin.

Saat musim hujan seperti kunjungan kami di awal Januari ini, kita bisa menyaksikan proses pembentukan stalagtit dan stalagmit dari rembesan air tanah yang menetes ke dalam gua. Stalagtit adalah endapan yang menggantung di atas atap gua sebaliknya stalagmit adalah yang lancip ke atas. Tetes-tetes air ini terus mengendapkan kalsium yang dibawanya sehingga batu di dalam Gua Gong merupakan batu hidup yang bisa bertambah panjang 0.3-1.3 milimeter per tahun.

Begitu sampai di dasar gua, saking penasaran dengan batu gong, suami hampir menepukkan dengan tangan ke setiap batu. Saya pun menguntit setia sambil ikut penasaran. “Jadi yang mana? Yang itu mungkin?”

Yeayyy… yayy… di ruangan Batu Gong inilah penghasil suara tersebut. Suami pun mencoba menepukkan tangannya. Goonggg…suara pun bergema. Seulas senyum tersungging di bibir kami.

bebatuan goa gong
Stalagtit di Gua Gong (Foto: Wisata Kita)

Mitos sendang penyembuh penyakit.

Ada apa selain stalagtit dan stalagmit? Selain banyaknya stalagtit dan stalagmit, terdapat lima sendang yang dipercaya mengandung magis yang dapat menyembuhkan penyakit. Diantaranya Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Relung Nisto.

Selain sendang tersebut terdapat juga sendang bidadari. Konon beberapa orang melihat penampakan gadis cantik di sekitar lokasi ini. Mistis juga ya? Penasaran mau wisata horor boleh juga lho di tempat ini. Kalau saya pribadi langsung angkat tangan.

Ya, bau-bau mistis gua dan letaknya yang tersembunyi biasanya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk bertapa dan mencari pesugihan. Kalau Temans di era digital ini masih percaya dengan pesugihan yang membuat kita kaya?

Oleh-oleh

Berkunjung di Goa Gong, cindera mata yang banyak ditawarkan adalah batuan. Batu-batu semacam batu akik banyak dijual di sini. Kalung dengan bandul batu mirip bola dunia itu begitu memikat. Batu warna-warni yang akan mengkilap dalam gelap. Dan tak lupa oleh-oleh batu bandul buat ibu. Eitsss…tapi bukan batu enteng jodoh maupun pembawa berkah ya?

Bicara soal harga, jangan khawatir, sangat terjangkau. Sebab langsung ke perajin batunya. Tak ada salahnya mencoba menawar terlebih dahulu. Selain membeli kita juga bisa menyaksikan mereka saat berkarya mengubah batu-batu jadi bernilai ini secara langsung.

Bagaimana ke sana?

Lokasinya berada di Dusun Pule, Bomo, Kecamatan Punung sekitar 30 kilometer dari jantung kota Pacitan atau 10 kilometer sebelum Pantai Klayar. Bisa naik kendaraan umum maupun naik kendaraan pribadi.

Atau mencoba seperti kami yang berangkat dari Klaten naik sepeda motor. Dari Klaten kami mengambil arah Wonogiri. Mulai dari Wonogiri perjalanan mulai berliku khas kota pegunungan. Dari kota waduk Gadjah Mungkur ini, kami langsung menuju Pacitan dengan berbekal plang tanda penunjuk arah dari Dinas Perhubungan. Tak hanya di lokasi wisata, julukan Paradise of Java memang pantas menyemat untuk Kota Pacitan. Ciri khas kawasan karst layaknya Gunung Kidul dan Wonogiri akan menyuguhkan sajian panorama yang amazing. Jika Temans mau berkunjung naik mobil, usahakan jangan tidur selama perjalanan. Selamat mencoba!

Screenshot_2017-08-13-10-05-26-1

Belum ke sini? Ke sini, yuk! Sudah ke sini? Ke sini lagi, yuk! Sharing cerita perjalanan Temans juga ya^^

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Menantikan Merdunya Seruling Laut

Deburan ombak menghantam batuan karang. Dedaunan kelapa berdesir diembus angin. Paduan sempurna membentuk nada-nada indah. Nyanyian gelombang di tepi Pantai Klayar. Sihir seruling laut nan memikat pelancong.

Pntai-Klayar.jpg
Pantai Klayar (Foto: wisataindonesia77.blogspot.co.id)

Pagi-pagi benar, saya dan suami sudah tiba kembali di Pantai Klayar. Sebelumnya, kami datang kesorean dan hanya bisa menikmati sunset. Meski kurang sempurna karena tertutup gerombolan mega mendung. Kami tak berniat mengejar sunrise tapi penasaran menantikan merdunya seruling laut. Celah-celah batu karang yang mengeluarkan bunyi. Mix ciamik antara angin, air, dan gelombang yang menyembur laksana air mancur instan.

Untuk bisa menikmati karang-karang penghasil nyanyian ini, dari jalan masuk utama, ambil arah ke sebelah kiri sampai mentok. Letaknya di sisi timur atau ujung timur Pantai Klayar. Kita akan melewati pantai datar yang relatif tenang sebelum sampai ke lokasi pasir putih dengan ombak khas pantai selatan. Gelombang-gelombang besar akan bergantian datang menghantam karang-karang. Ya, sekitar 200 meter dari awal berjalan. Selamat, Temans sudah sampai di karang penghasil nyanyian gelombang!

Kalau seperti yang saya tonton di acara Jejak Petualang, paling asyik menikmati pancuran hasil air laut yang menembus celah karang ini dari puncak bukit. Sedikit berolahraga mendaki tebing yang ada di sekitar. Di sini akan terlihat jelas pancuran air yang bisa mencapai tinggi 15 meter saat air pasang.

Kalau ingin mendekat harus menunggu air surut lalu menaiki karang yang licin dan berbahaya. Di sepanjang jalur menuju seruling laut dipasang tangga dan pagar pembatas seadanya. Selain itu, juga terdapat bendera di titik-titik rawan. Tidak disarankan menuju lokasi tanpa pemandu. Kami ingin mendekat tapi karena pantai masih sepi dan tidak ada tanda-tanda guide, nyali kami ciut juga. Bagaimana kalau gelombang tiba-tiba menyapu kami tanpa seorang pun tahu. Nekad yang konyol itu namanya.

seruling-samodra-di-tebing-karang-pantai-klayar.jpg
Seruling Samudra (Foto: Jejak Piknik)

 

Tidak bisa melihat seruling laut dengan dekat tidak usah berkecil hati. Di hamparan pasir putih yang terapit karang ini kita bisa menikmati gulungan ombak yang besar, kalau saya baca-baca ombak di sini bisa juga untuk mereka yang ingin berselancar. Namun, kami tak melihat para peselancar ini mungkin waktunya yang tak pas. Ombak besar yang tingginya bisa empat meteran dari tengah laut itu perlahan memecah menuju kaki-kaki kami. Gelombang yang membuat takjub itu sampai juga menjadi riak membawa karang-karang kecil yang telah remuk menjadi butiran pasir.

Sejauh mata memandang ke depan samudra biru membentang dinaungi atap langit biru. Sejauh telinga mendengarkan, irama musik hasil tiupan seruling laut dipadu nyangian alam menjadi soundtrack menikmati panorama laut. Tak lupa, keindahan disimpan dalam hati. Maha karya sempurna dari Sang Pencipta yang wajib disyukuri dan dijaga selawasnya. Sempurna.

pacitan1.jpg
Pantai Klayar sisi barat (Foto: kabar24.bisnis.com)

Meskipun tidak ada larangan bagi siapapun datang ke pantai Klayar, menurut saya paling pas untuk mereka yang ingin pacaran halal atau honeymoon seperti saya waktu itu. Lokasinya masih lumayan sepi asal datangnya tidak berbarengan waktu liburan. Bisa juga untuk yang merencakan piknik keluarga. Pantai Klayar bisa mengakrabkan keluarga misalnya dengan kemah atau makan bersama. Saling bercengkerama dalam suatu waktu akan memperatkan hubungan bukan? Dan study tour, layaknya pantai-pantai di Gunung Kidul, pantai ini juga merupakan pantai di kawasan karst. Sehingga sangat cocok bagi mereka yang ingin belajar tentang geologi atau belajar mengenai teori pengangkatan laut menjadi daratan jutaan tahun lalu. Di salahsatu sisi pantai ini juga terdapat tanda kalau pantai ini merupakan situs geologi. Jadi teringat lagi jepretan foto-foto kami yang tak tersisa, semua moment hanya bisa terekam dalam memori.

Saya tidak menyarankan bagi yang berfisik lemah, orang yang sudah lanjut, atau yang membawa balita. Karena ya alasan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Ada beberapa tanjakan dan turunan. Saya sih mau banget datang ke sana kembali. Namun, tunggu Namiya dan Oziel bisa diajak piknik dulu. Saya bisa menikmati, mereka pun juga.

 

Cara lain menikmati Pantai Klayar. Kalau kamu memutuskan ke Pantai Klayar banyak kok yang bisa dieksplor. Di antaranya bisa mendaki bukit di sisi kanan dari jalan masuk. Tenang, anak tangga sudah di beton cuma tarik nafas dulu ya. Cukup menguras energi juga mendaki. Sesudah tiba di puncak bukit, terdapat gasebo yang bisa untuk bercengkerama dan menikmati lansekap Pantai Klayar dari atas. Gradasi perubahan warna dari Samudra Hindia hingga tepi pantai, warna yang bisa menginsipirasi siapapun yang ingin mencipta karya. Pemandangan di sebelah kiri adalah garis pantai Klayar dengan lambaian nyiur di sisinya. Dan, pastinya memandang karang-karang seruling laut yang disebut juga bentuknya mirip sphink atau patung singa di Mesir. Sphink ini juga dikenal juga dengan nama Watu Lumbung.

bukit-dan-pepohonan-yang-memperindah-pantai-klayar.jpg
Garis Pantai Klayar (Foto: Jejak Piknik)

Menyeruput kelapa hijau di warung-warung warga. Usai menikmati pemandangan dari atas bukit, degan ijo adalah minuman pas pelepas dahaga. Air kelapa hijau yang manfaatnya sudah tidak diragukan lagi. Dipercaya bisa mengganti ion-ion tubuh yang hilang . Apalagi degan ini belum melakukan perjalanan panjang ke kota ya, masih habis dipetik. Segarnya. Sruputtt!

Berjalan-jalan di atas batu berkarang. Di sini bisa belajar makhluk laut seperti ikan, bintang laut (Echirnodenata), kerang-kerangan (Mollusca), rumput laut, dan lain-lain. Namun, tetap waspada ya saat melangkah takut terjebak di antara karang. Paling pas menikmati saat air surut sehingga binatang-binatang terjebak di antara karang.

Mengenal budaya sekitar. Ketika berwisata ke suatu tempat tidak cukup hanya dengan datang, kagum, berfoto, kuliner, lalu pulang. Kalau bisa saya sendiri sih setidaknya mengobrol dengan satu orang penduduk asli bisa juga penjual di warung-warung. Dari obrolan ini biasanya kita akan lebih bersyukur pada diri kita sendiri. Belajar menghargai orang dan banyak makna perjalanan yang akan kita dapatkan. Misalnya kita belajar nama asal usul tempat. Klayar dinamakan dari istilah klayar kluyur yang artinya jalan-jalan.

Mitos di Pantai Klayar, Sumur Pembawa Berkah?

Layaknya cerita-cerita keangkeran Laut Selatan, Pantai Klayar juga mempunyai mitos sendiri. Tebing-tebing batuan bukan semata-mata terjadi akibat abrasi tapi dipercaya masyarakat terbentuk dari perang gaib penguasa Laut Cilacap yang ingin menguasai Pantai Klayar. Di balik tebing-tebing batu terdapat tiga sumur yang dipercaya membawa berkah, yaitu sumur sunyarata, cindelaras, dan satu sumur besar.  Dengan membasuh muka dengan air tersebut dipercaya dapat memancarkan aura kebaikan. Kalau Temans percaya?

Bagaimana ke sana?

Lokasi Pantai Klayar terletak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Pacitan, Jawa Timur berbatasan dengan Wonogiri, Jawa Tengah. Tepatnya di Kalak, Sendang, Donorejo. Untuk menuju Pacitan bisa melalui Yogyakarta dengan jarak tempuh sekitar 110 kilometer melalui Gunung Kidul-Wonogiri-Pacitan. Kalau dari arah Semarang (utara) bisa masuk lewat Solo-Wonogiri-Pacitan kurang lebih berjarak 100 kilometer. Sedangkan dari arah timur melalui Ponorogo-Pacitan dengan jarak kurang lebih 110 kilometer. Paling enak menggunakan kendaraan pribadi. Jalanan menuju Pantai Klayar bisa dikatakan memicu adrenalin. Jalanan menanjak, berkelok, menikung, dan turunan khas pegunungan. Jangan sampai terlena dengan pemandangan di sisi kiri kanan jalan ya. Kalau mau naik kendaraan umum, bisa naik bus ke Pacitan. Untuk menuju ke Pantai Klayar dengan naik ojek, bak terbuka, dan mobil matuk, mobil yang mengantar-jemput mereka yang pergi ke pasar.

Screenshot_2017-08-12-07-34-57-1

Dimana bermalam? Di Pacitan rasanya sayang kalau tidak memutuskan menginap. Perjalanan yang cukup jauh harus dibayar tuntas di sini. Kalau ingin mencari hotel dengan fasilitas lengkap terdapat di pusat kota. Namun, kalau ingin dekat dengan lokasi wisata, pilihan utama adalah homestay penduduk. Kalau kami waktu itu memilih menginap di rumah warga, keramahan penduduknya membuat kami kepincut untuk membaur bersama. Sangat terjangkau, satu kamar dengan dua bed lengkap dengan televisi plus satu kamar mandi bonus sarapan hanya 100 ribu per malam. Itu harga tahun 2014 ya.

 

Gimana keindahan Pantai Klayar, ciamik kan? Segera buka kalender cari dan tandai tanggal yang pas. Yuk, dengarkan sendiri seruling lautnya 🙂

 

” Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Pacitan Paradise Of Java yang diselengarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pacitan”

 

 

Andalan
Diposkan pada ODOP

#ODOP10 Pelajaran ODOP Hari Kesepuluh

Mengikuti one day one post (ODOP) yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia sangat bermakna bagi saya. Memasuki hari kesepuluh ini banyak pelajaran yang saya dapat. Saya pun mencoba mengevaluasi sendiri, teman-teman juga boleh banget kok memberikan masukan pada blog ini biar naik kelas. Blog yang bangun-tidur-bangun-tidur ini 😀

Kita mulai dari kekurangan dulu. Usai update post saya biasanya baru menyadari sesuatu eh kok begini ya harusnya begitu. Temans, suka kaya gitu gak sih? Sebelum mem-posting biasanya saya akan preview terlebih dahulu. Setidaknya saya akan menemukan beberapa typo atau kesalahan dalam pengetikan tapi tetap saja seperti yang saya katakan sebelumnya setelah klik publish biasanya tetap merasa ada yang kurang. Sepuluh hari mengikuti tantangan ODOP ini setidaknya berikut point yang kerap membuat saya tidak bisa tidur:

  • Tulisan sering gagal fokus karena terlalu ingin banyak memberi informasi. Rasanya mau di-edit atau dipotong kok sayang, ini penting begitu kira-kira. Tapi setelah dibaca lagi suatu ketika jadi kalimat yang tidak nyambung. Mungkin itulah perlunya kita mendiamkan dulu tulisan sebelum langsung klik publish. Cuma karena dikejar waktu itu biasanya langsung klik publish saja.
  • Kurang mengeksplorasi tema. Banyak tulisan saya yang tidak mendalam. Isi tulisan terlalu general kurang spesifik untuk ide-ide tertentu. Harus lebih banyak rajin membaca dan mencari referensi untuk mengatasi hal ini. Semangat, Kakak!
  • Postingan tidak bertema, setiap hari ganti “acara”. Tidak seperti Mbak April Hamsa yang fokus menulis tentang breastfeeding. Ya, itulah bedanya blogger amatir seperti saya dengan blogger profesional yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Saya harus bisa seperti Mbak April.
  • Alasan klasik, kesulitan membagi waktu antara peran ibu rumah tangga dengan dua batita dan menulis. Sebenarnya dipikir-pikir kalau saya memiliki tekad kuat sekeras baja alasan ini tidak akan pernah jadi alasan. Kebiasaan menunda itu harus dienyahkan jauh-jauh. Lalu, saya harus mengurangi porsi tidur di malam hari. Simple banget, kan? Mantapkan niat. Orang sukses itu sedikit tidur, Rin. Seperti kata Beliau Nabi Muhammad SAW, sedikit tidur, sedikit makan, dan sedikit bicara.
  • Inginnya tidak ada posting lomba di waktu ikut ODOP ini tapi dari 10, ada dua postingan lomba. Padahal sejak awal mengikuti ODOP, sudah diniatkan dalam hati agar ODOP bisa meningkatkan produktivitas tulisan. Lagi-lagi, balik ke alasan klasik, kurangnya bisa memanajemen waktu jadi tidak bisa posting lebih dari satu tulisan per hari.
  • suka menulis mepet-mepet deadline. Banyak justifikasi untuk menjawabnya. Tapi saya skip sajalah nanti jadi membenarkan alasan yang seharusnya tidak perlu.

Dua puluh hari berikutnya juga selanjutnya, kekurangan-kekurangan tersebut harus bisa diperbaiki. Sebab, melalui ODOP ini banyak juga manfaat yang saya rasakan. Kebaikan-kebaikan tersebut di antaranya:

  • Menambah teman karena blog walking. Special thanks to Aisyah dan Dian Ravi yang setia mengomentari postingan saya^^
  • Memaksa diri untuk belajar. Setiap tulisan yang saya buat otomatis membuat saya harus mencari referensi sehingga ilmu pengetahuan bertambah setiap hari. Amiin
  • Termotivasi untuk mempercantik tampilan blog. Saat berkunjung ke blog lain, saya jadi malu dengan tampilan blog. Waktu ada kelonggaran saya mengganti tema dan terlihat lebih baik dari sebelumnya.
  • Proses menemukan gaya menulis blog. Saya sudah lama menulis tapi tidak konsisten mungkin itulah tulisan saya tidak ada gayanya. Beberapa hari menulis konsisten saya merasa-rasa oh saya nyaman menulis begini. Gaya menulis adalah proses. Karenanya harus ajeg menulis.

Masih ada sepuluh hari kedua dan sepuluh hari ketiga. Semoga bisa lebih baik dan tujuan mengikuti program ODOP terpenuhi. Semangat konsisten dan disiplin ngeblog. Kalau Temans pelajaran apa yang sudah didapat dari mengikuti ODOP yang sukses bikin otak muter mencari ide setiap hari ini? Sharing ya…

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Borobudur International Festival 2017, Momentum Kembalikan Kejayaan Nusantara di Mata Dunia

Nenek moyangku orang pelaut,

gemar mengarung luas samudra,

menerjang ombak tiada takut,

menempuh badai sudah biasa.

Lagu ini diciptakan bukan untuk dongeng-dongengan semata. Tidak hanya Marcopolo, Vasco da Gama, Laksamana Cheng Ho, pelaut-pelaut Bugis pun melakukan petualangan melintas samudra dan benua. Hanya sayangnya, mungkin saat itu pelaut nusantara tidak gemar menuliskan petualangan sehingga kurangnya catatan sejarah. Negara kepulauan dengan pelaut-pelaut gagah berani juga membuat Indonesia menyemat Negara Maritim. Sebuah slogan yang kembali digaungkan Presiden Joko Widodo. Tak tanggung-tanggung untuk mewujudkannya dipilih Menteri Kelautan dan Kemaritiman yang tegas dan pemberani asal Pangandaran Ibu Susi Pudjiastuti. Tanpa ragu, beliau akan meledakkan dan atau menenggelamkan kapal asing yang melakukan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

Bukti lain kalau penduduk Nusantara gemar berlayar adalah dengan adanya relief kapal di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Saking indahnya, mantan Angkatan Laut Inggris Phillipe Beale yang berkunjung ke Borobudur tahun 1982 ingin membuat kapal serupa dan melakukan ekspedisi seperti yang dilakukan pelaut Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, cita-cita kapal dengan bahan baku kayu tersebut baru terwujud. Kapal mulai berlayar menjelajah Samudra Hindia hingga wilayah Afrika. Jika ingin melihat kapal tersebut dan menelisik lebih lanjut jalur ekspedisi kayu manis bisa berkunjung ke museum dengan nama yang sama, Museum Kapal Samudraraksa di kompleks Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah.

Kapal Samudraraksa

DSCN0375
Kapal Samudraraksa (Foto by berbagifun)

Jika orang asing saja tertarik dengan sejarah masa lampau Indonesia bahkan rela merogoh kocek, tenaga, dan pikiran untuk membuat replikanya dan merasakan “sensasi”nya, bagaimana dengan kita sebagai generasi muda?

Event International Festival Borobudur (IBF), 28-30 Juli 2017, mengusung Pesona Borobudur di Mata Dunia secara tidak langsung akan menyorot Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi Budha yang setiap Hari Raya Waisak dilaksanakan perayaan tapi bukan berarti candi ini hanya milik umat Budha saja. Candi Borobudur juga menjadi cermin kebhinekaan toleransi antar umat beragama di negara yang mayoritasnya Muslim ini. Sudah selayaknya kita tidak cukup hanya bangga, tapi juga menjaga dan merawat Warisan Budaya yang sudah diakui UNESCO tahun 1991 yang juga menjadi salahsatu dari tujuh keajaiban dunia ini.

Bagaimana kita mengambil hikmah dari peninggalan nenek moyang di abad 8 pada masa Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra ini, apakah kita harus membangun bangunan serupa? Tentu tidak. Tapi, setidaknya saya pribadi akan berkata, jika pada zaman dahulu sebelum teknologi dan era sebegitu mudahnya seperti sekarang bisa tercipta bangunan sedemikian megah, bangunan tanpa semen hanya dengan menyusun batu, lalu apa karya kita di masa sekarang?

Terlepas dari kekurangan manusia, di era Presiden Soeharto, beliau menggaungkan Indonesia menjadi salahsatu “Macan Asia”, hal ini salahsatunya diwujudkan oleh Pak BJ Habibie lewat pesawat-pesawat ciptaannya seperti N250 melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara, kala itu. Sebagai rakyat Indonesia, tentu kita akan bangga tinggal di negara maju. Tidak hanya itu, tapi di negeri yang baldatun thoyyibatun warobun ghofurrun. 

Borobudur, Negeri Kahyangan; Indonesia. Negeri Kaya dan Damai

Candi Borobudur dari Puncak Bukit Suroloyo (foto by panduanwisata.com)

Pernah mendengar Indonesia disebut-sebut sebagai Atlantis yang hilang? Ilmuwan asal Brasil Aryos Santos setelah melakukan penelitian selama 30 tahun menyebutkan Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” ditampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Terkait cara bercocok tanam bersawah, konon ini berasal dari Indonesia dan disebut pula dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 14 sebagai al harats. Para ahli sejarah percaya percaya bahwa nasi atau beras yang mudah penanamannya, peradaban awalnya berasal dari Nuswantarah (nama kuno Indonesia) sekitar 10.000-9.000 tahun yang lalu. Kemudian menyebar seiring penyebaran manusia  dan ditanam di kawasan tinggi Himalaya, daratan Thionghoa, Eropa Timur, Australia Barat, Afrika, dan Amerika. Karenanya, selain menyandang negara maritim, Indonesia juga menyemat Negara Agraris. Subhanallah sekali ya negara kita.

Karena itu, sudah selayaknya kita mengembalikan kejayaan Indonesia salah satunya melalui pesona Borobudur di mata dunia. Tidak usah berpikir rumit, ya, semua bisa mulai dari yang kecil misalnya dengan keahlian dan ketrampilan kita. Misalnya menulis seperti ini, buat Indonesia bangga karena melahirkan kamu. 

Terlepas fakta atau tidak, sematan benua atlantis yang hilang tidak boleh membuat generasi muda terlena. Saat ini kebutuhan travelling sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Misalnya saat mengunjungi Candi Borobudur, kebanyakan wisatawan mancanegara tidak hanya sekedar mengagumi tapi juga meneliti dan melakukan langkah lanjutan. Kita sebagai tuan rumah tentu harus lebih unggul, jangan sekedar ber-selfie. Banyak yang bisa dipelajari di Candi Borobudur dari arsiteknya, mempelajari reliefnya, filosofinya, dan sebagainya. Masa orang lain justru yang mengetahui lebih banyak tentang rumah kita. Atlantis dikenal mempunyai peradaban yang tinggi diantara ciri masyarakatnya yang bisa dicontoh, antara lain:

  1. Kehidupan yang dipenuhi kecerdasan.
  2. Teknologi yang tinggi
  3. Pengobatan yang maju
  4. Pendidikan anak yang ketat

Saya rasanya kok terlalu menggebu-gebu ya menulis tentang Candi Borobudur ini. Mungkin karena dari “zaman” piknik TK – SD, dan saat kuliah sering main ke sini. Saat kuliah tak terhitung berapa kali mengunjungi world heritage ini sebab lokasinya mudah terjangkau, kurang lebih bisa ditempuh satu jam naik sepeda motor. Teman-teman sudah ke sini belum? Yuk, kita napak tilas kejayaan Nusantara dengan berkunjung ke Candi Borobudur?

 

#GenPIJatengBorobudur

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Generasi Pesona Indonesia Jawa Tengah 2017 yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Jawa Tengah

Andalan
Diposkan pada Artikel, ODOP

#ODOP8 Ibu Hamil Harus Mandi Saat Gerhana Bulan, Mitos atau Fakta?

“Nanti malam jangan lupa mandi pas gerhana bulan,” ucapan bernada mengingatkan dari ibu “senior” itu tiba-tiba menghentikan percakapan kami, tiga ibu muda yang tengah bercengkerama sembari menunggu anak-anak bermain. Kami bertiga saling memandang dan tertawa. Bukan meledek tapi bergurau sehingga tidak ada yang tersinggung. Maklum satu di antara kami ada yang tengah mengandung delapan bulan.

Saya yang belum pernah mendengar mitos ini langsung bertanya, memangnya kenapa? Katanya kalau tidak mandi nanti ada tanda lahir atau bulatan-bulatan gelap di kulit si bayi. Nah, si ibu yang hamil, mengatakan ada empat tanda di kepala anaknya yang sulung (5 tahun) karena waktu tengah kehamilannya tidak mandi. Kebetulan atau memang fakta karena pengaruh gerhana bulan?

Sebagai ibu generasi millenial tentu tidak boleh memakan mentah-mentah informasi ini donk ya. Memanfaatkan google saya mencari tentang mitos ini, belum ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa gerhana bulan menyebabkan cacat pada bayi dalam kandungan saat lahir nanti. Namun, sebagian besar masyarakat Bandung masih mempercayai tradisi dan kepercayaan ini. Seperti dikutip inilah, tahun 2011 malah puluhan ibu hamil mandi bersama saat gerhana bulan.

Karena penasaran, begitu pagi hari dan bertemu teman yang tengah hamil, saya langsung bertanya, “Tadi malam mandi pas gerhana bulan?”

“Iya, setengah dua-an,” jawabnya.

Hmmm… Skip…

Selain searching lewat mesin pencari biasanya saya juga berdiskusi dengan suami. Saya menyampaikan dulu uneg-uneg lalu meminta tanggapan. Bla…bla…bla… kami ngobrol tentang gerhana bulan dan mitos yang baru saya dengar. Tiba-tiba saya berceletuk, “Jangan-jangan tanda lahir di tangan Oziel (anak bungsu saya, 10 bulan) gara-gara tidak mandi waktu gerhana, kalau tidak salah waktu hamilnya kan terjadinya gerhana matahari total.”

Suami langsung tertawa, “Ah…itu mitos!”

Kalau menurut teman-teman bagaimana dengan mitos ini? Memang kadang sedikit susah ya dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat ini terlebih mitos terhadap ibu hamil. Jika tidak menuruti takut sang jabang bayi kenapa-kenapa, kalau diikuti kok tidak masuk akal.

Btw, yang kelewat gak menyaksikan fenomena alam ini, ini penampakan gerhana bulan parsial Selasa, 8 Agustus 2017 sekitar pukul 00.30 WIB-02.15 WIB hasil jepretan suami, @chidarma.

Mitos lain gerhana bulan yang pernah saya alami

Suara kentongan bertalu-talu. Disambung dengan bunyi kentongan yang lain. Bulannya dimakan buto (raksasa jahat).  Pukul-pukul terus kentongannya hinga buto memuntahkan bulan. Kami anak-anak bau kencur terus mendongak ke atas menanti bulan kembali bersinar. Lalu, ketika telah bersinar seperti biasa kami saling berceletuk, itu sudah dimuntahin, iya gak jadi dimakan, iya benar, dan lainnya. Itu ingatan kecil saya saat mendapati gerhana bulan ya sekitar awal tahun 1990-an bersama teman-teman kecil di Klaten.

Ketika telah memasuki era milenium, bergantilah bunyi kentongan menjadi ajakan sholat gerhana berjamaah lewat towa-towa masjid. Di Bandung, tidak hanya mengajak sholat berjamaah tapi lewat pengeras masjid juga bergema takbir layaknya menyambut hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Dini hari tadi Namiya (anak sulung saya) ikut-ikutan menyaksikan gerhana bulan, saya mengatakan kepadanya kalau bulan sedang dimakan buto seperti pemahaman saya saat kecil sambil menggendongnya dan menunjukkan bulan yang mulai tertutup bayangan hitam.

Lalu, apa katanya? “Bulannya dimakan monster, Ibu.” Hadeuuhh

Karena segera sadar tidak ingin memberi pemahaman yang salah, saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana yang bisa ditangkapnya, “Itu bulannya sedang tertutup bumi, makanya sinar matahari gak bisa sampai ke bulan.”

Dia yang baru mau tiga tahun pun menirukan, “Bulannya ketutup bumi ya, Ibu.”

“Iya”

Dan, malah ganti bertanya, “Mana bumi? Ibu, bumi mana?”

Ibunya mumet lagi mencari bahasa untuk menjelaskan 😀

Memahami Gerhana dengan Al-Quran

Jika saja bulan dan matahari bersujud atas keagungan Alloh SWT, mengapa sebagai manusia kita begitu angkuh? Kita eh saya pribadi kerap lalai melaksanakan sholat lima waktu. Setidaknya begitulah yang saya tangkap pada kultum usai sholat berjamaah gerhana tadi di Masjid Al Furqon, tempat saya tinggal. Peristiwa gerhana sudah seharusnya diambil pelajaran bahwa bulan dan matahari senantiasa tunduk dan sujud kepada Sang Pencipta dengan beredar pada garis atau poros yang sudah ditentukan.

Di masa Nabi Muhammad SAW dalam novel Humaira yang saya baca diceritakan terjadi gerhana bulan bertepatan dengan wafatnya salahsatu putra Beliau. Namun, sesuai bimbingan Alloh SWT, Nabi bersabda bahwa peristiwa gerhana tidak berhubungan dengan kehidupan dan kematian manusia. Sepertinya ini sudah menjawab mitos ya. *mohon koreksi kalau saya salah.

Ada sepuluh ayat lebih yang menjelaskan tentang matahari dan bulan di Al-Qur’an di antaranya:

وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ دَآئِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ٣٣

Dan Dia (Allah) telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim 14:33)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menangkap ayat-ayat Alloh SWT lewat penglihatan, pendengaran, maupun hati. Dan, termasuk orang yang bisa mengambil hikmahnya. Amiin …

Balik lagi, jadi ibu hamil harus mandi saat gerhana bulan, mitos atau fakta? 😀

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Cara Gampang Menjadi Citizen Journalism

Istilah citizen journalism sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa televisi juga telah menjadikan citizen journalism sebagai program untuk menarik penonton. Pengirimnya juga mendapat imbalan dari hasil peliputan berita ala warga. Selain itu saat ini mulai banyak portal-portal aduan warga ala jurnalis terhadap pelayanan publik.

Citizen jurnalism atau jurnalisme warga menurut Santhabriancha merupakan aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (yang bukan wartawan). Kegiatan ini mulai dari pengumpulan berita, pelaporan, analisis hingga menyebarkan informasi ke khalayak. Menjadi bagian jurnalisme warga ini semakin gampang di era digital ini yakni dengan mengakses melalui smartphone yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Setidaknya menurut saya ada tiga syarat jadi citizen journalism ini:

  1. Mempunyai rasa ingin tahu tinggi. Untuk menjadi “wartawan” ala warga dituntut mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Kita tidak akan bisa melaporkan sesuatu jika kita tidak peduli. Bagi mereka yang berjiwa curiosity tinggi akan penasaran jika terjadi kerumunan di jalan. Sementara sebagian lain mungkin abai. Nah, setelah ingin tahu seorang jurnalis warga akan mencari seseorang yang bisa ditanya untuk dilakukan cek dan recek. Jangan sampai hanya berdasarkan prasangka karena bisa menjadi hoax atau berita bohong. Ingat, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Jangan sampai niat berbagi berita karena tidak dikonfirmasi terlebih dahulu dan langsung posting malah membuat kita di-bully maupun di bui.
  2. Mempunyai jiwa berbagi. Setelah mendapatkan informasi di lapangan, seorang jurnalis pasti mempunyai keinginan untuk membagi apa yang dilihatnya dan informasi yang ia miliki. Ketika kita hanya memiliki informasi tapi hanya disimpan sendiri itu bukan berarti “wartawan” tapi ya hanya sekedar ingin tahu saja. Coba tengok para reporter mereka tidak hanya mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) tapi juga melaporkan kepada masyarakat melalui media baik online, cetak maupun elektronik.
  3. Bisa menulis dan bercerita. Syarat yang ketiga adalah bisa menulis, minimal bercerita. Kita mengetahui peristiwa, kita ingin berbagi tapi cara kita menyampaikan belepotan malah membuat orang lain susah mengerti, gagal donk jadi ala-ala wartawannya. Misalnya ada teman yang sedang menceritakan kerumunan di jalan saat ia hendak ke kantor tapi ceritanya ngalor-ngidul dulu, kening dibuat berkerut, jadi malas kan kita mendengarnya. Bukan hanya itu informasi pun tak sampai. Nah, dalam cerita tersebut harus mengandung 5W + 1H. Who, What, When, Where, Why, + How. Sehingga kabar dari sang jurnalis tidak diterima sepotong-potong tapi utuh sang jurnalis juga terhindar dari banyak pertanyaan mendasar.

Jika sudah memenuhi syarat tersebut hasil reportase bisa dikirim ke portal-portal pelayanan pengaduan terhadap pelayanan publik bahkan bisa dikirim ke media dan kita mendapat honorarium… yeayy. Untuk masalah teknis tinggal disesuaikan saja dan relatif lebih mudah dipelajari. Mau belajar citizen journalism salahsatu contohnya adalah atmago.

Warga Bantu Warga

Kita bisa mengakses lamannya di http://www.atmago.com atau mengunduh aplikasinya, atmaGo. Seperti pada umumnya untuk bisa mengakses lebih lanjut, kita akan diminta mendaftar bisa melalui email atau akun sosial media.

 

Setelah masuk ke aplikasi, kita bisa melakukan searching terkait laporan, berita, aduan, hingga acara yang dibuat oleh warga dan untuk warga yang membutuhkan informasi. Kita tinggal klik bagian kategori yang diinginkan. Kita juga bisa searching misalnya karena akan mencari berita dengan mengetik kata Bandung. Hasilnya tentu all about Bandung.

Screenshot_2017-08-07-19-37-21
Contoh hasil pencarian berita terkait Bandung di atmago.com

Jreng…jreng… jika naluri kewartawanan sudah muncul tinggal klik menu “tambah” di bagian tengah bawah. Tuliskan judul hasil liputan kita dan deskripsi yang jelas dan tidak bertele-tele serta tentu mengandung unsur 5W + 1H tadi. Untuk lebih meyakinkan tambahkan hasil jepretan untuk di-upload. Klik simpan dan tarara…berita kita sudah dimuat. Mudah sekali bukan?

Karena baru-baru install atmago, belum sempat mencari bahan liputan ala warga. Akhirnya saya mencoba posting acara hasil search di facebook. Ini dia tampilannya.

Screenshot_2017-08-07-20-00-23
postingan pertama saya di atmago.com

Tertarik juga, cobain yuk warga bantu warga. Siapa tahu lewat tulisan kamu bermanfaat bagi orang lain yang sedang membutuhkan informasi 🙂

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Andalan
Diposkan pada ODOP

#ODOP6 Cantik Itu Dari Hatimu

You are beautiful, beautiful, beautiful,

Kamu cantik, cantik dari hatimu…

(Beautiful – Cherry Belle)

 

Penggalan lirik lagu dari Cherry Belle tersebut merupakan salah satu definisi cantik versi saya. Ketika saya pertama hamil dan mengetahui perkiraan calon bayi saya berjenis kelamin perempuan, saya kerap mengelus perut sambil menyanyikan dua baris lagu itu. Begitu juga saat ia telah terlahir dan kini berjalan menuju usia tiga tahun. Sambil menggendongnya, itulah lagu untuk menimangnya. Lagu yang juga saya nyanyikan untuk mengingatkan diri saya sendiri.

Kata suami, wanita cantik itu banyak tapi yang baik dan smart itu tak banyak. Setiap, manusia terlahir ada kebaikan yang mengikuti mengiringi. Namun, kadar kebaikan setiap orang khususnya perempuan itu berbeda. Seorang perempuan yang juga berkodrat menjadi seorang ibu tentu harus memiliki kadar kebaikan di atas rata-rata. Sebab, ia harus menjadi teladan pertama buat anak-anaknya.

Perempuan cantik itu aura-nya terpancar dari kebaikan hatinya. Dari ia tersenyum ramah kepada siapa saja, bersikap sabar di antrean, perempuan yang tidak langsung meledak-ledak perkataan maupun emosinya mendapati si kecil “nakal”. Nah, itulah definisi cantik yang paling dasar yang harus dimiliki seorang perempuan, bukan polesan riasan mahal tapi cantik itu pancaran kebaikan hati.

freshstart.com

Cantik itu Smart

Semangat Kartini pejuang emansipasi perempuan Indonesia harusnya tak hanya saat peringatannya saja setiap tanggal 21 April. Akan tetapi, motivasi, gagasan, dan cita-citanya untuk perempuan di Indonesia harus ada setiap saat. Lewat pendidikan yang diperjuangkannya untuk kaum hawa di zamannya lahirlah sekarang perempuan-perempuan cerdas yang tak diragukan lagi pemikiran dan sumbangsihnya untuk negeri ini. Perempuan bukan sekedar “teman belakang” bagi para suami.

Jangan percaya mitos, untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi toh ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga?  Eitsss… jangan salah ya, pertama, meski dia ibu rumah tangga, tapi ialah madrasah pertama buat anak-anaknya. Ia yang mendidik dan mengajari anak pertama kali sebelum ke lembaga formal seperti sekolah. Ibu akan meletakkan pondasi norma, kepribadian, dan karakter pada anak. Kedua, di era teknologi menyasar segala lini kehidupan seperti ini ibu rumah tangga pun bisa membantu suami dari rumah. Seorang perempuan yang hobi menulis lalu menjadi blogger, menjadi penulis opini, atau freelance. Sembari mengurus anak seorang ibu di sela istirahatnya juga bisa berjualan online. Perekonomian berjalan bukan. Jadi, jangan remehkan posisi ibu rumah tangga.

Memutuskan menjadi ibu rumah tangga di era perempuan bisa bersaing dengan pria di bidang pekerjaan juga tak gampang loh. Picingan teman, tetangga bahkan keluarga. Tapi, menjadi ibu rumah tangga yang smart itu tak gampang. Background pendidikan sangat penting dimiliki. Ia akan menjadi pertimbangan suami untuk membuat keputusan-keputusan dalam rumah tangga, atau sekedar agar “nyambung” saat ngobrol dengan suami, yang kecil lagi, bagaimana kalau anak minta diajarin membuat PR? Belum lagi masalah keuangan keluarga yang biasanya dipegang oleh istri. Istri tak hanya harus menuruti emosi tapi juga memakai logika yang tentunya salah satunya di dapat melalui pendidikan. Hmmm…

Cantik itu Berkarya

Siapakah sosok perempuan idaman itu? Kalau saya tentu saja Ibunda umat Muslim, Khadijah. Beliau sebelum menjadi istri dari Rasululloh merupakan saudagar kaya kalau sekarang istilahnya entreprenuer. Setelah menikah, beliau mendukung perjuangan Nabi sepenuh hati bahkan meyakini wahyu pertama Nabi Muhammad SAW. Saat semua orang hampir tidak mempercayai wahyu di awal kenabian, beliau tetap ada disamping Rasul untuk menyemangati.

Setelah meninggal Khadijah, istri kesayangan Nabi, Aisyah adalah sosok yang smart. Beliau kerap menjadi salahsatu tempat pertimbangan Nabi saat akan mengambil keputusan misalnya berperang dan dalam pemerintahan. Aisyah putri Abu Bakar juga menjadi salahsatu perawi hadits karena daya ingatnya yang luar biasa terhadap perkataan maupun perilaku Rasulullah akhir zaman tersebut.

Itulah perempuan yang sumbangsihnya sangat luar biasa bagi dunia Muslim. Sehingga tak ada alasan bagi kita kaum hawa untuk bermalas-malasan maupun berhenti belajar ketika sudah menikah. Kita tetap bisa berkarya dengan apapun itu sesuai ketrampilan kita yang bisa berupa bakat alam maupun dipelajari. Mencetak generasi bangsa yang tangguh berkepribadian dan berakhlak mulia merupakan tanggung jawab besar utamanya perempuan sebagai seorang ibu.

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Artikel, ODOP

#ODOP5 Tips Beradaptasi di Rantau

Tak banyak orang berani memutuskan merantau. Biasanya mereka adalah orang yang banyak pertimbangan. Makannya cocok, budayanya gimana, bahasa yang berbeda, dan lain-lain.

Sejak kecil, saya bermimpi ke Pulau Kalimantan. Kenapa? Saya penasaran dengan daratan terluas di Indonesia yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia itu. Begitulah kata pelajaran di sekolah. Saya ingin melihat hutan hujan tropis. Konyolnya saya kecil ingin menyaksikan garis khatulistiwa yang membelah bumi menjadi bagian utara dan selatan.

Masuk di jurusan Kehutanan saat kuliah membawa impian ke Borneo kian menggebu-gebu. Tentu saja sebab pulau ini kerap disebut-sebut saat mata kuliah. Tentang kayu ulin yang awet dan kuat, tentang keberadaan masyarakat lokal yang tergerus perusahaan, tentang konflik hutan dan tambang, tentang orang utan yang terancam punah, dan lainnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Begitu mendapatkan tawaran bekerja ke Kalimantan Barat tentu tak butuh waktu lama memutuskan. Yang berat adalah meyakinkan orang tua terutama ibu dengan ketakutan-ketakutannya yang lebih merupakan kekhawatiran pada darah dagingnya. Jauh dari saudara, jauh dari rumah, dan bagi orang desa di Klaten, Kalimantan merupakan antah berantah.

Kuncinya dengan pendekatan dari hati ke hati bukan dengan amarah. Kita mengalah dulu dengan mendengarkan ibu bicara. Apa alasannya hingga berat melepas kita? Setelah beliau berhenti dan mengambil jeda nafas, mulai dengan senyuman kita bisa menjelaskan apakah alasan-alasannya tadi masuk akal. Kita berikan gambaran yang membuatnya yakin dengan keputusan kita 🙂

Kekuatan Senyum
Sebagai perempuan dan masih fresh graduate nyali saya ditantang begitu menginjak bumi khatulistiwa. Namun, segala ketakutan yang sempat terbesit harus segera dibuang kala dari balik jendela pesawat tanah menghijau itu mulai nampak. Dengan sebuah senyuman kecil saja, pikiran kembali menjadi positif. Rasa bahagia karena berhasil mewujudkan impian saat kecil. Coba kalau saat pertama saya datang, saya takut ini itu, mungkin kepuasan hati itu tak akan terasa.

Tersenyum itulah pertama kali juga yang saya lakukan saat memasuki area kantor. Lokasi yang masih asing dengan rekan-rekan kerja baru. Meski mereka sudah senior toh dengan manfaat senyuman mereka menyambut baik kedatangan si cupu ini kala itu. Bayangkan saja kalau saat saya datang, muka masam yang saya tunjukkan pertama kali. Mereka juga pasti malas berkenalan apalagi mengenal lebih jauh dengan kita seperti kita juga yang sungkan dengan orang yang tak ramah di kesan pertama.

Bekerja bukan berarti kita lepas dari hidup sosial bermasyarakat. Saat hendak ke lokasi perkebunan tentu kita terkadang melewati perkampungan. Ketika ada warga yang tengah bercengkerama apa kita lalu lalang saja? Memberi salam dan menyapa itulah etika dan norma yang saya anut sejak kecil. Nah, memberi salam dan menyapa yang paling efektif ini adalah dengan menundukkan kepala sambil menyunggingkan senyum. Jadi, kenapa harus bingung dengan bahasa dan budaya yang berbeda karena kita masih memiliki bahasa tubuh. Senyuman adalah pengikat itu. 

Saya jadi berpikir kenapa kerap terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan ya mungkin salahsatunya adalah kesalahpahaman. Kedatangan orang kota dianggap ancaman apalagi jika mereka berperilaku angkuh terhadap penduduk lokal. Nasehat bapak yang selalu dan akan selalu saya ingat adalah ikutilah dimana kamu tinggal. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kita yang harus pertama kali beradaptasi karena kita pendatang. Bukan memaksa mereka menerima kita. Dengan kemampuan menyesuaikan diri itulah perlahan tapi pasti mereka akan merangkul kita. 

Kekuatan senyum ini membuat image ramah melekat pada diri saya. Setidaknya begitu kata teman kerja di Kalimantan. Selain itu, berawal dari senyuman tulus itu saya yang sendiri menjadi mempunyai keluarga, rumah untuk pulang saat akhir pekan. Salah satu karyawan menganggap saya anaknya paling sulung. Istri dan ketiga anaknya juga memperlakukan saya dengan sangat baik. Padahal kami terlahir dengan berbeda suku dan agama. Tapi dalam naungan kebhinnekaan, Indonesia Raya itulah kami tinggal.

Apakah semua persoalan baik pribadi maupun pekerjaan bisa diselesaikan dengan senyuman terlebih dahulu? Saya yakin iya. Syaratnya harus tulus bukan senyuman sinis atau mencibir. Saya setuju bahwa senyuman akan melahirkan sikap positif dalam menghadapi beragam tantangan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Karena dengan bersikap positif akan membantu kita dalam mencari jalan keluar dan menyelesaikan beragam tantangan dan masalah dengan baik. Dengan demikian hasil akhir yang bisa dicapai juga akan baik. Saya sudah membuktikkannya sepanjang hidup saya karena saya perantau bertemu suami saat dirantau dan kini tinggal di perantauan, kalau Temans?

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada ODOP

#ODOP4 Tips Pesan Blog sampai ke Pembaca

Blog apa sih? Gampangnya blog merupakan diari yang dalam bentuk digital. Jika dulu sewaktu kecil, kita disarankan memiliki diari untuk menjadi seorang penulis, kini dianjurkan memiliki blog sebagai portofolio. Entah itu mau menerjenuni dunia kepenulisan hingga bisnis sekalipun.

Di era pengguna internet yang mencapai 88 juta jiwa ini, blog merupakan sosial media yang sudah familiar bagi penggunanya. Meskipun ia belum setenar facebook atau instagram. Sebab, memiliki blog bukan sekedar gaya-gayaan, ia tak sekedar memasang status activities kita maupun memajang jepretan. Memutuskan memiliki blog berarti harus konsisten untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas konten.

kenapa-saya-harus-ngeblog
gambar diambil dari blog kurniasepta

Pertama kali mengenal blog, saya tak sepenuhnya ingat mungkin sekitar tahun 2008-2009 dengan domain gratisan blogspot. Sejak saat itu saya kerap sekali membuat blog berganti antara blogspot maupun wordpress dengan satu alamat email. Karena waktu itu belum mengetahui cara menghapus blog. Nah, waktu saya memutuskan mengaktifkan blog ini sekitar tahun 2015 pun ada lima blog terdaftar di wordpress untuk satu akun email. Wah, kacau sekali saya 😀 Padahal ya dipikir-pikir jika satu saja sejak saat itu saya konsisten pasti blog saya sudah ramai sekali…

Sekedar informasi jika belum mengetahui cara menghapus atau mengedit nama blog, bisa langsung masuk ke menu setting tinggal memilih ingin mengganti nama blog atau men-delete permanent. 

Ketika ditanya untuk apa saya ngeblog? Jawaban saya karena ingin sharingBerbagi ilmu apapun kepada orang lain. Sebab ilmu yang bermanfaat merupakan salahsatu dari amal jariyah, yaitu amalan yang tidak terputus meskipun kita sudah meninggal. Karena itulah blog ini isinya gado-gado tidak jelas. Namun, hal tersebut tidak akan tercapai jika tidak ada yang berkunjung ke blog kita ibarat kita ingin memajang karya tapi tak ada yang mampir ke rumah. Lalu bagaimana agar pesan blog kita sampai ke pembaca, yuk kita review versi saya ya, blogger yang masih belajar.

  1. Blog harus memiliki tujuan. Tujuan ini sangat penting karena ia yang akan menuntun pemiliknya untuk fokus. Misalnya dengan pertanyaan mengapa saya harus ngeblog? Tapi ketika tujuan tersebut sudah terjawab misalnya untuk berbagi, tanya lagi berbagi apa? Inilah proses yang saya sendiri sedang mencari jawaban. Katanya blog yang baik itu yang ber-niche, yang memiliki tema spesifik sehingga pengunjung bisa jelas begitu pula google mendeteksi. Tapi apa ilmu spesifik saya? terus tanyakan karena tujuan bisa saja berubah sesuai dengan waktu, ia bisa saja harus diperbaiki pun cara mencapainya. Ibarat visi dan misi.
  2. Blogger harus konsisten dan disiplin. Setelah memiliki tujuan, seorang blogger harus konsisten dan disipilin. Jangan hanya berpuas, saya mempunyai blog tapi jarang di-update-nya *mencambuk diri sendiri* Kerap kita harus dipaksa untuk melakukan hal yang baik. Salahsatunya memotivasi diri dengan ikut program one day one post (ODOP) Blogger Muslimah Indonesia ini.
  3. Blogger harus mau terus belajarNever ending to study. Banyak pepatah yang mengatakan agar sebagai manusi kita terus belajar agar menjadi pribadi yang berkualitas. Begitu juga blogger, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, kalau sabda Nabi Muhammad SAW. Itu karena kemajuan peradaban China kala itu. Dengan belajar konten blog kita menjadi berisi sehingga pembaca tidak akan merasakan dikecewakan sekalipun itu hanya curhatan. Kita harus bisa pilah dan pilih informasi yang akan kita bagi.
  4. Blogger harus berjejaring. Meskipun di dunia maya bukan berarti seorang blogger bisa sendiri. Ia tetap harus memiliki kawan untuk saling bersilaturahim, saling meninggalkan komentar. Rumah yang bagus bukan karena isinya serba mahal tapi rumah yang sering mendapatkan tamu. Karena itu akan membuat rumah menjadi lebih hidup.
  5. Blog harus rajin dipercantik. Bagaimana jika ada tamu tapi kondisi rumah semrawut. Sudah pasti ia tidak akan betah. Terlalu ramai tidak bagus. Sederhana dan friendly mungkin itu lebih dicari.

Kurang lebih begitu versi saya yang masih amatir dan (sangat) ingin naik ke level profesional. Temans sangat boleh menambahkan jika memiliki pendapat lain. Yuk, kita saling belajar. Sharing ya, Temans 🙂

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada ODOP

#ODOP3 Bandung, The City of Dreams

Bandung, kota Paris van Djava ini siapa yang tidak mengenalnya. Kota kembang dengan ketinggian di lebih dari 800 mdpl ini memikat dengan segala pesonanya. Jika di Jawa Timur ada Malang si kota apel, Jawa Barat mempunyai Bandung.

Saat SMP, sekolah kami SMP Muhammadiyah 1 Klaten berkesempatan study tour ke ibu kota Jawa Barat ini. Kami mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika, Tangkubanparahu, dan menyusuri jalanan Cibaduyut. Hawa subuh yang memerindingkan sekujur badan kala itu. Sayang, saya tak ingat dimana kami berhenti untuk sholat.

Sejak itu mungkin, Bandung masuk list kota yang bakal saya kunjungi kembali suatu hari nanti. Ditambah ada sinetron Cinta SMA yang dibintangi oleh Nabila Syakieb, Bandung makin membuat jatuh cintrong.

Kenangan kecil tentang Bandung hanya bisa terekam oleh sisa-sisa ingatan. Sebab, tahun 2001-an, belum era smartphone seperti sekarang, handphone saja belum pegang. Yang ada hanya kamera saku itupun satu dua orang yang mempunyai. Saya, tidak punya huhu… sedih ya tidak bisa mengabadikan moment saat itu.

Kandangkan  impianmu. Jangan pernah biarkan mimpimu keluar sangkar.

Saya mulai merajut mimpi-mimpi saya tentang Bandung. Di antaranya ingin melanjutkan sekolah ke STT TELKOM usai menamatkan dari SMA Muhammadiyah 1 Klaten. Ketika mendapatkan tawaran PMDK tentu hal ini sayang dilewatkan. Formulir sudah diisi sudah diserahkan ke Bimbingan Konseling tapi apa dikata restu bapak tak didapat. Alasannya setelah hitung-hitungan, ia tak bisa menanggung biaya sekolah dan hidup di Bandung. Saya kesal, sebel, putus asa mungkin, ya ngambek-ngambek ga jelas ala ababil haha. Akhirnya tanpa meminta pertimbangan dari bapak saya ikut SPMB, nama ujian masuk perguruan tinggi waktu itu di Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan UGM. Pundung itu terus berlanjut jangan dikira saya mulus kuliah, saya ogah-ogahan tak pernah belajar. Waktu lebih sering saya habiskan main keliling Jogja dan sekitarnya, bekerja part time atau apalah. Hingga akhirnya ucapan seorang teman menyentil saya, Eko, namanya. Kurang lebih ia mengatakan betapa beruntungnya saya bisa masuk UGM, banyak yang ingin masuk kampus ini tapi kurang beruntung seperti dia sendiri. Lalu, saya yang sudah menjadi bagiannya malah menyia-nyiakan.

Seperti ada pukulan yang langsung menghunjam jantung. Sejak itu ya semester empat-limaan saya baru mulai serius dan menjiwai kuliah. Sungguh terlambat, andai bisa mengulang waktu. Begitu lulus, empat tahun kurang sedikit dengan IPK lebih dari 3 adalah hal yang sangat saya syukuri hingga sekarang mengingat cara saya kuliah, mengambil part time, terjun di bidang pemberdayaan masyarakat, dan ikut organisasi.

Lalu, soal bapak seiring berjalannya waktu dan ibu yang selalu mengakurkan kami gara-gara penolakan waktu itu saya sadar. Anak gadis satu-satunya bakal pergi ke kota besar tanpa sanak saudara, itu yang paling mengkhawatirkan baginya. Pergaulan bebas di kota yang sering di dengar orang-orang desa bukan masalah biaya. Tapi bukan berarti saya mencoret Bandung dari list the city of dreams saya.

Bandung, Saya Kembali

Kesempatan kedua datang ke Bandung tiba awal tahun 2012. Ketika itu saya sudah bekerja di Ciamis dan untuk kepentingan pekerjaan bertugas di Bandung sehari.

Pada akhirnya tahun 2013, saya dipindah kerja ke cabang Bandung. Wow banget bukan, sebab saya tidak pernah menyangka bakal tinggal lebih lama di kota ini. Apalagi saat itu saya tengah galau-galaunya bekerja. Saya tidak betah dan ingin resign dari kantor tempat pekerjaan yang paling saya impi-impikan sejak kecil terwujud. Dipindah ke Bandung memberi suasana baru dan lewat pekerjaan inilah cara saya bertemu pasangan hidup, suami yang urang Bandung. Ini lebih tidak disangka-sangka lagi. Sekarang saya menetap di Bandung dengan dua anak yang masih batita.

Kota impian yang jadi nyata.

Jadi hal yang ingin saya sampaikan lewat secuil pengalaman hidup ini adalah jangan biarkan mimpi menguap seiring kamu terbangun. Meski itu bukan impian besar tapi bisa jadi lewat mimpi kecil itu akan membentukmu menjadi besar. Bangun dan wujudkan, kalaupun tertunda, Alloh mempunyai rahasia yang lebih indah buat kita. Lalu, jangan pernah menyalahkan orang tua, kalaupun tidak sependapat itu semata-mata karena mereka ingin yang terbaik buat kita. Jangan seperti saya waktu itu ya sangat kekanak-kanakan.

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

 

 

Andalan
Diposkan pada ODOP

#ODOP2 Lebih Dekat dengan Blogger Muslimah Indonesia

cropped-Blogger-Muslimah-Logo-2-1

Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka kenalan. Begitulah kata pepatah.

Di era serba digital dan hampir semua pengguna smartphone mengakses media sosial. Mereka bersosial media dengan blog, facebook, twitter, instagram, dan sebagainya. Karena itu pula tak heran kita banyak mendapatkan jejaring pertemanan melalui dunia maya. Apakah kita ikut hebring-hebring saja alias sekedar mengikuti trend di dunia online. Tentu sebagai seorang Muslim kita harus memiliki filter. Nah, salahsatu caranya sebelum klik berteman atau following di media sosial atau bergabung dengan komunitas maya adalah mengintip profil-nya.

Di tulisan one day one post #ODOP1 Belajar Konsisten dan Disiplin Nge-blog, Bisa! merupakan posting yang berisi motivasi mengikuti ODOP yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia. Sebagai seorang yang memutuskan memiliki blog pastilah sudah tidak asing dengan komunitas-komunitas blogger yang memiliki kesamaan visi seperti Warung Blogger (WB), Kumpulan Emak Blogger (KEB), dan masih banyak lainnya. Lalu alasan saya bergabung dengan komunitas ini adalah kesamaan identitas sebagai seorang Muslimah, dengan bergabung dengan group ini saya berharap bisa menjadi agen Muslim yang baik. Wohoho… terpengaruh banget dengan Novel 99 Cahaya di Langit Eropa yang juga telah difilmkan karya Hanum Salsabila Rais dan suaminya Rangga Almahendra. Sebagai manusia yang kerap khilaf dengan bergabung di sini supaya baterai yang sering ngedrop bisa selalu ter-charge karena semangat dari teman-teman yang lain.

Perjalanan Join Group dengan Blogger Muslimah Indonesia

Saya mengetahui komunitas ini atas saran dari facebook, apa saya langsung klik gabung group, tidak tapi seperti apa yang telah saya bahas di atas, kita intip dulu profilnya. Maaf ya bukan su’udzon tapi hanya memastikan sebab agama kerap dijadikan alibi bagi mereka yang mempunyai paham-paham radikal. Website Blogger Muslimah, oke aktif dan ulasan atau postingannya, oke juga. Meluncur ke twitter @blogmuslimah_id tidak fiktif dan yang sedang booming akun instagram harus dicek juga donk @bloggermuslimah kirimannya sudah lebih dari seratus, follower-nya juga lebih dari 700… oke deh cek selesai. Tidak ada postingan negatif. Komunitas ini dibentuk untuk mewadahi penulis Muslimah yang menjadikan media dan jejaring sosial untuk berbagi informasi. Hmmm…dan ternyata pas mengecek sosial media beberapa teman telah terlebih dahulu mengikuti, oke, saya klik join group dan mengikuti semua media sosialnya.

Belum lama saya bergabung dengan komunitas ini. ODOP merupakan partisipasi pertama saya di program yang diadakan Blogger Muslimah Indonesia. Semoga menjadi blogger yang lebih baik lagi dengan konten yang berkualitas.

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

muslimah-tonggak-peradaban

Andalan
Diposkan pada Artikel, ODOP

#ODOP1 Belajar Konsisten dan Disiplin Nge-Blog, Bisa!

Good Morning Sunshine!

ODOP apa sih itu? One Post One Day merupakan salahsatu program Blogger Muslimah untuk para anggotanya agar mem-posting satu tulisan setiap hari di blog masing-masing. Waktunya selama bulan Agustus 2017 terhitung dari tanggal 1 sampai 31. Link tulisan wajib disetorkan kepada penanggung jawab (PJ) setiap harinya dengan hastag #ODOP dan #BloggerMuslimahIndonesia. Isi tulisan bisa disesuaikan dengan niche masing-masing blog dengan minimal 300 kata. Sepertinya gampang ya? Let’s see hingga akhir bulan nanti ya. Semoga bisa istiqomah 🙂

Nah, mengawali postingan #ODOP hari pertama adalah tulisan wajib dengan tema, Motivasi Mengikuti ODOP Blogger Muslimah Indonesia Ketika saya membaca status di group Facebook Blogger Muslimah terkait #ODOP tak perlu berlama-lama untuk mendaftarkan blog saya ini. Kenapa?

  1. Memaksa diri untuk konsisten nge-blog. Konsisten itu satu kata yang terdengar gampang tapi penuh aral ketika menjalaninya. Bahkan blogger sekelas Mbak Carolina Ratri pun mengakui hal ini. Dalam artikelnya “Konsisten Menjadi Blogger – Apakah Sesulit Itu?” ia membagi tips supaya bisa lebih konsisten nge-blog di antaranya enjoy the ride, temukan ritme, mulai dari yang kecil, mempunyai blog junjungan, dan keep your mind (and ear, and eye) open.
  2. Supaya disiplin membuat postingan. Konsisten dan disiplin sepertinya tidak jauh berbeda ya. Melalui #ODOP ini saya belajar disiplin atau mematuhi apa yang sudah saya putuskan. Begitu juga dengan memutuskan menjadi blogger seharusnya saya bisa lebih disiplin tidak hanya menganggap blog sebagai sampingan. Membuat postingan sekedarnya dan ala kadarnya saja. Tapi bagaimana disiplin membuat post yang berkualitas dan konsisten.
  3. Memperkuat tali silaturahim dan menambah jejaring. Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa hidup sendiri. Meskipun dunia blog berada di dunia maya bukan berarti kita tidak membutuhkan untuk bersosialisasi. Lewat #ODOP saya mengharapkan tidak menjadi blogger yang soliter tapi terintegrasi dalam komunitas yang saling berlomba-lomba dalam kebaikan, saling menimba ilmu antar blog. Kemudian, di lain kesempatan bisa berpartisipasi dalam kopdar seperti program yang direncakan oleh Komunitas Blogger Muslimah Indonesia.
  4. Keep on the track. Setiap blogger pasti mempunyai tujuan ketika membuatnya. Untuk mencapai tujuan tidaklah mudah. Pasti sesekali angin akan meniup dan mengombang-ambingkan kita. Nah, saat layar terhembus angin atau semangat kita mulai goyah, saat itulah kita membutuhkan pegangan atau butuh something untuk menjaga semangat. Semoga #ODOP akan membantu saya tetap di track untuk terus menulis dan berkarya.

Itulah motivasi saya ikut #ODOP. Temans pastinya memiliki motivasi sendiri. Apapun motivasi itu, semoga lewat #ODOP kita sebagai blogger makin bertumbuh dan berkembang. Amiin 🙂

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Andalan
Diposkan pada Artikel

Lenovo K6 Power atau Samsung Galaxy J5 Pro, pilih yang mana ya?

Jadi ceritanya mau membeli smartphone. Sudah mengincar beberapa merk dan tipe tapi lagi setengahnya menabung kok sudah muncul iklan baru lagi, ya. Jadi galau, nih. Temans pernah seperti itu? Pertimbangan apa yang akhirnya membuat Temans menentukan pilihan? Apa sekedar jatuh hati pada pandangan pertama atau mengecek detail spesifikasinya dan membandingkan antar smartphone atau berdasarkan harga?

Sebagai orang yang awam di bidang spesifikasi-an  smartphone bukan berarti harus abai ‘kan ya. Dulu pertimbangan saya kalau membeli handphone simple banget yaitu cuma melihat design-nya alias tampilan luarnya. Kurang peduli dengan harga maupun spesifikasinya, yang penting suka. Masalah spesifikasi ini justru dari adik, saya belajar. Walaupun kita bukan orang IT tapi jangan gaptek-gaptek banget-lah. Apalagi sekarang era serba digital, kita bisa mengintip secara online. Serba mudah dan cepat. Berbeda seperti dulu yang harus ke counter HP bertanya dengan pramuniaga atau sekedar meminjam tabloid HP hehe… Nah, sekarang salahsatu laman review smartphone adalah sinyaliti.com yang mengupas tuntas spesifikasi smartphone. Kehadirannya sangat membantu orang awam seperti saya ini. Selain itu, di situs-situs belanja online juga melampirkan deskripsi produk secara garis besar.

Okelah, karena saya sedang mengincar dua smartphone ini, saya akan mencoba menelisik lebih dalam sesuai pengetahuan saya yang minim. Sebelumnya berikut pertimbangan saya memilih smartphone. Kalau Temans mempunyai saran lain boleh juga di-share.

  1. Tetap masalah design yang stylish dan warna yang “different”. Konon pemilihan jenis smartphone atau bentuk handphone ini mencerminkan kepribadian kita. Nah lho.
  2. Mau buat apa smartphone-nya? Sekedar gaya-gayaan, mengikuti trend, atau untuk berkarya juga. Ini penting untuk menentukan spesifikasinya.
  3. Sesuaikan budget dari skala prioritas. Ya, maksudnya jangan sampai karena mengikuti keinginan membeli smartphone jadi uang untuk pos lain kepakai. Lebih baik tunda dulu atau kalau sudah ngebet cari dengan harga yang pas di dompet dengan spek yang kurang lebih sama.

Yuk, coba kita ulas…

Lenovo K6 Power

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber gambar Review Lenovo K6 Power

Samsung Galaxy J5 Pro

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber gambar Review Blibli

Perbandingan 

Perbandingan Lenovo K6 Power dan Samsung Galaxy J5 Pro
Diolah dari Sinyaliti dan Blibli

Spesifikasi yang ditampilkan hanya yang dimengerti dan berdasarkan kebutuhan saya akan smartphone ya. Jika Temans lebih paham tentang spek-spek smartphone mungkin akan lebih banyak lagi yang dibandingkan seperti prosesor dan lain sebagainya. Kalau ingin review, spesifikasi, dan membandingkan harga smartphone antara toko online dengan cepat langsung saja meluncur ke www.sinyaliti.com.

Btw, kembali antara Lenovo K6 Power dan Samsung Galaxy J5 Pro, secara umum sepertinya bagi saya tidak terlalu jauh ya, yang jelas berbeda adalah kamera depan yang mana Samsung Galaxy J5 Pro lebih unggul. Seperti iklannya, “more than selfie”. Untuk berat ponselnya juga tak jauh berbeda Lenovo K6 Power 145 gram dan Samsung Galaxy J5 Pro 158 gram. Masalah akses jaringan sudah pasti keduanya mengusung 4G LTE.

Saya sendiri yang sedang mencoba konsisten blogging akan menggunakan smartphone untuk ngeblog. Kemudian akan banyak menggunakan kamera untuk memotret produk. Ibu rumah tangga yang mencoba menjadi entrepreneur dengan ketrampilan merajut yang dimiliki. So…so… pilih yang mana? Hmmmm…

Semoga bisa memberi gambaran ya agar membeli ponsel pintarnya tidak sekedar mengikuti trend tapi sesuai tujuan Temans memiliki smartphone. Lagian kalau sekedar mengikuti trend rasanya bakal capek sendiri karena perkembangan teknologi berjalan sangat cepat. Jangan lupa mampir ke sinyaliti portal handphone terbaik di Indonesia untuk ulasan HP, spesifikasi ponsel, dan referensi harga. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

Andalan
Diposkan pada Artikel

Menjadi Perempuan Kreatif dan Melek Digital

Never give up

Kalimat tersebut merupakan oleh-oleh mengikuti Roadshow Serempak 2017 “Kreatif Bersama Serempak, Literasi Digital Generasi Millenial” di Aula Masjid Mujahidin Bandung, Kamis 20 Juli 2017. Jangan pernah menyerah, kalimat yang sering kita dengar terutama dalam buku-buku motivasi maupun oleh sang motivator. Kalimat yang juga menginspirasi D’massive membuat lagu dengan judul “Jangan Menyerah”. Sebelumnya kata-kata tersebut hanya bersliweran di telinga. Namun, kalimat tersebut kini menjadi istimewa karena diucapkan oleh Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise. Jangan pernah menyerah dan bekerja keras itulah kunci kesuksesan Beliau. Hard work yang mengantarkannya menjadi perempuan pertama dari Papua yang menjadi menteri dan guru besar. Bolehlah saya menyebutnya, “Kartini dari Timur”.

Awalnya saya tak menyangka dengan kehadiran ibu menteri. Sebab tidak ada di poster narasumber undangan acara yang terselenggara atas kerjasama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Iwita, Serempak, dan Kominfo ini. Tentunya ini menjadi kejutan tersendiri bagi saya dan peserta Roadshow Serempak lainnya.

flayer Bandung

Dalam kesempatan ini beliau berpesan agar mengambil yang positif dari internet dan media sosial supaya terhindar dari hoax atau berita bohong yang belum tentu kebenarannya. Pengalamannya sebagai dosen di Universitas Cendrawasih, beliau banyak menghadapi skripsi dari mahasiswa-nya. Beliau sangat menyayangkan tak sedikit yang masih copy-paste yang tidak dijelaskan sumbernya. Sebagai generasi bangsa, beliau senantiasa mengingatkan agar mahasiswa rajin membaca, jangan asal menjiplak di internet. Karena itulah fungsi perpustakaan. Beliau juga menekankan bahwa mahasiswa harus mempunyai teori yang lebih kreatif.

Sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, beliau berambisi terwujudnya planet fifty-fifty, sebelumnya saya tidak mengerti apa maksud planet fifty-fifty ini. Apakah planet di tahun 2050? Ternyata bukan, saya jadi merasa bodoh. Yang dimaksudkan beliau adalah ketika kesetaraan gender telah terwujud, yaitu seimbang antara laki-laki dan perempuan. Bukan masalah angka penduduknya ya, tapi terkait profesi maupun terkait “pengakuan”.

Selain itu dalam kesempatan ini beliau juga menyampaikan agar kita mengontrol teknologi yang telah merubah cara berpikir dan perilaku, dengan adat budaya Indonesia yang tinggi.

DSCN1355
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise

Perempuan Berkarya dengan Cinta

Sebelumnya, peserta mendapat inspirasi oleh Indari Mastuti. Sosok perempuan inspiratif yang berkarya dengan memanfaatkan teknologi digital, 99 persen dia mengaku merengkuh dunia melalui facebook. 

20170720_100418
Penggiat Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indari Mastuti

Menurutnya rugi jika perempuan tidak memanfaatkan era digital yang mana semua serba mudah dan cepat. Nah, apa itu online? Sebagai ibu yang melahirkan dan mendidik anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus mengikuti perkembangan zaman. Jika dulu saat awal-awal belajar membaca di sekolah, murid diajari kalimat, Ayah pergi ke kantor, Ibu pergi ke pasar. Saat ini hal tersebut sudah tidak berlaku. Sebab, baik ayah maupun ibu bisa bekerja dari rumah secara online seperti yang dilakukannya.

Bagi Indari, sosial media digunakannya untuk lima hal yaitu bisnis, silaturahmi, berbagi, campaign, dan pengembangan diri. Dari aktivitas di sosial media tersebut banyak hal yang telah diperolehnya, di antaranya 10 tahun berbisnis di dunia jasa penulisan, berdirinya komunitas ibu rumah tangga dengan anggota 50 ribu orang lebih, mendirikan portal emakpintar.org, meminimalisir kenakalan anak Indonesia lewat Sekolah Gratis Indonesia, dan menekan angka kelaparan dengan Kedai7K. Prestasi yang pantas kita teladani yang semuanya dijalankan via digital.

Sebagai ibu, ia juga mengatakan bahwa bermain digital dengan penuh cinta di rumah bersama anak akan memberikan efek positif jangka panjang. Ibu yang cerdas menggunakan internet dengan cerdas dan menyingkirkan keburukannya. Berikut tujuh tips internet yang bisa diterapkan oleh ibu di rumah:

  1. Tutup sejenak sosial media jika sedang marah
  2. Kalau sedang bahagia posting banyak tulisan
  3. Fokus membagi ilmu yang dikuasai
  4. Pilah dan pilih teman di sosial media
  5. Berhenti menulis secara subyektif
  6. Kalau ingin menulis hal negatif bercermin dahulu
  7. Evaluasi berkala bersama keluarga-anak, misalnya terkait status di sosial media

Perempuan Indonesia Kreatif dan Melek Digital

Kita sudah berbicara tentang perempuan kreatif di era digital. Namun, kerap kali kita juga mendengar literasi digital. Jadi apa itu literasi digital? Dosen Fikom UNISBA Andalusia Neneng Permatasari menjelaskan literasi digital pada intinya adalah melek teknologi. Tidak cukup hanya menggunakan tapi bisa menyortir informasi yang diperoleh. Agar bisa melek digital setidaknya harus kreatif, kritis dan evaluatif, pemahaman sosial budaya, dan kolaborasi.

Sehingga melek digital itu tidak hanya menggunakan, tapi bisa memahami, mengevaluasi, hingga membuatnya sendiri. Modalnya, passion, kemampuan, dan berkolaborasi. Katanya mengutip Ridwan Kamil, hidup itu adalah hubungan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Untuk bisa sukses berdigital, kita harus berkolaborasi dengan yang menguasai. Ia mencontohkan pengalamannya saat membuat aplikasi bekerjasama dengan ilustrator animasi.

Ketika masyarakat sudah melek digital, bagaimana dengan komitmen pemerintah? Pembicara dari Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Yulis Widia M mengatakan Kominfo bertekad membangun infrastruktur telekomunikasi dari Sabang sampai Merauke di antaranya melalui Palapa Ring. Sehingga tidak ada internet mahal untuk seluruh Indonesia. Targetnya adalah membangun Palapa Ring atau serat optik sepanjang 36.000 kilometer supaya tidak ada kesenjangan internet antara wilayah barat dan timur.

20170720_122705
Foto bersama para narasumber Roadshow “Kreatif Bersama Serempak, Literasi Digital Generasi Millenial”

Dengan kreatif dan melek digital, seperti kata satu-satunya speaker laki-laki dari Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat Bapak Rizal, tidak ada lagi pernyataan perempuan berambut panjang berakal pendek tapi yang ada “perempuan berambut panjang berakal panjang“. Harapannya dengan optimalisasi digital berbasis kesetaraan gender membuat kaum perempuan dapat berpikir panjang dan bisa memberi manfaat untuk kemaslahatan umat.

Wish you luck!

Andalan
Diposkan pada Happy Writing, lomba blogging

Shocking Japan bareng Halal Tour Kanto Theme Park Royal Indonesia

Jepang kalau kata salahsatu iklan di televisi, negeri yang aneh dengan orang-orang yang aneh pula. Jepang di mata suami saya adalah Oda Nobunaga. Kisah para shagun-samurai-ronin yang selalu “dikejarnya”. Beda lagi versi si kecil saya Namiya, Jepang adalah Naruto. Kalau lari, kedua tangannya di belakang. Bagi saya pribadi, klasik sekali, Jepang adalah Gunung Fuji dan keindahan bunga sakura. Apapun itu tentang Jepang justru itulah letak daya tariknya. Bahkan, tinggal di Jepang selama kurang lebih dua tahun membuat flying traveler Junianto Herdiawan melahirkan buku Shocking Japan; Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan. 

Hmmm…temans mengincar Jepang sebagai destinasi impian. Banyak buku-buku tentang traveler murah berikut panduan perjalanannya atau ingin nekad seperti Trinity yang sudah melahirkan banyak buku The Nacked Traveler. Lalu, ketika dipikir-pikir ulang takut ribet ini itu dari pengurusan dokumen administrasi, kendala bahasa, menetapkan obyek wisata bahkan hingga kebutuhan mendasar pangan yang halal. Temans tentu tahu donk jika Jepang bukan negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Nah, sekarang tak perlu khawatir dengan semua itu. Karena, Royal Indonesia menjawab kegundahan para wisatawan yang ingin tour ke mancanegara dari mulai memfasilitasi pengurusan dokumen persyaratan seperti paspor atau visa, tempat tinggal, makanan halal hingga menjamin ibadah sholat secara nyaman.

Khusus artikel ini, saya akan me-review salahsatu tour yang ditawarkan oleh Royal Indonesia Tour and Travel, Halal Tour Kanto Theme Park. Boleh langsung meluncur ke Halal Holidays Japan Kanto Theme Park, ya. Ohya sebelum membahas itenary atau panduan perjalanannya, Royal Indonesia merupakan biro perjalanan travel, umroh, dan halal tour yang mendapat second winner Kementrian Pariwisata 2016 sebagai operator haji dan umroh terbaik. Jadi, temans tak perlu ragu dan khawatir lagi jika ingin menggunakan pelayanan biro perjalanan ini. Kenapa ini menjadi pertimbangan penting? Sebab tentu kita tidak ingin menjadi korban penipuan bukan, akhir-akhir ini sering muncul di berita kalau banyak biro perjalanan bodong. Uang kita melayang, perjalanan yang diimpikan tinggal angan-angan. Jangan sampai, ya.

Oke, lanjut, untuk Halal Tour Japan Kanto Theme Park ini dibandrol Rp 22 juta/px untuk dewasa selama enam hari perjalanan, wow kan? Temans, tidak perlu memusingkan biaya penerbangan, hotel, asuransi, masuk tujuan wisata, dan makan tapi jangan lupa bawa bekal untuk membeli “oleh-oleh” buat keluarga.

Kita intip itenary Halal Japan Kanto Theme Park, yuk!

Hari 1 :   Around Tokyo 

03.00   Berkumpul di bandara international Soekarno Hatta dan memulai perjalanan dengan penerbangan International menuju Tokyo International Airport, Jepang.

16:30   Tiba  at Haneda airport (ANA872)

17:30   Bertemu dengan guide dan melanjutkan perjalanan menuju Hotel

19:00   Tiba di Hotel (Tokyo) check in dan istirahat

Hari 2 :   : Around Mt.Fuji -Q-Highland

06.30   Sarapan pagi

8:30     check out hotel

10:30   Melanjutkan perjalanan tour menuju Mt.Fuji museum keindahan Mt. Fuji dari dekat dengan mengunjungi Fifht Floor of Mt.Fuji

12:00   Kemudian makan siang, sholat zuhur

13:30   Melanjutkan bermain

18:00   Transfer ke hotel untuk makan malam dan istirahat  Hotel (Izu)

Hari 3 :   Around Odaiba Toyota Megaweb Yoyogi Mosque

06.30   Sarapan pagi

08:30   Check out hotel

10:00   Melanjutkan city tour mengunjungi Odaiba shopping / Toyota Mega wab

13.00   Makan siang & Sholat Zuhur

15:00   Yoyogi Mosque Mengunjungi Yoyogi Mosque salah satu mesjid terbesar di Jepang yang di bangun dengan gaya Ottoman mengesankan

16:00   Kemudian mengunjungi Omotesando

18:30   Transfer to Hotel untuk istirahat & Dinner (Tokyo or Chiba)

Hari 4 :  Around Disney Land

06.30   Sarapan pagi

07.30   check out Hotel

08.00  All day enjoy at Disney land

21.00   Back to Hotel

Hari 5 :  Around Disney Sea

06.30  Sarapan pagi

07.30   check out Hotel

08.00  All day enjoy at Disney Sea

21.00   Back to Hotel

Hari 6 : Around Tokyo  Going to Haneda airport 

06.30   Sarapan pagi

08:30   Check out hotel dan melanjutkan perjalanan tour di hari terakhir

10:00   Mengunjungi Akihabara salah satu tempat belanja yang berada di sekitar setasiun Akibahara

12:00   Kemudian makan siang dan sholat zuhur

13:00   setelah makan siang dilanjutkan mengunjungi Asakusa , dan Ginza

18:00   dilanjutkan dengan makan malem dan transfer to Airport

21:00   Tiba di Bandara Haneda

23:30 : melanjutkan perjalanan dari Haneda menuju Jakarta dengan (ANA871)

Nah, bagaimana, siap-siap ikut Tour Kanto Park yang menggiurkan. Meskipun sudah ada guide, kita kalau bisa jangan terlalu awam. Nanti kita hanya akan jadi bagian barisan penggembira yang ikut kemana angin berhembus. Kalau sudah mempunyai gambaran tentang destinasi yang dituju kita kan bisa kroscek pada pemandu saat kunjungan. Kita juga bakal kelihatan keren dimata rombongan karena rajin bertanya. Cuma jangan sok tahu dan menggurui, ya. Kita intip satu per satu, yuk.

Berikut sedikit bekal perjalanan dari saya agar bisa Shocking Japan kaya Junianto Herdiawan, semoga bermanfaat:

Fifht Floor of Mt. Fuji

Sebagai pecinta gunung, ini adalah destinasi favorit bagi saya. Jepang adalah Gunung Fuji. Gunung Fuji merupakan gunung dengan puncak tertinggi di Jepang yaitu 3.776 mdpl. Nah, di sinilah tempat terbaik untuk memandang keindahan dan keangkuhan Gunung Fuji yang puncaknya tertutup salju. Kita juga akan menjumpai banyak toko souvenir dan rumah makan. It’s a great spot for sightseeing. (mtfuji-jp.com)

Odaiba Shopping/Toyota Mega Web

Setiap hari Odaiba banyak dikunjungi wisatawan asing. Lokasinya mirip Tokyo sehingga banyak keluarga bersama anak maupun pasangan menghabiskan waktu di tempat yang dikelilingi samudra dan lansekap mempesona yang tak akan terlupakan. Kalau temans sering mendengar televisi merk Fuji, ada di sini. Hmmm… pemburu Hello Kitty juga tak boleh melewatkannya donk. Let’s shop Tokyo Odaiba-style! (gotokyo)

Sedangkan di Toyota Mega Web merupakan ruang pamer “Toyota”. Merk mobil yang tak asing buat kita ya. Tentu saja bagi pecinta otomotif tak boleh melewatkannya ya.

18084412_1410831212312963_7966785659698413568_n
sumber: Fanpage Royal Indonesia Travel

Yoyogi Mosque

Merupakan salah satu masjid terbesar di Jepang yang di bangun dengan gaya Ottoman mengesankan. Sebagai tour yang mengusung konsep halal dan kemudahan beribadah bagi Muslim, masjid ini adalah destinasi andalan. Masjid Camii disebut-sebut sebagai masjid terindah di Asia (matcha-jp.com). Gaya arsitekturnya layak dikagumi. Beruntung sekali bisa mampir ke masjid yang bukan hanya sebagai tempat peribadatan Muslim tapi juga pusat kebudayaan Turki dan pengetahuan. Ingin oleh-oleh khas Turki bisa didapat di sini,Temans.

Saatnya makan… Salahsatu rekomendasi Royal Indonesia Travel adalah Mie Kaijin, ramen halal yang memiliki isian seafood, bakso dan toping telur rebus setengah matang. Bisa dicoba ya nanti saat di Jepang.

Mie Kaijin ramen halal
sumber: Fanpage Royal Indonesia Travel

Omotesando

Jalan sepanjang satu kilometer ini dijamin akan membuat lapar mata. Beragam merk-merk dunia dan berkualitas dari jam tangan, fashion hingga apple store (tripadvisor).

Disney Land and Sea

Sepanjang dua hari berada di dunia disney, wah bisa-bisa tidak mau balik lagi ke Indonesia ya. Masih ingat donk Sandra Dewi menggelar resepsi pernikahan ala princess di disney land. Selain melihat lokasi resepsi supermewah Sandra Dewi, di Disney Land maupun Sea pengunjung bisa memacu adrenalin dengan mencoba berbagai wahana yang ada, bersua dengan tokoh disney favorit, menyaksikan berbagai pertunjukan, dan lain- lain (tokyodisneyresort).

Akihabara

Belanja lagi di sekitar setasiun Akibahara. Bedanya di sini Temans bisa bertemu dengan maniak game, komik, dan manga juga pemuda-pemudi yang berpakaian costume-play. Kalau yang pernah ke Bandung mungkin tak asing lagi dengan costplay ini. Tapi yang pertama melihat mungkin aneh juga, bayangkan tiba-tiba ada orang mirip naruto, sailormoon, dan karakter lain berjalan-jalan di sekitar Temans. Selain itu, bisa juga berburu barang elektronik misalnya kamera (infojepang).

Asakusa

Distrik ini diisi oleh gangsters, geisha, courtesans, writers, artists, actors and beggars (japan-talk). Daya tarik di distrik ini adalah kuil Sensoji, festival Sanja Matsuri yang melibatkan banyak orang, dan parade penari samba Matsuri.

Ginza

Surganya fashion dari harga murah hingga branded mahal. Pas juga untuk berjalan-jalan saat car free day (detik.com). Wah, karena banyak lokasi shopping-nya diimbau jangan buru-buru mengeluarkan bekal ya. Pasti banyak keinginan, pilih yang prioritas dan sesuai budget. Shopping time agaian.

Untuk menapak tilas mereka yang sudah mengikuti tour ini bisa klik video berikut. Klik di sini.

Destinasinya seru-seru. Nikmati sendiri pengalaman perjalananmu. Harga bersaing dan route yang mengasyikan bukan? Untuk detailnya dan lebih meyakinkan temans bisa langsung surfing ke website Royal Indonesia Wisata. Baca baik-baik, biar sama-sama plong dan tidak ada kesalahpahaman ya 🙂

Atau langsung kontak:

DEPOK :
The Great Saladin Square, Jalan Margonda Raya No.39 Blok C.30, Depok 16431.

P : (+6221) 2940 22 32/46.
M : 0822 188 188 01.
E : hello@royalindonesia.id

IKUTI KAMI

 

 

 

Andalan
Diposkan pada Echi's Wife

#MemesonaItu When You Smile to me

Bahagia itu saat seseorang membalas senyum kita. Tersenyum pada kita. Karena pada saat itulah kita berhasil menarik perhatiannya 🙂

Budaya orang timur sangat menjunjung keramahtamahannya. Apalagi kita hidup di Indonesia yang kental akan keramahan penduduknya. Sikap ramah yang paling sederhana adalah tersenyum. Saking hebatnya manfaat senyum bahkan salah satu hadits riwayat Tirmidzi menyebut, “Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah.”

Smile is Key 
Pilihan merantau usai lulus dari Fakultas Kehutanan UGM tahun 2010 mengharuskan saya bertemu orang dengan budaya baru. Pertama kali bekerja di perusahaan perkayuan saya ditempatkan di Landak, Kalimantan Barat. Lalu, diperbantukan di Tulungagung, Jawa Timur kemudian ditunjuk menjadi salahsatu pioneer ketika perusahaan akan membuka cabang baru di Ciamis, Jawa Barat. Beberapa bulan berikutnya saya memutuskan ke Jakarta untuk mengejar pekerjaan impian. Profesi ini mengharuskan untuk bertemu orang berbeda setiap hari. Dari kota metropolitan moving ke paris van djava. Di Bandung akhirnya saya berlabuh. Saya sendiri asli Klaten, Jawa Tengah, benar-benar wong ndeso.

Beberapa foto saat di perantauan (Dok. Pribadi)

Menikah dengan pria Bandung tidak menjadikan hidup sedenter. Awalnya kami menyewa tempat tinggal di Cimahi karena mengikuti tugas suami. Setahun kemudian dipindah wilayah kerjanya di Kota Bandung. Kami pun sementara serumah bersama mertua. Menuju tahun ketiga pernikahan kami pindah di rumah sendiri dengan membeli rumah bekas.

Saya sudah tidak bekerja sejak menikah. Bukan berarti harus berdiam di dalam rumah tapi penting bersosialisasi dengan tetangga yang menggunakan Bahasa Sunda dalam kesehariannya. Tergabung dalam komunitas parenting 123 education for kids dan dunia rajut yang juga mayoritas anggotanya orang Bandung. Kunci menjalani kehidupan nomaden adalah ramah dengan banyak tersenyum. Sehingga, kita mudah diterima dalam lingkungan baru.

Agar bisa menjadi gravitasi yang mempengaruhi orang lain tersenyum tentu kita harus melihat dalam diri kita sendiri terlebih dahulu. Masa meminta orang lain tersenyum sedangkan wajah kita menunjukkan hal yang sebaliknya. Ingat kata mentor Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Ary Ginanjar Agustian yang pernah booming di era-nya, senyumnya dua senti ke kanan dan dua senti ke kiri. Yang seimbang. Kalau salahsatu saja jadinya tidak ikhlas bisa juga dianggap sinis. Cobain deh. Nah, untuk itulah perlunya menjaga mood sepanjang hari.

Untuk menjaga mood ini saya percayakan pada parfum vitalis new body scent Bizarre. Kenapa saya pilih bizarre. Kebiasaan saya kalau membeli produk perawatan badan adalah membaca bagian belakangnya apakah cocok dengan masalah tubuh saya atau tidak. Bizarre ini sensational scent of Bizarre boosts splendid & fantastic mood in achieving your fullest life. Jadi bukan karena yang lain jelek tapi sesuai kebutuhan dan saya rasa paling mendekati personality saya. Selain itu bizarre artinya aneh. Unik atau berbeda. Kalau kata salahsatu dosen saat pelatihan soft skill waktu orientasi kampus atau OSPEK, jangan menjadi average people. Wejangan yang menjadi salahsatu prinsip hidup.

I’m Purple Violet

Waktu saya mencoba test flower ; jreng…jreng… hasil yang saya pilih sama lho

Screenshot_2017-05-16-19-05-36-1
Hasil flower test. Screen pic from http://www.pesonavitalis.com

Aroma Bizarre ini begitu disemprotkan ke bagian tubuh langsung cesss adem. Tak lama kemudian harum dari perpaduan bunga-bunga violet, lotus, blackcurant, sandalwood, dan marine mulai menyeruak. “Mmm… parfum ibu wangi…” kata si sulung 2,5 tahun dengan hidung mengirup-irup.

Wanginya tak menguap kebawa angin tapi masih nempel di kulit. Benar-benar long lasting & skin friendly. Splendid banget. Mau tahu kebiasaan saya memakai Bizarre? Dengan mengarahkan sprai ke telapak tangan kiri bukan punggung tangan. Maksudnya? Ga bermaksud apa-apa, suka aja sih. Kalau secara pribadi saya memakai parfum usai mandi di pagi hari. Saat tengah hari usai istilahnya ishoma -istirahat sholat makan- biar mood tetap terjaga, tak lupa menyemprotkan Bizarre kembali. Nah, biar fresh-nya kaya pagi, pakai lagi donk si uniknya setelah mandi sore/petang. Benar-benar long lasting. Asal pakai secukupnya kalau berlebihan jadi norak kan. Dalam agama juga berlebihan itu dilarang karena mubazir. Kecuali untuk menghilangkan bau tak sedap harus lebih banyak sprai-nya.

Kenapa saya menggunakannya pada waktu-waktu tersebut. Sebab itu daya tahan wangi sesuai pemakaian saya lho. Jadi bisa bertahan 4-5 jam. Kalau bisa memakainya pada kulit yang segar maksudnya bebas keringat dan pewangi lainnya. Kalau dicampur otomatis aromanya juga nge-mix. Bisa-bisa niatnya menutup bau keringat lalu menyemprotkan vitalis tapi malah jadi bau yang tak karuan.

Satu lagi kelebihan parfum ini sudah mengantongi label halal dari Majelis Ulama Indonesia  (MUI) lho. So… so… sambil menggoyang-goyang botol parfum vitalis new body scent Bizarre *pamer.

Foto my bizarre. Dok. Pribadi

Apalagi ramadhan sebentar lagi. Jangan sampai puasa jadi alasan untuk tidak mood. Silaturahmi makin percaya diri. Ibadah makin khusyuk. Halal bihalal makin menyenangkan dengan aroma Bizarre yang menyeruak dari telapak tangan.

Screenshot_2017-05-16-14-34-17-1
Varian vitalis new body scent. screen pic from http://www.pesonavitalis.com

Ini dia varian produk vitalis new body scent yang bisa kamu pilih. Saya pilih Bizarre untuk memancarkan pesona kecantikan alami sepanjang hari, kalau kamu varian parfum vitalis new body scent yang mana yang bisa membuatmu tampil memesona?

320x250

Andalan
Diposkan pada Football Corner

#Liga1 Review Persib Bandung 2 – 2 Borneo FC; Belajar dari Kelengahan

 

IMG-20170520-WA0004

Stadion GBLA jelang laga #Liga1 antara Persib Bandung dan Pusamania Borneo Sabtu, 22 Mei 2017; Foto by @chidarma

Tim Maung Bandung turun full team. Michael Essien yang biasa masuk lapangan hijau sebagai pemain pengganti juga menjadi starter. Borneo FC secara ball possesion tidak unggul dari Persib Bandung. Namun, justru bobotoh yang memenuhi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dibuat terkesiap oleh sepakan Riswan Yusman (78) yang melewati dua center back di menit ke-16. Gol mengejutkan untuk tim asuhan coach Djajang Nurjaman juga pemirsa yang bakal mengira kalau Persib berpeluang lebih besar untuk mencetak gol terlebih dahulu.

Tak selang waktu lama kelengahan Persib Bandung segera ditutup di menit ke-23 dengan gol cantik dari Gian Zola (8). Sebuah gol yang lahir dari tendangan kaki kiri menghunjam gawang Borneo. Persib menyamakan kedudukan. Persib kemudian membalikkan keadaan lewat Vladimir Vujovic (3) di menit ke-28. Keunggulan 2-1 membuat Persib menurunkan tempo permainan. Kelengahan ini membuat para pemain Borneo FC mampu mengembangkan permainan. Jantung pertahanan Pesib Bandung lemah. Dalam komentarnya di Gojek Traveloka Liga 1 yang disiarkan oleh TV One, Bung Yusuf Kurniawan juga menyayangkan hal ini. Persib malah mengendorkan serangan, memberi kesempatan lawan berkembang. Pusamania Borneo mudah melakukan umpan silang dan masuk ke area kotak pinalti. Banyak peluang yang didapatkan. Namun, kualitas finishing membuat Borneo belum bisa menyamakan kedudukan babak pertama berakhir.

Begitu kick off babak kedua dimulai pertandingan berlangsung dalam tempo sedang. Kemungkinan para pemain sudah kelelahan. Saya melihatnya juga mulai ngantuk-ngantuk 😀

Sampai akhirnya, Persib Bandung mendapat hadiah penalti. Tak seperti eksekusi penalti di pertandingan sebelumnya saat melawan Persipura, kali ini berakhir dengan Essien (5) memegangi kedua kepala dengan kedua tangannya. Tendangan akuratnya melenceng jauh ke atas mistar gawang. Ia kehilangan fokus sebab ia memandang mata penjaga kiper Borneo Muhammad Ridho (20) bukan melihat gawang. Eksekusi ini terkesan meremehkan. Fokus pada bola hilang, setidaknya begitu kata Bung Yuke.

Kegagalan tendangan melalui titik putih ini membuat pertandingan kembali hidup. Pusamania Borneo bangkit. Lini pertahanan Persib Bandung dibuat kocar-kacir. Strategi menurunkan tempo permainan membuat Borneo mendapat angin. Hal ini harus dibayar mahal oleh Tim Maung Bandung di menit 88 saat tendangan spekulasi Matheus (4) merobek gawang M Natshir (1) di hadapan publik sendiri. Tim asuhan Ahmad Amirudin berhasil menyamakan kedudukan dan mencuri poin di kandang lawan. Seperti mengulang laga Persib Bandung melawan PS TNI di menit-menit krusial PS TNI juga berhasil menyamakan kedudukan 2-2.

Permainan sepak bola memang susah ditebak. Seperti bola itu yang bulat dan beputar. Selagi masih ada waktu, selagi sang pengadil lapangan hijau belum meniup peluit panjangnya segala masih bisa berubah. Secara kualitas dan dukungan suporter tak ada yang meragukan tim yang dikapteni Atep (7) ini. Namun, hasil akhir berkata lain. Ya, belajar dari laga ini. Kelengahan bisa membuat aroma kemenangan menjauh. Kelengahan di babak pertama membuat lawan berhasil mencuri gol terlebih dahulu. Akibat kelengahan berikutnya di menit-menit akhir babak kedua juga membuat pemain belakang Pusamania Borneo mampu menyarangkan bola ke gawang kembali.

Pusamania Borneo layak diacungi jempol. Bermain tandang ke Bandung bukanlah hal mudah. Tak banyak tim yang berhasil mencuri poin di sini. Gemuruh ribuan bobotoh di GBLA kadang menyiutkan mental lawan terlebih dahulu. Kualitas pemain Persib Bandung yang bertabur bintang juga sudah tak diragukan lagi. Tapi selalu manfaatkan celah dan peluang sekecil apapun itu. Jangan menyerah dan semua akan berakhir indah bukan?

 

Andalan
Diposkan pada Echi's Wife

Sudah Matikan Lampu Belum?

Sebenarnya terlambat ya posting listrik naik ini. Tapi gapapa lah… Karena beberapa waktu lalu saya mendapat email yang subjeknya “Ini bukan #GaraGaraListrikNaik, tapi #EnergiBerkeadilan” dari Kominfo. Jadi tergelitik ingin menulis soal listrik ini.

Siapa yang syok waktu bayar listrik bulan kemarin? Khususnya yang memakai daya 900VA pascabayar, ya. Saya donk ngacung pertama kali hehe… Gimana tidak dari Rp 71,783 ribu menjadi Rp 178,203 ribu??? Hmmm… Sempat bingung dengan lonjakannya, perasaan sih makainya sama saja…

Eh, ternyata tetangga yang memakai daya yang sama juga ga kalah kaget. Dia mengaku biasanya membawa uang Rp 200 ribu bisa untuk membayar dua rumah malah ada kembalian. Ini kurang dan harus pulang lagi. Malu… akunya. Satu ibu rumah tangga lagi yang curhat ke saya, pajak listriknya per bulan biasanya sekitar Rp 60 ribu, di bulan April 2017 menjadi Rp 140 ribu. “Untung bawa uang lebih, kalau ga harus balik lagi,” katanya gitu.

listrik-untuk-semua-5
Jadi listrik 900VA ini ternyata mengalami penyesuaian tarif dalam tiga tahap. Ah kurang begitu mengerti sih saya. Untuk detail penyesuaian tarif bisa cek gambar di atas. Ya, pada intinya dicabut subsidinya begitu atau tidak dibantu oleh anggaran dari pemerintah. Karena dianggap tidak tepat sasaran sebab yang menikmati rata-rata dari golongan mampu. Sedangkan subsidi itu untuk kaum miskin dan tidak mampu. Landasan hukumnya UU No 30 Tahun 2007 tentang Energi pasal 7 dan UU No 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan pasal 4.

listrik-untuk-semua-1

Masuk akal sih ya meski masih grundelan hehe… Tapi bersyukurlah berarti kita termasuk golongan mampu, ya kan? Nah, sebagai informasi subsidi listrik paling besar dinikmati oleh pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA mencapai Rp. 49,32 Triliun (87%).

listrik-untuk-semua-2
Lalu, siapa saja yang berhak mendapatkan subsidi?
Sesuai Permen ESDM No 29 Tahun 2016 penerima subsidi adalah rumah tangga pengguna 450VA dan 900VA miskin dan tidak mampu. Penetapan rumah tangga miskin dan tidak mampu ini didasarkan pada Data Terpadu Penanganan Fakir Miskin yang dikelola oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Kementerian Sosial.
listrik-untuk-semua-3

Oya, jika kamu merasa layak mendapatkan subsidi atau menemukan orang yang seharusnya mendapat subsidi atau sebaliknya, kamu bisa mengadukan loh. Mudah kok. Kamu tinggal datang ke kantor kelurahan dengan membawa dokumen persyaratan di antaranya:
– salinan Kartu Tanda Penduduk ( KTP) atau surat keterangan domisili
– salinan Kartu Keluarga (KK)
– salinan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau Kartu Perlindungan Sosial (KPS), bila ada
– bukti pembayaran rekening listrik atau pembelian token listrik bagi yang sudah menjadi konsumen PLN
– listrik atau pembelian token listrik di alamat lama dan alamat baru, bila pindah alamat
– surat keterangan dari RT/RW setempat bila pindah alamat
– surat pernyataan yang telah ditandatangani bila pindah alamat

Selengkapnya bisa lihat gambar di bawah ini.


Listrik Untuk Semua; Subsidi Tepat Sasaran dan Energi Berkeadilan

listrik-untuk-semua-4

Sekitar tahun 2011, saya pernah beberapa waktu tinggal di Landak, Kalimantan Barat tepatnya di daerah Menjalin dan Senakin. Listrik benar-benar tak stabil. Dalam satu hari bisa beberapa kali lampu padam. Anehnya saat listrik padam sinyal handphone ikut menghilang. Selain itu listrik padam mendadak juga bisa berpengaruh terhadap keawetan perangkat elektronik seperti PC, kulkas, dan lainnya. Semoga hal ini sudah tak terjadi lagi di sana.

Karenanya, dengan dialihkannya subsidi listrik ini semoga bisa membantu saudara-saudara kita terutama yang masih belum mendapat aliran listrik. Saat ini masih ada 2.500 desa belum teraliri listrik. Sekitar 1,6 juta rumah tangga miskin dan tidak mampu  belum menikmati sambungan listrik. Sebanyak 12.659 desa juga masih kekurangan listrik. Begitu juga tingkat elektrifikasi yang masih harus ditingkatkan dari 88,3% tahun 2015. Berdasarkan KBBI, elektrifikasi artinya pemakaian atau penggantian dengan listrik (sebelumnya tidak digunakan listrik).

Semoga upaya penyesuaian tarif bisa mewujudkan listrik untuk semua. Dengan mendukung program pemerintah kita bisa membantu saudara yang masih membutuhkannya. Subsidi tepat sasaran demi mewujudkan energi berkeadilan. Setuju ga sih kalau listrik menjadi bagian kebutuhan dasar saat ini? Sebab listrik sudah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan terutama penerangan misalnya untuk belajar demi masa depan generasi bangsa. Dan manfaat listrik lainnya yang sudah tak diragukan lagi.

Oke… daripada mengeluh dengan penyesuain tarif ini sebagai ibu rumah tangga yang berperan sebagai menteri keuangan keluarga yang bertugas membayar tagihan listrik bulanan yang bisa kita lakukan adalah menghemat listrik. Tak lain tak bukan agar biaya bulanan tak membengkak. Karenanya berbagai upaya dilakukan untuk menghemat listrik.

Tips menghemat listrik

20170515_134213[1]
Foto: dok. pribadi
Begitu pulang dari membayar tagihan listrik bulan April 2017, masuk rumah saya langsung mematikan lampu dapur yang masih menyala. “Lihat, ibumu langsung matiin lampu gitu, Nam,” kata suami sambil merenges.

Tapi bukan hanya saja lho yang menerapkan ini. Tetangga saya juga ditegur suaminya. Sebab saat pulang kerja rumah dalam keadaan gelap gulita karena dia lagi menyetrika. Ia sengaja mematikan lampu selama menggosok baju demi menghemat listrik. Dasar ibu-ibu ya 😀

Tapi ngomong-ngomong soal lampu, ini memang menyumbang listrik yang tak sedikit lho. Kata adik saya, ya meskipun watt-nya kecil tapi kan menyala berjam-jam. Jumlah lampu di rumah juga ada beberapa kan? Ibarat peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit -dalam konteks biaya listrik-. Gambarannya misal satu lampu daya 5 watt nyala 12 jam, biaya per kwh anggap Rp 1.352 sesuai penyesuaian tarif tahap III atau bulan Mei. Nah, coba kita menghitung biaya listrik sehari untuk satu lampu.

Pemakaian per hari :
= (5 Watt /1.000) x 12 jam) x Rp 1.352,-
= Rp 81,12

Pemakaian per bulan (anggap 30 hari) :
= Rp. 81,12 x 30
= Rp. 2.433,60

Hasil tersebut merupakan gambaran pemakaian listrik satu buah lampu. Kalau di rumah ada lima lampu tinggal dikalikan lima atau sekitar Rp 12 ribu. Kita tidak bisa menyebut angka pasti sebab nyala listrik kan berbeda-beda tidak semua dan setiap harinya pasti 12 jam.

Sekarang coba kita memangkas 3 jam untuk kepeluan lampu ini, kita bisa menghemat sekitar tiga ribu rupiah. Lumayan bisa buat parkir kan? So, pastikan lampu dimatikan kalau kita mau pergi terutama di siang hari. Belum jika ditambah penghematan dari perangkat elektronik lainnya misalnya menyalakan dispenser saat butuh. Sebab, dispenser ini termasuk perangkat elektronik yang penggunaan listriknya dinamis sebab secara otomatis akan masak air. Contoh lain adalah setrika, rice cooker. Itulah mengapa perangkat elektronik yang berhubungan dengan panas memiliki kebutuhan daya yang tinggi terutama saat bekerja. Saat tidak membuat es batu sebaiknya kulkas dinyalakan pada pengatur suhu kondisi tiga. Pastikan tv mati kalau mau tidur. Jangan sampai tv nonton kita ingat meteran listrik jalan terus. Oiya…koreksi kalau perhitungannya salah.

Hasil tips tersebut, tagihan listrik bulan Mei saya sebesar jreng…jreng…jreng Rp 33,432 Saya lebih syok daripada pas naik bulan kemarin. Tapi mungkin angka ini masih karena dalam proses penyesuain oleh PLN ya. Coba kita lihat lagi bulan depan.

Ngobrol cantik soal tips menghemat listrik ini banyak lho yang sharing di facebook. Manggut-manggut kadang ngakak juga bacanya. Yang belum dapat share-nya, ini salahsatu yang saya ambil dari facebook.

1. belajar hemat ,, ojo nganti nyetel TV malah TV ne nonton sing nyetel  =D < budaya boros… *jangan menyalakan TV tapi malah TV-nya yang menonton kamu*
2. pakai alat listrik secara bergantian
3. usahakan mesin air memakai alat penampungan
jadi tidak sering menghidupkan mesin air
4. matikan lampu bila sudah tidak diperlukan
5. jangan menggunakan dispenser, pakailah kompor saja
6. pakailah lampu LED bukan lampu (TL maupun Bohlam)
#Semoga bermanfaat  (Y)

Mematikan lampu adalah tips sederhana yang bisa saya lakukan dalam upaya menghemat listrik. Kalau kamu apa tips hemat listrik mu? Share, yuk!

sumber infografis: kominfo

Andalan
Diposkan pada Football Corner

#Liga1 Persib 1 – 0 Persipura

Kalau ditanya special moment di Super big match antara Persib Bandung dan Persipura Jayapura, Minggu, 8 Mei 2017 live Tv One ini apa ya? Kata saya sih eksekusi pinalti secara dingin oleh Michael Essien. Tendangan mengarah ke tengah atas yang tidak bisa diantisipasi oleh kiper Yoo Jae Hoon. Satu-satunya gol di pertandingan kali ini yang mengantarkan kemenangan tim maung bandung.

Screenshot_2017-05-07-22-30-53-1
Michael Essien capture from twitter @infobdg

Ini adalah gol kedua mantan pemain Chelsea di Liga 1. Meski belum pernah turun full time nyatanya kematangan dan pengalamannya kerap menyelamatkan Persib dari kebuntuan. Hari ini atas sumbangan golnya Persib berjaya di puncak klasemen menggeser PSM Makassar dan Arema Malang.

Siapakah man of the match-nya? Ya, dialah kiper muda Persib Bandung Deden Natsir. Berkat timing-nya yang pas setidaknya mengutip Bung Tommy Welly ia melakukan penyelamatan 7-8 kali. Tanpa kerja keras Deden, Persipura yang menguasai ball possesion siap mengoyak gawang. Namun, ia menjawab kepercayaan pelatih Djajang Nurjaman dan tidak mengecewakan sekitar 20 ribuan bobotoh yang menyesaki tribun Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) maupun jutaan pasang mata yang menyaksikan melalui layar kaca.

Bagi saya sepak bola bukan sekedar sepak bola. Begitu peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup bukan berarti menguap begitu saja. Selalu ada hikmah dibaliknya. Meski Persipura Jayapura menguasai jalannya pertandingan tapi justru Persib Bandung yang keluar sebagai pemenang. Persib bisa memanfaatkan peluang dengan baik. Satu kesempatan pinalti yang tak disia-siakan Essien.

“Siapapun yang pandai menangkap peluang sekecil apapun itu, ialah juaranya. Meski dibawah tekanan sekalipun. Ketenangan adalah kuncinya.”

Klasemen sementara Gojek Traveloka Liga 1 Tv One, Minggu, 8 Mei 2017

Screenshot_2017-05-07-23-31-42-1
Sumber: http://www.goal.com
Andalan
Diposkan pada Echi's Wife, Happy Writing, lomba blogging

Kartini Muda Transmart Carrefour: Smart dan Hemat

Emansipasi oleh Raden Ajeng Kartini telah mencetak perempuan cantik, cerdas, dan mandiri. Sudah tak diragukan nama-nama seperti Ibu Susi Pudji Astuti Menteri Kelautan, Ibu Sri Mulyani Menteri Keuangan, Rosiana Silalahi Pemimpin Redaksi Kompas TV, dan berderet nama perempuan lain.

 

Perempuan itu harus smart

Point yang tidak boleh dilupakan bahwa Kartini memperjuangkan emansipasi bukan untuk menyaingi pria. Laki-laki dan perempuan terlahir dengan membawa kodrat masing-masing. Suami sebagai kepala keluarga. Istri akan menjadi ibu sebagai tiang keluarga dan madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Untuk itulah, Kartini getol memperjuangkan pendidikan untuk kaum hawa. Lewat pemikiran-pemikirannya perempuan akhirnya tak hanya macak, masak, dan manak (menghias diri, memasak, dan melahirkan anak) tapi juga layak mendapat pendidikan setara. Sebab, ibu merupakan pencetak peradaban. Ia yang akan mendidik anak-anaknya menjadi generasi penerus bangsa. Hal ini juga senada dengan Psychology Spot yang mempublikasikan hasil risetnya bahwa tingkat kecerdasan seorang anak menurun dari ibunya (sumber: lifestyle.kompas).

Tak hanya itu, kecerdasan seorang istri juga berperan dalam hal keuangan. Sebab ia bertindak sebagai menteri keuangan di dalam keluarga. Karenanya, istri harus cerdas mengelola keuangan terlebih mengatur penghasilan suami yang diamanahkan kepadanya. Perempuan cerdas harus bisa menepis image yang tidak bisa dihindari bahwa perempuan itu boros dan konsumtif.

 

Perempuan itu harus hemat

Mengutip laman rula.co.id,  51 persen pengelolaan keuangan keluarga Indonesia ada di tangan perempuan. Kebiasaan buruk keuangan seperti sikap konsumtif yang berlebihan seperti mengikuti naluri shoping. Jika tidak waspada kebiasaan ini akan menyebabkan besar pasak daripada tiang. Untuk menutup lubang lalu berhutang sana-sini. Gali lubang dan tutup lubang, selalu seperti itu. Terkadang masalah keuangan ini memicu masalah-masalah rumah tangga hingga ketidakharmonisan keluarga. Untuk itulah dituntut perempuan yang cerdas menghargai penghasilan suami meskipun itu telah menjadi haknya.

Awal-awal pernikahan adalah masa sulit bagi saya. Masa beradaptasi. Saya yang menerima gaji dari suami harus mengaturnya sedemikian rupa untuk cukup satu bulan. Jujur saja, saya tidak pernah belajar memasak. Ketika dirumah, ibu selalu sudah menyiapkan dan saat merantau, saya makan jajan dan kerap memilih yang instan. Saat menikah itulah rasanya menyesal kenapa saat masih bersama ibu saya tidak meluangkan waktu belajar memasak bahkan sekedar menungguinya memasak dari awal sampai akhir. Kalaupun sempat ke dapur bersama ibu paling hanya mengobrol bukan fokus pada masakannya.

Akhirnya jebol juga gaji dari suami, uang saya pun kebawa-bawa untuk urusan makan ini. Misalnya dianggap satu kali makan per orang sekitar 10 ribu rupiah sekali makan, untuk dua orang adalah 20 ribu rupiah. Lalu untuk tiga kali makan? 60 ribu rupiah, dalam  sebulan, jika dikalikan 30 hari hasilnya biaya pengeluaran hanya untuk makan 1,8 juta. Belum tagihan listrik, kontrakan, belanja lain seperti keperluan sandang, mencuci, mandi, uang sampah, keamanan, dan lain-lain. Nah, yang perlu dicatat berapa sih gaji rata-rata karyawan dengan usia menikah sekitar 27 tahun?

Jika ini terus terjadi bagaimana nanti saat melahirkan, mempunyai anak, mau dikasih makan apa? Bagaimana dengan Makanan Pendamping ASI pertamanya? Masa semuanya serba instan? Ususnya masih kecil belum sekuat orang dewasa. Lalu, bagaimana kalau sudah sekolah? Bagaimana…bagaimana…itu terus terbayang? Saya pun mulai sedikit demi sedikit memasak meski beberapa kali tetap membeli makanan jadi. Itulah tuntutan penghematan pertama saya.

Agar tidak jebol keuangan, sebagai pemegang uang, hal-hal berikut coba saya terapkan meskipun agak keteter juga tapi kuncinya disiplin dan tegas terhadap diri sendiri.

Memisahkan pos-pos pengeluaran. Pengeluaran yang sudah wajib disisihkan pertama kali misalnya pajak listrik, keamanan, sampah, gas untuk memasak, galon air, dan uang bulanan untuk makan. Menyisihkan untuk menabung di awal kalau tidak bakal bablas tergiur diskon atau menuruti hobi.

Bijak belanja bulanan. Nah, belanja bulanan ini terkadang bisa dikatakan hemat tapi kalau tidak teliti justru disini juga menjadi letak pemborosan. Dari rumah biasanya saya sudah mencatat apa yang harus dibeli, mana yang optional artinya bisa dibeli bisa juga ditunda. Sehingga saat di pusat perbelanjaan tidak menjadi gagal fokus, barang prioritas tidak terbeli tapi malah yang kurang penting masuk keranjang belanja. Lalu, kita harus kembali belanja dan pasti belanjaan akan kembali membludak dengan asumsi mumpung-mumpung lagi ke supermaket. Dua kali belanja dua kali mengeluarkan isi dompet.

Selalu menjadi cerdas. Sebagai perempuan tentu kita akan tergiur dengan tawaran diskon yang seakan tiada habisnya terlebih di era belanja online sekarang ini. Setiap hari banyak penawaran menarik jika kita tidak bisa mengerem mengendalikan diri.

 

Belanja Smart dan Hemat ala Transmart Carrefour

transmart
Foto: Transmart Carrefour

Salah satu cara cerdas untuk menghemat belanja bulanan adalah memilih pusat perbelanjaan yang tepat. Ketatnya persaingan membuat perusahaan ini akan bersaing dalam segi harga. Harga biasanya akan menjadi pertimbangan ibu rumah tangga untuk berbelanja lalu kenyamanan. Untuk itulah, saya merekomendasikan Transmart Carrefour.

Kenapa harus Transmart Carrefour? Pertama, karena Transmart Carrefour menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda. Sebagai  perusahaan ritail yang sudah menggabungkan konsep 4 in 1 yaitu berbelanja bermain, bersantap, dan menonton bioskop. Konsep ini juga akan diusung di cabang baru yang akan dibuka di Buah Batu Bandung, 28 April 2017 dalam waktu dekat ini. Sebagai ibu yang cerdas, Transmart Carrefour juga menjadi salahsatu destinasi keluarga, sekali jalan bisa belanja sekaligus mengajak piknik buah hatinya. Kita juga berperan dalam penghematan bahan bakar untuk transportasi. Selain itu, pusat-pusat perbelanjaan dengan penataan lorong-lorong yang sempit acap membuat anak tidak merasa nyaman apalagi buah hati saya masih batita sehingga kenyamanan adalah yang utama. Jangan sampai belum memilih, anak sudah merengek karena merasa sumpek.

Kedua, kita bisa membeli apa saja di Transmart Carrefour dengan garansi harga murah setiap hari. Mulai fashion and beauty, electronic pro, buah dan sayur fresh setiap saat, food and beverages, dan kids city. Dari kebutuhan dasar seperti bahan memasak, aksesoris untuk smartphone, hingga peralatan elektronik untuk rumah tangga ada di sini. Bahan sayuran untuk MPASI anak juga lengkap tersedia. Harga bahan untuk memasak pun memiliki selisih dari warung di dekat rumah. Hmmm... jadi pikir-pikir kalau mau beli di warung. Untuk peralatan elektronik juga bisa menggunakan sistem angsuran, sangat memudahkan bukan?

Ketiga, ada diskon 5% persen setiap hari bagi pememgang kartu debit Bank Mega, diskon 10% dan cicilan bunga rendah setiap hari bagi pemegang kartu kredit Bank Mega. Sangat menggiurkan ya belanja super murah dan super mudah setiap hari seperti ini.

Mau jadi Kartini Muda Transmart Carrefour yang cerdas dan hemat, disayang suami dan anak, rasakan sendiri sensasi  one stop shopping experience di Transmart Carrefour terdekat di kotamu 🙂

Sharing juga bagaimana kamu menjadi ibu yang smart dan hemat ya 🙂

 

Andalan
Diposkan pada Happy Writing, lomba blogging

LUNA  Smartphone; Lebih Sekedar Bergaya Tapi Berkarya

Hanya membayangkannya kamu bisa tersenyum. Ketika melakukannya kamu bisa lupa waktu. Kamu juga rela nyolong-nyolong waktu untuk bertindak.  Dan, tanpa sadar kamu akan menggebu-gebu saat membicarakannya. Bisa-bisa orang yang mendengar akan tertular ”virus” yang menyerangmu. Sebuah gairah yang akan menuntun kamu pada kepuasan jiwa. Itulah gambaran passion menurut saya. Passion yang kemudian membawa kita pada gravitasi.

Me-Rajut Impian Be the Gravity

Ratu Elizabeth II merajut selama World War I dan World War II. Merajut –knitting– lebih dari sekedar hobi bagi Sang Ratu, ini menjadi salah satu caranya menunjukkan jiwa patriotisme. Sebab, para tentara membutuhkan sweaters, gloves, hats, dan banyak socks. Knitting, knitting, and knitting mengantarkannya menjadi salah satu perajut dunia sepanjang masa (sumber: 11 famous knitter).

queen-knitting-5-620x414

Princesses Margaret (left) and Elizabeth (right), knitting at Windsor Castle (Gambar by loveknitting)

Tanpa passions, sebagai seorang Queen mudah saja menyuruh para pelayannya. Ratu tidak harus membuatnya sendiri cukup memberi perintah. Namun, itu tidak dilakukannya. Karena kecintaannya pada rajutan dan kepeduliannya pada kebutuhan soldiers, ia menjadi gravitasi bagi para tentara dan negaranya.

Saya bisa “gila” walaupun hanya melintas depan toko yang menjajakan aneka benang rajut penuh warna. Greget saat memegangnya. Rela berjam-jam membenarkan benang ruwet saat melakukan project. Lalu tersenyum puas saat gulungan benang itu menjelma produk siap pakai.

Akan sangat luar biasa jika bisa be famous knitter in the world tapi jalan itu pasti panjang, terjal, dan berliku.  Komunitas Dunia Rajut yang saya usahakan masih belajar berjalan.  Ya, hobi yang kemudian saya coba kembangkan sebagai usaha rumahan.

Mimpi ingin bisa merajut ini mungkin dimulai dari sekitar tahun 2006. Ketika itu melihat teman SMA ada yang merajut sweater di kelas. Namun, si dia tidak mau mengajari. Akhirnya di tahun 2010-an itulah ada seorang kawan kampus yang berjasa banget dalam dunia perajutan saya. Ifa Elvira namanya, ia membawa saya ke workshop merajut di Yogyakarta. Yeayyy… saya bisa merajut. Satu pelajaran yang bisa dipetik, ketika kamu mempunyai impian adalah sekecil apapun mimpi itu, kandangkan! Jangan biarkan ia lepas. Jika memang niat dan bersungguh-sungguh pasti terwujud. Jangan menyerah, okay!

Begitu dinyatakan lulus, saya segera bekerja menjadi asisten dosen di lembaga pelatihan yang dimilikinya. Benang dan jarum rajut itu selalu nyempil di ransel. Di sela-sela istirahat atau saat luang kerjaan, jemari mulai menari.  Bu Sarminah, rekan dan senior di kantor, selalu setia menunggui saya merajut. Saat ada moment teman sekantor menikah, sepasang gloves untuk dia dan suaminya terbungkus rapi. Betapa bahagianya ketika ia memuji-muji dan mengaku senang dengan gift buatan tangan tersebut.

Resign dan berpindah tempat kerja di Kalimantan tak melupakan saya pada “alat perang”. Benang dan peralatan ikut terbang menemani ke Borneo. Teman-teman seolah “amazing” ketika saya merajut di sela-sela waktu luang. Teman cewek meminta untuk diajari. Satu per satu rekan pun mendapatkan gift handknit. Jiwa kutu loncat membawa saya menjadi salahsatu karyawan di Jakarta. Di sini pertama kali saya mulai memesan benang secara online karena kehabisan stok.

Tuntutan pekerjaan mengenalkan saya pada smartphone. Kala update-update status itulah, saya memajang karya rajutan. Dari situlah order rajutan pertama saya dimulai. Dari sekedar kado tak dinyana ada yang naksir lalu memesan. Ada juga teman kost ada yang ketagihan merajut lantas menitip dibelikan peralatan merajut. Tanpa sadar dimulai dari teman, teman kost, usaha ini sebenarnya telah dimulai. Berawal dari made by order.

Kutu loncat akhirnya lelah dan bosan. Saya berkata pada diri sendiri. Saya seorang wanita, suatu saat akan menjadi seorang istri dan ibu. Saya tidak mau bekerja. Saya ingin mendampingi keluarga. Eitss… jangan salah bukan berarti hanya bisa membuka telapak tangan pada suami, ya? Saya ingin mengikuti kata hati. Saya tidak bekerja tapi saya berkarya.

IMG_20170419_052816
Perbedaan bekerja dan berkarya (Foto by Billy Rahman Saputra)

Bandung adalah saksi bisu bahwa berkarya itu tak mudah. Banyak pengalaman suka duka dimulai. Banyak godaan untuk berhenti. Namun, seperti yang tertulis dalam buku karya Rene Suhardono, Your Jobs is Not Your Career, entreprenuer adalah dreamers who do. Mereka yang berani meraih mimpinya. Bertanggung jawab atas keputusannya. Rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pemikiran demi tujuan.

Waktu itu, perusahaan saya menimba pengalaman berada di Bandung.  Saya anak rantau yang tinggal di kost. Dorongan kuat menjadi entreprenuer, membuat saya mengakhiri status karyawan di pertengahan 2013. Dimana ada niat dan usaha, disana pasti ada jalan. Berbekal ngobrol dengan Teh Yan, teman kost, untuk pertama kalinya saya mengikuti pameran komunitas dengan join stand bersama Klub Origami di Bandung Indah Plaza (BIP). Melalui pameran komunitas ini, jejaring bertambah banyak hingga mengantarkan saya berkenalan pada Bandung Creative City Forum (BCCF). Sebuah wadah antar komunitas di Bandung. Dari yang bukan siapa-siapa di kota kembang ini ibarat tanaman mulai bertunas.

Semua berjalan lancar, tentu tidak semudah dan segampang dalam rencana. Menerjuni usaha yang tak semulus dalam bayangan. Perjuangan ini dilihat oleh Mbak Nana dan hanya bermodal kepercayaan, ia menyuntikkan modal untuk mengembangkan usaha rajutan. Setelah menikah tahun 2014, dukungan suami tercinta, Echi dan Buk’e lebih dari segalanya. Pahit dimarahi pembeli, pasang surut usaha tapi tertutup oleh senangnya berbagi. Bersama Teh Fani, kami mengadakan rajut berbagi di panti asuhan. Sebuah kegiatan mengajari anak-anak panti asuhan merajut untuk meningkatkan kemandirian dan produktivitas mereka. Produk rajutan yang terjual bisa menambah uang bekal mereka. Turun tangan di Kampung Linggawastu untuk belajar merajut bersama yang diwadahi oleh BCCF. Salahsatu tujuannya agar para ibu rumah tangga bisa menambah uang belanja mereka.

Ket: Pameran Bandung Community Network di BIP/kiri (Foto: Pikiran Rakyat), Bersama ibu-ibu di Kampung Kreatif Linggawastu Bandung/kanan (Foto by BCCF)

Di usia yang menginjak 29 tahun ini, mungkin benang itulah yang mengikat saya #bethegravity dengan lingkungan sekitar. Memang belum seberapa dibanding mereka yang telah berbuat banyak. Tapi disitulah antusiasme saya. Gairah yang membuat saya dikenal. Hobi yang akhirnya membuat saya harus berjibaku belajar tanggung jawab dan profesional. Apakah sudah selesai? Belum, tantangan itu akan selalu ada selama kita hidup. Dulu tantangan terberat mungkin bagaimana harus bertahan, segumpal mimpi ini harus terus menyala, meyakinkan keluarga, sekarang dengan dua batita di rumah, kecepatan usaha ini melambat. Semua itu bukan alasan tapi semua harus dihadapi. Tidak ada justifikasi. Mental dan fisik harus selalu siap untuk challenge-challenge berikutnya baik yang terduga maupun tidak.

Masih banyak mimpi-mimpi dunia rajut yang belum terpenuhi. Mempunyai workshop terpisah dari rumah, menjadi lapangan kerja signifikan dan memberdayakan ibu rumah tangga sekitar, menjadikan produk rajutan sebagai salahsatu incaran souvenir khas Indonesia, ikut pameran bergengsi salahsatunya inacraft, dan memiliki galeri di Mall of Indonesia suatu waktu nanti. Amiin…

Berkarya dan Be the Gravity with LUNA

Siapa sih yang tidak bangga dengan pencapaian-pencapaian yang telah diraih? Standar sukses setiap orang berbeda-beda. Bagi saya, sanggup mewujudkan dan melampaui batas adalah kesuksesan. Setiap keberhasilan patut dirayakan asal tidak berlebihan, selalu rendah hati, dan keep smile baik untuk bersyukur maupun kepada sesama. Alangkah bahagianya ketika bisa memenuhi hadits Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah ia yang paling bermanfaat buat sesama”. Menjadi gravitasi akan semakin lengkap rasanya dengan LUNA smartphone di tangan. Ponsel pintar besutan Foxconn dari Korea ini.

luna-float
Smartphone Luna (Sumber: luna.id)

Hadirnya LUNA memberi warna di pasar smartphone Indonesia. Kemampuan fotografi yang handal dan bersaing dengan iPhone 6S membuatnya tak butuh waktu lama menjadi incaran dan impian banyak pengguna smartphone. Apalagi selfie telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besar pemilik smartphone. Fotografer senior Arbain Rambey dalam explore on Canggihnya Kamera Smartphone LUNA di NetOnTV mengatakan kamera pada LUNA bisa digunakan sebagai having fun atau masuk ke ranah pro.

Bagi saya kehandalan kemampuan fotografi ala LUNA ini akan sangat membantu dalam mengembangkan dunia entrepreneur di antaranya mengabadikan foto produk rajutan. Di era e-commerce, belanja via online terus mengalami peningkatan. Di dunia ini adanya gambar akan memberikan pengaruh signifikan kepada calon pembeli untuk memutuskan closing atau tidak. Untuk itulah kemampuan fotografi yang handal ditunjang kamera yang mumpuni sangat diperlukan. Smartphone LUNA hadir dengan kamera pure full sony, kamera utama memiliki lensa dengan resolusi 13 MP yang memiliki aperture (bukaan) F/2.0 sedangkan kamera depan beresolusi tinggi 8MP dan aperture F/1.8.

Sebagai seorang penjual, melayani pembeli adalah yang pertama. Terkadang pembeli lewat online atau yang sekedar ingin bertanya via what’s app ini tidak kenal waktu. Tak jarang malam-malam saya harus memotret rajutan maupun material-nya. Begitu pula saat pameran di indoor. Kelemahan-kelemahan kamera smartphone pada umumnya adalah saat cahaya redup atau malam hari. Namun, hadirnya LUNA smartphone sudah menjawabnya. Sebagaimana sudah diujicoba oleh Arbain Rambey, kamera LUNA yang digunakan di cahaya redup dengan menggunakan lokasi di bar ini menghasilkan gambar yang bagus. Pengaturan cahaya, white balance-nya sudah akurat. Tidak lagi simbol tapi sudah menggunakan angka.

Tuntutan untuk pameran yang berbeda-beda lokasi terkadang membuat kita lupa dimana foto itu diambil. Meski sebagian besar smartphone sudah menyimpan lokasi di bagian detail foto tapi watermark yang ditawarkan LUNA sangat membantu. Watemark ini akan menampilkan lokasi Base Transceiver Station (BTS) terdekat di foto bahkan hingga suhu udaranya. Sehingga akan membantu kita mengingat. Syaratnya harus ada dalam posisi online. Namun ini bukan masalah. Sebab, saat ini jaringan internet sudah ada dimana-mana.

Memotret stand pameran tanpa pengunjung umumnya susah. Mengutip Arbain, ibarat memotret Candi Borobudur tanpa wisatawan tentu akan butuh perjuangan ekstra. Jika menggunakan kamera profesional kita harus menggabungkan beberapa objek yang diambil dari beberapa jepretan. Dengan fitur selective picture, object iris yang belum ada dimana-mana. Efek jepretan ini adalah akan mencari otomatis, mendeteksi objek permanen, dan bergerak tanpa bantuan tripod sekalipun. Sehingga pengguna cukup diam dan bisa memotret tanpa orang atau objek bergerak.

Masih banyak fitur unggulan lain seperti brust shot, teknik memfoto sangat cepat dan lainnya.  Kecanggihan LUNA juga bisa untuk video broadcasting. Smartphone LUNA yang hadir dengan jaringan 4G dengan supported by all operator akan sangat membantu saat belajar merajut membutuhkan tutorial via video online. Dengan LUNA kita bisa menikmati akses tanpa batas dan streaming tanpa buffering.

Ketika ditanya tentang kualitasnya sama dengan iPhone 6S? Begini jawaban Arbain,

“Lihat saja hasilnya… dari cahaya yang cukup, warna pelangi yang indah, sampai warna pagi, matahari tenggelam, melawan matahari. Putuskan saja sendiri dari hasil yang saya buat!” 

Selain kamera yang sudah tidak diragukan kita bisa memaksimalkan kapasitas 64 GB memori internal  dan kapasitas memori eksternal hingga 128 GB smartphone LUNA untuk menyimpan semua jepretan  terbaik. Untuk lebih lengkapnya bisa disimak video youtube belajar fotografi dengan smartphone LUNA bersama Arbain Rambey. Klik di sini

LUNA G Superpower Performance hadir dilengkapi dengan RAM 4 GB dan ROM 32 GB. Sehingga LUNA G dapat mendukung menjalankan aktivitas seharian termasuk Membangun Toko Online. Dengan kapasitas baterai 4000mAh, LUNA G juga mampu bertahan lama memastikan semua kegiatan tetap asyik saat bekerja. Agar bisa senantiasa tetap terhubung dan memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan, maka toko online harus bisa diakses darimana saja dan kapan saja.

lunasmartphone-1492125717469
Foto: Instagram Luna Smartphone

LUNA untuk me time. Sebagai manusia terutama peran ibu rumah tangga tentu saja butuh istirahat dan refreshing sejenak dari aktivitas harian agar otak bisa kembali berpikir optimal. Salah satu me time saya terkait handphone adalah bermain game. Ada satu game yang membuat saya ketagihan untuk memainkannya setiap rehat tapi permainan ini cukup memakan RAM. Sehingga untuk smartphone dengan kapasitas RAM kecil akan membuatnya lemot. Namun tidak perlu khawatir lagi rasanya, bermain game lebih lancar dan baterai yang tak akan cepat terkuras.

lunasmartphone-1492126172665
Foto: Instagram Luna Smartphone

Tak terkecuali untuk bergaya. Sudah menjadi kodrat perempuan sangat peduli dengan penampilan tak terkecuali smartphone yang digenggamnya. Hadir dengan dua varian warna yaitu silver dan space grey. Smartphone LUNA siap menemani aktivitas seharian yang dipadupadankan dengan fashion sehingga tetap gaya. Dibentuk dari alumunium utuh melalui delapan proses tahap CNC menghasilkan smartphone yang stylish, ramping, dan tahan lama.

Wow…keren ya, smartphone LUNA Indonesia. Meliriknya? Tentu saja. LUNA smartphone tidak hanya sekedar bergaya tapi juga mendampingimu berkarya. Siap #bethegravity? 🙂

Andalan
Diposkan pada Happy Writing, lomba blogging

Are You Ready to be a Part of Less Cash Society

Ekonomi digital sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini. Terlebih dengan dikeluarkannya Paket Kebijakan Jilid 14 mengenai ekonomi digital. Pemerintah gencar mewacanakan gerakan nasional non tunai yang sudah mulai dicanangkan oleh Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014 ini.

Sebagian masyarakat umumnya mulai mengenal transaksi non tunai saat mulai bekerja. Perusahaan saat ini sudah banyak yang membayar gaji karyawan dengan sistem transfer. Karyawan pun diwajibkan memiliki rekening bank untuk kemudahan pembayaran.

Sebagian lain masyarakat mulai bertransaksi nontunai karena mendapat bantuan dari pemerintah. Mereka yang mendapat kartu bisa mengambil uang di bank pemerintah atau lembaga yang sudah ditunjuk setelah mendapat transfer.

Selain itu, sistem nontunai juga sudah diterapkan di perguruan tinggi yang segala pembayarannya dari bantuan operasional (BOP) hingga SPP hanya diterima melalui transfer ke bank yang ditunjuk. Dengan kata lain, mahasiswa tidak perlu antre membawa uang tunai ke bagian keuangan kampus. Perguruan tinggi pun bekerja sama menggaet bank.

Uraian diatas merupakan gambaran transaksi nontunai yang sudah dilakukan masyarakat. Namun seiring perkembangan teknologi terutama masuknya era smartphone, transaksi nontunai pun semakin meningkat dan beragam. Saat ini ada 326 juta pengguna telepon genggam di Indonesia dan 88,1 juta pengguna internet aktif. Bahkan menurut riset Google dan Temasek, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia mencapai 19 persen per tahun dan diproyeksikan mencapai 215 juta sebelum tahun 2020. Fakta ini dianggap sebagai pintu masuk financial technology (fintech) paling efektif di Indonesia.

Menyambut era fintech dan menyukseskan gerakan nasional non tunai (GNNT) setidaknya ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Pertama, kemudahan bertransaksi. Seiring tumbuhnya para start up maka banyak usaha rintisan bertumbuh. Yang umumnya dimininati adalah belanja via online, selain juga seperti pembayaran listrik, pembelian bbm, tol, dan lain-lain.

Bagi masyarakat belanja online memberi kemudahan dan efektifitas dalam waktu sehingga produktivitas tetap terjaga. Untuk bisa melakukan belanja daring ini syaratnya tentu memiliki akses dalam pembayaran. Rata-rata pembelian online diikuti pembayaran via transfer, hasil survei BMI Research terhadap 1.213 responden di 10 kota di Indonesia akhir 2014 lalu menunjukkan 82 persen konsumen mengandalkan metode transfer, cash on delivery (cod) sebanyak 22 persen, dan sisanya menggunakan kartu kredit/rekening bersama. Fenomena belanja online ini akan mendorong orang untuk menyimpan uangnya di bank atau dalam bentuk non tunai misalnya melalui mobile tunai untuk mempermudah transaksi.

Namun, sayangnya, kendala utama belanja daring adalah kepercayaan konsumen. Suatu ketika teman saya bercerita kalau ia kapok dan tak mau lagi berbelanja online sebab barang yang dipesan tak kunjung datang sedangkan uang telah ditransfer. Ada lagi cerita jika barang yang dipesan ternyata berbeda saat tiba.

Untuk itulah, pemerintah juga harus turun tangan menurunkan kebijakan mengatur bisnis-bisnis daring ini kepada pelakunya. Kredibilitas harus dibangun jika ingin meningkatkan peran masyarakat dalam transaksi nontunai yang mengincar sektor ini. Sumbangan nilai transaksi yang dikalkulasi oleh BMI Research mencapai Rp 21 triliun pada 2014 dan tahun 2015 diprediksi mencapai Rp 50 triliun.

Kedua, uang pecahankecillebih berharga. Transaksi non tunai juga akan membuat pecahan rupiah ber-nilai. Saat ini di warung-warung kampung hampir tak dijumpai barang-barang dengan harga ‘ganjil’, misalnya 300 rupiah, 600 rupiah, 750 rupiah apalagi puluhan. Di supermarket harga-harga ‘ganjil’ seperti ini masih dijumpai namun penggunaan uang pas juga jarang dilakukan begitu pula pengembaliannya. Beberapa perbelanjaan memanfaatkan nilai ganjil ini sebagai donasi dengan bertanya terlebih dahulu kepada konsumen yang umumnya menjawab ‘ya’. Atau ada juga yang membulatkan nilainya. Beberapa hari lalu saya bertransaksi tunai di supermarket, di nota tertera harga yang harus saya bayar 84.850 rupiah. Saya memberikan uang 90 ribu rupiah, kembalian yang saya terima 5.100 rupiah. Artinya total belanjaan saya dibulatkan menjadi 84.900 rupiah. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika menggunakan transaksi nontunai.

Dengan adanya adanya transaksi non tunai bahkan nilai rupiah hingga satuan pun berharga. Ini akan membuat uang ‘kecil’ semakin ‘aji’ di masyarakat. Sangat disayangkan ketika beberapa orang menyepelekan fisik uang logam seratus rupiah, dua ratus rupiah. Bahkan saya pernah menjumpai orang yang dengan enteng membuangnya begitu saja karena dianggap tak berarti.

Ketiga, rasa aman. Masih ingat dalam ingatan kita, bagaimana Dimas Kanjeng Taat Pribadi menghebohkan publik dengan kemampuannya menggandakan uang. Ketika diusut ternyata hanya kedok penipuan saja. Nah, ketika masyarakat semakin cerdas maka kasus-kasus penipuan seperti ini dapat diminimalkan dikarenakan penggunaan uang kertas yang terbatas.

Selain itu, masyarakat tentunya juga akan merasa lebih aman dengan membawa uang misalnya 100 juta dalam kartu ketimbang segepok kertas dalam tas.

So, saya bangga menjadi bagian, I Am #LessCashSociety
Bahan bacaan:

http://gnnt.netcj.co.id/about

Hasil survey BMI research dikutip dari anonim dalam artikel Kepercayaan Konsumen Belum Utuh.

Fintech dan Optimisme Ekonomi Indonesia, oleh Junanto Herdiawan dalam Opini Harian Kompas, Rabu (30/11/2016)

Artikel “Agar Jatuh tak Tertimpa Tangga Pula; Mencuri resep keberhasilan dari kegagalan start up dunia“, Majalah Femina No. 45/XLIV, 12-18 November 2016 hal 56-58

Ringkasan Peta Jalan eCommerce Indonesia

Andalan
Diposkan pada lomba blogging

​Yuk, Jadikan Moment Menginap Lebih Berharga bareng Travelio

Haloha… Kalian semua yang suka melancong atau melakukan perjalanan. Teman-teman backpacker, traveler maupun yang sedang perjalanan dinas sekalipun tentu tidak memungkiri bahwa penginapan bukanlah urusan sepele.

Sebagai contoh, suatu ketika saya dan suami memutuskan berlibur ke Ujung Genteng, tempat terujung di Pulau Jawa bagian selatan yang terkenal dengan kawasan pantai nan ciamik itu. Diluar dugaan, kami tiba sudah hampir pukul sepuluh malam. Badan yang sudah lelah tentu ingin cepat-cepat rehat. Alhasil, kami tak optimal mendapatkan tempat menginap. Sebuah rumah yang tak cukup bersih, kamar yang seadanya, dan terlalu berisik karena dekat keramaian. Tidur pun jadi tak nyenyak boro-boro nyaman. Barulah di malam kedua, kami menemukan pondok yang layak setelah survey siangnya.

Bagi yang masih single atau liburan ala-ala backpacker yang kerap nekat, biasa berpikiran kalau menginap mah urusan belakangan. Tapi…no…no… Pemikiran ini salah. Ya, kalau kota tujuan kita itu ramah pelancong hingga malam hari, kalau tidak, bisa-bisa kita digasak rampok. Karena itu backpacker modal nekat pun harus memikirkan hal yang satu ini, mau bermalam dimana? Untuk itulah Travelio hadir mencoba menjawab kebutuhan Kamu 🙂

Penginapan layaknya sarana transportasi menjadi pertimbangan penting sebelum berwisata. Terlebih dorongan berwisata yang sudah menjadi kebutuhan ini pun berkembang dari lokasi jarak dekat hingga jauh. Agar bisa optimal dalam mengeksplorasi objek ada baiknya sudah memesan tempat penginapan sebelumnya supaya tidak seperti pengalaman saya dan suami. Sehingga waktu untuk menikmati liburan pun tak akan terganggu dengan pencarian penginapan ini.

Bagi yang sedang perjalanan dinas, memilih penginapan yang tepat bisa menjaga mood bekerja. Mau yang berkonsep modern atau tradisional sesuai pilihan Anda. Lokasi bermalam yang nyaman, tidak jauh dari lokasi meeting atau event justru bisa meningkatkan semangat kerja. Apalagi kalau tempat tersebut jauh dari hiruk pikuk, perjalanan dinas akan berasa seperti moment liburan. Alih-alih stress malah Anda bisa sembari refreshing. Pikiran yang jernih dan jauh dari sumpek akan banyak melahirkan ide-ide segar dan inovasi baru buat perusahaan. Lalu, ketika Anda pulang ke rumah, wajah sumringah akan membuat keluarga dan anak-anak menyambut riang.

Dengan meng-klik Travelio.com, akan banyak pilihan di sana sesuai dengan budget yang kita inginkan atau niat perjalanan yang akan kita lakukan. Sehingga, tentu saja pengalaman perjalanan tak akan Kamu lupakan. Travelio sebagai situs penyewaan menawarkan apartemen, rumah, villa, dan lain-lain dengan inventori di lebih dari 12.000 properti yang tersebar di berbagai kota/negara di wilayah Asia-Pasifik.

Ketika Kamu memutuskan memilih Travelio.com sebagai partner perjalanan maka Kamu akan merasakan pengalaman yang berbeda. Hal ini sesuai konsep baru yang diusungnya, “more choice, more space, more value”.

Kalau saya pribadi cenderung memilih homestay atau sewa rumah. Lokasi rumah umumnya tak jauh dari pemukiman penduduk. Bagi yang ingin perjalanannya lebih bernilai tentu saja bisa membaur dengan penduduk lokal. Di sini Kamu bisa belajar kebudayaan mereka, budaya yang telah berkembang dalam jangka waktu yang lama sebagai bagian kehidupan mereka bersama lingkungan sekitarnya. Untungnya lagi jika karena keramahanmu, Kamu menemukan keluarga baru. Kamu bisa belajar memasak kuliner lokal, bergabung dalam tradisi lokal yang unik, dan sebagainya.

Jangan lupa, Kamu juga harus meninggalkan “sesuatu” untuk masyarakat. Tidak melulu uang, bisa saja pengenalan teknologi atau hal-hal menarik dari asalmu yang bisa membantu mereka lebih percaya diri terhadap pendatang, dan sebagainya.

Tak perlu khawatir, Travelio menawarkan kemudahan dalam pemesanannya. Pada pencarian Your Home in di laman travelio.com, Kamu bisa mengisi sesuai tujuan kamu. Untuk lebih efektif, pastikan kamu sudah men-daftar terlebih dahulu untuk memudahkan proses berikutnya. Setelah memasukkan kota tujuan, pilih akomodasi yang kamu butuhkan. Kamu bisa menyaringnya sesuai yang kamu inginkan dari tipe kamar, tipe properti, fasilitas, dan lain-lain, mengurutkan berdasarkan harga maupun mencari berdasarkan lokasi. Begitu hasil pencarian keluar, sudah ada deskripsi mengenai tipe akomodasi yang dipilih. Keterangan ini tidak hanya promosi semata tapi sudah disurvei oleh tim Travelio secara langsung. Sehingga Kamu tidak akan merasa tertipu. Proses pembayarannya pun tidak ribet.

Uniknya lagi, di Travelio, Kamu bisa menawar harga. Sudah hemat bisa lebih hemat lagi. Wow kan?

Dan kabar gembiranya, Travelio kasih voucher diskon 40 persen nih special buat Kamu. Iya Kamu. Mau…mau…

Berikut kode voucher-nya:

LIOMORETHGAG3QI6

Yuk, jadi Sahabat Lio. Kamu bisa langsung pakai kode voucher-nya dan rasakan pengalaman kemudahan perjalanan bersama Travelio. Menginap lebih seru,hemat, dan menyenangkan tentunya 🙂

klik http://www.travelio.com sekarang

 

Detail Kode Voucher:

Kode voucher berfungsi sebagai kode diskon pemesanan Apartment, House, dan Villa di Travelio.com sebesar 40% dengan Syarat dan Ketentuan sebagai berikut:

1. Kode hanya bisa digunakan untuk pemesanan tipe properti Apartment, House, dan Villa yang tersedia di situs web Travelio.com, baik di desktop, mobile web, maupun aplikasi “Travelio”;

2. Kode berlaku sampai dengan tanggal 15 Desember 2016 pukul 23.59 WIB;

3. Nilai maksimum diskon yang dapat dinikmati setiap pelanggan adalah sebesar Rp300.000,00;

4. Setiap pelanggan hanya bisa menggunakan kode sebanyak maksimal 1 (satu) kali;

5. Kode voucher hanya bisa digunakan oleh pelanggan yang telah registrasi dan login saat melakukan pemesanan;

6. Kode voucher tidak dapat digabungkan dengan promo lainnya atau dengan penggunaan Travelio Reward Point;

7. danTravelio berhak membatalkan pemesanan apabila terjadi penyimpangan atau pelanggaran pada Syarat dan Ketentuan ini maupun Syarat dan Ketentuan layanan Travelio.com.

Andalan
Diposkan pada Happy Writing, lomba blogging

 Wonderful Indonesia

Wonderful Indonesia. Slogan diluncurkan demi menarik wisatawan. Tak tanggung-tanggung, Indonesia menarget 20 juta wisatawan asing dalam lima tahun ke depan (sumber: KEMENPAR).

Berbagai usaha dilakukan dari membebaskan visa dari beberapa negara maupun membuka objek wisata baru oleh pemerintah daerah. Namun, target dan usaha tersebut tak akan berarti jika tak diimbangi dengan perilaku wisatawan lokal dan pembangunan sektor wisata.

Kurangnya kesadaran pelaku wisata dan pemeliharaan yang belum memadai menyebabkan pengunjung menjadi kurang nyaman. Objek wisata yang layak tentunya terdapat fasilitas umum penunjang seperti toilet, taman, maupun tempat sampah. Namun seperti yang umumnya terlihat fasilitas-fasilitas ini akan cepat rusak karena kurang terawat. Tak sedikit gasibu-gasibu di taman yang kemudian jeplok atapnya, sarana MCK yang dibiarkan terbengkalai, vandalisme, tempat sampah yang entah kemana baknya. Belum lagi paving atau jalan yang mulai tak layak.

Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, dalam upayanya meningkatkan sumberdaya manusia adalah melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental #ayoberubah. Ini berlaku pada sektor apa saja termasuk wisata.

Untuk menanggulangi buruknya kualitas wisata di Indonesia. Pertama, dari segi pelaku wisata. Sumberdaya manusia yang rendah akan mempengaruhi perilaku wisatawan. Sebagai contoh membuang sampah sembarangan atau buang air yang tidak disiram menimbulkan efek langsung maupun tak langsung. Budaya sederhana tapi susah dilaksanakan. Jika ini dibiarkan maka wisatawan akan kapok pada kunjungan yang pertama. Niatnya refreshing tapi tempatnya malah kotor dan bau.

Kedua, dari segi pengelola wisata. Adanya anggaran pemeliharaan harus digunakan tepat sasaran bukan hanya sekedar formalitas. Ada pemeliharaan rutin seperti kebersihan dan pemeliharaan berkala seperti perawatan bangunan. Jangan sampai anggaran pemeliharaan ini merembes ke kantong pribadi.

Komunikasi Belum Efektif
Pertumbuhan wisata Indonesia yang mencapai 7.2 persen sayang jika tidak diimbangi  kesadaran para pelakunya. Indonesia yang keindahannya sudah tak diragukan di mata dunia dari laut hingga pengunungan perlu dijaga keberlanjutannya.

Untuk itu dunia wisata tidak hanya butuh slogan semata tapi juga perubahan perilaku. Komunikasi efektif diperlukan agar usaha pemerintah mewujudkan Wonderful Indonesia sampai ke masyarakat. Rakyat Indonesia sebagai tuan rumah dapat menjamu tamu dalam hal ini wisatawan asing dengan baik sehingga tamu bakal datang kembali bahkan mengajak yang lain. Target pemerintah terpenuhi dalam usaha pemasukan devisa Rp 260 triliun.
Poster-poster yang berisi ajakan agar perilaku wisatawan berubah lebih baik dan ikut menjaga kelestarian objek wisata tidak hanya di area wisata tapi juga di tempat-tempat strategis di suatu kota. Bahkan sekarang banyak kota sudah memiliki videotron. Pesan-pesan juga disampaikan melalui iklan masyarakat di berbagai media cetak, online, maupun televisi. Pembagian brosur juga harus diletakkan di tempat yang terjangkau banyak orang.
Sosialisasi dengan masuk ke lembaga pendidikan formal dan terhadap guide. Training terhadap para guide ini harus dilakukan sebab melalui merekalah ujung tombak penyampai pesan di sektor wisata. Selain wawasan sejarah tentang wisata mereka juga bisa menyelipkan pesan pemerintah dalam menjaga objek wisata sebagai andalan.

Terakhir, peran blogger. Jumlah blogger di Indonesia sekitar 3,5 persen dari 88.1 juta pengguna internet (sumber: antara) atau kurang lebih ada 3 juta blogger di Indonesia. Dari jumlah tersebut diantaranya ada yang mendedikasikan diri sebagai blogger traveler. Sangat penting menggaet para blogger ini. Sebab, usai berkunjung para blogger akan mengulas lokasi yang baru dikunjunginya. Pemerintah dapat merangkul mereka bisa melalui wadah temu komunitas blogger traveler, perlombaan, atau blogger camp. Dari berbagai aktivitas tersebut pemerintah bisa menyampaikan pesannya agar terhubung pada masyarakat.

Dengan tulisan kita bisa mengubah dunia. Lewat blogger wisata kita semakin berjaya. Wonderful Indonesia, sure it!

Andalan
Diposkan pada Happy Writing, lomba blogging

#SayaNgeblogKarena…

Selamat Hari Blogger Nasional 2016😘
Selalu ada harapan baru di hari istimewa. Selalu ada rencana dan flash back di moment special. Dan, selalu ada langkah dengan new spirit mengikutinya…

Blog dari sekedar catatan pribadi perlahan menjadi profesi. Ia pun dilirik sebagai media promosi. Tak kemana-mana tapi ada dimana-mana, begitulah blogger. Lewat tulisannya, seorang blogger bisa mendunia.

Di hari jadinya yang ke-sembilan, 27 Oktober 2016, semua blogger di Indonesia pasti mempunyai mimpi-mimpi baru. Mimpi yang diiringi dengan langkah-langkah pasti memajukan dunia blogging. Membangun kredibilitas blog agar lebih bertanggung jawab konten maupun penulisnya.

Sembilan tahun sejak Bapak Muhammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika kala itu mewadahi sebuah acara yang menyatukan blogger di Indonesia, dunia blogging berkembang begitu pesat. Di hari blogger ini, saya menjadikan sebagai ajang refleksi untuk menjawab kenapa saya nge-blog? Saya nge-blog karena…

Kira-kira empat tahun lalu saya membuat blog ini. Awal tujuan adalah menulis tentang jurnalistik. Rencananya menjadi blog rujukan bagi yang tertarik di bidang ini. Ehh… ga tahunya belum juga merangkak sudah vakum, alasannya sibuk kerja dan tak ada waktu mengurusnya.

Baru sekitar dua tahun kemudian, blog ini menggeliat kembali. Yakni karena perubahan status menjadi ibu rumah tangga yang membutuhkan saluran untuk hobi menulis. Terlebih banyak lomba menulis blog *mungkin ini alasan utamanya:mrgreen:

Blog pun berubah haluan 180 derajat dari bertema jurnalis menjadi campursari alias tidak jelas. Isinya pun tidak bertema, kebanyakan menulis blog hanya karena mengikuti lomba. Setahun kemudian buku Mbak Carolina Ratri yang berjudul Blogging: Have Fun Get The Money menyentil saya. Dari situ saya banyak belajar *meski sampai sekarang belum selesai membacanya karena langsung belajar mengaplikasikan hihi…

Blog yang berdomain nama saya, saya putuskan menjadi personal blog dengan tagline hobi saya yakni menulis, merajut, melakukan perjalanan, dan berkebun. Happy writing, walking, kniting, yang gardening.

Setelah bermuhasabah, rasanya saya pribadi masih jauh dari disebut blogger. Namun, perlahan saya sedang berusaha menjadi seorang blogger. Kesimpulan dari instropeksi itu, seorang blogger butuh:

Niat dan tujuan. Tanpa niat dan tujuan selalu ada justifikasi ketika kita malas posting tulisan. Namun begitu niat dan tujuan nge-blog terpatri dalam hati tidak akan ada alasan lagi seperti disibukkan oleh pekerjaan di kantor maupun sebagai ibu rumah tangga atau kesibukan yang lainnya.

Konsisten. Ajeg dalam melakukan posting ini penting untuk menilai kredibilitas suatu blog. Bagaimana mungkin seseorang akan menjadikan blog sebagai sebuah rujukan jika postingannya hanya kadangkala…

Curiosity. Rasa ingin tahu alias kepo yang bersifat positif akan membuat seorang blogger terus belajar. Bahan tulisan pun selalu berkembang sehingga pembacanya tidak hanya visitor yang numpang lewat. Namun, loyal dan selalu menanti postingan selanjutnya.

Bertanggungjawab. Internet dewasa ini sudah banyak dijadikan bahan rujukan dalam segala aspek. Untuk itulah pentingnya isi tulisan yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukankah kita ikut bersalah ketika seseorang mengutip tulisan kita namun ternyata itu adalah tulisan yang ngawur atau sekedar copy paste.

#SayaNgeblogKarena… ingin berbagi

Kalau kamu?

Andalan
Diposkan pada Happy Writing, lomba blogging

Kenapa Butuh StayCation?

 

Sumber: karenmsutton.wordpress.com

stay·ca·tion/ˌstāˈkāSHn

noun

a vacation spent in one’s home country rather than abroad, or one spent at home and involving day trips to local attractions.

Mbak Putri membuka kotak pikiran saya ternyata berdiam diri saja di suatu tempat bisa disebut juga dengan liburan lho. Contoh yang sudah Mbak Putri lakukan adalah dengan staycation di Hotel Adhisthana, hotel bernuansa ‘ala’ Jawa modern yang ada di Yogyakarta. Seru juga kali ya!

Hotel identik dengan tempat menginap dalam suatu perjalanan entah liburan di luar kota atau dalam rangka menghadiri acara tertentu. Tapi saya masih ‘amazing’ ketika kita hanya harus berdiam saja dalam beberapa hari di hotel.

Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan di hotel dengan beragam fasilitasnya yang membuat tamu betah berlama-lama tinggal. Di antaranya memanjakan diri di kolam renang, bersantai ria di kasur empuk sembari menonton televisi, menikmati sajian kuliner yang dihidangkan atau bagi yang suka berkenalan dengan orang baru bisa berbetah-betah di living room atau lobi sambil membaca koran atau majalah.

Lalu kenapa butuh staycation?

Pertama, lari dari rutinitas. Rutinitas setiap orang berbeda-beda. Melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang pasti menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Sudah merasa jenuh dengan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari baik sebagai karyawan maupun ibu rumah tangga bahkan entrepreneur sekalipun. Staycation penting untuk ‘mengambil napas’ agar setelah kita kembali ke rutinitas kembali menjadi lebih bernyawa. Ibarat gadget sudah di refresh jadi tidak lemot. So, take time to staycation.

Kedua, me time or family time. Istilah me time identik dengan wanita yang sibuk merawat bayi. Kerepotan merawat buah hati yang baru-baru lahir tidak bisa dipungkiri menguras fisik maupun batin seorang ibu. Makanya ada istilah me time atau waktu seorang ibu ‘memanjakan’ dirinya sendiri. Me time sederhana adalah ketika anak tidur, ibu bisa membaca buku atau melakukan aktivitas singkat yang meringankan tugas sebagai seorang ibu. Namun, jika ingin yang lebih bisa menitipkan anak ke orang tua lalu ber-staycation. Perilaku anak yang kadang menguras emosi berubah menjadi rasa kangen. Sehingga, pulang dari staycation bisa meningkatkan rasa sayang kepada anak. Tapiii…jangan kebablasan ya Mams staycation-nya.

Family time. Sibuk berkarier hingga diprotes istri atau suami atau anak. Itu menandakan ada yang salah. Ambil cuti sejenak dan habiskan waktu bersama keluarga. Keluarga juga butuh untuk ‘disenangkan’, mereka juga alasan kita mencari uang. Namun, jangan sampai kesibukan bekerja melalaikan dari mereka. Tanpa dukungan keluarga hidup juga tak berarti. So, yuk, cobain staycation!

Ketiga, get something new. Dengan ber-staycation bukan berarti kita tidak mendapatkan hal-hal baru. Berdiam diri saja justru membiarkan pikiran kita berkeliaran. Bisa saja banyak ide baru dan inspirasi muncul saat kita ber-staycation. Misalnya, bagi penulis bisa menghindari block writer, bagi seorang manajer bisa mendapatkan inovasi baru untuk produk atau jasa yang dijual perusahaan, bagi entrepreneur bisa menambah kenalan baru, dan sebagainya.

Wah asyik juga ya manfaat staycation. Kalau alasan saya pribadi jika mempunyai kesempatan staycation adalah family time. Kesibukan suami bekerja dan peran saya sebagai ibu dari dua anak yang masih batita kadangkala membuat protes. Tak jarang saat suami libur, saya merengek minta main ke suatu tempat yang dekat-dekat tak masalah asal friendly buat anak-anak.

Staycation di Hotel Adhisthana Yogyakarta rasanya pas. Yang terbayang adalah memindahkan kerepotan dari rumah ke hotel hihi… Enaknya lagi di hotel ada staff yang melayani dengan senyum ramah yang akan diuji kesabarannya dengan adanya tambahan dua kurcaci, Namiya dan Oziel 😀

Sumber: Instagram @adhistana

Sebagian besar waktu dapat dilewatkan di kamar dengan jumpalitan di kasur nan empuk, menonton televisi bersama, dan bersantap menu hotel. Bersepeda bisa juga menjadi alternatif menarik menikmati nuansa klasik kota Sultan ini. Mungkin norak tapi itulah moment kebersamaan yang ingin saya rasakan terutama anak dengan ayahnya agar bonding mereka dengan ayah terjalin seperti anak dan ibunya. Sebab, dalam tumbuh kembang anak itu bukan hanya peran ibu tapi juga ada peran ayah.

Hotel dengan arsitektur dan unsur tradisional yang kental ini juga akan memanjakan suami  yang kebetulan hobi fotografer. Kami pun bisa berpuas-puas untuk berpose di berbagai sudut hotel mungil serba putih nan unik dan nyentrik.

Dan, yang tak kalah penting, liburan tapi tetap berhikmah. Si kecil juga belajar bersosialisasi dengan orang baru dan tempat baru. Dengan mengajarkan bertemu banyak orang sejak kecil harapannya kelak ia tidak menjadi pribadi minder. Namun, tumbuh jadi pribadi percaya diri dan berwawasan luas.

So, Mbak Putri *kedip-kedip mata;)😇😘


“Tulisan ini diikutsertakan dalam #PUTRIJALANJALAN giveaway yang berlangsung selama 3 – 30 Oktober 2016” 


Andalan
Diposkan pada lomba blogging

Acer Liquid Z320, Special Gift untuk Ibu dan Anak

“Namiya, ga boleh pakai smartphone kalau belum SMA?” Suami langsung men-judge saat melihat anak-anak tetangga asyik bermain games dengan gadget mereka.
“Ya enggaklah! Sekarang smartphone itu sudah era-nya, sudah kebutuhan,” saya menyanggah.

Kekhawatiran suami tersebut sangat beralasan. Delapan puluh persen anak-anak dan remaja di Indonesia menggunakan internet (sumber: UNICEF). Bahkan data dari Common Sense Media menunjukkan bahwa anak 2 tahun sudah banyak dibekali smartphone dan tablet.

Sebagian besar anak-anak mengaku mengaku menggunakan internet untuk mencari informasi terkait tugas dari sekolah. Ada yang mengakses media sosial untuk menjalin pertemanan. Lainnya, ada yang mengunduh musik atau video. Selain itu sekarang ini banyak yang menggunakan smartphone untuk bermain games hasil unduhan maupun secara online.

Dari hasil berselancar di dunia maya tersebut 52 persen mengatakan menemukan konten pornografi melalui iklan atau situs yang tidak mencurigakan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan tahun 2014 terdapat 322 kasus kekerasan pada anak-anak yang dipicu oleh media sosial dan internet. Jumlah ini meningkat 100 kasus dari tahun 2011. Porsi tertinggi dari kekerasan tersebut adalah kejahatan seksual yang menyebabkan 53 anak menjadi korban. Selain korban, 42 anak menjadi pelaku kejahatan seksual online (sumber: kominfo.go.id).

Atas fakta-fakta tersebut, sebagai ibu saya juga khawatir. Namun, di era digital tidak mungkin membiarkan anak saya ketinggalan sebab itu sudah kebutuhan. Saat ini bisa dibilang, hampir semua anak mulai usia TK-SD di sekitar tempat tinggal saya sudah difasilitasi smartphone oleh orang tua mereka. Malah seolah sudah menjadi candu bagi anak-anak. Karenanya, tanpa pengawasan atau pendampingan orang tua ditakutkan lebih banyak dampak negatifnya daripada positifnya.

Keraguan dan kekhawatiran kami sebagai orang tua terjawab dengan hadirnya Acer Liquid Z320 melalui fitur Kids Center. Fitur Kids Center sudah pre-install saat membeli Acer Liquid Z320. Berbagai aplikasi yang ditawarkan menarik dan aman di antaranya menyediakan games, painter, usulan situs web, hingga self environment.

image

(sumber: www.acerid.com)

Melalui halaman coloring pages di aplikasi painter, anak bisa belajar mewarnai. Usulan situs web yang aman dan menarik misalnya National Geographic for Kids bisa mengajarkan pada anak untuk mengenal dunia binatang, tumbuhan, dan alam raya di sekitarnya. Dengan video-videonya, anak bisa menyaksikan tutorial ketrampilan misalnya belajar origami atau seni melipat kertas maupun hal-hal lain yang menjadi ketertarikannya.

Fitur menarik lainnya, anak-anak juga bisa memotret atau selfie dengan bingkai lucu dan galeri terpisah. Otak anak akan dirangsang berpikir kreatif saat memilih bingkai.
Bagi orang tua pun tidak perlu cemas sebab Kids Center menyediakan self environment agar anak tidak dapat keluar dari fitur Kids Center. Ini mencegah anak membuka konten-konten yang belum layak untuknya.

Sehingga Acer Liquid Z320 melalui Kids Center menjadikannya sebagai smartphone yang bisa menjadi salahsatu wadah pembelajaran bagi anak. Saya ingin menanamkan pada anak saya bahwa ponsel pintar tidak hanya identik dengan games. Melalui aplikasi misalnya kamus bisa digunakan untuk belajar bahasa asing. Adanya browser digunakan untuk mencari pengetahuan-pengetahuan umum bahkan membantu mengerjakan PR. Selain itu, bisa juga belajar musik, menggambar, dan kegiatan positif lainnya disamping fungsi utamanya untuk komunikasi dan informasi. Dan, tentunya mencegah cyber crime bagi anak-anak dari bullying secara online, pelecehan seksual, penculikan hingga pembunuhan.

Bagi ibu-ibu yang doyan kuliner, fitur Gourmet mode dapat diaktifkan untuk mendapatkan foto makanan yang terlihat lebih enak. Mode ini bisa menganalisa fokus dan menyesuaikan temperatur warna pada makanan. Sehingga jepretan kamera 5MP dijamin ciamik.

Bukan cuma teman kuliner, smartphone ini juga pas buat teman perjalanan. Kualitas suara terbaik di kelasnya. DTS Sound pada Acer Liquid Z320 menjadikan suara sangat jernih. Detail suara juga lebih terasa. Pemakaian earphone untuk perjalanan juga mengasyikkan.

Desainnya pun dibuat melengkung di empat sisinya dan dengan layar 4,5 inchi membuat ponsel ramah ibu dan anak bisa digenggam dengan nyaman. Tampilannya pun elegan dengan bagian belakang menggunakan desain hairline brush sehingga memberikan kesan visual yang kokoh.

Smartphone berbobot 142gram ini juga dilengkapi teknologi blue light shield yang membuat pengguna bisa mengontrol cahaya biru pada layar. Berkurangnya kadar biru akan mengurangi paparan efek negatif dari layar sehingga pengguna bisa nyaman meski berlama-lama di depan layar.

Keunggulan lain Acer Liquid Z320 yaitu resolusi 854×450 pixel yang membuat penggunaan daya baterai lebih hemat. Ditunjang dengan prosesor quad core berkecepatan 1,1 GHz dari Qualcomm membuat konsumsi daya baterai relatif irit. Selain irit, penggunaan layar In-Plane Switching (IPS) membuat layar liquid dapat terlihat jelas dibawah sinar mentari dan pada sudut pandang ekstrim sekalipun.

RAM ponsel ini seluas 1GB serta kapasitas penyimpanan internal 8GB yang dapat diperluas dengan microSD. Hal tersebut sudah sangat cukup untuk mendukung beberapa aktivitas sehari-hari seperti media sosial, chating, dan browsing. Terlebih meskipun belum 4G LTE, tapi sudah mendukung kecepatan internet seluler HSDPA. Dalam keadaan ideal mampu mencapai kecepatan 42 Mbps.

Handphone bersistem operasi Android 5.1.1 Lollipop ini pun dijual dengan harga terjangkau. Sehingga, pas buat kantong ibu rumah tangga dan menghemat uang belanja.

Lebih dari semua itu, Acer Liquid Z320 merupakan pusat aktivitas kreatif bagi anak yang mulai mengenal dunia digital. Adanya fitur Kids Center dapat mencegah kejahatan, dan membantu membawa generasi bangsa ini cerdas, melek teknologi dan informasi.

Penggunaan dan pendampingan yang tepat dan bijak maka terwujudlah “Dengan Acer Liquid Z320, Anak Senang, Orang Tua Tenang”.

image

Andalan
Diposkan pada lomba blogging

Menjadi Seksi dengan Buku

image

Sexy itu smart, perempuan yang pintar atau berotak cemerlang. Perempuan seksi itu terpancar dari auranya. Bisa juga dibilang inner beauty. Kurang lebih begitulah kata guru les Bahasa Inggris saat itu menjelaskan pemahaman kata sexy di luar negeri. Sayangnya di Indonesia, seksi lebih merupakan istilah untuk perempuan montok maupun perempuan berbadan langsing dengan lekuk tubuh kentara.

“Be a smart and sexy with Stiletto Book“. Stiletto Book mengajak pembacanya khususnya kaum hawa bahwa cantik itu bukan sekedar wajah atau riasan diluarnya. Bentuk fisik itu anugerah yang harus disyukuri. Lalu isi otaknya, terserah kita mau dibawa kemana. Saya pilih seksi di antaranya bersama buku-buku terbitan penerbit buku perempuan Stiletto Book.

Laki-laki suka memiliki pendamping yang membuatnya nyaman. Salah satunya “nyambung” diajak ngobrol apa saja. Semakin banyak yang kita baca, kita bisa jadi teman debat yang asyik buat suami. Begitu pula menjadi smart mom, kalau kata saya itu keharusan buat wanita. Sebab, dialah teladan pertama buat anak-anaknya.

Beberapa ibu mungkin sebal ketika sang anak mulai belajar mengeksplor dunia. Ia bertanya tak karuan tentang apa saja. Terbayang kalau sebagai ibu tidak mampu menjawab, parahnya jika malah membentak sang anak supaya diam, mengatakan anaknya cerewet, dunianya langsung tertutup. Berbeda, jika kita bisa menjawabnya dengan tegas. Anak kita sebagai generasi bangsa Indonesia ini tumbuh jadi anak pintar dan percaya diri. Untuk itulah, wanita perlu rajin membaca, koran, fiksi maupun non fiksi, bahkan bungkus gorengan sekalipun. Sebab, ilmu itu dimana-mana.

Buku adalah jendela dunia. Secara pribadi buku adalah tempat belajar secara otodidak. Kehadiran Stiletto Book mendampingi mimpi-mimpi saya. Buku “Winter to Summer (republish: distance)” karya Icha Ayu adalah buku terbitan Stiletto pertama yang saya punya. Alasannya, saya pingin ke Swiss. Buku tersebut selalu menghidupkan mimpi saya.

“Handbook for newmom” karya Nana Aditya seolah ia menggantikan mulut ibu saya, tempat saya bertanya. Mempunyai anak pertama yang memilih mengasuh buah hati sendiri, dan terpaksa harus jauh dari ibu. Buku ini menjawab ketidaktahuan saya, problem solver bagi pertanyaan ini itu seputar bayi.

Buku-buku womenpreneur seperti “Sukses Membangun Toko Online” karya Carolina Ratri, “Sukses Bekerja dari Rumah” karya Brilyantini, “Womenpreneur Checklist” karya Dian Akbas, membantu saya sebagai ibu rumah tangga yang ingin punya pendapatan meski berada di rumah. Mengajari step by step membangun ketrampilan atau hobi menjadi modal usaha dari rumah.

Itu hanya contoh, masih banyak buku yang lain dengan ilmunya masing-masing. Jadi menurut saya, ya, supaya jadi gemar baca, pertama-tama beli buku dan sesuaikan dengan kebutuhan. Otomatis, kita pasti akan membacanya karena kita butuh pengetahuannya, butuh pengalaman orang lain untuk belajar. Lama-kelamaan pasti kita jadi tertarik untuk membaca buku lainnya. Buku seolah candu, ketika sudah menikmatinya, kita akan selalu haus akan buku-buku baru. Seperti slogan ulang tahun Stiletto yang kelima, Book addict is a new sexy.

image

Mimpi saya, punya rumah baca karenanya saya termasuk rajin ikutan giveaway. Hitung-hitung buat modal menambah koleksi. Sekarang masih rencana, mengiringi rencana punya rumah sendiri tahun ini (*amiiin…). Koleksi buku-buku pun masih tercecer. Ada yang di Klaten, yang di Bandung pun sebagian terpaksa dimasukin kardus karena alasan tempat. Maaf ya buku…

Harapan memiliki rumah baca supaya bisa menjembatani kaum pelajar maupun mahasiswa yang biasanya berkantong cekak. Pengalaman saya dulu saat masih sekolah dan kuliah kerap mampir ke taman bacaan untuk menyewa novel maupun buku-buku populer yang tidak difasilitasi di perpustakaan sekolah. Jadi, sewaktu sudah bekerja setiap gajian pasti membeli buku. Balas dendam ceritanya. Alhasil, setiap pindah kost bingung dengan buku yang membludak.

Stiletto Book sendiri sudah meluncurkan charity program kado buku stiletto. Program bagi-bagi buku gratis ke taman bacaan, kedai kopi maupun komunitas yang tidak mengambil keuntungan. Akan lebih baik jika kado buku dari Stiletto dilakukan rutin misalnya enam bulan sekali atau tiga bulan sekali bukan hanya sekali program. Karya-karya penulis penerbit buku perempuan ini pastinya sangat bermanfaat karena menambah koleksi. Sehingga program ini saya rasa bisa membantu Indonesia meningkatkan minat baca masyarakat yang menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO, Indonesia berada di urutan 69 dari 127 negara (sumber: Indonesia Menyala). Miris.

Beberapa pemerintah kabupaten atau kota pun sudah berbenah, dari perpustakaan keliling sebagai upaya jemput bola, renovasi perpustakaan supaya lebih menarik pengunjungnya. Sayangnya, terkadang tidak konsisten. Hanya wow di depan lalu terbengkalai saat berganti pejabatnya. Butuh sebuah kesadaran bahwa membaca itu penting.

Tak hanya perpustakaan daerah, yang lebih vital adalah perpustakaan sekolah. Sebab, sekolah merupakan pendidikan formal di negeri ini. Dari jumlah total sekolah dasar (SD) di Indonesia yang mencapai 148 ribu lebih, SD yang memiliki perpustakaan baru 50 ribu (30 persen). Sementara itu, SMP 13 ribu perpustakaan (36 persen), dan SMA 9.000 perpustakaan (54 persen) (sumber: Tempo.co). Karenanya, Indonesia yang ingin mencetak generasi emas di kemerdekaan 100 tahun pada 2045 mendatang, sudah seharusnya memfasilitasi perpustakaan yang berstandar dan memadai di setiap sekolah.

Rumah atau taman baca pun sudah bukan hal yang asing. Cuma, terkadang masih terkendala biaya operasional. Terkadang bukunya ala kadarnya berupa sumbangan, untuk menambah koleksi baru harus menunggu donatur maupun CSR. Koleksi yang ala kadarnya itu kadang membuat pengunjung lama-lama bosan. Di sisi lain, jika menarik uang yang mana di lingkungan rumah baca kondisi masyarakatnya tidak memungkinkan jadi dilema sendiri. Karenanya, butuh mental dan niat yang mantap untuk mereka yang terjun di sini. Mereka harus didukung, dibantu, bukan malah dipicingi sebelah mata.

Selain lokasi-lokasi membaca, ada juga klub para pembaca buku. Jika di lokasi membaca kita bisa meminjam buku, di klub atau komunitas kita bisa mendiskusikan segala hal terkait buku. Kita juga bisa update buku-buku terbaru, maupun mendapatkan rekomendasi buku-buku. Sekarang sudah banyak klub buku. Jangan ragu bergabung dengan klub buku yang ada di kota kamu. Kalau takut tidak ada waktu berkumpul, klub ini biasa membentuk group di what’s app. Jadi sharing ide bisa dilakukan kapan saja dan darimana saja. Belum lama ini saya juga memutuskan bergabung dengan Klub Buku Yogyakarta. Benar saja saya langsung merasa kecil. Maksudnya, masih banyak buku yang tidak saya ketahui. Banyak nama-nama pengarang terkenal yang belum familiar di telinga saya. Sangat bermanfaat banget bergabung di klub buku. Manfaat lainnya, kita bisa menambah teman silaturahmi. Asyik kan?

Membaca itu kembali ke masing-masing. Sebagai ibu, saya mencoba mengenalkan dunia baca kepada anak saya sejak dini. Kira-kira umur enam bulan, ia sudah bisa membolak-balik halaman buku. Sekarang, Namiya sudah 16 bulan. Ia sudah bisa mengambil buku sendiri. Buku kesukaannya adalah ensiklopedi binatang. Ia akan mengambil buku itu lalu bilang ajah…ajah alias gajah. Lalu, membolak-baliknya sambil menyebut nama binatang yang mulai dikenalinya.

Salut lagi, ia suka mengambilkan saya buku “Handbook for newmom”, mungkin di alam bawah sadarnya, ia sering melihat saya baca buku tersebut. Saat menyusui saya lebih sering mengoptimalkan waktu dengan membaca daripada bermain smartphone yang radiasinya tidak baik buat perkembangan bayi atau daripada bengong melamun tak karuan. Jadi, mau pekerja kantoran maupun ibu rumah tangga sebenarnya tak ada alasan tak ada waktu untuk membaca. Pandai-pandai mencuri waktu, kuncinya.

image

(Sumber foto-foto: koleksi pribadi)

So, masih malas baca buku? Membaca itu seksi lhoh!

Melalui tulisan ini, saya juga mau mengucapkan,
Happy birthday yang kelima Stiletto Book…
Selalu konsisten dan semangat dengan motto kamu ya, be a smart and sexy with Stiletto Book 🙂
Dan, semoga tahun ini, saya berjodoh menjadi penulis di Stiletto yang sudah ditolak tiga kali hohoho…

image

Nama: Rina TH
Twitter: @Rina_Darma13
Email: rinatriha@gmail.com

Andalan
Diposkan pada Book Review

[REVIEW BUKU] SUPERNOVA; Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Telat banget baca novel fenomenal ini. Kalau saja tidak menemukan buku ini saat beres-beres rumah mertua, mungkin, saya tidak akan membaca novel ini. Jujur saya, tidak tertarik membeli novel ini. Dari semua karya Dee, Filosopi Kopi dan Perahu Kertas yang menggelitik saya untuk menjadi bagian koleksi pribadi. Namun, ya, menemukan Supernova, kenapa tidak dibaca? Setelah sebelumnya, saya sudah menonton versi filmnya di salahsatu stasiun televisi.

Book Details
Judul : Supernova; Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis : Dewi ‘Dee’ Lestari
Penerbit : Truedee Books, 2001
ISBN : 979-96257-0-X

BLURB
Dhimas dan Ruben adalah dua orang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Dhimas kuliah di Goerge Washinton University, dan Ruben di John Hopkins Medical School. Mereka bertemu dalam suatu pesta yang meriah, yang diadakan oleh perkumpulan mahasiswa yang bersekolah di Amerika. Pertama kali bertemu mereka terlibat dalam percakapan yang saling menyudutkan satu sama lain, hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang mereka, Dhimas berasal dari kalangan The have, sedangkan Ruben, mahasiswa beasiswa. Tetapi setelah Ruben mencoba serotonin, mereka menjadi akrab membincangkan permasalahan iptek, saint, sampai acara buka-bukaan bahwa Ruben adalah seorang gay. Ternyata tak disangka-sangka bahwa Dhimas juga adalah seorang gay. Maka jadilah mereka sepasang kekasih, meskipun mereka tidak pernah serumah dalam satu apartemen. Bila ditanya mereka menjawab supaya bisa tetap kangen, tetap butuh usaha bila ingin bertemu satu sama lainnya. Dalam pertemuan di pesta tersebut mereka telah berikrar akan membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.

REVIEW
Novel ini dibuka dengan deskripsi oleh Supernova. Sosok yang memiliki pandangan berbeda dan serba tahu. Dengan bahasanya, ia mencoba mengajak orang lain untuk membuka perspektif dari sudut berbeda.

Untunglah saya sudah menonton versi filmnya, kalau tidak mungkin saya akan kesulitan mencerna novel ini. Meski begitu, saya sering men-skip bagian Dimas dan Ruben sebab bahasa yang digunakan penulis terlalu jauh untuk saya tangkap. Ia menggunakan banyak kosakata sains, ilmu fisika, maupun matematika. Kalimatnya pun banyak yang tak saya mengerti. Mungkin bagi yang tertarik dengan ilmu-ilmu ini akan paham dengan membaca mendalam atau kedua kalinya. Namun, jujur saya tak tertarik jadi hanya membaca sekilas tanpa mengulik lebih jauh maknanya.

Bagian yang menarik buat saya adalah roman buatan pasangan gay tersebut. Kisah antara Ferre, Rana, dan Arwin. Rana, istri Arwin yang merasakan kehangatan dengan Ferre, sebuah cinta terlarang. Lalu, ada cerita Diva, sosok pelacur kelas atas dengan penuh harga diri.

Ferre dengan cita-cita masa kecilnya ingin menjadi ksatria, Rana, perempuan karier yang dipanggilnya, Putri, dan Diva…sang bintang jatuh. Dongeng kecil yang selalu diingatnya, ksatria ingin terbang, tak ada yang sanggup membawanya terbang jauh, hingga datanglah bintang jatuh yang membawanya melesat. Namun, saat ksatria melihat Putri, ia lepaskan genggaman sang bintang jatuh hingga ia hancur tercerai berai di angkasa lalu bintang jatuh mendekap sang putri dalam genggamannya.

Banyak yang menilai cerita novel ini maksa banget dan kontroversi. Bagi saya, novel ini memang berbeda dari novel-novel yang beredar dan saya baca. Ini bukan novel genre saya tapi dari novel saya lebih terbuka dan mempunyai pandangan baru terutama dalam dunia tulis-menulis.

So, membaca buku ini, meski tidak mengerti terkait sainsnya, bahasanya yang tinggi, saya suka sosok Arwin, suami yang berjiwa besar. Saking cintanya dan ingin melihat Rana bahagia, ia justru melepaskan.
“Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini…”
“Perasaan ini, cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa harus kamu ada.” -hal. 117

Andalan
Diposkan pada Book Review

[REVIEW BOOK] Dengarlah Nyanyian Angin

image

Book Details
Judul : Dengarlah Nyanyian Angin
Original Title : KAZE NO UTA O KIKE
Penulis : Haruki Murakami
Penerjemah : Jonjon Johana
Cetakan Pertama, Oktober 2008
ISBN-13 :  978-979-91-0137-2
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Literary Awards : Gunzo Literary Award

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Dalam kisah ini, tokoh Aku pejantan tangguh tapi terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku gadis manis dan bersahaja tapi tak ragu-ragu menggugurkan janin dalam kandungannya, yang entah siapa ayahnya. Sobat kental Aku, Nezumi, anak hartawan tapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewati delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas di sebuah kota kecil di tepi laut.

Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an. Dengan ringan, Haruki Murakami berhasil menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memiliki bayangan ideal akan masa depan.

SINOPSIS
Dengarlah Nyanyian Angin merupakan novel pertama Haruki Murakami. Novel dengan judul asli “Kaze No Uta O Kike” menceritakan tentang sepenggal kisah “Aku” di jeda liburan kuliah saat musim panas. Ia berkunjung ke kota kecil dekat pelabuhan dan sebagian besar waktunya dihabiskan di konter Jay’s Bar. Di tempat inilah berkenalan dengan perempuan yang kemudian menemani masa liburannya. Nezumi, anak konglomerat tapi tak bangga dengan status tersebut. Satu lagi, seorang gadis penjaga toko penjual piringan hitam yang kehilangan satu jarinya.

Bersama Nezumi, ia banyak menghabiskan waktu untuk ngobrol di café. Lebih banyak keduanya menghabiskan waktu untuk membahas novel yang akan ditulis oleh Nezumi. Novel yang isinya agak menggelitik buat si “Aku”. Sedangkan dengan gadis penjaga toko, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan percakapan tentang dilema sehari-hari. Hubungan antara keluarga maupun percintaan. Di sela-sela hubungannya dengan kedua perempuan yang baru dikenalnya, ia juga mengisahkan tentang tiga mantan pacarnya.

Selain hal tersebut, novel ini menceritakan si “Aku” yang mengidolakan penulis Amerika yang sudah mati. Dengan gamblang bahwa ia menyebut idolanya sebagai penulis gagal. Bagi “Aku”, Derek Heartfield merupakan guru belajar menulis kalimat. “…dialah salah satu dari sedikit pengarang hebat yang mampu berperang dengan menjadikan kalimat sebagai senjata.” (hal. 3).

Ini novel pertama Haruki, namun baru saya baca setelah novel “Norwegian Wood” yang fenomenal. Kedua novel ini sama-sama menggunakan sudut pandang pertama, Aku. Isinya kalau saya bilang ada ciri khas dari pengarang, tentang kegamangan masa muda.

Melalui novel “Dengarlah Nyanyian Angin”, dapat terlihat jika pengarang dipengaruhi oleh penulis-penulis Amerika dan Prancis. Banyak nama penulis negara tersebut yang diselipkan di antara percakapan maupun pemikiran si Aku, misalnya Gustav Flaubert berkebangsaan Prancis.

Baik novel ini maupun “Norwegian Wood” dituturkan dengan deskripsi atau prosa yang mudah dipahami. Saya pun tidak kesulitan memahami makna novel terjemahan yang biasa sukar diungkapkan oleh si penerjemah. Saya selalu suka penggambaran tingkah laku tokohya yang detail. Ini menginspirasi tulisan saya. Overall, meskipun saya tidak bisa menangkap kenapa novel ini diberi judul “Dengarlah Nyanyian Angin”, I like this novel.

“Aku menyukai langit. Langit tidak pernah membosankan untuk dipandang kapanpun juga, tapi saat tidak ingin dilihat ya tidak perlu dilihat.” (hal. 105)

Andalan
Diposkan pada Book Review

[Review Book] Titik Nol

image

Judul : Titik Nol; Makna Sebuah Perjalanan
Penulis : Agustinus Wibowo
Editor : Hetih Rusli
Cetakan keenam : Juli 2015
ISBN : 978 – 979 – 22 –  9271 – 8

BLURB
Perjalananku bukan perjalananmu
Perjalananku adalah perjalananmu

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

“Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini.”
—Qaris Tajudin, editor Tempo dan penulis novel.

SINOPSIS
Titik nol menceritakan kisah nyata perjalanan penulis usai lulus kuliah di China. Melalui perjalanan darat, ia menuju negara yang disebut atap dunia, Tibet. Sebuah tempat surgawi akan panorama yang amazing. Di sini, ia mengisahkan pengalaman magisnya bersama para peziarah ke gunung suci. Ritual yang dilakukan pun bisa dibilang tak wajar karena lebih bisa dilihat sebagai bagian menyiksa diri. Kulminasinya ketika ia mencapai puncak Drolma-La, 5.630 mdpl. Naasnya, saat turun gunung, sendirian, ia mendekati kematian sebab tenggelam di sungai (hal. 55).

Meninggalkan negara yang sebagian besarnya berupa pegunungan, ia bergerak ke Nepal. Seperti di negara sebelumnya, penulis kembali melakukan pendakian. Ia mendaki dengan susah payah untuk menaklukkan Annapura, yang dilabeli sebagai destinasi trekking nomor wahid dunia (hal. 172). Di negara ini, ia juga bertemu dengan kelompok Maois yang dianggap bertentangan dengan negara.

Negara tujuan traveling berikutnya adalah India. Di sini ia menyaksikan India yang sangat kontras dengan penggambaran di film-film Bollywood. Kotor, miskin, kumuh, calo dimana-mana, dan segala hal mungkin di sini. Jika di Tibet, ia hampir kehilangan nyawa karena tercebur ke sungai, di sini ia terserang penyakit hepatitis yang mengharuskannya opname di rumah sakit. Di sisi lain, ia kembali bertemu bacpacker wanita asal Malaysia, Lam Li, yang banyak mengubah sudut pandangnya tentang makna perjalanan.

Dengan kondisi yang belum sembuh benar dari penyakit hepatitis, penulis menyeberang ke Pakistan. Negara yang sangat kental dengan nilai Islam. Di negeri ini seperti sebelumnya, ia juga bersentuhan langsung dengan masyarakat lokal. Ia merasa kagum dengan adat menjamu tamu di negeri ini. Di Pakistan, ia ikut menjadi saksi kerusuhan yang pecah akibat kartun Nabi Muhammad yang dibuat oleh media Denmark. Penjarahan dimana-mana disebabkan karena tokoh agama mereka dianggap diolok-olok.

Perjalanan belum berhenti, ia menyelami negara Afghanistan yang bunyi ledakan adalah hal biasa. Selain itu, di negara ini ia bekerja menjadi jurnalisfoto yang diidamkannya. Ia harus mengisi pundi-pundi uangnya jika ingin terus meraih mimpi perjalanannya hingga ke Afrika Selatan.

Saat impiannya hampir nyata, ia mendapat berita bahwa ibunya tengah sekarat. Agustinus harus memilih menjadi anak berbakti atau meneruskan perjalanan mimpinya.

Meskipun buku ini merupakan tentang traveling tapi dituturkan dengan cara berbeda. Jika seorang pejalan terbiasa memuji-muji daerah yang dikunjunginya, Agustinus menyampaikan dengan cara berbeda. Ini mengingatkan saya pada buku karangan Eric Weiner, “The Geography of Bliss”, kisah penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara yang paling membahagiakan.

Jika biasanya, seorang akan menulis dari sisi positif, kedua penulis ini justru menonjolkan dari hal negatif yang kerap diabaikan oleh seorang pejalan. Terkadang saya berpikir ini kurang etis menceritakan sesuatu yang jelek. Namun, jika dipikir-pikir lagi, ini menarik. Sebuah kejujuran terhadap pembaca karena setiap tulisan yang berhak menilai adalah pembaca. Dan, setiap penulis punya gayanya masing-masing begitupula setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.

Secara keseluruhan, saya menikmati kisah di buku ini. Tidak sekedar traveling tapi juga penuh filosofi hidup. Banyak pesan yang bisa diambil khususnya jika kita pecinta perjalanan. Buku ini membuat saya iri, bagaimana penulis mampu melihat yang traveler lain tak lihat, menyelami kehidupan lokal bahkan dari sisi ter-religius sekalipun.

Selain perjalanannya, di buku ini juga diceritakan tentang seorang ibu. Kisah ibunda sang penulis yang tetap tegar dalam menjalani hidup. Ibu, tempat kemana ia berpulang dari perjalanannya.

“Orang bilang, tak ada buku yang tanpa faktor kebetulan. Aku bilang tak ada cerita perjalanan yang tanpa kebetulan.” (Hal. 227)

Andalan
Diposkan pada lomba blogging

[#GBCDesember] Gramedia dan Dunia Digital

“Bagaimana kamu melihat Gramedia dan dunia Digital?”

Sebuah kota tak dianggap kota kecil jika terdapat Toko Buku Gramedia. Begitulah domain yang beredar secara luas di masyarakat. Toko buku tolok ukur bacaan orang Indonesia.

Sebelum era teknologi digital merajai, Gramedia adalah raja toko buku. Dipajang di rak-rak gramedia merupakan hal yang ampuh dalam dunia pemasaran. Seiring berkembangnya era digital, Gramedia mau tak mau harus larut di dalamnya.

Mulanya website sudah dianggap cukup untuk mewakili dan melengkapi keberadaan toko offline. Namun, ternyata itu tidak cukup, perlu diikuti penjualan online dan promosi melalu media sosial.

Sekarang sudah banyak toko buku online di dunia maya. Tak sungkan-sungkan, potongan diskon pun diberikan. Kemudahan transfer, tak perlu meluangkan waktu lebih terlebih bagi mereka dengan jam kerja yang padat, membuat mereka memilih opsi toko online ini.

Gramedia pun jeli melihat ini. Dari toko offline bergerak ke online www.gramedia.com. Tentu, dengan nama besarnya, calon konsumen akan lebih trust mengadakan transaksi dibanding toko online yang lain. Meski acap adanya diskon kerap menjadi pertimbangan utama untuk memilih penjual.

Dari toko online pun kembali berkembang ke pemanfaatan media sosial. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 88.1 juta jiwa di akhir 2014. Dari angka tersebut 87.4 persen di antaranya mengaku gemar mengakses ke media sosial (Sumber: www.cnnindonesia.com). Media sosial yang dimiliki Gramedia di antaranya fanpage facebook Gramedia Store, twitter @gramediabooks, maupun instagram Gramedia hingga LINE Gramedia Official.

Gramedia harus jeli melihat pangsa ini. Kebanyakan pengguna media sosial mengikuti timeline/status untuk mencari informasi. Dari timeline ini Gramedia bisa melakukan strategi marketing. Bukan cuma iklan buku-buku terbaru. Para pengguna internet menginginkan hal yang lebih. Di antaranya isi buku tersebut hingga siapa penulisnya.

Cara yang biasa digunakan adalah memberikan ringkasan buku melalui timeline atau mencuplik quote dari buku. Nah, jika ditambah biografi si pengarang ini akan lebih menarik.

Sama halnya dengan menarik calon konsumen ke toko offline melalui event, bazar, pameran, trik-trik tersebut juga penting dilakukan dalam dunia maya. Misalnya, adanya kuis atau giveaway hingga lomba selfie dengan buku dan review. Sebab, tak jarang yang aktif di media sosial adalah pemburu kuis. Peluncuran buku baru seperti yang saya ikuti akhir-akhir ini kerap diiringi dengan giveaway dengan memberikan copy buku, syaratnya gampang hanya menjadi follower diikuti pertanyaan maupun komentar terkait buku.

Melalui cara-cara tersebut tentu baik offline maupun online, Gramedia tetap unggul di hati pembacanya. Sebab, meski saat ini, nilai perdagangan e-commerce atau transaksi perdagangan online belum mencapai 1% dari total bisnis ritel domestik. Namun, dalam waktu dua tahun ke depan diyakini proporsinya bisa mencapai 5%. (Sumber: www.kontan.co.id)

@Rina_Darma13

Andalan
Diposkan pada Book Review

[REVIEW BOOK] Humaira; Ibunda Orang Beriman

CUOPFLoUYAE6W-I.jpg

Penulis: Khamran Pasha
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Zaman
Tahun terbit: 2010
Cetakan ke: -1
ISBN: 978-979-024-200-5

BLURB
Empat belas abad silam, di tengah gurun pasir Arabia, seorang nabi diturunkan: Muhammad sang terpuji.

Saat risalah pencerahannya menyapu seluruh Jazirah Arab dan menyatukan suku-suku yang semula bertikai, istri kesayangannya, Aisyah binti Abu Bakar, yang berjuluk Humaira—yang berwajah kemerahan—mengisahkan kesaksiannya atas perubahan Muhammad dari seorang nabi menjadi salah satu negarawan paling berpengaruh di dunia.

Namun, tak lama setelah momen puncak kemenangan sang Nabi, beliau jatuh sakit dan wafat dalam pelukan sang Humaira. Sebagai seorang janda muda yang dihormati, Aisyah menemukan dirinya berada di pusat imperium muslim yang baru terbentuk dan kemudian beralih peran sebagai seorang guru bangsa, pemimpin politik, dan bahkan panglima perang.

Ditulis dalam prosa yang indah dan berdasarkan riset teliti, novel luar biasa ini adalah kisah menyentuh tentang pergulatan hidup dan cinta seorang perempuan istimewa yang ditakdirkan untuk membantu mengantarkan Islam ke pentas dunia.

REVIEW
Humaira, Ibunda Orang Beriman, ini adalah kedua kali saya membaca buku ini setelah membelinya tahun 2011 lalu. Sebuah buku yang menceritakan tentang Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW setelah Khadijah. Gadis yang dinikahkan pada usia sembilan tahun, yang kemudian dijuluki Humaira.
“Dan kau akan menjadi Humairah-ku. Si kecil dengan Wajah Bersemu Merah.” (Hal. 131).

Aisyah merupakan gadis kecil rupawan, lincah, dengan otak cemerlang, dan berdaya ingat tinggi. Begitulah penulis menggambarkannya dalam buku ini. Di usia belianya, Aisyah telah ditunjuk menjadi Ibunda Kaum Mukminin. Dengan sematan tersebut tentulah tugasnya mendampingi Rasulullah dalam keseharian termasuk saat perang.

Aisyah lahir di saat Islam baru-baru mulai lahir, ayahnya Abu Bakar Ash Shidiq pun termasuk sahabat yang pertama masuk Islam di Mekah. Gadis kecil ini menyaksikan Islam tumbuh dan mulai tersebar dari sebuah gurun. Islam yang mulanya mendapat pertentangan keras dari pemuka Quraisy di Mekah hingga mengharuskan mereka hijrah ke Madinah.

Aisyah remaja menjadi saksi penyebaran Islam yang damai namun juga tegas. Hingga akhirnya sebuah firman Tuhan tentang perang turun. Pertumpahan darah menjadi opsi terakhir dalam membela agama ini. Beliau pun menemani sang suami dalam perang pertama di Bukit Uhud. Perang dalam kondisi tidak seimbang antara musuh dan pasukan Muslim yang kecil. Begitu pula, dalam perang-perang berikutnya. Sampai ia bisa menjadi ahli strategi militer.

Selain menjadi pendamping seorang negarawan, Aisyah juga harus menghadapi kenyataan sebagai takdirnya sebagai manusia biasa. Sebagai wanita, kesetiaan Beliau pun diuji saat di sisi Nabi SAW mulai hadir perempuan-perempuan lain dalam rumah tangganya.

Istri kesayangan Nabi ini bahkan hampir terkena fitnah jika pertolongan Alloh SWT tidak datang melalui firmannya. Sebuah tragedi yang membekas dalam jiwanya dan merubah kehidupannya kelak terutama terhadap hubungannya dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu suaminya.

Hingga saat Rasulullah SAW wafat, tugasnya belum selesai. Putri Abu Bakar menjadi salahsatu perapal hadits. Ingatannya yang kuat tentang perkataan Nabi, perilaku, bahkan tanggapan Nabi akan suatu hal dihaturkannya kembali. Namun, kedamaian hatinya ini seakan tercoreng saat istri kesayangan semasa hidupnya Nabi ini terlibat dalam perang Unta dengan Ali.

Membaca novel ini, saya seakan menyaksikan sendiri sejarah awal Islam mulai menyebar. Khamran Pasha menuliskannya dengan detail baik dari penggambaran karakter tokoh hingga perilaku keseharian. Ia sendiri menyebut novel ini adalah fiksi dengan berlatar belakang sejarah.

Novel ini juga mengungkapkan peran perempuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan bisa menjadi ahli strategi militer, melalui pemikirannya perempuan bisa mempengaruhi suatu bangsa. Bahkan Aisyah menyatakan bahwa Khadijahlah yang menjadi pusat Islam sepanjang waktu. Sebab, tanpa keyakinan Khadijah yang mempercayai turunnya wahyu kepada suaminya, Islam tak akan pernah menyala.

Selain itu, untuk saya pribadi, adanya novel ini lebih membuat saya memahami sejarah penyebaran Islam daripada saat mengikuti pelajaran tarikh (sejarah Islam) saat di bangku sekolah. Mungkin terkait penyampaian penulis yang juga mantan jurnalis. Novel ini ringan, runtut sehingga mudah dibaca dan dimengerti.

Kendati begitu, sebagaimana diakui penulis, novel ini juga terdapat beberapa hal yang kontroversial. Saya sendiri berpikir apakah boleh menggambarkan sosok (wajah) Nabi Muhammad SAW termasuk saat berhubungan intim mengingat selama ini sang junjungan kerap diwujudkan dalam cahaya saat saya menonton film.

Namun, terlepas dari semua itu, novel ini sangat memukau buat saya. Mencoba meneladani kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dari sudut pandang Aisyah, sudut pandang yang digunakan penulis.

@Rina_Darma13

Andalan
Diposkan pada lomba blogging

Blog sebagai Penyumbang Konten Marketing

Apa pendapatmu tentang blog sebagai penyumbang konten marketing?

Mencoba menjawab pertanyaan di atas. Blog, mulanya hanya dianggap sebagai media tempat curhat atau catatan harian seseorang. Seiring perkembangannya, interpretasi tentang blog mulai berubah. Dari sebuah diari menjadi sumber menafkahi diri hingga media promosi.

Blog dan media sosial (facebook, twitter, instagram, dll) bahkan kini bisa dibilang telah menjadi ujung tombak dalam marketing. Di era teknologi smartphone, keduanya mampu ‘menggeser’ pekerjaan manusia di bidang promosi penjualan. Jika dulu promosi kerap melalui sales dengan door to door, kini tak cukup hanya mengandalkan itu.

Data menunjukkan hingga Maret 2015, pengguna internet di Indonesia telah tembus 88.1 juta. Dari jumlah tersebut 3.5 persen di antaranya adalah pengguna blog (www.antaranews.com). Berdasarkan www.lembing.com di antaranya pengguna facebook sebesar 62.71 persen diikuti twitter sebesar 19.57 persen.

Hampir 70 persen pengguna internet memanfaatkan dunia maya untuk mencari infomasi. Begitu menyadari perubahan tersebut para marketing mulai meningkatkan peran dari blog sebagai pelengkap website perusahaan di bidang pemasaran. Di dalam website umumnya sudah terdapat katalog produk berupa spesifikasi hingga harga. Kendati begitu, ternyata hal tersebut acap belum memuaskan calon konsumen. Sebelum melakukan deal, calon konsumen pun melakukan pencarian terkait review produk yang tengah diincar. Nah, review yang muncul melalui peselancaran di dunia maya ini memberikan andil yang tak sedikit pada keputusan calon konsumen. Apakah tetap membeli atau sebaliknya? Di sinilah, blog memainkan perannya.

Akan sangat menguntungkan jika banyak blog yang mengulas terkait produk perusahaan misalnya A. Produk A tersebut bisa menohok pesaing dengan muncul di halaman awal mesin pencari. Di antara cara mengoptimalkan blog sebagai penyumbang konten marketing adalah melalui lomba blogging yang tengah booming akhir-akhir ini. Materinya, menceritakan pengalaman seseorang bersama si pembuat lomba terutama pengalaman terkait produk.

Kompetisi tersebut biasanya akan langsung ‘diserbu’ kontestan. Secara tidak langsung ini akan mempengaruhi keyword di mesin pencari. Kemudian, akan sangat menguntungkan sebab banyak blog yang mengulas sisi positif dari suatu produk. Sebagian lagi, juga menambahkan syarat antara lain melink-kan ke situs pembuat lomba dan menjadi follower di media sosial. Blog pemenangnya akan digunakan untuk keperluan promosi.

Menurut saya, strategi promosi semacam ini adalah ide brillian. Sebab, konten pengalaman dari pelanggan yang merasakan langsung biasanya langsung “touch heart” kepada calon konsumen. Melalui pengalaman ini biasanya lebih “makjleb” dibanding omongan panjang lebar sang marketing lapangan. Karenanya, konten blog ini tidak bisa dipandang sebelah mata sekarang ini.

Keuntungan lainnya yakni banyaknya link ke perusahaan dari blog-blog akan berdampak pada kunjungan ke website. Pengunjung yang tertarik biasanya akan melihat-lihat produk terbaru misalnya smartphone. Lalu, pengunjung ini akan membandingkan dengan produk pesaing. Akan tetapi, karena tadi sudah ada blog yang mengulas maka bukan tidak mungkin jika pengunjung akan membuat keputusan membeli produk Anda. Pengunjung website meningkat yang bisa diiringi oleh penjualan.

Selain itu, meningkatnya jumlah follower di social media seperti facebook, twitter, dan instagram berdampak pada banyaknya calon konsumen yang mengetahui produk. Saya mencontohkan diri saya sendiri sebagai books lover. Saya menjadi follower banyak penerbit. Hal yang saya amati, ada penerbit besar yang menggunakan sosmed hanya sebagai sarana iklan, tapi ada penerbit yang sedang berkembang rajin mengutip quote-quote dalam novel terbaru. Bahkan quote buku lama pun kerap diulangi. Timeline yang berisi ulasan-ulasan tentunya akan lebih menarik daripada sekedar iklan. Penerbit berkembang ini juga lebih jeli dalam menangkap era teknologi, yakni mengadakan giveaway saat meluncurkan novel atau buku baru dan lomba review terhadap novelnya. Ada pula yang mengadakan lomba selfie dengan produk dengan memanfaatkan instagram.

Jika ditelaah lebih jauh lagi penerbit sedang melakukan promosi dan meningkatkan penjualan melalui strategi menambah jumlah follower dan pembelian terhadap bukunya. Follower dari penerbit berkembang pun jumlahnya semakin meningkat yang berarti lebih banyak orang yang mengetahui tentang produk bukunya. Meski pada akhirnya, calon konsumen tetap kembali pada kualitas.

Di sisi yang lain, blog sebagai penyumbang konten marketing juga akan diangkat kredibilitasnya di mata masyarakat. Sebelumnya, informasi dalam blog sering dicap belum teruji kebenarannya karena awalnya blog merupakan konten berisi pemikiran-pemikiran pribadi. Namun, seiring perkembangannya dan banyaknya komunitas blogger, kini banyak blog-blog yang telah memiliki perencanaan bukan blog yang asal posting demi muncul di halaman pertama mesin pencari. Nah, blog-blog yang demikian itulah yang akan bertahan dan terus mendapat kunjungan setia.

Hal yang perlu diingat jika blog maupun sosial media digunakan sebagai strategi pemasaran adalah ramah terhadap follower atau setiap komentar. Karena, setiap calon konsumen adalah unik. Mereka mempunyai pemikiran masing-masing. Seorang marketing tidak boleh men-judge, dia bakal membeli akan dilayani dan dia tidak akan membeli hanya karena pertanyaan yang diajukan. Meski kadang menjawab pertanyaan nyleneh terasa menyebalkan but keep smile. Berikan pelayanan terbaik kepada setiap konsumen maupun calon konsumen. Bisa saja seorang calon konsumen yang tadinya hanya berniat bertanya malah closing atau deal membeli hanya karena keramahan dalam memberikan pelayanan 🙂

Tulisan ini terpilih menjadi salahsatu pemenang kompetisi blog #lovekonten @indosatooredoo dan @bloggercampid

Andalan
Diposkan pada lomba blogging

[Cerpen] Pelopor Keselamatan

“Pakai helm ga?”

Nisa berjalan mendekati suaminya yang sudah berdiri di samping sepeda motor matic-nya. Ia lalu menjawab pertanyaan sang suami, “Ga usah ah, lagian jarak rumah nenek kan dekat!”

“Pakai helm itu bukan karena jauh dekatnya, Ayang! Tapi, karena keselamatan. Aku kan pelopor keselamatan!”

Nisa sedikit memanyunkan bibirnya. Ia tersindir ucapan suaminya.

“Kalau gitu aku juga pakai ah. Aku kan istrinya pelopor keselamatan!”

Hahaha…

“Sudah atau belum?” Ardi sang suami memastikan istrinya sudah membonceng dengan benar. Ia lalu menengok ke belakang.

Tuh kan! Pastikan bunyi klik!”

Lagi-lagi, bibir Nisa manyun. Ia malu bercampur kesal. Tali pengaman helmnya kedapatan belum dikancingkan benar. Suaminya hanya merenges sambil membenarkan helm istrinya. Ibu Nisa tersenyum melihat keduanya dari bibir pintu rumah.

“Ibu, kami berangkat!”

“Iya, hati-hati di jalan!”

Keduanya merupakan pasangan muda. Ini adalah pertama kalinya kunjungan Ardi ke kampung halaman Nisa di Klaten setelah pernikahannya delapan bulan lalu. Ia memanfaatkan sisa masa cuti untuk berkunjung ke keluarga istri.

Di kampung halaman istrinya yang di desa itu memang sepertinya memakai helm masih merupakan hal aneh kecuali untuk jarak jauh atau melewati pos polisi.

Hadeeuuh… hari gini sadar memakai helm masih karena takut ditilang,” ejek suaminya.

Sebagai jurnalis, Ardi kerap meliput kecelakaan lalu lintas. Data tahun 2014, jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas 120 orang per harinya, 70 persen di antaranya adalah pengendara sepeda motor. Pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm SNI atau full-face peling rentan terhadap kerusakan wajah, kepala, dan otak apabila terjadi kecelakaan. Terjatuh dari sebuah sepeda motor berkecepatan 21,5 km/jam tanpa helm sama dengan terjatuh dari ketinggian enam kaki atau 183 meter dengan kepala terlebih dahulu. Ngeri!

Nisa mempererat pelukan di pinggang suaminya. Kaca helmnya menumbuk bagian belakang helm Ardi.

“Ayang, tutup kaca helmnya!”

“Ga enak ah kalau ditutup!”

“Daripada jedug-jedug berbenturan gini! Lagian biar ga…

Belum selesai Ardi bicara, Nisa sudah mengaduh kesakitan. Ada sesuatu menabrak bola matanya.

“Aduuhh…. Ayang… ” Nisa mengucek-ucek matanya sambil meringis kesakitan.

“Ada apa?”

“Kelilipan…”

Ardi menepikan motornya. Ia hendak meniup mata istrinya yang kelilipan. Nisa makin merengek kesakitan. “Tuh, makanya dengerin, disuruh nutup kacanya juga!”

“Ya sudah nanti dulu marahnya. Ini sakit beneran kaya ada hewannya!”

“Sini coba aku tiup!”

“Sakit kalau matanya dibuka, Ayang!”

“Ya sudah merem dulu!”

“Merem juga sakit…. uhhhh….”

Nisa makin merintih. Merasa bukan kelilipan biasa, Ardi langsung membawa Nisa ke puskesmas terdekat. Dokter menanganinya dengan cermat. Ternyata mata Nisa kemasukan serangga.

“Lain kali ditutup ya, Mbak, kaca helmnya!”

Nisa tersenyum. Ardi mencoleknya pinggang istrinya.

“Kaca, tali pengaman, itu bukan hiasan helm!”

Tuh dengerin!” kali ini Ardi ikut ngompor-ngomporin.

“Banyak korban kecelakaan lalu lintas tewas akibat helm. Helm yang tidak ditutup misalnya. Pecahan kaca bisa masuk ke wajah, fatalnya merobek bagian mata. Kalau tidak di-klik tali pengamannya, saat benturan helm bisa lepas. Benturan di kepala ini bisa mengakibatkan hematoma atau darah mengumpul di organ maupun jaringan. Apabila pendarahan terjadi di otak, darah tidak bisa terlepas karena otak adanya di dalam tengkorak. Tahu sendiri kan otak itu vital buat manusia?”

“Iya, Bu!” jawab Nisa manggut-manggut. Kali ini penjelasan Bu Dokter berjas putih benar-benar didengarkan dengan seksama. Usai mendapat perawatan dan tes untuk mata, keduanya berpamitan.

Keep safety, ya!” dokter memberi nasehat sembari melempar simpul senyuman yang manis di bibirnya.

Mata Nisa masih merah saat tiba di rumah nenek. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menutup mata kirinya. Suaminya mengetuk pintu sedangkan Nisa memilih duduk di dipan sembari menunggu nenek membuka pintu.

Ya Alloh, Nisa, kenapa?”

Ga kenapa-kenapa kok, Mbah, cuma tadi kelilipan di jalan!”

“Bisa sampai merah gitu! Kelilipan pasir?”

“Bukan, serangga…”

Astaghfirullah… Nisa! Makanya kaca helmnya ditutup, kemarin pakde-mu sudah pakai kacamata, kaca helm ditutup masih kelilipan pasir juga. Jangan disepelekan yo, Nduk! Itu mata bukan hiasan.”

Dua orang sudah menyentilnya hari ini. Belum kalau ditambah suaminya jadi tiga orang. Ia memang kerap menyepelekan untuk tidak memakai helm apalagi menutupnya. Menurutnya ribet harus copat-copot helm hanya untuk jarak dekat. Ia juga merasa sumpek kalau kaca helmnya ditutup.

“Iya… Mbah!” Nisa tertunduk.

Ndot…ndottt….ndotttttttt…

Percakapan mereka terhenti sejenak oleh bising suara sepeda motor. Dari kejauhan nampak anak berpakaian seragam merah putih naik motor dengan menjamping-jampingkannya. Bagian roda depan sepeda motor diangkat ke atas tinggi-tinggi. Sesekali ia menoleh ke belakang menunggu temannya. Lalu motor kembali tancap gas.

“Pasti si Ragil!” tebak nenek sembari geleng-geleng.

“Ragil, anak yang rumahnya di depan itu?” tunjuk Nisa.

“Iya! Padahal kakinya saja belum nyampai ke tanah kalau naik motor, sudah ngebut kaya gitu. Dasar, anak zaman sekarang pada dimanja!”

“Terus kalau mau berhenti gimana?” Ardi ikut nimbrung.

“Nyari pancatan!”

Ardi nampak tak paham.

“Itu nyari pondasi,” jelas neneknya.

Nisa dan Ardi geleng-geleng.

“Sekarang zaman serba enak. Anak-anak SD sudah diajari naik motor. Naiknya bukan naik yang beneran. Kalau sudah naik, aduhai, ngebut, ga ngerti tanggoh[1]

“Soalnya belum tahu rasanya jatuh kaya gimana?” timpal Ardi.

Rata-rata pengendara sepeda motor baru trauma dan hati-hati di jalan apabila sudah mengalami kecelakaan fatal. Padahal kecelakaan bisa dicegah maupun dihindari jika waspada. Bukan memasrahkan pada takdir. Dalam dua tahun terakhir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), kecelakaan lalu lintas tercatat sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberculosis di Indonesia.

“Ayang, pernah jatuh?”

“Ya pernah tapi ga sampai yang masuk rumah sakit atau patah tulang atau dijahit gitu. Jangan sampai. Na’udzubillah. Lagian, ayang, untuk sadar berlalu lintas tidak harus menunggu harus jadi korban dulu kan?”

Nisa mengangguk.

Tak terasa dua jam mereka berbincang. Terik mentari sudah meredup. Bakda asar keduanya berpamitan pulang. Jalan raya masih relatif lengang. Kepadatan para penglaju dari Kota Jogja maupun Solo belum terasa. Kondisi ini dimanfaatkan beberapa kendaraan untuk memacu kecepatan maksimal.

“Ayang!” tangan Nisa reflek memeluk erat tubuh suaminya. Ia baru saja terkaget saat seorang pengendara wanita mendahului mereka dari sisi kiri.

Ardi geleng-geleng.

“Ini perempuan, pakai matic, nylonong sesukanya. Udah nyalip dari kiri, ngebut lagi… Tidak nglakson lagi. Padahal sebelah kanan kosong… ga sayang nyawa apa… hadeuuhhh…” umpatan demi umpatan Ardi keluar dari mulutnya. Ia nampak lebih kaget dari Nisa.

“Jangan-jangan kamu kalau naik motor kayak gitu juga!” tuduhnya pada Nisa.

Enggak-lah” jawab Nisa cepat sambil merengut.

Namun, memorinya kembali mengiang masa kuliahnya. Ia penglaju dari Klaten ke Yogyakarta. Jarak 23 kilometer ditempuhnya sekali jalan. Dimanjakan jalan raya yang lebar, ia kerap menancap gasnya hingga mentok. Saat pulang dari kampus bahkan ia kerap sengaja menantang pengendara lainnya untuk balapan. Tandanya, ia membunyikan klakson. Jika pengendara tersebut paham dan setuju akan merespon balik. Kalau tidak dapat rekan balapan, ia tetap mengendarai hingga jarum spedometer mencapai kecepatan maksimal di angka 120.

Suatu ketika, Nisa malah pernah dijitak helmnya saat berhenti di lampu merah. Tangan sopir mobil di sebelahnya yang berhenti memukul helmnya. Dipikir-pikir, pasti saat itu sang pengemudi kesal dengan ulah Nisa yang salip kiri kanan. Ia tak sadar, selain membahayakan dirinya, ulahnya juga membayakan orang lain.

Puncaknya, saat seorang tetangga memergoki Nisa yang sedang kebut-kebutan di jalan raya. Tetangga tersebut melaporkan tingkahnya pada sang ibu.

Tuh, Mbak, Si Nisa kalau di jalan ngebutnya ampun deh sampai ada tetangga juga ga tahu!” kata ibunya menirukan ucapan tetangga.

Akhirnya, Ibu Nisa menarik “Si Ijo” motor Honda Supra X 125-nya. Motor yang sudah dianggap teman perjuangannya. Si Ijo diganti dengan Scoopy motor matic berkapasitas 110 cc. Scoopy yang masih keluaran awal kala itu. Harapan ibunya agar ia tak kebut-kebutan di jalan lagi.

“Pembalap itu ada sirkuitnya sendiri bukan di jalan raya,” pesan ibunya terngiang.

“Ternyata saat itu aku membahayakan!” ia membatin. “Untunglah, Tuhan menegurku dengan cara halus. Aku tidak harus menjadi korban kecelakaan terlebih dahulu.”

“Ah… betapa konyolnya aku berkendara kala itu!” simpul Nisa di dalam hatinya. Kepingan demi kepingan saat ia masih jadi penglaju beriak. Kebut-kebutan yang dibangga-banggakannya ternyata nol besar. Lampu merah yang kerap diterobos agar bisa memecahkan rekor waktu sampai rumah. Selap-selip di antara jeda mobil hingga kerap spionnya menumbuk spion mobil. Bahkan pernah pula saat ngantuk memaksa naik motor dan tertidur sejenak di atasnya. Dan, kekonyolan-kekonyolan lainnya.

Heh… kenapa jadi diam?”

“Ga kenapa-kenapa? Jadi berpikir aja aku dulu kaya gitu mungkin haha… Makanya ibu membelikan aku motor matic yang cc-nya lebih rendah. Secepat-cepatnya Si Skupi kan masih kalah sama Si Ijo hehe… ”

“Iya, maksud ibu baik. Modelnya ramping dan mudah dikendarai para perempuan. Namun, perempuan itu suka semau gue kalau naik. SIM-nya juga pasti nembak. Kalau pakai ujian sudah pasti tidak lulus. Beda cara mengendarai orang yang bisa dan sok bisa!” tegas Ardi.

“Iya juga sich,” Nisa mengiyakan.

“Padahal setiap pembelian sepeda motor baru pasti dilengkapi dengan panduan keselamatan dan leaflet berkendara dengan aman dan nyaman di jalan. Sayang, hanya sedikit yang mau meluangkan waktunya sejenak untuk membaca.”

Lagi-lagi Nisa teringat buku panduan dan leafletnya yang disimpan entah dimana atau mungkin malah sudah dibuang. Padahal isinya sangat penting. Dari panduan tersebut, setiap pengendara bisa mengecek kondisi motornya setiap harinya. Untuk mengecek kendaraan pribadi tidak harus menjadi teknisi mesin. Jadi, pemilik bisa mengetahui kendaraannya sedang prima atau tidak.

Selain pengecekan kondisi kendaraan, penting pula habit dalam berkendara. Pemanasan dan perlengkapan tubuh yang lengkap. Postur berkendara dengan posisi badan yang tidak terlalu di depan dan dibelakang. Menyalakan lampu sein 30 detik saat akan berbelok di persimpangan. Semua sudah lengkap di leaflet. Safety first.

“Ingat kata Pak Michael Gerald Gozal, pengendara tak pernah bisa tahu apa yang akan terjadi di jalan. Tapi ini bisa diminimalkan dampaknya jika ada persiapan.”

“Iya, Ayang. Btw, Pak Michael itu siapa?”

Safety riding analyst-nya Astra Motor”

“Ah, dasar wartawan!”

Hehe…

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

[1] cara mengendalikan

Andalan
Diposkan pada Happy Writing

Berbagi Pengalaman Tes AcEPT UGM

Bagi yang berencana meneruskan jenjang pascasarjana/magister atau S2 di UGM pastilah familiar dengan Test AcePT. Test AcEPT merupakan tes dengan tujuan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang dalam hal akademik.

Pertama mendengar tes AcEPT saya sendiri ngeri. Namun, mau tidak mau harus melakoni sebab nilai tes AcEPT merupakan salahsatu syarat jika ingin mendaftar S2. Tes AcEPT sering dikait-kaitkan dengan Tes TOEFL. Ada yang mengatakan nilai tes AcEPT 209 setara TOEFL 450, bahkan ada yang mengungkapkan fakta di lapangan untuk mencapai skore tes AcEPT 209 setara nilai TOEFL 500. Wow ya? Nah, untuk bisa melanjutkan jenjang pascasarjana di UGM, nilai tes AcEPT minimum adalah 209, tapi mungkin berbeda-beda untuk setiap jurusan.

Saat liburan Idul Adha saya pulang ke kampung halaman di Klaten bersama anak dan suami. Seperti biasa, saya dan si kecil akan ditinggal sementara waktu di Klaten sedangkan suami pulang terlebih dahulu ke Bandung. Dipikir-pikir sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, saya sekalian mendaftar tes AcEPT sebab semester depan saya berencana melanjutkan S2. Ya mumpung ada di Klaten dekat dengan Jogja daripada harus menunda saat musim pendaftaran biasanya peserta bakal membludak. Seperti pengalaman saya semester lalu yang gagal daftar. Karena terlambat mengetahui jadwal pendaftaran magister, saya baru pulang sebulan sebelum pendaftaran ditutup. Seminggu pertama saya ‘santai’ karena masih ada waktu sebulan eh tidak tahunya, waktu daftar test AcEPT, begitu dibuka, beberapa jam kemudian kuota peserta sudah terpenuhi. Akhirnya, saya disarankan ikut tes AcEPT minggu berikutnya atau seminggu sebelum pendaftaran S2 ditutup padahal syarat S2 harus ada skore AcEPT. Yah, terpaksa gigit jari pulang ke Bandung dan menunda semester berikutnya. *pengalaman, jangan menunda-nunda seperti saya ya!

Kembali ke topik, nah, karena rencana pulkam ini juga tidak direncanakan gara-gara ada tiket promo hehe… Persiapan saya untuk tes ini tergolong mepet. Hanya lima hari itupun tidak full. Saya mendaftar hari Jum’at sengaja begitu buka jam 09.00 langsung standby di depan komputer untuk online. Karena pendaftarannya online dan tentu saja takut tidak kebagian kuota *trauma tingkat tinggi. Jadwal ujian dilakukan hari Rabu, 7 Oktober 2015.

Begitu mendapat nomor registrasi, saya lalu berjibaku. Di antaranya browsing dan download contoh soal tes AcEPT berikut tips dan trik menghadapi ujian yang katanya angker ini. Banyak artikel yang mengatakan ada yang berkali-kali tes tapi tidak lulus karena tingkat kesulitannya. Bahkan teman saya S1 yang saya anggap jago Bahasa Inggris dibanding saya menyarankan seenggaknya belajar sebulan hadeuuhh…. Makin runyam pikiran saya. Apalagi saya lulusan 2010, sudah 5 tahun tidak bersentuhan langsung dengan akademik, apa masih bisa? Terlebih status saya sekarang sebagai ibu rumah tangga dengan satu balita berumur satu tahun yang katanya lagi rempong-rempongnya tanpa bantuan pengasuh pula. Praktis saya hanya belajar saat si kecil tidur dan pekerjaan rumah tangga saya sudah selesai. Itu pun kalau tidak capek. *alasan*

Jreng…jreng…jrenggggg… Ujian pun sudah pada waktunya. Deg-deg-deg dan makin kencang saat akan segera dimulai. Bismillahhh… Sesi listening yang entahlah, narrator-nya seperti berkumur menurutku. Lalu vocabulary, grammar and structure, dan di sini saya mulai kehilangan konsentrasi masuk ke sesi reading dan ye ye terakhir composing skill. Aduhai soalnya…langsung membuat saya tak mampu berpikir. Bahkan sempat berpikir tak mau mengambil hasil ujian karena takut nilainya jelek.

Tararara… Dua minggu kemudian usai ikut tes PaPS. Ini tes potensi akademik, salah satu syarat lain selain AcEPT untuk masuk program magister di UGM. Akan saya bahas di artikel berikutnya. Saya mampir ke Pusat Pelatihan Bahasa UGM tempat ujian tes AcEPT untuk mengambil score report. Malu-malu saya masuk, masih takut jika nilai saya tidak memenuhi batas minimal, dannnn… Alhamdulillah, score saya 250 🙂

Langsung saya berpikiran untuk menulis artikel ini membagi pengalaman tes AcEPT yang katanya momok itu. Tapi dalam kondisi minimal saya bisa buktikan saya bisa, apalagi jika persiapan lebih matang daripada saya. Tips dari saya:
– Jangan sampai GAGAL FOKUS dan tetaplah KONSENTRASI
Pengalaman saya mulai sesi grammar & structure konsentrasi bakal menurun dan soal yang gampang pun bakal buyar karena kita sudah stress terlebih dulu. Kalau memang sudah merasa stress, mending jeda sejenak, atur nafas kembali berusaha fokus. SUGESTI diri Anda sendiri bahwa Anda bisa. Di bagian ini juga nilai terjelek saya hihi…
-pada sesi READING yang wacananya panjang-panjang biasanya kita sudah malas duluan. Jangan! Kalau saya baca artikelnya sekilas lalu ke soal. Apa pertanyaan di soal baru dicari dan teks bacaan begitu berikutnya.
-CERMAT dan TELITI, ini penting untuk sesi composing skills termasuk bagian yang lain ya. Cuma saya tekankan karena composing skills berada pada bagian terakhir dan biasanya pikiran kita sudah carut marut entah kemana.
-baca dan ikuti petunjuk soal dan tester. Kalau memang jatah mengerjakan listening ya kerjakan itu saja, begitu juga bab lainnya. Kalau misal saat waktu mengerjakan bagian grammar and structure, Anda membuka reading bisa-bisa stress duluan hehe… Eh, hafalan Anda buyar.
-Jangan terpaku pada satu soal karena ini buang-buang waktu, ingat Anda sedang ujian bukan latihan. Segera beralih ke soal yang lain. Tester di ruangan akan memberitahukan setiap waktu kurang lima menit pada setiap bagiannya. Ini bisa Anda gunakan untuk mengecek lagi.
-dan pastinya BERDOA, juga jangan sungkan minta do’a suami jika sudah menikah atau do’a ibu jika belum menikah. Sebab, kalau menurut agama saya, Islam, ridho Tuhan tergantung ridho ibu dan jika sudah menikah ridho Alloh tergantung ridho suami. Insya Alloh akan sangat membantu 🙂

Jadi itu tips dari saya, maaf kalau saya tidak memberikan contoh soal. Sebab saya tidak bisa mengingat soal tes yang diujikan hihi… Intinya, latihan listening, vocabulary, grammar and structure, reading, dan composing skills. Saya latihan dengan dari buku latihan soal SNMPTN adik plus download contoh soal test AcEPT. Untuk trik-trik mengerjakan soal banyak yang sudah sharing. Sementara untuk tata cara pendaftaran bisa langsung ke websitenya pusat pelatihan bahasa UGM. Saya hanya memberikan tips dari sisi psikis atau mental yang semoga bermanfaat. Sekali lagi, jangan menunda waktu termasuk untuk urusan mendaftar atau belajar!

Salam sukses selalu untuk kita ya!

@Rina_Darma13

Andalan
Diposkan pada Lomba

Tak Pernah Bosan Makan Tempe

 

12080506_1658887457683425_1945367139_n
Tempe goreng ijen (foto by Yunanta C Buana)

“Pagi ini tersisa tiga potong tempe sebagai lauk kami. Tempe ijen semacam ini favorit kawan saya yang namanya Sumeru. Tempe goreng tidak terlalu kering, gurih, dan masih hangat pas sekali buat lauk sarapan.”

Sebuah postingan Instagram milik @yunantabuana yang menggelitik buat saya. Ternyata tidak hanya saya yang doyan banget dengan lauk yang namanya tempe ini. Bahkan, saat hamil pun, saya pernah menghabiskan sepiring tempe goreng sendiri. Hingga oleh keluarga suami di Bandung, saya sering dijadikan bahan candaan. Kata mereka, mempunyai istri seperti saya ngirit, karena makannya cukup dengan tempe.

Eits, jangan salah ya, awalnya tempe memang diciptakan oleh rakyat makanya acap dipandang sebelah mata. Namun, kini pamor tempe tak kalah dibanding lauk lainnya. Warisan budaya bangsa ini telah menunjukkan tajinya di pentas global. Ia telah menjadi menu favorit di Jepang dan Korea. Dua negara macan Asia Timur yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tempe juga telah merambah negara Asia, Eropa bahkan Amerika. Bahkan di Jerman, sudah dilakukan penelitian tingkat terkait tempe untuk mendapat lebih banyak manfaatnya.

Fakta menarik lainnya tentang tempe yang belum lama saya ketahui adalah ternyata lauk favorit yang saya makan hampir setiap hari tersebut telah ada lebih dari 400 tahun. Hal ini pernah dimuat dalam manga “Shokugeki No Souma” pada chapter 43 page 11. Dalam manga tentang masak-memasak yang ditulis oleh Tsukuda Yuto tersebut, tempe disebutkan berasal dari Indonesia. Kartun Jepang dengan ilustrator Shun Saeki/ TOSH yang berkolaborasi dengan seorang Chef terkenal bernama Morisaki Yuki telah terbit secara mingguan di Shonen Jump sejak November 2012.

Tempe dalam manga "Shokugeki No Souma"
Tempe dalam manga “Shokugeki No Souma”

Menurut sejarawan Ong Hok Ham, penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia. Ia menyayangkan penemu tempe anonim karena tempe ditemukan sebelum zaman paten. Tahun 2014, hak paten yang berhubungan dengan tempe paling banyak dimiliki oleh Amerika Serikat sebanyak 35 buah kemudian Jepang 5 buah dan Indonesia dua buah. Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Teknik Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor Tien R Muchtadi.

Bukti lain jika tempe berasal dari Jawa dikemukakan oleh pakar tempe dari Universitas Gajah Mada Mary Astuti. Berdasarkan muasal katanya, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi. Artinya makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu dan tempe berwarna putih. Ia juga menemukan kata tempe dalam Serat Centhini jilid ketiga, yang menggambarkan perjalanan Mas Cebolang dari Candi Prambanan menuju Pajang. Ia mampir di dusun Tembayat wilayah Kabupaten Klaten dan dijamu makan siang oleh Pangeran ayat dengan lauk seadanya. Dalam serat yang dibuat sekitar abad ke-19 disebutkan, “…brambang jae santen tempe … asem sambel lethokan …” sambel lethok dibuat dengan bahan dasar tempe yang telah mengalami fermentasi lanjut. Pada jilid 12 kedelai dan tempe disebut bersamaan: “…kadhele tempe srundengan…“. Jadi, berdasarkan uraian tersebut menurut saya tempe bisa dikatakan berasal dari Klaten, kampung halaman saya. Makanan daerah yang kini mendunia.

Pada dasarnya proses pembuatan tempe adalah proses menumbuhkan spora jamur tempe, yaitu Rhizopus sp., pada biji kedelai. Dalam pertumbuhannya, Rhizopus sp., membentuk benang hifa. Benang tersebut yang mengikat biji kedelai satu dengan yang lainnya menjadi tempe. Pada masa fermentasi, jamur tersebut juga menghasilkan enzim pencernaan yang mengurai protein dalam biji kedelai sehingga membuat tempe lebih nyaman di perut. Karenanya, tempe baik untuk semua kelompok umur.

Potongan tempe rebus dapat dijadikan bahan dasar resep Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), baik campuran nasi tim maupun bubur. Saya pribadi pun tidak ragu memberikan kepada balita saya yang berusia satu tahun. Olahan tempe juga disarankan dikonsumsi oleh ibu hamil karena nilai gizinya. Tempe dapat membantu kebutuhan protein yang meningkat seiring pertumbuhan janin, dalam www.bidanku.com menyebutkan kebutuhan protein adalah 12 gram/kilo berat tubuh.

Dikutip dari laman www.kuherbal.com, pada 100 gram tempe mengandung sekitar 20.8 gram protein, sehingga cocok sebagai menu sehari-hari yang digunakan untuk diet tinggi protein. Namun, yang harus diingat untuk mengoptimalkan nutrisi tempe untuk tubuh adalah cara memasaknya yakni dengan direbus, dibacem, disemur, dan campuran berbagai sup. Sementara penelitian di Jerman telah membuktikan jika tempe mengandung superoksida dismutase yang bisa mencegah penuaan dini. Selain itu, dapat mencegah radikal bebas yang menyebabkan penyakit degeneratif (misalnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, berbagai jenis kanker).

Mengingat kandungan nutrisi dari tempe yang begitu besar diharapkan pemerintah dan stakeholders makin serius melakukan penelitian. Penelitian juga harus dilakukan pada tanaman kedelai agar kedelai lokal tidak kalah bersaing dengan impor yang menyebabkan setiap tahun harga kedelai naik. Akibatnya, petani, pedagang, dan masyarakat dibuat dalam kondisi tidak menentu. Menurut Ketua Yayasan Tempe Indonesia Dr Sapuan, pemanfaatan tempe dalam industri di Indonesia pernah dijalin dengan PT Sari Husada. Namun, karena krisis ekonomi yang membuat bahan baku meningkat membuat produk susu instan dihentikan.

Untuk saya sendiri, tempe goreng dengan bumbu garam, bawang putih, ditambah sedikit penyedap rasa masih andalan. Bumbu tersebut dihaluskan manual lalu ditambah air matang secukupnya. Irisan tempe direndam kemudian ditiriskan dan digoreng. Resep warisan dari ibu saya, mudah dan hasilnya tempe gurih yang nyam-nyam. Seperti kata teman saya di atas, enak disajikan saat hangat. Olahan tempe lainnya yang kerap saya makan yaitu tempe bacem, kering tempe, dan tempe penyet pedas. Namun yang paling favorit masih makanan khas Klaten, lethok, yang berbahan tempe. Cocok dihidangkan dengan ditumpangkan pada nasi gudangan dan ditaburi sambal bubuk kedelai. Apalagi jika yang membuat adalah tangan ibu, rasanya semakin rindu dengan kampung halaman.

Referensi:
Cara Membuat Tempe. http://www.caramembuattempe.com
Hak Paten/Hak Cipta Tempe. http://arinifatimah35.blogspot.co.id/
Indonesia dalam Manga Jepang. Posting 18 November 2013. http://otaku-indon.blogspot.co.id/
Kandungan Nutrisi Gizi Tempe dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. http://kuherbal.com/
Sejarah Tempe; Tempe makanan kita semua oleh Hendri F. Isnaeni. http://historia.id/kuliner/sejarah-tempe
9 Pilihan Makanan Sehat Bagi Ibu Hamil. http://www.bidanku.com
7 Makanan Khas Indonesia yang Mendunia  oleh Hadi Hariyanto. Posting 21 April 2015. http://www.asliindonesia.net//

Andalan
Diposkan pada Lomba

Mimpi Pingin Punya Domain Sendiri!

Glekk… Menelan ludah begitu menemukan Blog Emak Gaoel. Baru berjumpa sudah menawarkan smartfrend hihi… Mata langsung menelisik dari atas sampai bawah. Tak ingin ada yang terlewatkan. Pertama-tama langsung add bookmark. Seenggaknya ada bahan buat update konten blog, urusan menang tidak walau pasti ngarep, itu sih bonus 🙂 Kedua, mulai ngasih jempol dan jadi follower untuk semua persyaratan. Baru dech me-mind up alias membuat kerangka pikiran di otak mau nulis apa untuk giveaway keren ini.

Blog ini sudah ada dari tahun 2012, rencana awalnya guna sharing tentang ilmu jurnalistik. Eh, ga tahunya baru dapat berapa postingan sudah mandek. Alasannya klasik, sibuk urusan kerja. Jadi tidak ada waktu buat posting. Padahal dipikir-pikir masalahnya hanya manajemen waktu yang bobrok.

Di pertengahan tahun 2015, banyak lomba-lomba yang mensyaratkan memiliki blog membuat kembali galau. Dipikir-pikir daripada membuat blog baru, kenapa tidak menghidupkan lagi blog yang sudah lama tertidur ini. Blog menggeliat kembali, ibarat para pemuda yang tertidur di gua kahfi ratusan tahun lamanya, blog ini mungkin juga merasa asing. Kali ini pemiliknya sudah berstatus ibu rumah tangga yang menanggalkan status karyawannya. Pantas ya ikut-ikutan nge-blog, katanya dari hobi blogging bisa menghasilkan uang sendiri dari rumah termasuk juga supaya tetap eksis walau di rumah 😀

Sebagai pemanasan, posting awal setelah tiga tahun dalam masa dormansi, saya kembalikan ke niat awal untuk berbagi. Berbagi apa saja yang menarik dan sesuai kegemaran. Saya pun menyimak linimasa twitter terkait seputar dunia menulis lalu membaginya di blog. Tidak hanya itu, untuk mengisi konten blog, saya mulai mereview buku maupun kuliner. Kemudian memposting ulang lomba. Sampai akhirnya, lomba blog datang kembali. Kali ini, saya bisa ikut-ikutan. Walaupun hingga tulisan ini di publish saya belum pernah beruntung dan harus coba lagi setiap event datang hehe…

Di dunia blog saya ibarat bayi yang baru merangkak. Belum ada jadwal resmi kapan saya mau menulis. Sekarang alasannya sudah berstatus ibu rumah tangga dan mempunyai bayi tanpa baby sitter haha… *manusia penuh alasan. Cuma, kalau menemukan lomba blog langsung tancap gas. Jempol langsung keriting karena diajak berjibaku. Oya, untuk nge-blog kadang saya memakai aplikasi yang diunduh dari smartphone untuk ngetiknya pakai memo pad dulu baru di salin ke new post. Ini dilakukan kalau sambil nyambi-nyambi. Sebab, kalau langsung ditulis draft kadang berhenti di tengah jalan. Kalau pas si kecil yang baru berusia setahun bulan september lalu tidur, bisa buka laptop pakai mozilla firefox langsung ditulis dibagian draftnya. Untuk mengedit foto, memakai ACDSee Photo Manager yang simple buatku.

Balik lagi, jadi apa ya intinya bikin blog? Mendadak writer block. Akhirnya, kembali ke Blog Emak Gaoel mengintip peserta yang sudah lebih dahulu nyetor tulisan. Bukan bermaksud plagiat apalagi copy paste tapi menyegarkan ide. Ah, yang lain pada kece-kece dan sudah tak terlihat amatir, sampai akhirnya ide itu sidap dikandang saat blog walking di punyanya @mrs_muhandoko. Ada postingannya yang berjudul 5 Mimpi Dalam Lima Tahun. So, kenapa blog-ku ini tidak mempunyai mimpi ya? Akhirnya aku bisa menjawab tema contest ini apa yang sedang kamu kejar dalam kegiatan blogging-mu?

Si kecil masih lelap, yes, aku mempunyai me time untuk mencari jawabannya. Di depan cermin, ngobrol sendiri. Uang? Ya semuanya butuh uang, but i’m realistis. Aku memilih optimis realistis saja. Aku pingin mempunyai domain sendiri dari hasil nge-blog. Keren pastinya. Domain pakai nama kita dibubuhi dotcom dibelakangnya. Isinya about me sajah. I’m generalize not specialist, yang happy writing, reading, knitting, gardening, and walking. Berbagi ilmu untuk mereka yang berhobi sama.

Go for it! Jadi maksimal tahun 2017, aku harus sudah mempunyai domain sendiri dari hasil blogging. Ya, meskipun start yang lambat, dari tiga tahun lalu bikin blog, eh baru sekitar tiga bulan ini menggeliat lagi. Kalau bayi kira-kira baru bisa miring-miring mungkin ya!

Bismillah… Mending terlambat daripada tidak sama sekali. Berharap juga my blog bisa seperti Blog Emak Gaoel yang ramai dan ngehits. Amiin…

Andalan
Diposkan pada Lomba

Cirebon Menuju Smart City, Kota Pelabuhan Idaman

Cirebon Smart City 300

Cirebon, kota pelabuhan terletak di lekukan terdalam Teluk Cirebon. Berada di antara dua budaya suku Jawa dan Sunda. Mempunyai kraton kasepuhan dan kanoman. Terdapat makam Sunan Gunung Jati yang melegenda. Kota berlatar Gunung Ciremai di barat daya, gunung tertinggi di Jawa Barat. Mempunyai bandara dan jalur rel kereta. Kawasan strategis Pulau Jawa penghubung ibu kota ke bagian Jawa lainnya. Demikianlah saya mengenal Cirebon.

Kota udang yang pernah menjadi salah satu kota perantauan saya. Kurang lebih tiga tahun lalu (tahun 2012), saya singgah di kota ini untuk beberapa bulan. Sebab, perusahaan tempat saya bekerja mengirim barang dari pulau Kalimantan melalui pelabuhan Cirebon. Beberapa bulan yang membuat saya cukup mengenal kota ini. Kota yang panas, kenang saya hehe…

Menurut Pramoedya Ananta Toer, penulis favorit saya, dalam buku “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”, Cirebon sejak semula merupakan kota bandar internasional terutama menjadi tempat membongkar dan melepas jangkar bagi kapal-kapal dagang Cina dan India. Kota ini menempati lembaran penting dalam sejarah Indonesia yang tak dapat lepas dari nama anumerta: Sunan Gunung Jati. Kota yang juga mempunyai makna tersendiri bagi saya. Di sini, saya dididik oleh bos saya menjadi pribadi tangguh yang mandiri. Sebagai perempuan, saya tidak boleh bergantung dan jenis kelamin bukan lagi alasan. Tugas tambahan saya keluar masuk toko bangunan, besi-baja, hingga masuk ke pabrik crash stone. Pekerjaan yang umum buat laki-laki, pikir saya. Kalau menuruti emosi, kadang sungkan, malu bahkan mengumpat. Namun, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Semua pasti ada hikmahnya. Saya juga harus siap bolak-balik Ciamis-Cirebon mengendarai sepeda motor. Selain itu, saya juga kerap harus bertemu dengan orang berbeda membuat saya harus selalu smart dalam menempatkan diri.

Berbicara smart, Cirebon pun saya yakin mampu menuju smart city. Kota cerdas yang mandiri, cakap warganya, dan hijau. Adanya sektor-sektor strategis seperti pelabuhan, bandara, stasiun kereta, bahkan terminal bus merupakan penunjang utama dalam perekonomian. Terlebih, letak Cirebon yang berada sekitar 224 kilometer dari ibu kota Indonesia, Jakarta juga membuat kota ini menjadi jalur lalu-lintas niaga. Cirebon bisa memanfaatkan posisi ini. Namun, jangan “memanfaatkan” untuk hal yang tidak baik seperti pungli maupun razia yang diada-adakan alias tidak ada sumber hukumnya. Sekalian berbagi cerita, tapi ini pengalaman adik saya yang “kena” 100 ribu oleh oknum polantas di pos lampu lalu lintas daerah Kedawung beberapa bulan lalu di tahun ini. Hari sabtu yang belum genap jam sembilan pagi, saat lampu merah, adik yang berhenti disuruh minggir dan masuk pos. Ia pulang magang dari Jakarta melintas Cirebon mengendarai sepeda motor ber-plat AD. Karena perjalanan jauh, ia pun menaruh ranselnya berisi laptop di depan dengan tali ransel yang dimasukkan ke stang/kemudi. Kata si polisi, hal tersebut tidak boleh sebab ada undang-undangnya. Karena dianggap melanggar, adik pun diminta sidang, yang pasti jawabannya tidak. Untuk apa jauh-jauh ke Cirebon cuma buat sidang, lagian lewat Cirebon hanya untuk melintas. Sebuah pikiran yang mudah ditebak. Setelah perdebatan, lalu terlontarlah penawaran dari mulut si oknum polisi untuk “membantu”. Menurut saya, ya, kalau memang ada aturannya mohon disosialisasikan secara intensif. Lebih penting lagi polantas -yang image kebanyakannya di masyarakat sebagai tukang tilang- memberitahu kepada plat luar kota jika tersesat atau tidak mengetahui aturan khusus di kota tersebut, bukan langsung menindaknya. Sebab, saya sering mendengar cerita kalau plat luar kota sering dijadikan “mangsa” bagi oknum polantas nakal, tidak hanya di Cirebon. Image sebuah kota itu sangat penting. Image harus dibentuk oleh semua yang terkait tidak hanya pemerintah dan warganya tapi semua lapisan dan lingkungan. Image ini yang akan membuat orang untuk datang lagi atau malah kapok.

Kota smart city harus mempunyai warga yang cakap. Kecakapan warga penting dalam kemajuan sebuah kota. Warga juga orang pertama yang merasakan keberhasilan sebuah kota. Warga yang cakap akan selalu kritis terhadap kebijakan pemerintah lalu disalurkan dengan cara yang benar. Ia juga peka jika lingkungannya sudah tidak berdaya dukung.  Misalnya dengan adanya Komunitas Blogger Cirebon maka terjadilah sharing ilmu pengetahuan, transfer teknologi, dan pengalaman yang sangat penting. Temu komunitas bisa dilakukan di open public spaces. Ruang publik ini bisa di taman, tempat olahraga, pusat perbelanjaan bahkan tempat wisata. Di area publik ini biasanya sudah dilengkapi dengan akses wifi. Terlebih dengan hadirnya Smartfren 4G LTE membuat akses internet kian lancar. Jaringannya luas, cepat, dan stabil sehingga hadirnya Smartfren 4G LTE sangat mendukung Cirebon Menuju Smart City. Sebab, dari komunitas, biasanya ide-ide segar dan kreatif muncul. Dari sinilah inovasi sebuah kota idaman dimulai 🙂

Kemudian, sebuah smart city harus menerapkan konsep hijau. Selain sedang booming, pikiran kita tidak boleh terpaku pada mengikuti “trend“. Kita harus memiliki mindset bahwa kota hijau itu sebuah keharusan. Hijau itu sederhana, misalnya hanya tetap memberikan ruang untuk tumbuhan bisa tumbuh dan membiarkan air meresap ke tanah maupun mengalir di sungai dengan lancar. Apalagi lokasi Cirebon yang berada di pesisir pantai utara, seperti kata saya, hawanya panas. Untuk merekayasa cuaca bisa ditambahkan hutan kota yang bisa menciptakan iklim mikro. Memaksimalkan jaur hijau dan ruang terbuka. Adanya tumbuhan terutama pohon memiliki manfaat luar biasa, selain penghasil oksigen, ia juga bisa menyerap polutan dan debu, peredam bising, habitat fauna, dan efek ekologis lainnya. Namun perlu diingat hijau bukan berarti hanya menanam pohon tapi harus diiringi kesadaran untuk menjaga lingkungan di antaranya tidak membuang sampah sembarangan apalagi di badan sungai. Sebagai contoh sampah plastik baru bisa diuraikan tanah setidaknya membutuhkan waktu 100 tahun.

Ketiga hal tersebut adalah hal yang harus dimiliki smart city versi saya. Guru Besar Arsitektur dan Perencanaan UGM Prof Dr Achmad Djunaedi, mengatakan indikator smart city adalah smart transport management dan smart culture. Menurut saya, Cirebon sudah memiliki modalnya. Terkait manajemen transportasi akan lebih baik jika semua moda angkutan terintegrasi dengan baik. Sehingga, untuk mengaksesnya dan mobilitas gampang. Pendatang akan merasa nyaman ketika turun dari stasiun ada halte bus yang mengantarnya ke tujuan. Ketepatan jadwal dan rute menjadi sangat penting agar Cirebon menjadi kota ramah transportasi. Terkait budaya, sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Cirebon mempunyai sejarah menarik. Ia bahkan bisa bersaing dengan Yogyakarta dan Bali jika digarap dengan baik. Keunikan nuansa budaya Cirebon bahkan langsung bisa saya rasakan saat saya memasuki wilayah ini untuk pertama kalinya, gapura dengan batu bata warna merah-oranye yang masih terus dipertahankan. Dari segi kuliner, Cirebon memiliki empal gentong. Selain itu, Cirebon juga mempunyai ciri khas lainnya yaitu batik pesisir.

Menjadi smart city berarti siap menjadi kota tujuan wisata. Karenanya, aksesbilitas dan akomodasi penting diperhatikan. Salah satu kebutuhan wisatawan adalah penginapan. Aston Hotel Cirebon dapat menjadi pilihan utama. Hotel berbintang empat dengan segala fasilitas dan pelayanan terbaiknya.

smart city santosa innovationContoh konsep kota cerdas (sumber: Santosa Innovation)

Suatu ketika dalam perjalanan dari kantor cabang Ciamis untuk kembali ke Cirebon, saya dan rekan menyempatkan duduk di Kawasan Gronggong. Kawasan ini berada di jalur tengah Cirebon-Kuningan yang merupakan view menarik untuk melihat Cirebon dari ketinggian. Selain juga, saya menyebutnya lokasi transisi dari topografi tinggi yang relatif berhawa dingin ke lebih rendah yang cukup panas. Kami duduk di salah satu lapak sembari meneguk kelapa muda, di belakang saya terdapat Gunung Ciremai yang adem. Di hadapan saya terhampar Kota Cirebon persis di sebelah Laut Jawa. Sesekali saya melihat pesawat lepas maupun tinggal landas di Bandara Cakrabhuwana. Nun jauh di utara hamparan laut Jawa tertangkap mata beserta fatamorgana yang mencerminkan hawa panas kota ini.

Kurang lebih tiga bulan bercengkerama di kota udang meninggalkan kesan mendalam. Saat itu, menurut saya Cirebon adalah kota yang panas Pada suatu ketika saya membayangkan berada di Kota Cirebon yang sejuk. Lokasinya yang berada di pesisir pantai bukan lagi alasan. Sebab, semua bisa direkayasa. Begitu pula Cirebon menuju Smart City bukan tidak mungkin seiring kesadaran warganya, terutama melalui Komunitas Blogger Cirebon yang peduli akan kotanya.

Selamat Hari Batik, Hari Blogger Nasional, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Ulang Tahun Kota Cirebon. Semoga kita sebagai generasi bangsa bisa mengambil makna dan semangatnya terutama untuk mewujudkan Cirebon, smart city. Bisa!

Andalan
Diposkan pada Lomba

Jatuh Cinta di Angka 7 XL

Mata berbinar menerima handphone bekas abangku. Handphone yang kini lebih terkenal dengan julukan HP boto (batu bata) karena tahan bantingnya. HP yang kuterima lengkap dengan perdana XL di pertengahan tahun 2006. Ini juga penanda lepas masa putih abu-abu berganti mahasiswa.

Kenapa memilih kartu XL? Karena aku pecinta angka tujuh dan itu dimiliki oleh digit penciri XL 0817… Langsung dech jatuh hati pada XL. Tidak lagi tergoda dengan ucapan teman yang menggiurkan menawarkan untuk menggunakan provider lain agar murah kalau telepon, bujuk mereka kala itu. Tapi, aku geming, bulat dengan keputusanku.

Namanya juga baru punya HP dan masih remaja yang beranjak dewasa, akupun suka iseng-iseng mengacak nomor lalu pura-pura salah SMS atau sekedar miss call. Sering juga, nomor baru masuk atau SMS nyasar. Kadang lucu juga kalau ingat, ternyata waktu itu aku memang kurang kerjaan, membalas SMS yang masuk hingga menerima panggilan dari orang yang tak dikenal. Bahkan hingga bertemu dengan pria yang kukenal lewat telepon nyasar tersebut. Puncaknya, setelah bertemu, lelaki itu makin intens mengangguku dan aku merasa terganggu. Sebab, usai kami bertatap muka ternyata aku merasa tidak cocok terutama karena wajahnya haha… Beda banget dengan yang kubayangkan saat SMS’an atau teleponan. Konyolnya waktu itu… 😀

Lalu, aku memutuskan untuk berganti nomor. Kali ini XL dengan kode area Bali menjadi pilihanku padahal aku tinggal di dekat Yogyakarta. Berasa sok keren aja. Selain juga alasannya waktu itu kalau gangguin orang biar dikira orang jauh. Belum kapok juga aku padahal pernah dimarahin dari seberang telepon juga gara-gara aku misscall-hasil mengacak nomor ehh diangkat sama yang punya. Kebetulan si empunya nomor seorang bapak-bapak, dimarahin habis-habisan aku. Saat itu, ia bertanya bicara sama siapa aku’nya gelagapan tidak bisa menjawab hehe…

Selain kejadian itu, aku juga sering diterror dengan bahasa Bali yang mengaku kenal dengan pemilik nomor tersebut. Usut-punya usut ternyata nomor tersebut memang pernah dipakai lalu non aktif. Kemudian, diaktifkan kembali jadi perdana. Dan, aku jadi pemiliknya. Karena tidak nyaman, aku memilih ganti nomor dan tentu saja XL pilihannya.

Waktu itu sekitar tahun 2009an, datanglah aku ke counter HP mencari perdana. Pelayan dengan ramahnya menawariku XL 10 digit. Cuma katanya, sudah diaktifkan. Ah, tidak peduli, karena kebetulan di 10 digit tersebut terdapat tiga angka tujuhnya. Love at first sight…!

Sepupuku yang mengetahui aku mempunyai 10 digit ingin membelinya. Namun, berkeras aku menolaknya. Karena, menurutku susah juga mencari nomor 10 digit dengan harga yang terjangkau kantong mahasiswa kala itu. XL tetap milikku dan tak berpindah tangan.

Di tahun 2010, gelar sarjana pun menyemat di belakang namaku. Setelah sekitar enam bulan ikut bekerja dengan dosen, awal tahun 2011 aku memutuskan merantau ke Landak, Kalimantan Barat tepatnya di daerah Senakin dan Menjalin. Sinyal XL kebanggaanku menghilang ya karena memang daerahnya jauh dari kota. Aku pun terpaksa berganti nomor untuk tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga.
Enam bulan setelah bekerja, akhirnya aku pulang kampung. Segera aku pasang SIM card XLku. Sayang beribu sayang, nomorku telah hangus. Tapi, berkat abangku aku tak jadi membuang SIM cardku. Ia menyarankan aku mendatangi XL Center.

Libur Hari Raya usai, di sisa-sisa pekanku di rumah aku ke kantor XL di Klaten. Yes, ternyata ada hikmahnya juga kartuku hangus. Aku malah sekalian merubah identitas dari pemilik sebelumnya dengan identitasku. Ya hanya cukup membayar 18 ribu rupiah, SIM cardku aktif lagi dengan identitasku pula. Alhamdulillah. Harga yang bukan pembayaran menurutku. Sebab, 18 ribu tersebut, rinciannya 12 ribu untuk isi pulsa perdana senilai sepuluh ribu dan enam ribu untuk materai yang menyatakan kalau itu memang kartu milikku. Tiga hari kemudian tanpa berbelit-belit, kartuku jadi. Dan, esoknya aku terbang lagi ke Borneo.

Di Kalimantan, sekarang aku lebih hati-hati agar kartuku tidak hangus. Setiap ada kesempatan ke kota, aku langsung mengaktifkan kartu dan membeli pulsa. Sampai akhirnya, aku ditugaskan kembali ke Jawa. Legaaaa… Akhirnya, nomor XLku bisa aktif kembali setiap saat.

Digit sepuluh angka itu masih melekat meski berganti-ganti HP. Aku tak pernah berpikir menjualnya atau menggantinya. Meski tawaran untuk membeli nomorku masih terus ada. XL menemani dari masa remajaku yang konyol dan plin plan termasuk soal kartu yang berganti-ganti sampai tiga kali hingga bekerja dari kota ke kota yang lain. Nomor itu masih aktif dipakai olehku hingga kini menjadi ibu rumah tangga yang mempunyai sampingan usaha rajut. Sepuluh angka XL yang tertera di kartu namaku membantu pelanggan dengan mudah mengingat nomorku.

Terima kasih XL #19Tahun Bersama, dan tak terasa untuk pribadiku XL telah menjadi saksi bisu sembilan tahun secuil kisah hidupku. Dari HP boto hingga smart phone. Bangga Life with XL. Semoga di moment 19 tahun ini, jaringanmu makin luas menjangkau pelosok negeri, mengedepankan pelayanan, dan terus memberi kejutan untuk pelanggan 🙂

original

@Rina_Darma13

Andalan
Diposkan pada Happy Knitting

Pengumuman Pemenang Giveaway “Dunia Rajut Namiya”

Hai hai semua yang sudah ikutan Giveaway “Dunia Rajut Namiya”
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi para peserta dan do’a untuk ultah anak saya yang pertama. Oiya, saya juga mohon maaf karena pengumuman giveaway’nya molor satu hari. Ternyata syukuran ultah Namiya rada menyita waktu juga 😀 tapi alhamdulillah semua berjalan lancar.

Seperti janji saya, telah terpilih dua orang pemenang berdasarkan persyaratan yang telah ditentukan. Dari semua peserta yang berhak mendapatkan rajutan handmade ekslusif adalah 2 orang dengan point tertinggi dan atas kesepakatan tim dewan juri.

Tarrarra… Ini dia yang beruntung:
1. Atty Shinta Moengok berhak mendapatkan sepatu rajut
2. @Naelil_ID berhak mendapatkan rompi rajut

Untuk kedua pemenang, silakan kirim nama lengkap+alamat lengkap+nomor hp untuk mempermudah pengiriman hadiah. Data diri bisa dikirim via DM di twitter atau inbox di fanpage.

Bagi yang belum beruntung jangan berkecil hati, nantikan giveaway berikutnya 🙂

Salam

@Rina_Darma13

Andalan
Diposkan pada Review kuliner

Menikmati Lumeran Waffle di Braga

Waffle dengan toping es krim coklat… Mmmm… Langsung menelan ludah. Buat apa berlama-lama menatap dengan mata berbinar-binar, begitu pramusaji mempersilakan, leppppphhh… Sensasi dingin bercampur kriuk beradu di mulut.

“Ayank, pesan lagi gih!” Kata suamiku. Sengaja aku pamerin dia yang sudah ngiler.

Sebenarnya aku tak niat mencicip waffle. Namun, hanya waffle menu di Cafe Suga Rush yang familiar buatku. Aku pernah menonton acara kuliner di televisi yang menayangkan tentang waffle, makanan khas dari Belgia. Rasanya enak. Dan, ternyata memang enak. Inilah pertama kalinya aku makan waffle. Seperti potongan wafer tapi lebar ditambah toping di atasnya.

Ke cafe ini pun baru pertama kali, kakak iparku syukuran mempunyai mobil ceritanya. Malam sabtu (21/8/2015), abang ipar, suami, mertua, aku, dan si kecil Namiya menyusur jalan-jalan Kota Bandung. Kami hendak makan tapi semua hanya bilang ‘ngikut’ pada sang sopir, abang suamiku. Sampai akhirnya, mobil terparkir di jalan Braga. Braga, ikon Paris van Java yang tetap ingar bingar meski hari sudah gelap. Tak hanya banyak bangunan bersejarah, di sini juga kaya kuliner. Lagi-lagi, abang menanyai kami satu per satu mau makan dimana? Dan, jawabannya sama ‘ngikut’.

Akhirnya di dekat Braga City Walk, ia masuk ke Suga Rush Cafe. Begitu masuk, aku terkesiap dengan desain interiornya. “Yang punya pasti berjiwa seni dengan cita rasa tinggi,” pikirku. Namiya, yang baru berusia 11 bulan pun mendapat satu kursi khusus bayi yang langsung disiapkan oleh pramusaji. Asyiiikkkk… Tertolong tidak makan sambil mangku 😀

Usai membantu duduk si kecil, pelayan langsung menyodorkan menu. Tuing-tuing, aku dan suami sama bingungnya dengan menu-menu apalagi mertua, ia bahkan tak mau menyentuh menunya. Akhirnya, oleh abang, ayah mertua dipesankan baked rice tuna spicy yang dipandangi lebih dulu sebelum dimakan karena bingung dengan sajiannya mungkin. Aku sendiri menikmati waffle’ku dan blueberry smoothies yang kupesan.

Kalau lagi di Bandung dan pas di Braga, cobain dech ke sini. Bawa uang yang banyak, kalau engga pakai kartu debet juga tidak apa-apa tapi saldonya jangan pas-pasan ya. Supaya tidak menyesal, karena kalau sudah di dalam malas mau keluar. Hawanya pingin nambah pesanan melulu 🙂

@Rina_Darma13

Diposkan pada ODOP

#ODOP19 Cara Belanja dengan XL Tunai di Alfamart

Temans sudah tidak familiar dengan XL Tunai kan? Salahsatu layanan dari provider XL Axiata untuk e-money atau uang elektronik. Artinya kita bisa melakukan belanja, pembayaran, transfer maupun tarik uang dengan XL Tunai asal ada saldonya ya.

DSCN1373

Saya pun mencoba belanja dengan XL Tunai di Alfamart. Berhasil. Caranya:

  • Datang ke alfamart terdekat jangan lupa bawa handphone yang ada XL Tunainya, nomor XL.
  • Pilih belanjaan temans
  • Saat hendak ke kasir, tekan *123# dan masuk ke menu info lain lalu pilih XL Tunai, pilih belanja di toko. Temans akan mendapatkan kode yang berlaku dalam 30 menit, itulah mengapa tekan *123# saat mau ke kasir. Ya, jaga-jaga kalau milih belanjannya lama dan kasirnya antri. Kodenya keburuhangus dan harus minta lagi ke XL Tunai.
  • Tunjukkan notifikasi di HP kamu ke kasir. Kasir akan memroses sesuai total belanjaan. Temans hanya akan ditanyai nomor HP XL yang digunakan.
  • Transaksi sukses. Temans akan mendapatkan notifikasi transaksi.

 

Gampang banget, kan?

Lalu, bagaimana agar menu XL Tunai bisa digunakan? Temans yang menggunakan XL bisa datang ke XL Center terdekat. Jangan lupa bawa kartu identitas bisa KTP atau SIM. Pada waktu ke customer service katakan ingin mengaktifkan XL Tunai untuk dilakukan validasi data diri. Kalau tidak divalidasi transaksi yang melibatkan perbankan, misalnya transfer atau tarik uang tidak bisa dilakukan.

Bagaimana mengisi saldonya? Selain belanja temans bisa juga mengisi saldo di Alfamart atau Indomaret atau via ATM Bank yang Temans miliki. XL Tunai bisa digunakan untuk belanja online juga lho di merchant-merchant yang bekerja sama. Bisa juga untuk melakukan berbagai pembayaran. Mirip-mirip mobile banking. Gampang, mudah, dan aman.

Dengan menggunakan e-money, kamu juga berpartisipasi mendukung program pemerintah mewujudkan Less Cash Society (LCS) di ekonomi digital yang sudah dicanangkan sejak tahun 2014. Tujuannya mempermudah dan mempercepat transaksi dan pertukaran uang yang lebih tepat sasaran tentunya mendukung e-commerce di Indonesia di sektor perdagangan dan transportasi juga lainnya.

Kalau Temans apa pengalaman menggunakan e-money nya?

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia