Diposkan pada blog competition

Karena Ibu, Aku “Kuat”

Tanpa kata. Seperti itulah Buk’e (ibu, Jawa) menatapku. Anak perempuan satu-satunya yang hendak merantau di pulau seberang. Ia tak menyiapkan jimat keberuntungan apapun. Mulutnya masih beku. Ketika tiba saatnya aku meraih tangannya untuk berpamitan. Ia mengecup ubun-ubunku lama sekali.

Kedua kelopak mataku langsung tergenang. Buram semua pandangan. Kata-kata tercekat di tenggorokan. Tak satu patah pun keluar dari mulut. Malah ingus yang tak mau dibendung. Gadis yang selalu jadi anak kecil di matanya akan pergi, atas nama mimpi.

Buk’e mengasuhku dengan konservatif. Lebih banyak ini itu dilarang. Ia protektif  malah over, kataku. Ia egois. Karenanya, begitu aku dinyatakan diterima kerja di Kalimantan, betapa buncahnya hatiku. Burung segera terbang bebas dari sarangnya.

Namun, belum juga sebulan, ternyata teoriku salah. Aku harus terpisah jarak dulu untuk mengerti seberapa besar kasih sayang buk’e yang tak terhingga. Bahkan, dengan ribuan jutaan ucapan terima kasih pun tak sanggup menggantinya. Maafkan, anakmu yang banyak salah ini.

Buk’e tak berpendidikan tinggi. Dari mulutnya tak pernah keluar kata mutiara. Tapi ialah teladan. Sangkan paran, begitulah prinsipnya. Jika kita menolong orang lain yang membutuhkan maka kita juga akan ditolong. “Bukan Buk’e, tapi agar Kalian selalu ditolong orang lain.”

Masya Alloh, Buk’e memikirkan anaknya terlebih dahulu. Aku kira itulah mengapa keberuntungan selalu ada dimanapun aku berada karena prinsip sangkan paran Buk’e. Aku yang jauh di perantauan dan saat kesempitan selalu ada yang berbaik hati menolong.

Buk’e menitipkan kepercayaannya kepadaku. Makanya, saat orang kampung banyak yang “membicarakan” buk’e karena membiarkan anak perempuannya merantau, ia selalu tersenyum. Justru karena tak ingin melanggar kepercayaan itulah aku bisa seperti sekarang. Aku tetap menjaga diri di perantauan. Aku berbuat terbaik karena tak ingin buk’e sedih dan murung.

Buk’e bukan ibu yang suka memberi hadiah. Bahkan ketika aku rangking pertama sekalipun. Buk’e lebih mendorong supaya ketiga anaknya berprestasi sehingga bisa hidup lebih baik dari orang tuanya. Kini segala didikannya itu membuatku mandiri dan tidak manja bahkan ketika harus mengasuh dua cucu kesayangannya sendiri. Bagaimana hidup prihatin, buk’e mengajari semua kekuatan itu lewat teladannya.

Pernah kawanku bertanya. Kenapa aku berani merantau tanpa teman dan saudara? Aku terdiam. Dia menjawab sendiri. Karena aku mempunyai senjata. Aku bingung. Senjataku adalah doa ibu yang selalu menyertaiku, katanya.

Saat aku hendak melahirkan anak pertama, tak sedikit orang yang men-judge aku tak bisa melahirkan normal karena perawakanku kecil. Tapi, buk’e percaya aku bisa. Aku menjawab kepercayaan dengan persalinan normal untuk kedua cucunya.

Buk'e menggendong cucu pertamanya

Aku bertemu suami di perantauan. Kini ikut suami dan tinggal di Bandung jauh dari buk’e di Klaten.

Hingga kini meski terpisah jarak, buk’e adalah solusi setiap kesempitanku. Entah bagaimana ia selalu terasa jika aku sedang susah. Bahkan, ketika anakku sakit, tiba-tiba buk’e menelepon merasa kalau cucunya sakit. Seampuh itukah bonding seorang ibu.

Buk’e, syukurku tak terhingga kepada Yang Kuasa menganugerahkanmu sebagai perempuan yang melahirkanku. Mengandungku dalam rahimmu dalam segala keterbatasan dan kekurangan tapi itu menjadi kekuatanku mengarungi hidup di perantauan.

Kecupan tujuh tahun lalu itu, tak akan kulupakan sepanjang hayatku. Ciuman kasih sayang sarat makna.

Aku tahu walau tak ada kata, tapi dalam sholat malammu, dalam sujudmu, kamilah anak-anakmu yang selalu kau sebut agar kami bisa hidup bahagia dan selalu dalam kebaikan.

Buk’e, terima kasih untuk doa yang tak pernah putus dari lubuk terdalammu. Itu adalah hadiah yang tak lekang oleh waktu, tak ada emas berlian yang bisa membelinya. Buk’e, engkaulah kalimat, engkaulah nyawa di setiap tulisan ini.

Buk’e, sebagaimana kamu percaya pada prinsip sangkan paran, aku pun begitu. Semoga selalu ada yang menolongmu, karena anak perempuanmu ini tak ada dekat denganmu setiap waktu. Cukuplah, Alloh sebagai sebaik-baik penjagamu dan bapak di rumah.

I love you… i love you…  Aku kangen Buk’e

 

Bagaimana kisah kamu dengan ibu, ceritakan juga, yuk!

Iklan

Penulis:

dreamer who do, @chidarma's wife, mom of two, kinabalu summit in here 5cm from forehead. Have same dream; contact me rinatriha@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s