Siapa di sini yang masih kecil bercita-cita menjadi guru? Saya ngacung. Karena bagi generasi 90-an seperti saya, cita-cita favorit rata-rata anak kecil adalah menjadi guru. Meskipun seiring berjalannya waktu cita-cita tersebut berubah. Bahkan, ketika bapak menyuruh saya untuk kuliah di fakultas keguruan, saya memilih jalan yang lain.

Tahun 2010-an ada gerakan Indonesia Mengajar (IM) yang diinisiasi oleh tokoh pendidikan Anies Bawesdan. IM merupakan wadah bagi para fresh graduate yang ingin mengabdikan diri setahun mengajar di daerah perbatasan atau pelosok nusantara. Pengalaman mereka ini pun dibukukan hingga sampailah ke tangan saya. Cita-cita menjadi guru seolah terpanggil. Namun, karena satu dan lain hal, saya tak jadi ikut IM.

Tahun 2012-an sebagai bagian dari IM, tercetuslah Kelas Inspirasi (KI), yang menjadi ruang unjuk gigi para profesional untuk mengajar sehari. Tidak harus nun jauh, karena KI diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Berawal dari Jakarta, Bandung, jumlah kota/kabupaten penyelenggara KI pun terus bertambah hingga ke seluruh pulau di Indonesia.

Tahun 2016, saat “libur” pasca melahirkan anak kedua di Klaten, tanpa sengaja di detik-detik akhir pendaftaran KI Klaten #2, saya menemukan formulir registrasi di linimasa twitter humas pemkab Klaten. Pendaftaran  dilakukan secara online dengan mengisi data diri dan menjawab pertanyaan yang cukup banyak menurut saya tapi gampang kok karena rata-rata tinggal menceritakan pengalaman kita meraih impian.

Tarara… awal tahun 2017, saya diantara sekian ratus dinyatakan terpilih menjadi pengajar inspirator untuk KI yang diselenggarakan kedua kalinya di kota kelahiran ini. KI ini ternyata sangat profesional, dari perekrutan, bagaimana mengoordinir para relawan sebelum hari inspirasi,  hingga pendanaan yang semua dilakukan secara mandiri.

 

Hari Inspirasi Tiba

Saya masuk dalam rombongan belajar SD Nengahan Kecamatan Bayat bersama lima relawan pengajar lainnya, tiga fasilitator, dan dua relawan dokumenter. Meski kami berasal dari beragam latar profesi dan asal, semua happy dan tak canggung. Karena sebelum hari H, sudah ada briefing oleh panitia lokal (panlok), dan pembentukan group lewat whats app. Semua persiapan sudah dibahas matang. Tinggal eksekusi di hari H, 18 Februari 2017.

Di luar dugaan saya sendiri, ternyata hobi ngeblog membawa saya berdiri sini, di depan anak-anak untuk menginspirasi agar mereka mempunyai mimpi di masa depan dan berani mewujudkan. Karena, dari lulus kuliah mungkin dari masih kuliah (part time), saya adalah seorang kutu loncat sejati, bekerja dari sini ke sana, pindah dari kota ini ke kota itu, saat teman bertanya saya kerja apa eh pas dia bertanya sudah berganti lagi, makanya cukup bingung juga saat harus menulis pekerjaan waktu registrasi. Tapi, terlepas dari semua itu, saya percaya banyak jalan menuju roma. Tahun 2012 saat masih menjadi karyawan perusahaan sedikit ternama, saya sudah berkeinginan ikut KI. Namun, empat tahun kemudian baru sempat mendaftar, saat sudah menjadi ibu rumah tangga. Semua indah pada waktunya.

Kembali, di depan anak-anak, saat itu saya harus bergantian masuk lima kelas kecuali kelas V (disesuaikan jam pelajaran dan jumlah inspirator) dengan pengajar lain. Di sini kita tidak menyuruh mereka bercita-cita seperti para profesional yang sedang menggantikan guru mereka di depan. Tapi, menceritakan profesi kita, bagaimana meraihnya, agar pikiran mereka terbuka bahwa banyak profesi di luar sekolah mereka. Untuk mewujudkannya harus dengan kerja keras, berusaha, tak menyerah, berdoa, berani, jujur sebagai bagian tujuh sikap kelas inspirasi yang diawali dari impian. Profesi rombel SD Nengahan yaitu pegawai pajak, karyawan, engineering consultant, pengawas, dan quality control.

Masuk kelas pertama di kelas IV, oke, saya begitu semangat, karena kami mengajar bebas alias tidak formal, lesson plan pun sesuai profesi masing-masing. Jadi cara mengajar pun berbeda, ada yang memakai pakaian sesuai profesi, membawa alat peraga, menonton film, atau dengan cara bermain.  Diawali yel-yel, menanyakan cita-cita, sangat kondusif dan menyenangkan…bla…bla…bla… Ketika masuk di kelas ketiga, kelas dua, situasi mulai agak, saya harus teriak-teriak, ada yang ngobrol sama teman, ada yang cuek,… suara sudah serak. Ahhh… ternyata itu belum seberapa, masuk kelas satu, lebih heboh lagi. Ada yang rebutan, ada yang mau nangis, oh dunia masa kecil…suara mana suara. Tapi untunglah, kelas saya berakhir di kelas 6 yang sudah mengerti dan kembali kondusif. Cuma sayangnya, suara saya tak selantang awal –awal haha…

Kesimpulannya, jadi guru SD itu tak mudah. Sebab, harus bisa mengendalikan situasi belajar mengajar anak yang masih “ngeyel” apalagi di kelas kecil 1-3 dan menjaga suara jangan terlalu berlebihan di awal karena rata-rata guru SD mengampu semua mata pelajaran dari awal hingga akhir jam pelajaran.  

Tapi, itu tak membuat saya kapok. Karena Februari 2018 ini, saya kembali menjadi salahsatu inspirator untuk KI Klaten #3. Kenapa Klaten? Karena sekaligus saya bisa pulang kampung dan saat harus menjadi inspirator tidak perlu khawatir dengan duo krucil karena mereka bersama mbah setri dan mbah kakung-nya juga pakde-nya.

Yuk, apapun profesi kamu, jadi bagian Kelas Inspirasi, karena setiap pengalaman itu berharga buat generasi bangsa ini dan setiap profesi itu pasti bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Dijamin canduuuuu!!!!

 

Foto oleh pribadi dan dokumentator (Pak Budi dan Mas Arif) KI Klaten #2 SD Nengahan, 18 Februari 2017

16789092_1851345155146297_7337569270047440896_n

IMG_9490

_DSC0351

IMG_9648

Iklan