Kenapa aku menulis? Aku ingin siapa yang membaca tulisanku mendapatkan inspirasi. Alangkah bersyukurnya jika mereka bisa do something atau don’t something. Namun untuk bisa mencapai misi tersebut tentunya aku harus terus meningkatkan dan mengasah kemampuan menulis.

Selain banyak melahap buku atau bacaan, cara menambah skill yang lain adalah menantang diri dengan mengikuti berbagai lomba penulisan atau blog competition. Kadang aku memang tidak menguasai tema yang diperlombakan tapi justru disitulah tantangannya. Walau dari awal peluang menang sangat kecil tapi aku mencoba melampaui batas diri. Sebab keluar dari tema zona nyaman akan menambah wawasan dan justru membuatku banyak membaca referensi.

Ketika aku instropeksi tulisan di blog justru tulisan di luar comfort zone malah yang bisa keluar jadi salah satu pemenang. Berbanding terbalik dengan tema yang erat dengan sehari-hari seperti parenting atau traveling justru aku sering gagal. Padahal mungkin bisa dibilang aku lebih familiar karena erat dengan tema keseharian tersebut. Over percaya diri ini bisa dikatakan menjadi bumerang karena menjadi sok tahu dan tidak mau belajar.

Di sisi lain dengan sering mengikuti blog competition aku akan sering mengintip para langganan juara. Sebut saja Bang Joe Candra dan Bunda Yuni Andriyani yang visualnya kece abis. Aku? Yup, masih mengandalkan konten dan baru masuk memperbaiki grafis. Ketinggalan bukan? Namun, ada pepatah tak ada kata terlambat untuk berbuat lebih baik.

Alasan yang seharusnya tak boleh dijadikan justifikasi atau pembenaran yang sering kugunakan yang pertama adalah rempong karena mengurus dua balita tanpa pengasuh. Namun, suami selalu menegur jika aku beralasan ini. Sebab, jika kita bertindak lebih cepat tentu saja akan selesai lebih cepat dan bisa memperbagus tulisan sebelum deadline. Sementara aku kerap baru menulis jelang batas akhir pengiriman lomba. Hasilnya bisa ditebaklah tulisan yang terburu-buru. Akhirnya jadi artikel penggembira saja.

Kedua, kemampuan design grafis yang terbatas. Kalau dulu waktu kuliah software yang bisa digunakan untuk mengolah grafis yang aku kenal misalnya coreldraw, photoshop, moviemaker yang “makan waktu”. Namun, sekarang sudah banyak aplikasi design grafis yang gampang dan sederhana misalnya Canva atau photo editor. Ya, memang sih kalau ingin hasil terbaik ya modal meningkatkan kemampuan lagi dan waktu. Jika harus belajar lagi ditengah sempitnya waktu rasanya belum memungkinkan. Lagi-lagi suami akan menyemprot jika aku beralasan anak membatasi waktu untuk belajar lebih baik.

Ketiga, gadget yang mumpuni. Aku mengandalkan smartphone untuk ngeblog. Bukan karena tak mempunyai laptop. Ada sih notebook dari tahun 2012. Dulu pertimbangan beli karena emang dari awal dipikirnya karena cuma buat kepentingan menulis saat bekerja di salahsatu media. Jadi spesifikasinya pun simpel. Ketika memutuskan menjadi fulltime mom terlebih dahulu, dunia digital rasanya kejam sekali. Ia berkembang begitu pesat meninggalkan jauh di belakang siapa saja yang tak siap. Blog pun tak lagi sekedar tulisan tapi tampilan visual menjadi elemen penunjang yang kerap bahkan hampir selalu dijadikan salahsatu bobot penilaian dan bahan pertimbangan menilai suatu blog. Konten visual yang menarik juga lebih memikat pembaca untuk berlama-lama mengunjungi suatu blog.

Kebayang notebook yang sudah berusia dua tahun lebih tua dari anak sulungku itu, sekarang sudah lemot dan mungkin sudah saatnya pensiun. Memang sudah jarang digunakan kecuali mengetik sesuai tujuan pertama dibeli. Jangankan membuat grafis, baru buka photoshop sekian detik sudah lemot. Untuk menyetel musik baru lima menit sudah seperti kaset nglokor boro-boro buat mengedit video. Begitu juga saat membuka internet baru berapa menit sudah tidak bekerja dalam kecepatan optimal. Ya memang sih karena spek-nya tidak digunakan untuk mengolah ide kreatif dalam bentuk visual.

Pernah sih gara-gara tampilan visual ini suatu waktu aku mutung dari blog competition apalagi jika sudah banyak share di media sosial. Yes, sudah minder duluan. Tapi, suami selalu memberi semangat. Blog competition tidak melulu keluar menjadi juara tapi pengalaman menulis itu yang penting. Jam terbang yang tinggi membuat tulisan akan semakin matang dan menemukan gaya tulisan serta mendekatkan ke misi menulis.

#2018GantiLaptopAsus

#2018GantiLaptopAsus

Tidak hanya smartphone yang berkembang cepat, demikian juga dengan laptop. Jika sekitar tahun 2008 dalam suatu seminar di kampus baru diwacanakan laptop yang bisa dilipat dan digulung-gulung sekarang sudah menjadi kenyataan. Ingat waktu itu hampir semua peserta yang umumnya mahasiswa terkesima dengan presentasi tersebut. Termasuk aku yang begitu takjubnya. Apalagi jika bisa memilikinya ya kan?

Nah, Asus telah menghadirkan Vivobook Flip TP410. Namanya saja sudah keren apalagi kenyataannya dijamin bikin ngiler. Aku mau banget laptop ASUS ini jadi laptopku. Benar-benar sudah saatnya ganti laptop nih. Btw, ngapain sih ibu rumah tangga harus menggunakan laptop?

  • Untuk kepentingan belajar dan meningkatkan kemampuan membuat konten kreatif karena ya saat ini kemampuan menulis saja tidaklah cukup. Untuk mempermudah editing gambar atau video bahkan menulis, aku sendiri sebenarnya lebih nyaman menggunakan laptop dibanding smartphone. Ukuran layar yang lebih besar membuat daya jangkauan mata lebih luas dan memperkecil typo. Saat ini ukuran layar smartphone yang aku pakai 5.5 inchi bagi ukuran handphone tentu besar tapi jika dibandingkan dengan layar 14 inchi? ASUS Vivobook Flip TP410 merupakan laptop convertible pertama yang datang dengan layar 14 inchi dengan tampilan ultra-tipis berfitur NanoEdge bezel yang memaksimalkan ukuran layar plus meminimalkan ukuran body-nya yaitu dengan frame yang memiliki ukuran laptop 13 inchi.

TP410_06

  • Ibu masa kini harus melek gadget dan digital. Sebab, sebagai seorang ibu dengan dua krucil yang mulai antusias dengan gadget aku harus bijak. Laptop bisa menjadi sarana edukasi positif terhadap anak. Dengan laptop kita bisa lebih mengatur jarak antara mata dan bentangan layar. ASUS Vivobook Flip TP410 ini bisa menjadi 4 mode lho yaitu media stand, powerful laptop, responsive tablet, dan share viewer. Jadi bisa diatur-atur mode yang paling nyaman dengan anak. Ya, namanya juga anak kadang suka penasaran ikut mencet ini itu. Kadang malah main jembreng begitu saja antara keyboard dan layar bisa dalam satu garis lurusDengan kelebihan ini ibu dan anak pun makin senang belajarnya ya kan? Mendampingi anak bermain gadget sejak kecil ini sebagai benteng ketika dia sekolah dari pengaruh negatif gadget lingkungan yang mungkin luput dari kita.

TP410_25.jpg

  • Tampil stylish. Keuntungan jadi blogger adalah walaupun kita ibu rumah tangga tapi tidak melulu bergelut dengan anak, suami, dapur, dan beres-beres rumah. Sesekali aku akan menghadiri event. Walaupun bukan di depan client,  ASUS Vivobook Flip TP410 bakal mencuri perhatian dengan design-nya yang tipis, ramping, dan ringan tentu saja elegan. Bobotnya hanya 1,6 kilogram dan ketebalannya hanya 1,92 sentimer. Tentu saja adanya laptop ini untuk mengoptimalkan karya misalnya live tweet atau mencatat point bukan untuk sekedar nggaya. Selain itu, aku juga pegiat Kelas Inspirasi di Kota Bandung dan kampung halaman di Klaten. Saat mengenalkan dunia blogging aku selalu menggunakan laptop. Dengan laptop seadanya dan kadang meminjam adik ketika di Klaten yang sudah duluan memakai ASUS, anak-anak sekolah dasar sudah begitu excited. Pastinya mereka bakal lebih antusias jika laptop ini terpampang di depan kelas sehingga bisa lebih menginspirasi mereka menulis. Jadilah, generasi Indonesia yang melek baca dan tulis yang tentu saja memajukan dunia literasi bangsa.

TP410_15

Oya, laptop ASUS Vivobook Flip TP410 sudah dilengkapi dengan fingerprint sensor. Karenanya, mengutip Mbak Uniek, laptop ini mendukung fitur Windows Hello yang umumnya hanya hadir di laptop kelas atas. Dengan Windows Hello, pengguna bisa sign-in ke Windows 10 yang terinstalasikan dengan laptop ini hanya dengan sentuhan jari. Faktor keamanan juga semakin meningkat. Aku saja yang ibu rumah tangga semakin ingin ganti laptop dech akhir tahun ini. Apalagi jika masih kuliah, kerja di bidang kreatif, memiliki toko online pasti kehadiran laptop ini akan semakin memudahkan pekerjaan sehari-hari. Gimana dengan Kalian, setuju ga Temans?

Untuk harganya dibandrol mulai 6,899 juta rupiah sebanding dengan kinerjanya yang responsif kalau menurutku. Jika memang sudah memantapkan niat untuk terjun ke dunia kreatif maka pemilihan laptop mau tidak mau tidak boleh sembarangan karena mempertaruhkan produktivitas. Masih ragu atau kurang yakin dengan kehandalan laptop beresolusi tinggi dan kaya warna ini? Simak video T Short Review berikut atau langsung kunjungi laman ASUS VivoBook Flip T410UR.

20180907_1723131446248899.jpg

Dengan Laptop ASUS baru, aku berharap bisa lebih produktif berkarya terutama menulis baik blog maupun kembali menulis buku kedua yang tertunda seperti slogan ASUS seri ini, Powerful Productivity, Expansive Visuals. Kemudian, semakin berkah dan impian menulis untuk menginspirasi dan berbagi pengalaman/ilmu pengetahuan termasuk lewat Kelas Inspirasi agar orang lain lebih baik tercapai. Insya Alloh, dengan menulis dan berbagi menjadi orang yang dilebihkan derajatnya. Sesuai janji Alloh dalam Quran Surat Mujadilah (58) ayat 11, “Niscaya Dia akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Amiin…

Terima kasih buat suami yang selalu mendukung dan memotivasi aku selalu lebih baik. Kalau pulang kerja dan aku sedang berjibaku mengejar deadline lomba, dia akan membantu mengasuh duo krucil. Jadi aku bisa fokus menyelesaikan draft. Seperti kata motivator Merry Riana, selesaikan apa yang sudah kamu mulai!

Semoga artikelnya bisa membantu memberi gambaran tentang ASUS VivoBook Flip 14 T410 ya dan mengompori untuk ganti laptop ASUS. Jangan lupa tinggalkan komentarnya nanti akan dikunjungi balik. Terima kasih ^^

ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com

banner vivobook-flip-TP410-blog-competition

Iklan