“Meski tidak bekerja, saya tidak akan diam.”

Saya tidak mengira bisa terjun ke Kelas Inspirasi. Walau di KTP status karyawan swasta belum dicoret, tapi sudah empat tahun ini saya adalah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga yang sok sibuk.

Awal-awal pernikahan hingga kelahiran anak pertama, saya sibuk bersama komunitas merajut dari pameran, workshop, dan berbagi. Belum genap dua tahun anak pertama, saya hamil anak kedua. Saya benar-benar mengurangi aktivitas.

Namun, justru moment tersebut membuat saya kembali melirik blog. Blog yang sudah lahir sejak pertengahan 2012 tapi tak terurus setelah bekerja. Tahun 2015, blog kembali perlahan-lahan muncul ke permukaan sebagai “me time”.

Bulan September tahun 2016, anak kedua saya lahir. Karena pertimbangan ini itu, saya meninggalkan Bandung sejenak untuk melahirkan di Klaten di kampung halaman. Saat usia si kecil 1-2 bulan, seperti secercah cahaya di ujung lorong, saya mendapati timeline twitter dibukanya relawan pengajar Kelas Inspirasi Klaten #2. Kelas Inspirasi merupakan satu hari menginspirasi anak-anak sekolah dasar untuk berani bermimpi dengan mengenalkan beragam profesi sesuai yang kita geluti.

Dorongan itu begitu kuat, saya harus mengambil bagian. Bolehlah, saya mempunyai pengalaman bekerja. Tapi, saya kan sedang tidak mempunyai pegangan istilahnya status pekerjaan? Nah, salahsatu syarat menjadi relawan pengajar KI, harus bekerja di profesi yang sama minimal dua tahun. BLOGGER jawabannya.

Di tengah hujan petir, bismillah saya mengisi formulir pendaftaran Kelas Inspirasi Klaten #2. Saya harus mengambil peluang. Kesempatan tidak akan datang kedua kali kecuali untuk dalam waktu yang lama.

asus1

Kecanduan Kelas Inspirasi

Siapa bilang perjalan Kelas Inspirasi yang pertama kali saya berjalan mulus. Begitu dinyatakan diterima di awal tahun 2017, tentu saja saya begitu terharu dan bergembira. Sebagai persiapan mengajar, tentu laptop atau smartphone adalah alat perang yang tidak boleh ketinggalan. Sebab, setiap inspirator diwajibkan membawa alat peraga untuk mengenalkan profesinya kepada anak-anak agar memberi warna baru dalam pengajaran dan tidak konvensional. Berbeda.

Saat itu saya memang memiliki notebook, tapi notebook tersebut mulai udzur. Untuk diajak online dalam beberapa menit dia akan kepayahan dan lemot minta ampun. Oke, kemudian saya mengandalkan smartphone. Ya Alloh menjelang Hari –H, smartphone tersebut tanpa sengaja saya duduki sendiri. Karena sudah pernah mempunyai riwayat jatuh, LCD-nya pun error. Layarnya akan bertahan sekian menit, kemudian mulai ada garis-garis, dan puncaknya tidak akan ada gambar apa-apa di layar. Ketika kembali dihidupkan seperti normal tapi akan seperti itu kembali.

Saya tidak mundur, saya membawa dua perangkat tersebut ke anak-anak SD Nengahan di Bayat. Saya mengakalinya ketika di depan kelas dengan bergantian menggunakannya. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

Menjadi inspirator di KI#2 Klaten

Oh my God, saya kecanduan Kelas Inspirasi dan bertekad untuk ikut seleksi lagi tahun depan. Karena meskipun sifatnya relawan tapi tetap ada seleksinya dan tidak main-main.

Awal tahun 2018, saya kembali diumumkan terpilih menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi Klaten #3. Saya sudah mendapat warisan smartphone ASUS dari suami. Tapi untuk laptop masih menjadi masalah. Apalagi saya sudah kembali ke Bandung. Artinya rombongan duo krucil akan ikut serta bedol desa ke Klaten. Membawa notebook bukan solusi, karena ya sudah lemot jika dikoneksikan ke internet. Membawa laptop suami, sangat rempong membawa banyak barang dengan moda kereta api.

Akhirnya pilihan jatuh dengan meminjam Laptop ASUS milik adik. Jauh hari saya mengabarinya akan meminjam laptop. Sebab sejak tahun 2015, dia sudah merantau untuk bekerja di Kudus namun setiap bulan pasti pulang ke Klaten. Yes, adikku yang baik bersedia meminjami bahkan sebelum aku tiba di Klaten laptop sudah ada di rumah. Karena dia takut tidak bisa pulang pas saya di rumah.

KI#3 Klaten

Bersama laptop Asus ((pinjaman)) saya lebih percaya diri mengenalkan profesi ini. Pengajarannya sebenarnya memang tidak ke teknis membuat blog tapi lebih mendorong rasa ingin tahu mereka, misalnya siapa dibalik artikel-artikel yang ada di google yang bisa saja membantu mereka mengerjakan PR. Mendorong budaya menulis. Untuk menulis yang baik harus banyak membaca. Kemudian, agar era digital ini mereka sejak dini bisa mengoptimalkan dengan baik, bahwa smartphone atau laptop ternyata bukan hanya komunikasi, main game hiburan, pamer foto, mengerjakan tugas tapi bisa untuk berkarya.

Jpeg
KI#3 Klaten

Bulan berikutnya, saya kembali terpilih untuk inspirator Kelas Inspirasi Bandung yang ternyata sudah digelar keenam kalinya. Saya dan anak-anak segera kembali bertolak ke kota kembang. Kali ini saya meminjam laptop suami untuk sehari menginspirasi.

IMG-20180305-WA0001
Menjadi inspirator di KI#6 Bandung

Perjalanan Ala Kelas Inspirasi

Kelas Inspirasi (KI) kebalikannya justru malah banyak memberi saya inspirasi dan pengalaman hidup. Melihat dunia dan impian dari cara pandang beragam latar anak-anak, mengenal berbagai profesi, bersilaturahim dengan orang dari daerah lain, mendengar cerita inspiratif dari para guru dan senior, menginjak tanah asing, dan masih banyak lainnya. Itulah makna perjalanan.

“Kelas Inspirasi, traveling gaya baru.” Begitu ucap Kak Arie salahsatu inspirator KI asal Blora yang berprofesi sebagai dokter umum. Di kalangan pegiat KI, ia dikenal sebagai selebgram. Selain mengajar sebagai tujuan utama, ia menggunakan KI sebagai sarana traveling, KI sendiri sudah diselenggarakan lebih dari 300 kota di Indonesia, Jawa maupun luar Jawa.

Relawan KI dari fasilitator, pengajar, dan dokumenter meski awalnya tidak saling mengenal namun saya akui kekeluargaan sangat kental. Para fasilitator dengan senang hati akan menjemput kedatangan relawan dari daerah lain di stasiun/terminal. Relawan yang kebetulan memiliki rumah berdekatan dengan lokasi inspirasi, dengan terbuka akan menawarkan rumah untuk menginap. Usai hari inspirasi, kesempatan para tuan rumah mempromosikan wisata/kuliner lokal… Saatnya Jalan-Jalan…

Jpeg
Jalan-jalan ke taman 1000 bunga usai menginspirasi

Melalui KI, kita bisa:

  • Menginspirasi – Terinspirasi
  • Bercengkerama dengan penduduk lokal ala couchsurfing
  • Mengetahui destinasi/kuliner lokal rekomendasi dari penduduk lokal

Saya sendiri sangat ingin mengikuti jejak Kak Arie. Sementara ini saya baru memutuskan konsisten ikut KI Klaten dan Bandung. Pertimbangannya karena kedekatan psikologis dilahirkan di Klaten dan tinggal di Bandung serta adanya duo krucil. Jika di Klaten saya bisa meninggalkan anak-anak bersama orang tua. Jika di Bandung, saya bisa bisa menitipkan mereka di rumah mertua. Setelah kondusif, saya pun ingin menjejak lebih banyak daerah di Indonesia lewat KI.

Untuk mendukung semua itu saya harus memiliki laptop yang mumpuni. Impian mempunyai laptop sendiri sebenarnya adalah bagian Resolusi 2018 saya. Kenapa?

Pertama. Untuk mendukung ngeblog yang selalu lebih baik sehingga inspirasi juga lebih mengena kepada anak-anak. Supaya menjadi orang beruntung, mengutip sebuah hadits nabi, hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Begitu juga dengan saya di dunia blog, awalnya blog hanyalah tulisan tapi terus berkembang ditambah gambar/foto penunjang hingga belajar mempercantik visualisasi dengan konten kreatif seperti penambahan infografis yang menarik. Sebab visualisasi yang baik akan lebih menarik pengunjung dan betah serta kembali lagi berkunjung. Untuk bisa mendukung grafis yang menarik butuh laptop yang mumpuni jika diinstal berbagai macam software grafis seperti Corel Draw, Photoshop, Movie Maker, dll. Saya sendiri masih terus berusaha meningkatkan skill ini tapi terkadang saat ingin belajar laptop dibawa suami bekerja sedangkan netbook sudah tidak mungkin diinstal software lagi karena akan makin berat.

Kedua. Mendukung mobilitas sebagai relawan pengajar KI. Saya sudah melirik laptop Asus sejak awal. Apalagi sering “dikomporin” adik yang begitu membanggakan Asus yang dimilikinya sejak kuliah. Asus yang digunakannya seri A450L. Sebagai anak jurusan teknis mesin, dia butuh laptop yang multitasking sehingga untuk program-program 3D seperti AutoCad, Inventor tidak lag atau patah-patah termasuk mendukung hobinya main game. Sebenarnya saya sendiri bukan sekali dua kali meminjam laptopnya. Hampir setiap ada di rumah saya lebih memilih menggunakan laptopnya hehe…

Keinginan memiliki laptop Asus semakin mupeng banget saat lihat instagram @travelerien. Warnanya, designnya belum lagi performanya. Karena setiap perjalanan saya juga membawa serta duo krucil, saya harus memiliki laptop yang ramah perjalanan.

View this post on Instagram

AKU MASIH DI SINI MENUNGGUMU Dear bloggers…ZenBook UX331UAL yang elegan dan canggih masih menunggumu sampai 30 September 2018. Gratis! 😆 Cek info lengkapnya di www.travelerien.com, atau klik link aktif di bioku ya 🙏 . . ZENBOOK 13 UX331UAL Laptop ultralight, ultra tipis, dan ultrapowerful dan dirancang khusus untuk memberikan mobilitas tertinggi, terutama karena telah tersertifikasi US military grade dengan desain metal casisnya yang ringan hanya 985 gram dan masa pakai baterai yang tahan sampai 15 jam sepanjang hari. Meskipun desainnya yang ringkas dan ultraportabel, ZenBook UX331 ini tidak berkompromi dengan kinerjanya: Prosesor Intel® Core™ i5 Generasi ke-8 yang supercepat, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCIe® memungkinkan pengguna menyelesaikan seluruh tugas dengan mudah, dan system audio Harman Kardon-nya juga memberikan suara imersif yang kencang dan kuat. Rp 14.799.000 (i5-8250U/8GB/512GB SSD/Win 10)  Rp 14.299.000 (i5-8250U/8GB/256GB SSD/Win 10) . 📸 @asusid team 📍 @abuella_cafe . #LaptopIdamanSobatTraveler #2018PakaiZenbook #2018GantiZenBook #ASUSxTravelerien #Travelerien

A post shared by Katerina S. | Travelerien.com (@travelerien) on

Karenanya, jika ada rezeki saya ingin laptop yang mumpuni untuk kebutuhan saya di atas. Pilihannya jatuh pada, Taraaaa….

ASUS ZenBook 13 UX331UAL

Sudah lihat video Raditya Dika di atas. Ada tiga point yang saya catat setelah melihat video yang berkolaborasi dengan Ridwan Hanif tersebut. Tiga hal yang dipertimbangkan untuk memilih laptop adalah:

1. Eco-friendly/ramah lingkungan
2. Performa handal
3. Body yang kuat

Ketiga hal tersebut dimiliki oleh Laptop ASUS ZenBook 13 UX331UAL khususnya terkait body. Kalau melihat video diatas sih percobaannya ekstrim banget ya. Dari diinjak dan diterjuni Raditya Dika yang berbobot 66.6 kg dan Ridwan Hanif dengan berat badan 81.4 kg. Kemudian dijadikan sebagai pemukul bola kasti. Puncaknya dilindas motor dan sepeda anak komplek. Dengan semuanya itu, layar laptop ini masih utuh dan masih nyala. Gokil… kata Bang Radit.

Kenapa bisa sekuat itu ya? Karena konstruksinya berbasis magnesium alloy yang membuatnya sangat tangguh. Apa sih magnesium alloy? Percampuran logam magnesium dengan metal lainnya yang disebut alloy. Umumnya campuran tersebut antara lain aluminium, zinc, mangan, silikon, tembaga, dan zirkonikum. Keunggulannya ringan dan kuat, tahan karat, tahan udara tinggi/beku bahkan tidak meleleh digunakan di dekat gunung api atau cuaca paling ekstrem sekalipun.

Kerennya lagi, laptop ini sudah memenuhi standar military grade MIL-STD 810G. Merupakan serangkaian ujicoba yang dirancang oleh militer Amerika untuk mengetes ketahanan perangkat mereka di medan perang. Uji ini memastikan kemampuannya beroperasi adalam berbagai kondisi agar bisa terus bertahan dan berfungsi sekalipun jatuh dari ketinggian. Kalau saya kok langsung membayangkannya dibawa ke medan perang ya haha… Super kece badai lah.

Dengan duo krucil yang notabene sedang aktif-aktifnya termasuk saat dalam kereta. Kalau ditaruh dibawah takut keinjak akrobat mereka, jika diletakkan diatas khawatir kegencet barang lain. Sehingga membawa laptop selalu menjadi bahan pertimbangan.

Begitu juga saat naik sepeda motor. Sebab, dari rumah menuju lokasi kelas inspirasi biasanya saya naik motor. Laptop akan saya masukkan ransel, terkadang jadi dilema jika digendong kok berat jika ditaruh di bagian depan jok kok takut kegajlek-gajlek (rawan benturan). Apalagi lokasi KI biasanya agak terpencil dengan akses jalan yang belum mulus kadang banyak lubang atau batu tersingkap. Sehingga takut mempengaruhi performa laptop.

Sepertinya ini juga menjadi kecurigaan saya, penyebab notebook saya turun performa karena dulu saat masih bekerja suka ditaruh di bagian depan jok motor. Ikut loncat jika ada polisi tidur, kejeduk jika mengerem mendadak dll.

laptop
Laptop ditaruh di depan jok motor rentan terjadi benturan

Dengan ketangguhan yang dimiliki ZenBook ini say godbye khawatir laptop kegencet dan rusak. Tidak takut berat lagi menggendong karena beratnya hanya 985 gram dengan ketebalan 13,9 milimeter.

Saat menjadi inspirator, saya biasa menyelipkan memutar video baik yang sudah saya download terlebih dahulu atau langsung dari youtube sebagai ice breaking ketika mereka mulai bosan dan agar suasana kelas kembali semangat. System audio Harman Kardon-nya memberi suara imersif yang kencang dan kuat. Terbayang kan suasana kelas anak SD yang super riuh jika sudah bikin gaduh. Kadang suara saya dibikin kewalahan pulang-pulang serak pernah juga sampai suara habis. Volume laptop full pun belum bisa mengalahkan mereka. Dengan nilai plus dari Asus ini tentu akan sangat membantu saya membawa suasana kembali kondusif di kelas.

Perpaduan hardware superior yang telah disesuaikan termasuk teknologi low distortion smart amplifier. Sebuah pengalaman audio terbaik yang meningkatkan volume 3,5 x menjadi nilai plus sebagai tambahan kinerjanya yang dibalut ProsesorIntel® i5 Generasi ke-8 yang supercepat, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCle®.

Lagi asyik-asyiknya melakukan peraga tiba-tiba muncul notifikasi baterai akan segera habis. Bingung nyari colokan kesana-kesini, parahnya kalau harus menarik-narik kabel roll. Ga banget ya. Karena setiap kelas “zaman dahulu” belum dirancang dengan kemudahan colokan. Tidak seperti sekarang yang dibawah meja pun kita bisa menemukan colokan. Baterai mati kelas jadi garing, OH NO!

ZenBook menjawabnya dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang memiliki daya tahan hingga 15 jam. Baterai polimer litium mempertahankan sebagian besar kapasitas pengisian asli mereka bahkan setelah ratusan kali siklus pengisian daya. Sehingga memberi masa baterai ini masa pakai 3x lebih lama dari baterai standar. No ribet nyari colokan lagi ya. Mengajar non-stop dan bebas berekspresi.

Namanya anak banyak orang ya, kadang ada saja yang usil membuka laptop saat ditaruh di depan kelas. Kadang pun saya kecolongan. Untuk itulah password atau pemberian sandi sangat penting diperlukan. Tapi tidak efektif juga setiap membuka harus mengetik sandi. So, sangat terbantu dengan cukup satu sentuhan berkat sensor sidik jari yang ada di touchpad dan Windows Hello. Cepat, praktis dan aman.

Satu lagi saya ini tipikal penulis panjang. Selain itu saya sendiri lebih nyaman mengetik menggunakan laptop karena jangkauan mata lebih besar sehingga memperkecil typo. Karenanya sangat nyaman mengetik dengan laptop. Keyboard backlit ukuran penuh dengan design kokoh akan sangat membantu dan memberi pengalaman mengetik yang luar biasa dalam segala kondisi pencahayaan.

Precision touchpad dirancang untuk kenyamanan dan akurasi maksimum, dengan penutup kaca untuk kontrol yang mulus. Didukung dengan teknologi palm rejection dan mendukung gerakan multi jari dan tulisan tangan.

Gimana-gimana keren banget ya spek unggulannya. Masih belum puas, ini dia spesifikasi lengkap laptop idaman saya bisa juga jadi #LaptopIdamanSobatTraveler atau langsung meluncur ke Asus, yuk untuk rekomendasi laptop sesuai kebutuhan Kalian.

Demikian tadi behind the scene perjalanan kelas inspirasi saya. Semoga impian memiliki laptop idaman untuk mendukung ngeblog terus lebih baik sebagai salahsatu cara menginspirasi untuk mengambil bagian dalam dunia pendidikan di Indonesia terwujud. Amiin…

Keterangan:

*Foto-foto:
koleksi pribadi, dokumentasi Kelas Inspirasi, Asus

**Referensi:
www.asus.com
www.travelerien.com
Magnesium alloy
MIL-STD 810G

Iklan