Diposkan pada Journey

Goresan Raja Thailand yang Tersembunyi – Curug Dago

Nama Curug Dago mungkin tak sefamiliar dengan Dago itu sendiri. Dago merupakan salah satu image kota Bandung. Tak lengkap rasanya kalau ke Parits van Java tapi tak ke Dago. Outlet-outlet distro kelas atas, car free day setiap ahad menarik pelancong untuk bercengkerama lebih dekat dengan kota ini. Jalan Dago (Ir. H Djuanda) pun tak jauh dari pusat pemerintahan Jawa Barat, Gedung Sate.

Bagaimana dengan Curug Dago? Waktu suami pertama kali membicarakan Curug Dago, aku yang bukan asli Bandung, setengah sangsi.

“Masa ada air terjun di Dago,” kataku.
“Belum tahu, dia” jawab suamiku enteng.

Kalau aku bilang, Curug Dago sangat tersembunyi. Untuk ke sini dibutuhkan mata jeli. Jalan masuknya merupakan cor yang hanya cukup sisipan dua motor. Itupun terkadang salah satu sepeda motor harus mengalah. Batas jalan sebelah kiri pagar, sebelah kanan lahan yang cukup dalam sekitar dua meter. Kalau terjatuh, lumayan banget kan. Pun begitu setelah belok, kalau tak awas bisa-bisa kita kebablasan ke kampung yang ada di atasnya.

Plang-plang penunjuk lebih menonjolkan situs atau cagar budaya dibanding curug itu sendiri. Itulah, kalau tak mau bertanya, mungkin kita akan kepayahan menemukan curug atau air terjun ini.

Situs Apa Curug?
Aku sendiri justru lebih penasaran dengan situsnya. Kalau diingat-ingat dalam sejarah, di Bandung sepertinya tak ada kerajaan. Lalu situs apa ini?

“Sudah lihat situsnya?” tanya suami. Karena Namiya tidak mau turun dan asyik bermain, jadilah saya dan Oziel turun berdua.
“Yang di dalam rumah merah ya,”
“Iya, kemarin pas Raja Thailand mangkat ditaruh bendera di situ.”

Pantas saja tadi ada bendera Thailand di situ. Aku pikir ada turis dari Thailand dan sengaja meletakkan bendera di atas batu. Ternyata goresan atau coretan di batu yang dinaungi rumah sederhana bercat merah itulah situs Curug Dago. Peninggalan Raja Thailand Chulalongkom II (Rama V) yang sempat mampir ke Bandung abad ke 18. Ditulis dalam Huruf Siam sekitar tahun 1896, kemudian diikuti kunjungan kedua pada tahun 1901.

Dikutip dari wisatalova.com, prasasti ini bertuliskan paraf dan tahun Rattanakosin, Era 120 (Bangkok). Pada batu yang lain terdapat ukiran nama Raja Prajadipok atau Raja Rama VII yang berkunjung tahun 1929.

Konon, di Thailand, seorang raja akan menuliskan namanya di batu ketika tengah bersemedi. Lokasi curug ini memang tersembunyi dan bahkan dikenal angker karena kesenyapannya. Aku pun tak berani lama-lama di bawah apalagi hanya dengan si kecil.

Air terjunnya sendiri memiliki ketinggian 12 meter terjun bebas dari aliran Sungai Cikapundung yang nantinya membelah Kota Bandung dan menjadi salah satu anak Sungai Citarum. Ciri khas kawasan curug adalah alamnya yang masih asri di ketinggian 800 mdpl. Pepohonan hutan yang masih mendominasi dan jauh dari hiruk pikuk kota. Waktu aku datang, airnya keruh kecoklatan padahal tidak hujan. Aliran sungainya juga terdapat sampah. Katanya sih sudah terjadi kerusakan lingkungan di bagian hulu. Sayang sekali ya, padahal alam sebagai anugerah Tuhan untuk bumi Indonesia sudah sepatutnya untuk kita jaga dan lestarikan.

Curug Dago juga merupakan bagian dari Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. H. Djuanda. Untuk mencapai lokasi ini, lebih banyak yang trekking via Tahura daripada langsung ke Curug Dago. Destinasi ini pun tak terlalu ramai meski kami datang pas liburan. Malah banyak anak-anak kampung di sekitar curug yang bermain di sini. Karena akses ke tempat bermain memang gampang dan tak berpagar layaknya masuk objek wisata. Lokasi bermain dan untuk ke curug juga persis di tepi gang masuk kampung.

Fakta: Kesan angker berasal dari lokasi yang terpencil dan senyap sekaligus tersembunyi. Berada di tepi sungai dan masuk hutan.

Untuk ke air terjun harus masuk hutan dan melalu jalur berundak. Sayangnya, undakannya terlalu tinggi untuk melangkah. Jadi cukup ngos-ngosan waktu naik karena harus mengangkat tinggi-tinggi. Tak perlu khawatir, meski begitu undakan sampai lokasi sudah dari semen asal hati-hati tak akan kepleset. Tapi pas sudah sampai di atas bingung mau duduk dan beristirahat dimana. Pilihannya ada di teras di pinggir area bermain anak. Itupun kotor dan agak lembab jadi harus dibersihkan dahulu dan dialasi kembali dengan tisu bekal dari rumah. Nguing… nguinggg… nyamuk akan menemani kita 😀

Fasilitas standar seperti toilet sudah ada kok. Kalau lapar habis terkuras energinya mengunjungi curug, ada warung makan milik penduduk di sini. Sederhana dan menunya memang lokal seperti karedok, gado-gado, dan lotek. Tersedia juga menu andalan mie instan dan baso. Saat beristirahat di warung ini pun tak ramai justru yang mampir makan adalah warga sekitar yang pulang dari berladang. Uniknya di dalam sebelah pojok warung, pemiliknya membakar kayu tapi hanya asap yang keluar untuk mengusir nyamuk.

So, liburan kali ini bagi Namiya sangat menyenangkan sampai tidak mau pulang karena diajak pemiliknya melihat ikan di balong belakang warung. Dia mempunyai banyak teman baru, dari yang seumuran, cucu pemilik balong, maupun para remaja yang tadi bermain bersama di area bermain. Liburan, bagi kami orang tuanya mungkin lebih sekedar refreshing dari rutinitas ibu rumah tangga seperti saya atau melepas beban kerja bagi suami. Nah, musim liburan bagi anak-anak artinya “main” dan mereka bisa mengeksplorasi lebih banyak tentang alam.

Pelajaran sehari di Curug Dago adalah lebih dekat dengan alam dan bersosialisasi dengan orang lain. Tapi, ngomong-ngomong mencari teman baru, anak-anak lebih gampang mendapat teman daripada kita lho. Mereka saling melihat, bermain di wahana yang sama, tahu-tahu sudah main bareng. Sebagai ibu, kita harus tanggap, tidak hanya membiarkan main bersama.

“Sudah kenalan, belum? Namanya siapa? Kakak cantik ya, dan bla bla bla….”

Bagaimana ibunya memulai pembicaraan, tersenyum terhadap orang yang tidak dikenal, anak-anak melihat itu, dan pasti merekam dalam memori dalam golden age mereka. Kalau melalui buku, anak-anak termasuk kita belajar dari pengalaman orang lain. Di sini kita belajar dari pengalaman sendiri. Seru sekali kan ya.

Tips: Siapkan fisik dan sediakan lotion anti nyamuk. Boleh juga kalau mau alas duduk seperti tikar atau koran bekas.

Kalau Mau Ke Sini?

Alternatifnya, bisa trekking via Tahura, masuknya dari Tahura Ir. H. Djuanda (Dago), parkir kendaraan roda empat lebih nyaman. Atau langsung ke sini. Dari Terminal Dago, belok kiri (ke bawah) kalau ke atas ke Tahura. Pelan-pelan saja, pas turunan tajam lihat ke kiri ada plang Situs Curug Dago kecil. Ikuti jalan kecil yang saya ceritakan di atas sampai pertigaan belok ke kanan (turun ke bawah). Kalau membawa motor bisa dititip disamping loket. Kalau nyali oke, bisa sampai bawah kok. Lokasi masuk Curug Dago di sebelah kiri persis sebelum jembatan ya.

Alamatnya: Jl. Dago Pojok, Dago, Coblong, Kota Bandung. HTM sama dengan Tahura Rp 15.000,00 (kalau tidak salah) karena waktu itu tidak diberi karcis dan ditambah parkir.

Alternatif: bagi yang berkendaraan umum bisa naik ojek atau jalan kaki dari Terminal Dago. Kalau yang membawa roda empat tidak ada tempat parkir.

Kalau google kasih 4 dari 5 bintang, saya beri 3.5. Coba berkunjung ke sini juga, yuk!

*Foto-foto dokumen pribadi kecuali Situs Curug Dago diambil dari wisatalova.com
**Artikel ini diambil dari blog pribadi yang lain karena akan dihapus dan sudah ditayangkan pada 5 Januari 2018

Iklan