Diposkan pada Feature

Menemukan Passion dengan Kebiasaan Masa Kecil

“Love what you do or do what you love?”

Sering kan ya mendengar kalimat tersebut. Mencintai apa yang kita lakukan atau melakukan apa yang kita cintai.

Sangat beruntung jika bisa melakukan apa yang kita cintai. Namun, terkadang apa yang kita lakukan bisa karena terpaksa dengan kata lain tidak sesuai hati. Misalnya di bidang pekerjaan daripada menganggur kita bekerja apa saja. Begitu juga saat mengambil jurusan kuliah daripada tidak kuliah akhirnya mengambil jurusan apapun walau tidak sesuai minat. Paling enak memang melakukan sesuatu berdasarkan yang kita cintai atau sesuai passion.

Passion merupakan gairah atau antusiasme terhadap sesuatu. Bahkan kita bisa menikmati pekerjaan atau bidang tersebut meski tidak dibayar sekalipun. Lalu bagaimana cara menemukan passion tersebut?

Menemukan passion menurutku proses yang tidak singkat. Ia tidak sekedar minat atau kita bisa melakukan hal tersebut. Nah, salah satu cara menemukan passion adalah dengan mengingat hal-hal yang suka dilakukan atau kebiasaan masa kanak-kanak. Kalau aku pikir-pikir memang benar lho.

Waktu SD aku suka ditunjuk menjadi “guru” kalau belajar kelompok oleh teman-teman. Kadang saat di kelas aku pun suka main guru-guruan dan teman yang lain menjadi murid. Sekarang aku berkontribusi menjadi relawan pengajar di kelas inspirasi.

Kebiasaan lain waktu kecil adalah suka ngebolang. Senang menyusuri sungai, suka sepedaan antah berantah, suka jalan-jalan jauh untuk anak seusiaku waktu itu. Eh lulus SMA masuk jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan. Identik dengan bertualang. Skripsinya mengenai karakter hidrologi di kawasan hulu Sungai Bengawan Solo. Nyambung kan ya?

Lalu kenapa bisa kecemplung ke dunia blogging? Kalau dirunut kembali sejak SMP aku sudah konsisten menulis diari. Selalu excited jika melihat buku diari di toko buku. Buku diari di toko buku yang colourful seolah selalu melambai-lambai. Beberapa diari masih tersimpan rapi, beberapa yang lain sengaja dibakar karena malu isinya curhatannya cinta monyet hehe… Mungkin anak zaman sekarang keberadaan diari sudah digantikan dengan smartphone atau laptop kali ya?

P_20180219_125516
Namiya dan diariku

Kembali ke passion, aku pribadi mengetahui dan mulai menggunakan istilah ini sejak membaca buku Rene Suhardono Your Job is Not Your Career sekitar tahun 2012. Kalau novel yang memengaruhiku untuk menemukan passion adalah 23 Episentrum karya Adenita. Meski begitu, aku pun masih terus mencari apa passionku sebenarnya, cara dimana aku bisa berbagi dan bermanfaat.

Masa kecilku menjadi pondasi di masa dewasaku. Masa kecilku menyenangkan tapi ada beberapa hal yang ingin aku perbaiki jika bisa kembali ke masa kecil. Apa yang aku sesali lebih kenapa aku tidak menghafal banyak saat kecil. Seperti tidak menghafal lebih banyak kosakata bahasa asing, menghafal surat-surat dalam Alquran. Padahal saat itu banyak yang mengingatkan agar banyak menghafal tapi kok ya ngeyel.

Benar sih masa kecil harusnya diisi berbagai pengetahuan. Karena saat itu kita tidak mempunyai beban apapun. Karena ketika mulai dewasa kita mulai disibukkan apalagi setelah bekerja dan menikah. Memang benar, bukan berarti saat dewasa kita tidak bisa menghafal tapi waktu kita lebih terbatas tidak sebebas waktu kecil.

Kata pepatah kita tidak bisa memilih masa kecil tapi bisa menciptakan masa depan. Masa kecilku adalah sumber pelajaran dan pengajaran yang menjadi bekal berharga untuk mendidik anak-anakku. Aku bertekad menjadikan masa kecil mereka menyenangkan dan penuh pembelajaran. Setidaknya, ketika kelak dewasa mereka tersenyum mengenang masa kecilnya.

Itu bagian cerita masa kecilku, kalau foto mungkin tak banyak karena saat itu belum era jeprat-jepret seperti sekarang. Kalau ingin mengabadikan foto ya memanggil tukang foto atau datang ke studio foto. Sebab, kamera masih barang mewah di masa kecilku tahun 1990an.

Bagaimana dengan masa kecil kamu? Bagi juga, yuk!

Semoga bermanfaat ya^^

Iklan
Diposkan pada Tips & Trik

Bagaimana Menjadi Influencer yang Bagus?

Screenshot_2018-02-12-16-54-37_1

Kok aku tiba-tiba menulis tentang influencer ya. Bukan berarti aku sudah ekspert lho ya. Ini sharing hasil mengikuti Arisan Ilmu Kumpulan Emak Blogger (KEB) Solo. “Influencer How dan Why” di Grapari Telkomsel Solo, 11 Februari 2018 bersama Bellawati Dityasari, Digital Marketing Communication Enthusiast.

Jadi sedikit cerita bagaimana aku bisa join acara ini. Karena kebetulan sedang di Klaten. Niat awal pulang kampung karena mau ke mantenan (pernikahan) saudara. Ternyata kok jadwal Kelas Inspirasi (KI) di bulan yang sama sekalian saja berpartisipasi. Eh setelah KI malah ada Arisan Ilmu Solo (padahal malah acaranya utama mantenan
belum). Sekalian saja mumpung belum balik Bandung. Jadi ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Rasanya beruntung banget aku ikut Arisan Ilmu KEB ini. Wow banget buatku. Apalagi aku yang baru aktif ngeblog dan ikut komunitas akhir akhir ini. Walaupun umur blognya sendiri sudah lama. Tapi ya begitu ga konsisten dan ala kadarnya alias let it flow.

Sembari mendengarkan aku merasa ternyata dunia blogger itu tak selebar daun kelor (kemana aja ya kan?). Hingga blogger bisa menjadi influencer tak kalah sama selebriti. Menurut Bella, dalam piramida influencer, rata-rata para blogger berada pada posisi micro influencer dengan followers 1000- 50 k tapi memiliki engagement 25-50%. Sedangkan artis sebagai mega influencer dengan followers 500k++ mempunyai engagement 2-5%. Hmmm…

Nah, untuk menjadi influencer ini menurutku tidak mudah. Butuh effort dan perjalanan yang tak cepat. Bagaimana sih menjadi influencer yang bagus dan dilirik oleh agensi. Berikut point-point dari Bella:

P_20180211_103907

1. Bangun personal branding
Berbicara tentang personal branding ini kalau bagi aku sendiri susah banget. Karenanya blog masih bertahan di gratisan. Susah mau menentukan niche. Soalnya kalau menurut buku Rene Suhardono “YJNC” aku itu cenderung generalis bukan spesialis. Makanya pingin nulis tentang review buku tapi kok ya pingin nulis tentang sepak bola tapi kok ya pingin nulis berkebun tapi kok ya pingin nulis yang lain. Jadi random banget. Padahal kata Bella ini pilihan niche yang tepat mempengaruhi kesuksesan blog lho. Kalau masih random kaya aku dia menyarankan untuk melihat konten yang sering kita tulis, popular post, dan interest kita. Bagus juga kalau kita memiliki konten yang unik yang lain belum mempunyai.

2. Tulis konten dan presentasikan dirimu sesuai persona
Kuncinya konsisten. Wah aku langsung melirik blog. Susah konsisten ini biasanya karena bingung mau menulis apa. Konsisten menulis pun harus sesuai branding diatas misalnya parenting konten-konten harus berhubungan. Nah, kalau dapat sponsor post harus dibuat se-smooth mungkin. Hindari misalnya kalau tidak pernah menulis A kok tiba-tiba mengulas A. Billboard banget kan ya. Padahal masyarakat kita sudah makin pintar dan mulai jenuh dengan iklan. Kalau tulisan kita jelas iklan pasti di skip oleh pembaca. Ga mau kan ya?

3. Kenali pembaca dan kumpulkan massa
Siapa sih pembaca blog kita?  Kalau sudah segmented lebih enak dan jelas sasarannya. Kalau belum, saran Bella, tulis konten yang bikin kamu di-follow. Kalau sudah menulis kemudian jangan sungkan untuk share konten ke komunitas yang sekiranya membutuhkan artikel kita. Jangan hanya dibagikan ke komunitas sesama blogger saja. Nanti yang tahu informasinya ya teman-teman kalangan blogger sendiri. Karenanya, itulah pentingnya networking. Katanya, jangan lupa juga maintain engagement dengan followers.

4. Melek data
Jangan malas untuk mengevaluasi performa. Urusan angka memang terlihat njlimet ya. Tapi kalau ada sponsor post urusan report ini penting. Karena report inilah yang penting bagi brand atau agensi untuk dilaporkan kembali ke atasan. Biasanya untuk dianalisis kembali apakah strategi campaign berhasil apa tidak? Selain itu bisa juga dipakai sebagai bahan portofolio.

5. Buat portofolio
Portofolio ini tidak hanya blog tapi termasuk aset media sosial blog seperti Instagram, twitter, dsb). Data followers, engagement rate. Nah, misalkan kita kuat di twitter tapi kurang di IG, bisa dijelaskan di portofolio. Tentunya harus dengan bukti bisa dengan screenshot aktivitas di twitter. Kalau ada lampirkan juga contoh sponsored post dan hasilnya. Hasilnya ini bisa komentar dari pengunjung blog/media sosial yang di screenshot.

Kalau aku pribadi sih, semua point tersebut sepertinya belum bisa ditemukan di blogku. Kalau kamu bagaimana? Sudah di tahap mana? Atau malah sudah semua? Share juga, yuk 🙂

26871994_181170839322158_8520690935980359680_n

Credit image @bellazadithya, foto tengah dokpri

Diposkan pada Tips & Trik

5 Kesalahan Terbesar Waktu Wawancara Kerja

1518169664612

Setiap hari ribuan pencari kerja di seluruh dunia bermimpi untuk menemukan pekerjaan baik yang digaji tinggi dan cukup bergengsi. Selain mempersiapkan CV yang baik, mereka perlu mengalahkan ribuan pelamar kerja dengan berturut-turut menjalani berbagai tes dan wawancara kerja.

Untuk itu, wawancara sebagai salahsatu bagian penting dalam tahap mencari kerja perlu dipersiapkan dengan baik. Silahkan simak beberapa tips tentang 5 kesalahan saat wawancara kerja dari perwakilan Jooble, agregator lowongan kerja internasional.

  1. Pilih busana yang sesuai. Sekarang ini semakin banyak perusahaan tidak lagi menggunakan dress-code di kantor. Namun, ini tidak berarti bahwa Anda boleh berpakaian terlalu casual atau malah tidak rapi. Baju yang tidak disetrika atau terlihat terlalu boros akan membuat kesan negatif terhadap Anda di depan mata pemberi kerja. Coba memakai baju yang sederhana saja seperti kemeja dan celana atau jeans biasa. Kesederhanaan dalam penampilan belum pernah mempengaruhi keputusan perusahaan waktu wawancara kerja.
  2. Jangan pernah berbohong. Ketika membuat CV, sebutkan hal-hal yang real dan yang benar-benar dimiliki Anda. Tidak usah memperindah keterampilan dan pengetahuan Anda, apalagi kalau mereka kurang kuat. Pewawancara akan langsung melihat jika Anda berbohong atau ingin terlihat lebih “keren” di depan matanya. Anda kan tidak mau terlihat lucu iya? Contohnya, jika tingkat bahasa Inggris Anda kurang tinggi, jangan pernah tulis di CV bahwa Anda punya advanced level of English. Anda pasti tidak akan mempelajarinya sebelum wawancara kerja.
  3. Tidak usah sebutkan fakta negatif tentang tempat kerja sebelumnya. Jika ditanyakan tentang pengalaman sebelumnya, jangan pernah menceriatakan sesuatu yang tidak baik tentang pemberi kerja Anda. Apalagi, pemberi kerja baru dapat menganggap Anda terlalu sombong dan sulit dalam proses kerja. Pewawancara selalu membandingkan perilaku Anda pada jabatan yang sebelumnya dengan apa yang bisa dia harapkan dari pekerjaan Anda di perusahaannya.
  4. Hati-hati menjilat. Pertama-tama tunjukkan keterampilan dan pengetahuan profesional Anda. Baru setelah itu mulai kasih komplimen atau bercanda dengan para rekan kerja. Jangan berbuat sebaliknya, supaya tidak terlihat sama sekali tidak serius pada awal karir Anda di suatu perusahaan.
  5. Bicara dengan bijak. Wawancara kerja merupakan proses yang kompleks dan sangat menarik. Banyak yang ditanyakan dan banyak yang harus dijawab. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, ingatlah bahwa saat wawancara kerja Anda adalah pekerja baru, bukan sebaliknya. Tidak usah sebutkan seri favorit Anda atau hobi yang mungkin akan dianggap aneh.

Semoga bermanfaat ya tipsnya. Kalau kamu mempunyai tips menghadapi wawancara yang lain boleh banget lho di share ^^

Diposkan pada Education

Merangsang Anak Berani Bicara di Depan Kelas

IMG_0558

Bicara di depan itu tak semudah tertawa dari belakang lho. Lalu, pernahkah kita menertawakan orang/teman yang sedang berbicara di depan saat melakukan kesalahan. Padahal belum tentu kita berani maju meskipun itu ditunjuk. Saya tanpa sadar mungkin pernah. Maafkan ya teman-teman atau siapapun itu yang pernah saya “lecehkan”.

Saya termasuk anak pendiam waktu di sekolah. Jarang mengacung untuk maju ke depan kelas kecuali ditunjuk. Jarang bertanya meskipun sebenarnya tidak mengerti. Tidak menjawab dengan inisiatif sendiri meskipun tahu. Parah sekali saya ya.

Meski akhirnya keberanian datang seiring berjalannya waktu, tapi saya merasa terlalu lambat. Sewaktu SMA di Klaten bahkan saya sempat minder dengan anak pindahan dari Bandung. Ia cas cis cus dan memiliki kepercayaan diri yang jarang dimiliki anak-anak desa seperti kami. Tak butuh waktu lama ia pun populer di kalangan siswa maupun guru.

Kenapa dia bisa pintar ngomong seperti itu? Kenapa dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi? Saya harus bisa? Saya juga harus berani?

Karenanya, ketika diberi kesempatan menjadi pengajar inspirator di Kelas Inspirasi (KI) Klaten #2 dan #3, saya selalu menstimulus agar para siswa berani maju ke depan dan berani bercerita. Siswa yang di belakang harus mendengarkan dan menegur jika ada yang menertawakan.

Keberanian untuk bicara di depan umum ini menurut saya sangat penting. Karena tidak semua mempunyai bakat alami. Tidak semua anak terlahir dari keluarga yang mendorong anak berani. Untuk itu perlulah guru memberi rangsangan. Keberanian menjadi salahsatu kunci kesuksesan anak di pekerjaan maupun di masa depan. Berani memulai, berani mandiri, berani mewujudkan mimpi, berani… berani…

Setiap masuk kelas, usai menyampaikan materi, saya mendorong anak agar berani maju ke depan untuk menjelaskan kembali. Kadang sekedar menceritakan cita-cita dan alasannya. Rata-rata mereka maju karena saya tunjuk dan iming-iming hadiah bahkan karena mau difoto hoho… Tetapi apapun itu, keberanian harus dimulai. Sebab, merekalah calon anak-anak hebat negeri ini.

IMG_20180208_112723

Dengan inspirasi dari kakak-kakak pengajar beragam profesi harapannya makin terbuka pemikiran mereka. Kian gigih mereka belajar. Di hari inspirasi 5 Februari 2018, murid SDN 01 Sudimoro, mendapat ilmu dan pengetahuan langsung dari Kak Aria dokter, Kak Tari pengusaha, Kak Novia perekam medis, Kak Tias purchasing, Kak Nuy konsultan engineering, Pak Soemantri perekayasa, dan saya sendiri. Mereka juga melihat langsung proses dokumentasi dari fotografer Kak Uken dan Kak Fisa, Videografer oleh Kak Zakaria, serta peran fasilitator yang mengatur kegiatan oleh Kak Dwi dan Kak Yuda.

Semoga sehari menginspirasi melekat dalam benak anak-anak untuk menjadi generasi emas Indonesia. Indonesia hebat!

IMG-20180207-WA0002

*foto dan grafis oleh team dokumentasi KI Klaten #3 SDN 01 Sudimoro

Diposkan pada Education

Apa Saja sih Persiapan untuk Kelas Inspirasi?

Bagi yang sudah terbiasa ikut Kelas Inspirasi (KI) mungkin hal ini tidak terlalu menjadi momok. Tapi bagi yang pertama? Pasti banyak dag dig dug-nya seperti kita mulai bekerja di hari pertama atau pertama masuk sekolah/kampus.

Namun, meskipun sudah bukan pertama kalinya, persiapan ini sangat penting lho. Karenanya, sebelum dilaksanakan hari inspirasi seluruh pegiat KI baik yang belum maupun sudah “wajib” ikut briefing yang diadakan panitia lokal. Briefing diadakan kurang lebih diadakan dua minggu sebelum KI tapi pada Kelas Inspirasi Klaten #3 dilaksanakan sehari sebelum Hari H. Kelebihan briefing dan hari inspirasi yang berturutan adalah waktu cuti bagi yang bekerja jauh sehingga tidak perlu bolak-balik.

Di sisi lain briefing yang berturutan dengan hari inspirasi dirasa kurang cukup waktu untuk menyiapkan pernak-pernik KI. Namun, semua itu bisa disiasati sebelumnya, sebab tak lama usai pengumuman relawan pengajar dan dokumentator yang diterima, fasilitator akan membentuk group lewat whats app tentu sesuai persetujuan kita terlebih dahulu. Tidak asal memasukkan ke group. Group online sangat membantu koordinasi jarak jauh sebelum bertatap muka.

Briefing KI Klaten #3 dilaksanakan di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Tulung, Jalan Cokro – Tulung Klaten. Aulanya yang luas sangat nyaman untuk dilaksanakan pembekalan rombongan belajar (rombel) dalam jumlah banyak. Meski di pinggir jalan raya tapi jauh dari bising kendaraan karena kiri kanannya sawah. *eh malah bahas tempat briefing*

Berikut point-point yang saya catat dalam pembekalan KI Klaten #3, 4 Februari 2018

Penguatan “Unggah-Ungguh” Sejak Dini
Point pertama yang saya catat dari pembekalan kali ini adalah “titipan” dari Pak Suroyo sebagai wakil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten. Sebelumnya Beliau menyayangkan kasus penganiayaan guru seni oleh muridnya hingga meninggal di Sampang. Menurutnya, hal tersebut karena kurangnya pendidikan karakter sejak dini. Penguatan karakter tidak hanya di sekolah tapi juga dari keluarga dan lingkungan.

Karakter yang harus terus dibina di antaranya disiplin, gotong royong, saling menghargai, dan tak kalah penting adalah menghormati yang lebih tua atau dalam masyarakat Jawa disebut unggah-ungguh. Dalam Bahasa Indonesia disebut tata krama. Contoh unggah-ungguh adalah penggunaan Bahasa Jawa yang terdapat tiga tingkatan yaitu krama inggil (paling halus), krama madya, dan ngoko (sesama). Bahasa Jawa atau bahasa daerah harus dibiasakan kepada anak sejak kecil.

Luruskan Kembali Niat Ikut KI
Point kedua yang saya catat dalam pembekalan KI adalah niat ikut KI. Pegiat KI Mbak Karina yang sudah malang melintang di dunia ini mengingatkan tujuh nilai KI yaitu sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung, siap bersilaturahim, dan tulus. Sudahkah kita menanamkan nilai tersebut saat mantap ikut KI? Sehingga ikut KI bukan karena kepentingan eksis di media sosial bahkan portofolio.

Fokus KI adalah orang yang ingin berkontribusi di bidang pendidikan tapi sudah bekerja. Di hari inspirasi, pengajar inspirator mengenalkan profesi dan bagaimana menjadi saya. Inspirator harus senang dengan profesinya bukan malah “curhat” kepada siswa-siswa SD. Inspirator juga harus menyelipkan empat nilai kepada anak-anak untuk meraih cita-cita yaitu kemandirian, kejujuran, kerja keras, dan pantang menyerah.

Dia juga mengingatkan agar selama di KI, semua pegiat KI harus tunduk terhadap UU Perlindungan Anak. Misalnya tidak mengupload foto anak di media sosial “seenaknya” atau berpotensi untuk hal negatif. Menghindari kekerasan dan pelecehan seksual. Berperilaku yang pantas, dan lainnya.

Manajemen Kelas
Point ketiga yang saya garis bawahi adalah bagaimana kita memanajemen kelas. Kali ini Mbak Titis menitikberatkan pada lesson plan. Sebab, adanya rencana ini yang akan menuntun pengajar tidak ngalor ngidul maupun menghindari kebuntuan di kelas.

Metode yang bisa digunakan adalah BOMBER B (Bang!, Outline, Message, Bridge, Example, Recap, Bang!). Bagaimana kita berkenalan dan menarik 5 menit pertama dengan cara yang unik dan menyenangkan, masuk ke pengajaran, dan bang! closing dengan cara berkesan.

Saat menulis ini pun saya dag dig dug, mau menyampaikan apa besok, bagaimana saya harus menyampaikan materi, ice breaking apa yang saya gunakan, lalu bagaimana menyiasati jangan sampai saya kehilangan suara lagi di akhir-akhir pelajaran seperti pengalaman ikut KI pertama, silakan mampir baca di sini.

Walaupun ini bukan pengalaman pertama, tapi rombel baru dan SD baru pula. Pengalamannya pun pasti berbeda ya kan. Jadi dijamin asyik dan seru!

IMG-20180204-WA0000_1

P_20180204_120215_1

Nantikan pengalaman hari inspirasi saya dan teman-teman di KI Klaten #3 SD Sudimoro Tulung ya 🙂

Diposkan pada Education

Berbagi Pengalaman Kelas Inspirasi; Jadi Guru SD Itu Ternyata Tak Gampang

Siapa di sini yang masih kecil bercita-cita menjadi guru? Saya ngacung. Karena bagi generasi 90-an seperti saya, cita-cita favorit rata-rata anak kecil adalah menjadi guru. Meskipun seiring berjalannya waktu cita-cita tersebut berubah. Bahkan, ketika bapak menyuruh saya untuk kuliah di fakultas keguruan, saya memilih jalan yang lain.

Tahun 2010-an ada gerakan Indonesia Mengajar (IM) yang diinisiasi oleh tokoh pendidikan Anies Bawesdan. IM merupakan wadah bagi para fresh graduate yang ingin mengabdikan diri setahun mengajar di daerah perbatasan atau pelosok nusantara. Pengalaman mereka ini pun dibukukan hingga sampailah ke tangan saya. Cita-cita menjadi guru seolah terpanggil. Namun, karena satu dan lain hal, saya tak jadi ikut IM.

Tahun 2012-an sebagai bagian dari IM, tercetuslah Kelas Inspirasi (KI), yang menjadi ruang unjuk gigi para profesional untuk mengajar sehari. Tidak harus nun jauh, karena KI diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Berawal dari Jakarta, Bandung, jumlah kota/kabupaten penyelenggara KI pun terus bertambah hingga ke seluruh pulau di Indonesia.

Tahun 2016, saat “libur” pasca melahirkan anak kedua di Klaten, tanpa sengaja di detik-detik akhir pendaftaran KI Klaten #2, saya menemukan formulir registrasi di linimasa twitter humas pemkab Klaten. Pendaftaran  dilakukan secara online dengan mengisi data diri dan menjawab pertanyaan yang cukup banyak menurut saya tapi gampang kok karena rata-rata tinggal menceritakan pengalaman kita meraih impian.

Tarara… awal tahun 2017, saya diantara sekian ratus dinyatakan terpilih menjadi pengajar inspirator untuk KI yang diselenggarakan kedua kalinya di kota kelahiran ini. KI ini ternyata sangat profesional, dari perekrutan, bagaimana mengoordinir para relawan sebelum hari inspirasi,  hingga pendanaan yang semua dilakukan secara mandiri.

 

Hari Inspirasi Tiba

Saya masuk dalam rombongan belajar SD Nengahan Kecamatan Bayat bersama lima relawan pengajar lainnya, tiga fasilitator, dan dua relawan dokumenter. Meski kami berasal dari beragam latar profesi dan asal, semua happy dan tak canggung. Karena sebelum hari H, sudah ada briefing oleh panitia lokal (panlok), dan pembentukan group lewat whats app. Semua persiapan sudah dibahas matang. Tinggal eksekusi di hari H, 18 Februari 2017.

Di luar dugaan saya sendiri, ternyata hobi ngeblog membawa saya berdiri sini, di depan anak-anak untuk menginspirasi agar mereka mempunyai mimpi di masa depan dan berani mewujudkan. Karena, dari lulus kuliah mungkin dari masih kuliah (part time), saya adalah seorang kutu loncat sejati, bekerja dari sini ke sana, pindah dari kota ini ke kota itu, saat teman bertanya saya kerja apa eh pas dia bertanya sudah berganti lagi, makanya cukup bingung juga saat harus menulis pekerjaan waktu registrasi. Tapi, terlepas dari semua itu, saya percaya banyak jalan menuju roma. Tahun 2012 saat masih menjadi karyawan perusahaan sedikit ternama, saya sudah berkeinginan ikut KI. Namun, empat tahun kemudian baru sempat mendaftar, saat sudah menjadi ibu rumah tangga. Semua indah pada waktunya.

Kembali, di depan anak-anak, saat itu saya harus bergantian masuk lima kelas kecuali kelas V (disesuaikan jam pelajaran dan jumlah inspirator) dengan pengajar lain. Di sini kita tidak menyuruh mereka bercita-cita seperti para profesional yang sedang menggantikan guru mereka di depan. Tapi, menceritakan profesi kita, bagaimana meraihnya, agar pikiran mereka terbuka bahwa banyak profesi di luar sekolah mereka. Untuk mewujudkannya harus dengan kerja keras, berusaha, tak menyerah, berdoa, berani, jujur sebagai bagian tujuh sikap kelas inspirasi yang diawali dari impian. Profesi rombel SD Nengahan yaitu pegawai pajak, karyawan, engineering consultant, pengawas, dan quality control.

Masuk kelas pertama di kelas IV, oke, saya begitu semangat, karena kami mengajar bebas alias tidak formal, lesson plan pun sesuai profesi masing-masing. Jadi cara mengajar pun berbeda, ada yang memakai pakaian sesuai profesi, membawa alat peraga, menonton film, atau dengan cara bermain.  Diawali yel-yel, menanyakan cita-cita, sangat kondusif dan menyenangkan…bla…bla…bla… Ketika masuk di kelas ketiga, kelas dua, situasi mulai agak, saya harus teriak-teriak, ada yang ngobrol sama teman, ada yang cuek,… suara sudah serak. Ahhh… ternyata itu belum seberapa, masuk kelas satu, lebih heboh lagi. Ada yang rebutan, ada yang mau nangis, oh dunia masa kecil…suara mana suara. Tapi untunglah, kelas saya berakhir di kelas 6 yang sudah mengerti dan kembali kondusif. Cuma sayangnya, suara saya tak selantang awal –awal haha…

Kesimpulannya, jadi guru SD itu tak mudah. Sebab, harus bisa mengendalikan situasi belajar mengajar anak yang masih “ngeyel” apalagi di kelas kecil 1-3 dan menjaga suara jangan terlalu berlebihan di awal karena rata-rata guru SD mengampu semua mata pelajaran dari awal hingga akhir jam pelajaran.  

Tapi, itu tak membuat saya kapok. Karena Februari 2018 ini, saya kembali menjadi salahsatu inspirator untuk KI Klaten #3. Kenapa Klaten? Karena sekaligus saya bisa pulang kampung dan saat harus menjadi inspirator tidak perlu khawatir dengan duo krucil karena mereka bersama mbah setri dan mbah kakung-nya juga pakde-nya.

Yuk, apapun profesi kamu, jadi bagian Kelas Inspirasi, karena setiap pengalaman itu berharga buat generasi bangsa ini dan setiap profesi itu pasti bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Dijamin canduuuuu!!!!

 

Foto oleh pribadi dan dokumentator (Pak Budi dan Mas Arif) KI Klaten #2 SD Nengahan, 18 Februari 2017

16789092_1851345155146297_7337569270047440896_n

IMG_9490

_DSC0351

IMG_9648

Diposkan pada blog competition

10 Langkah Mencintai Rupiah

10

Selembar eh bukan selembar lagi. Selembar uang 50 ribuan rupiah terpecah usai dijajakan. Tapi kok uang kembaliannya kucel, kumel, dan kusut begini. Jadi benar donk anggapan kalau uang adalah sarang kuman. Akibat sering berpindah tangan.

Haduh… aku kok tidak setuju ya jika uang disebut sarana menyebarnya penyakit. Bagiku, uang adalah sesuatu yang bernilai dan berharga, sudah selayaknya diperlakukan semestinya. Baik itu pecahan logam maupun kertas berapapun nominalnya.

Jpeg
Uang kumal (dok. pri)

Selain kasus, uang kumal, ada lagi orang yang kurang menghargai uang logam nominal kecil seperti 100 atau 200 rupiah karena yang lebih kecil sudah jarang dijumpai. Pernah ada yang membuang uang seratus rupiah di sebelahku. Spontan aku menatapnya. Mungkin dia mengerti maksud tatapanku, lalu mengatakan bahwa uang tersebut tidak laku bahkan untuk membeli permen. Ada lagi yang ngedumel saat mendapat kembalian uang receh. Pernah juga aku menjumpai, pengamen atau peminta-minta yang membuang uang 200 rupiah. Dalam hati aku membatin, bagaimana bisa kaya jika mental memperlakukan uang saja seperti itu. Tidak bisa menghargai alat pembayaran ini.

Pernah terpikir, kenapa Bank Indonesia terus mencetak uang logam nominal kecil ini. Sebab, di warung-warung sudah jarang dengan harga “ganjil” ini. Kalau di minimarket atau sistem kasir sih memang masih digunakan. Tapi, sebagai pengatur kebijakan keuangan tentu semua ada alasannya. Cuma sayang ya kalau kurang dihargai dan dibuang begitu kan? Aku pun kadang kalau lagi jalan suka memungut uang-uang ini lho. Tak peduli dijuluki apapun. Karena, ya menurutku setiap rupiah itu bermakna dan berharga.

Pernah melihat iklan Bank Indonesia Di Setiap Makna Indonesia tentang bagaimana uang bisa sampai ke tangan kita. Kalau belum bisa tonton klik di sini.

“Tahu ga kalau uang yang setiap hari kita pegang mempunyai cerita perjalanannya masing-masing. Pada awalnya, direncanakan, disiapkan, dan diantarkan ke seluruh penjuru Indonesia. Setelah itu, didampingi oleh alat-alat negara. Uang rupiah akan terbang di udara. Dan dibawa mengarungi luas samudra dengan perahu yang sangat besar hingga perahu yang kecil. Terkadang ada moment moment tersendiri yang membuat perjalanan ribuan kilometer itu semakin istimewa. Dari sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Demi melihat senyuman sampai akhirnya rupiah sampai di tangan. Hingga tanpa kita sadari rupiah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Membawa kebahagiaan, kenyamanan, dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. Inilah yang membuat perjalanan rupiah ini lebih bermakna. Kalau kalian pakai rupiah untuk apa?”

Kalau perjalanannya saja sedemikian rupa, dari percetakan di Perusahaan Umum Pencetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri), kenapa pas sampai ke kita malah semena-mena ya. Jangan hanya nominal besar yang disayang yang kecil dibuang.

Mulai tahun 2014 BI sudah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)  dan mengarahkan gaya hidup masyarakat menuju e-money. Menurutku, cara ini efektif untuk mengembalikan nilai recehan di mata masyarakat. Selain itu, memang banyak manfaat lainnya sih. Tapi, untuk masyarakat pedesaan, pedalaman, dan perbatasan mungkin masih membutuhkan usaha ekstra ditambah fasilitas dan akses yang menunjang secara lebih baik lagi ya kan. Kalau yang di kota mungkin sudah tidak asing lagi ya setiap transaksi menggunakan kartu, mau belanja, membayar tagihan, tol, dan lain-lain.

 

Rupiah, Tak Sekedar Uang

Nah, ngomongin soal rupiah ini, ada yang bilang kalau rupiah merupakan turunan dari rupee, mata uang India. Rupiah Indonesia berasal dari kata Rupya dari Bahasa Sansekerta berarti koin perak. Saat ini merupakan alat tukar menukar barang atau jasa yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rupiah jangan hanya numpang lewat, coba yuk mengamati dan mencermati desainnya. Bank Indonesia sebagai otoritas meneter telah menetapkan logo dan desain melalui proses panjang lho. Bahkan penentuan 12 gambar pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden (kepres). Gambar-gambar pahlawan nasional, wonderful Indonesia, dan seni budayanya bukan hanya untuk keperluan design semata tapi harapannya bisa diteladani dan lebih mencintai Indonesia. Aku yakin belum tentu kita semua mengetahui tentang rupa-rupa yang ada dalam rupiah tersebut. Dan, karena suka mengamati rupiah ini, suatu ketika membantuku menjawab soal tes wawasan kebangsaan tentang pahlawan nasional asal Papua yang mempunyai andil dalam Konferensi Malinau. Jawabannya ada di pecahan uang 10 ribu emisi 2016, Frans Kaisiepo.

Setelah lebih mengenal lebih dekat uang rupiah, saatnya mencintai. Nah, kalau mengaku cinta pasti ada tindakan terhadap si cinta ya kan. Kita bakal rela mengorbankan dan melakukan apa saja demi kebahagiaannya, kebahagiaan bersama. Istilahnya simbolis mutualisme, saling menguntungkan kedua belah pihak.

Nah, dalam mencintai rupiah setidaknya 10 hal yang aku lakukan:

  1. Menata berdasarkan nominal di dompet.
  2. Tidak menaruh/menyimpan sembarangan misal dekat makanan, air dan tidak meremasnya di tangan. Hal ini mencegah uang rupiah menjadi tidak layak edar karena kondisinya kumal bahkan sobek.
  3. Mengambil uang receh di jalan dan mengumpulkannya. Sebagai alternatif, bisa dimasukkan kotak infaq akan lebih berguna. Kotak infaq pun banyak tersebar di berbagai tempat selain masjid, di depan minimarket, di warung, dan tempat publik lainnya.
  4. Saat mendapat uang kumal berusaha merapikan kembali.
  5. Mengajari anak cinta rupiah. Lewat teladan, karena children see children do. Saat anak jajan sendiri tidak selalu memberikan uang kertas kadang juga logam. Tidak satu dua anak tetangga yang tidak mau saat diberi receh oleh orang tuanya, karena menganggap tidak laku buat jajan. Menurut saya ini kembali kepada perilaku dan penjelasan orang tua ya.
  6. Tidak mencoret-coret uang. Di era media sosial, banyak cara untuk narsis jadi sudah ga zaman vandalisme pada uang kertas
  7. Menjauhkan dari jangkauan anak bawah tiga tahun (batita). Karena mereka biasanya akan menggigit, memakan, merobek. Pengalaman pribadi, karena lalai si kecil (1 tahun) meraih uang 20 ribu di meja, lalu menggigitnya dan robek jadi tiga bagian. Sobekan pun sudah masuk mulut. Jangan sampai ya, karena kalau terbagi kecil-kecil bahaya juga kan kalau tertelan.
  8. Saat menerima kembalian, menyingkir dari kasir, dan mengambil waktu sejenak merapikan sehingga tidak langsung dimasukkan ke dompet dengan buru-buru.
  9. Bangga dengan rupiah. Kata Presiden Joko Widodo, setiap lembar rupiah adalah wujud kedaulatan sebagai negara. Aku sih belum pernah langsung tinggal di perbatasan ya tapi kalau berdasarkan cerita atau menonton film memang sih daerah perbatasan lebih rentan. Dalam film “Tanah Surga Katanya” yang ber-setting di perbatasan Kalimantan dan Malaysia, ada adegan anak kecil yang membantu dokter dari kota membawa barangnya. Saat membayar jasa sang anak, dokter memberikan selembar uang 50 ribu rupiah. Tapi si anak menolak karena mengaku tidak pernah melihat uang tersebut dan malah merasa ditipu. Lalu, datanglah seorang guru yang setelah mendengar cerita anak segera menukar uang dokter dengan dua lembar 10 ringgit Malaysia. “Ini baru duit,” kata sang anak sumringah. Selain itu Pak Jokowi juga mengajak agar menyimpan tabungan dalam bentuk rupiah, kalau ini mungkin untuk kalangan atas ya.
  10. Mendapatkan dan membelanjakan dengan cara yang halal agar berkah.

Demikian, pandanganku tentang uang yang harus dihargai. Karena menghargai uang itu menurutku bagian dari mental kita sendiri. Layaknya banyak jalan menuju roma, banyak langkah yang bisa dilakukan untuk mencintai mata uang kita. Dari hal yang paling sederhana hingga yang tak terpikirkan. Kalau kamu seperti apa?

 

*Grafis foto uang rupiah oleh di sini, design with canva

Diposkan pada Beauty, blog competition

Rahasia Bebas Keputihan, Lebih Resik, dan Makin Harmonis

Apa sih yang paling membuat kaum hawa risih (tidak nyaman) terkait organ kewanitaan?

Yup, pertama, bau tak sedap. Tak bisa dipungkiri, organ kewanitaan apabila tidak dijaga dengan baik dan benar menyebabkan bau tak enak. Tentu saja hal ini membuat kita sebagai perempuan merasa tidak nyaman saat berkumpul dengan orang lain. Apalagi bau organ intim ini sangat “khas” sekali.

Kedua, keputihan. Keluhan para perempuan menjelang menstruasi biasanya adalah gangguan keputihan. Keputihan biasanya juga akan diikuti rasa gatal. Akibatnya kadang tangan “gatal” ingin menggaruk. Kalau kita sedang di rumah, kita bisa segera membilas dan mengganti celana dalam. Kalau sedang diluar dan kondisi tidak memungkinkan melakukannya bagaimana?

Untuk itu ada beberapa tips untuk mengatasi ketidaknyamanan tersebut, di antaranya:

  1. Rajin mengganti celana dalam. Terlalu lama memakai celana dalam akan membuat organ kewanitaan lembab. Dianjurkan mengganti 3 sampai 4 jam sekali.
  2. Menjaga selalu kering. Caranya bisa dilap dengan tisu kering. Untuk membersihkannya yaitu menyiramkan air dari depan ke belakang. Bukan sebaliknya, kalau dari belakang ke depan, kan di anus banyak bakteri nanti bakterinya pindah ke depan.
  3. Memperhatikan penggunaan pembalut saat menstruasi. Sama dengan pemakaian celana dalam, dianjurkan mengganti 3-4 jam sekali. Kondisi lembab lebih berpotensi memicu tumbuhnya jamur dan bakteri jahat.
  4. Menggunakan air bersih bukan sabun. Perlu diketahui organ kewanitaan memiliki pH bersifat asam 3,5-4 sedangkan sabun bersifat basa yang justru menyebabkan bakteri lebih cepat berkembang.

Bagi yang sudah menikah membersihkan organ intim ini sangat penting. Bukan justru malah acuh tak acuh mentang-mentang sudah “laku”. Apalagi kalau sudah mempunyai anak, belum disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga, suami dinomorsekiankan *cubit diri sendiri. Padahal harusnya sama-sama prioritas ya. Kalau saya sih maunya selalu dekat-dekat dengan suami. Ini tak hanya buat pengantin baru lho.

Ingat kembali yuk tujuan kita berumah tangga apa? Tentu membentuk keluarga harmonis dan langgeng. Untuk Muslim, setiap pernikahan acap selalu diikuti doa agar pengantin menjadi keluarga samara. Samara singkatan dari sakinah, mawadah, warohmah. Sakinah berarti tenteram tenang, mawaddah artinya saling cinta, dan rahmah yang senantiasa mendapatkan naungan kasih sayang dari Alloh SWT. Mau kan ya? Untuk mewujudkannya tentu harus mulai dari diri sendiri kan? Bagaimana keluarga utamanya hubungan suami istri bisa bahagia kalau kita sebagai istri “bermasalah” alias tidak memperhatikan penampilan dan diri sendiri. Nah, terlebih dalam Islam, kebersihan merupakan sebagian dari iman. Tengok cara kita membersihkan organ kewanitaan, sudah disiplin belum?

 

Resik v Rina
Resik V (dok. pri)

Kalau ingin gampang, seperti saya menggunakan Resik V. Resik V merupakan pembersih yang terbuat dari air godokan daun sirih. Tiga kata kunci dari saya untuk Resik V: alami, higienis, dan halal. Saat dituangkan, warnanya tidak bening (bukan kotor ya tapi karena hasil ekstrak daun sirih), aromanya khas sangat alami seperti rebusan daun sirih yang suka direbuskan ibu di rumah. Higienis, karena bukan sabun dan memiliki pH seimbang. Halal, karena sudah melalui proses panjang mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Resik V juga menjadi andalan karena alasan kepraktisan. Kemasan air godokan sirih ini membantu gaya hidup perempuan urban yang berkejaran dengan waktu dan susah mendapatkan daun sirih. Nah, menggunakan Resik V berarti juga melestarikan warisan leluhur, kok bisa, iya menggunakan rebusan daun sirih kan resep turun temurun untuk merawat organ kewanitaan, saya juga pertama mengetahui dari ibu.

Bagi saya pribadi menggunakan Resik V, terbukti bebas keputihan secara hormonal. Ngomongin masalah keputihan ini sempat sangat menganggu saya pada kehamilan kedua. Memang bukan keputihan patologis tapi tetap saja tidak nyaman kan. Selain itu, Resik V membantu merawat organ kewanitaan selalu resik dan keset.

Jadi, meski sudah mempunyai dua anak selalu cinta dan lengket kaya perangko dengan suami. Sayonara keputihan dan bau tak sedap. Rangkul si cinta, yuk!

 

#ArisanResik #Liputan6com

Diposkan pada blog competition

Karena Ibu, Aku “Kuat”

Tanpa kata. Seperti itulah Buk’e (ibu, Jawa) menatapku. Anak perempuan satu-satunya yang hendak merantau di pulau seberang. Ia tak menyiapkan jimat keberuntungan apapun. Mulutnya masih beku. Ketika tiba saatnya aku meraih tangannya untuk berpamitan. Ia mengecup ubun-ubunku lama sekali.

Kedua kelopak mataku langsung tergenang. Buram semua pandangan. Kata-kata tercekat di tenggorokan. Tak satu patah pun keluar dari mulut. Malah ingus yang tak mau dibendung. Gadis yang selalu jadi anak kecil di matanya akan pergi, atas nama mimpi.

Buk’e mengasuhku dengan konservatif. Lebih banyak ini itu dilarang. Ia protektif  malah over, kataku. Ia egois. Karenanya, begitu aku dinyatakan diterima kerja di Kalimantan, betapa buncahnya hatiku. Burung segera terbang bebas dari sarangnya.

Namun, belum juga sebulan, ternyata teoriku salah. Aku harus terpisah jarak dulu untuk mengerti seberapa besar kasih sayang buk’e yang tak terhingga. Bahkan, dengan ribuan jutaan ucapan terima kasih pun tak sanggup menggantinya. Maafkan, anakmu yang banyak salah ini.

Buk’e tak berpendidikan tinggi. Dari mulutnya tak pernah keluar kata mutiara. Tapi ialah teladan. Sangkan paran, begitulah prinsipnya. Jika kita menolong orang lain yang membutuhkan maka kita juga akan ditolong. “Bukan Buk’e, tapi agar Kalian selalu ditolong orang lain.”

Masya Alloh, Buk’e memikirkan anaknya terlebih dahulu. Aku kira itulah mengapa keberuntungan selalu ada dimanapun aku berada karena prinsip sangkan paran Buk’e. Aku yang jauh di perantauan dan saat kesempitan selalu ada yang berbaik hati menolong.

Buk’e menitipkan kepercayaannya kepadaku. Makanya, saat orang kampung banyak yang “membicarakan” buk’e karena membiarkan anak perempuannya merantau, ia selalu tersenyum. Justru karena tak ingin melanggar kepercayaan itulah aku bisa seperti sekarang. Aku tetap menjaga diri di perantauan. Aku berbuat terbaik karena tak ingin buk’e sedih dan murung.

Buk’e bukan ibu yang suka memberi hadiah. Bahkan ketika aku rangking pertama sekalipun. Buk’e lebih mendorong supaya ketiga anaknya berprestasi sehingga bisa hidup lebih baik dari orang tuanya. Kini segala didikannya itu membuatku mandiri dan tidak manja bahkan ketika harus mengasuh dua cucu kesayangannya sendiri. Bagaimana hidup prihatin, buk’e mengajari semua kekuatan itu lewat teladannya.

Pernah kawanku bertanya. Kenapa aku berani merantau tanpa teman dan saudara? Aku terdiam. Dia menjawab sendiri. Karena aku mempunyai senjata. Aku bingung. Senjataku adalah doa ibu yang selalu menyertaiku, katanya.

Saat aku hendak melahirkan anak pertama, tak sedikit orang yang men-judge aku tak bisa melahirkan normal karena perawakanku kecil. Tapi, buk’e percaya aku bisa. Aku menjawab kepercayaan dengan persalinan normal untuk kedua cucunya.

Buk'e menggendong cucu pertamanya

Aku bertemu suami di perantauan. Kini ikut suami dan tinggal di Bandung jauh dari buk’e di Klaten.

Hingga kini meski terpisah jarak, buk’e adalah solusi setiap kesempitanku. Entah bagaimana ia selalu terasa jika aku sedang susah. Bahkan, ketika anakku sakit, tiba-tiba buk’e menelepon merasa kalau cucunya sakit. Seampuh itukah bonding seorang ibu.

Buk’e, syukurku tak terhingga kepada Yang Kuasa menganugerahkanmu sebagai perempuan yang melahirkanku. Mengandungku dalam rahimmu dalam segala keterbatasan dan kekurangan tapi itu menjadi kekuatanku mengarungi hidup di perantauan.

Kecupan tujuh tahun lalu itu, tak akan kulupakan sepanjang hayatku. Ciuman kasih sayang sarat makna.

Aku tahu walau tak ada kata, tapi dalam sholat malammu, dalam sujudmu, kamilah anak-anakmu yang selalu kau sebut agar kami bisa hidup bahagia dan selalu dalam kebaikan.

Buk’e, terima kasih untuk doa yang tak pernah putus dari lubuk terdalammu. Itu adalah hadiah yang tak lekang oleh waktu, tak ada emas berlian yang bisa membelinya. Buk’e, engkaulah kalimat, engkaulah nyawa di setiap tulisan ini.

Buk’e, sebagaimana kamu percaya pada prinsip sangkan paran, aku pun begitu. Semoga selalu ada yang menolongmu, karena anak perempuanmu ini tak ada dekat denganmu setiap waktu. Cukuplah, Alloh sebagai sebaik-baik penjagamu dan bapak di rumah.

I love you… i love you…  Aku kangen Buk’e

 

Bagaimana kisah kamu dengan ibu, ceritakan juga, yuk!

Diposkan pada Food & Culinary

#FunCookingCompetition Chef vs Jurnalism

Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan bisa berkolaborasi memasak bareng juru masak beken dari Indonesian Chef Association (ICA). Kemampuan dapur saya yang amatir sebenarnya membuat kurang percaya diri. Tapi justru karena kelemahan itu saya malah tertarik mengikuti #FunCookingCompetition sebagai penutup rangkaian acara Seminar Nasional Potensi Wisata Kuliner Indonesia di Dunia Internasional bertempat di STP NHI Bandung, Jum’at (22/12/2017) lalu.

Chef-chef dari ICA ini ternyata friendly banget lho. Seulas senyum ramah dan ajakan bergabung dalam kelompok 2, membuat saya tidak sungkan berbaur. Sebenarnya, saya sudah mendapat kelompok 15 di sesi kedua. Karena sudah terlalu sore dan kelamaan meninggalkan krucil di rumah, saya berniat bertukar di sesi pertama. Tapi tidak diperbolehkan oleh panitia. Akhirnya, saya celingak-celinguk ngider pada kelompok di sesi pertama hingga akhirnya gayung bersambut dari Chef Dodo dan Chef Rian serta para senior chef yang begitu bersahabat.

Canggung, tentu saja berada di tengah dua chef muda yang tampak profesional sekali ini. Kalau saya memasak di depan mereka, mempermalukan diri sendiri pasti ya. Tapi dalam hati juga saya terpecut, bagaimana tidak, saya ini perempuan yang kodratnya harus pandai memasak tapi kalah dengan para lelaki ini. “Saya masih amatir, saya barisan penggembira aja ya. Saya percayakan pada ahlinya,” kata saya pada mereka sebelum memulai kompetisi. Haha…

Mereka tidak sok pintar dan menggurui bahkan selalu memberi kesempatan pada saya. Tapi, karena saya tidak ingin merusak kreasi dan imajinasi mereka, setiap mereka menyuruh saya selalu minta diberi contoh takut tidak sesuai ekspektasi yang mereka harapkan. Mungkin batin mereka saya seperti anak SD haha… Tapi, kesan yang saya tangkap mereka tidak pelit berbagi ilmu lho.

Selain have fun, saya banyak belajar pada kompetisi memasak dengan menu nasi goreng ini. Menu yang merupakan masakan Indonesia yang menduduki peringkat 2 di dunia lewat survei facebook oleh CNN tahun 2011. Gampang, praktis, banyak kreasinya, dan mendunia lagi ya.

Chef Rian tidak sungkan-sungkan memperlihatkan nyala api di kompor untuk panas yang pas saat membuat nasi goreng. Katanya, begitulah yang diterapkan di hotel-hotel sehingga menghasilkan nasi goreng yang enak. Saat nasi digoreng Chef Dodo yang juga koordinator kelompok meracik hiasan dari selada, cabai merah, daun bawang, udang, telur dadar.

Selama ini saya kalau membuat nasi goreng, kalau tidak diulek bumbunya ya pakai racik yang praktis. Mereka menggunakan metode tumis bawang merah dan bawang putih. Telur sudah didadar terlebih dahulu lalu diangkat. Ini baru buat saya lho.

Setelah tumisan harum ditambahkan bumbu-bumbu lain seperti garam, penyedap. Termasuk udang kupas yang sudah dipotong kecil-kecil. Karena saya juga membantu mengiris-iris, sehingga tidak bisa detail mengamati. Tahu-tahu sudah matang dan tinggal penyajian dengan hiasan. Ini nih tampilan hasil kreasi Chef Dodo.

nasgor
Usai membuat nasi goreng, peserta ditantang menyajikan dessert dengan menghias Bolu Susu Lembang. BSL ini tanpa embel-embel pun sudah lembut dan enak banget apalagi diracik kembali ya oleh para chef. Taburan bubuk coklat, selai, dan lemon. By the way, saya yang diminta menaburkan bubuk coklat, lihat hasilnya kacau banget. Tapi lupakan, over all… tarara… Yummy…
bslica
Saking antusias mengikuti lomba memasak ini tak perlu menunggu di rumah saya langsung mengoceh di depan suami begitu ia menjemput.
“Jadi bisa dipraktekkan donk belajar memasaknya,” kata suami usai saya berpanjang lebar cerita heboh.
Bagaimana kemampuan memasak kamu, share juga, yuk 🙂