Diposkan pada Artikel, lomba blogging

Smartphone antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

Ketika kita belajar ekonomi di sekolah dikenal tiga macam kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan pokok setidaknya meliputi sandang, pangan, dan papan. Kemudian ditunjang dan dilengkapi dengan kebutuhan sekunder. Selanjutnya adalah kebutuhan tersier jika dua kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi  yaitu kebutuhan akan kemewahan.

Di akhir tahun 1990-an dan awal millenium, ponsel termasuk kebutuhan tersier. Namun, hal tersebut semakin bergeser. Memasuki 10 tahun kedua millenium, seiring hadirnya posel pintar atau smarthone, telepon genggam rasanya bukan barang  “wow” lagi kecuali jika kita membicarakan tipe atau merek yang digunakan.

Saat ini, bisa dikatakan siapa sih yang tidak memiliki smartphone? Bahkan, di kota-kota besar tak jarang kita jumpai, satu orang memiliki lebih dari smartphone? Banyak alasan dari alasan memisahkan antara ponsel untuk personal dan bisnis hingga sekedar mengikuti gaya hidup “zaman now”-katanya.

Lalu bagaimana pengaruhnya dengan keluarga kita? Jika dulu orang tua memegang HP layar sentuh dibilang “nggaya” sekarang tidak lagi. Orang tua bahkan bukan golongan pejabat, pengusaha sekalipun sekarang sudah banyak yang memiliki HP. Pakde saya, sudah berumur kepala lima ke atas, soal smartphone jangan salah, bisa-bisa kita yang muda kalah. Dari strata sosial, dia bukan golongan kelas atas tapi urusan ponsel pintar tak boleh ketinggalan pun aplikasinya, dari facebook hingga sekarang booming instragam, dari era BBM sampai what’s app dan lainnya.

Telepon genggam diciptakan pada mulanya untuk mempermudah komunikasi hingga sekarang menjadi kebutuhan aktualisasi diri. Tanpa smartphone dengan jaringan internet tentunya, setiap orang bisa mengunggah aktivitas dan apa yang sedang dipikirkan, tentang kicauan, dan live gambar maupun video. Bayangkan saja, beberapa tahun yang lalu, kita rela antri di warung-warung internet hanya untuk update status facebook atau sekedar chatting via yahoo masenger atau membuka email dan browsing artikel untuk tugas bandingkan dengan sekarang, hanya dengan membuka telapak tangan dan tab layar semua terasa mudah dan cepat tanpa perlu kemana-mana.

Smartphone adalah kebutuhan, oke, tidak salah bagi yang membutuhkannya. Memiliki smartphone untuk lifestyle, boleh juga, tidak salah. Namun, yang penting diingat dengan segala kemudahan dan daya tarik smartphone alangkah baiknya jika kita menggunakan secara bijak. Terlebih pengaruh smartphone ini sudah masuk hampir  ke segala lini kehidupan termasuk anak saya yang masih balita. Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif. Beruntunglah kita yang mampu mengoptimalkan sisi baiknya dan meminimalisir yang buruk.

Pertama. Smartphone tidak menggantikan peran sosial kita di masyarakat. Jangan sampai ada istilah, adanya smartphone menjadikan yang dekat menjadi jauh dan menjauhkan yang dekat. Pernah mengalami, sedang duduk berdua dengan teman tapi teman kita asyik sendiri dengan gadget-nya ditambah nyengar-nyengir sendiri lalu kita bagai obat nyamuk? Kadang ini pun terjadi antara saya dan suami, tapi tak segan di antara kami saling menegur jika salah satunya sudah mulai asyik sendiri dengan smartphone. Itulah pentingnya ketegasan bahwa di waktu keluarga tak boleh ada gadget terutama di depan anak yang masih balita.

Kedua. Menggunakan sesuai kebutuhan dan tujuan kita membeli smartphone. Misalnya tujuan ibu rumah tangga membeli smartphone adalah untuk online shop lewat media sosial. Jangan justru porsi besarnya untuk memposting status-status privasi yang berujung pada retaknya rumah tangga. bahkan saling bergosip lewat group maya. Selain juga hindari menyebarkan hoax atau kabar yang belum dicek kebenarannya, mengunggah status yang menyebarkan kebencian, pornografi, isu-isu SARA. Tidak mau kan karena status kita terkena UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Meskipun negara menjamin kebebasan dan kemerdekaan berpendapat tapi ada norma ada kaidah yang harus kita patuhi baik tertulis maupun tidak.

Ketiga. Menghindari memberikan hak milik smartphone pada anak sebelum umur yang disarankan. Dikutip dari The Asian Parent bos komputer dunia Bill Gates justru tidak memperbolehkan gadget sebelum usia 14 tahun. Dia bahkan tegas menolak ketika anaknya meminta gadget sebelum usia tersebut disaat teman-teman mereka sudah memiliki smartphone. Kenapa? Karena anak sudah belajar membedakan mana yang baik dan buruk. Sebelum usia itu, anak bisa dipinjami gadget dengan batasan waktu tertentu dan dalam pengawasan orang tua tentunya agar terhindar dari efek kesehatan maupun pengaruh negatif dari sisi mental dan sosial. Masa-masa emas seorang anak harus dilatih dan dirangsang motoriknya sebagai ibu jangan malas terus melatih kreativitasnya. Jangan karena anteng dengan smartphone, kita sebagai ibu jadi lalai dan malah asyik bermedia sosial juga. Ini juga tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang ibu.

Selalu bijak dengan smartphone yang sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup ya 🙂

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Artikel, Echi's Wife

Merawat Kulit Wajah Turning Thirty

Jelang usia 30 tahun sebagian wanita mungkin mulai mempermasalahkan kulit wajah maupun bagian tubuh lainnya. Misalnya mulai adanya kerutan, bersisik, kasar, bercak hitam atau kulit menggelambir. Secara pribadi, saya tergolong wanita yang cuek soal perawatan kulit wajah atau tubuh ini. Namun, di tahun-tahun terakhir kepala dua ini, saya mulai risih juga dengan kulit yang cepat kering.

Saat membuka majalah lama, Kalawarta edisi September 2014 halaman 16-17, saya menemukan artikel melawan penuaan dini. Nah, berikut saya coba share point-point cara mencegah penuaan dini oleh Dokter spesialis kulit dan kelamin RS Cahya Kawaluyan dr. Meily Anggraeni, Sp. KK ya.

  • Menghindari paparan sinar matahari langsung secara berlebihan pada pukul 10.00-15.00. Terlalu sering terpapar sinar matahari dapat membuat kulit mengalami penuaan lebih cepat. Berkurangnya jaringan elastin dalam kulit menimbulkan kerutan serta bercak-bercak hitam pada daerah yang sering terpapar. Hmmm… baca bagian ini saya manggut-manggut, terjawab ya kenapa seiring bertambahnya umur atau mereka yang lebih banyak terkena sinar matahari terdapat bercak hitam. Kebanyakan yang saya lihat di wajah mungkin karena wajah tak terlindungi secara langsung. Top tips menggunakan tabir surya SPF 30, atau menggunakan pelindung topi atau payung.
  • Minum banyak air. Ini sepele tapi saya paling malas padahal manfaat minum air putih sangat banyak manfaatnya. Sekedar cerita di kehamilan pertama saat usia kandungan sekitar enam bulan saya kekurangan cairan ketuban. Untunglah segera terdeteksi saat USG. Penyebabnya kurang minum air. Jangan ditiru ya. Sedangkan untuk tubuh yang terhidrasi baik dengan banyak minum air akan menghindarkan dari kulit kusam dan kering. Bold buat saya 😀
  • Rajin membersihkan kulit wajah. Sembari mengingatkan diri sendiri sih, kalau habis pergi tuh, apalagi kalau sudah malam, bawaannya langsung pingin tepar malas mencuci muka padahal debu jalanan maupun kotoran banyak yang menempel. Terkadang membersihkan dengan air saja tidak cukup. Banyak kotoran, minyak, keringat, mikroorganisme, sel yang mengelupas dari kulit, dan polutan lainnya. Karenanya, kita bisa memilih sabun pembersih wajah yang aman dan lembut sesuai jenis kulit.
  • Menggunakan pelembab. Tujuan pelembab yaitu membantu meningkatkan dan mempertahankan hidrasi kulit, memperbaiki fungsi sawar kulit, dan melindungi lapisan kulit. Nah, saran dari dr. Meily tetap gunakan pelembab sesuai tipe kulit dan bagi yang sensitif gunakan pelembab hipoalergenik. Kalau saya lagi belajar memakai pelembab tapi itu tadi ga telaten haha…
  • Menggunakan krim malam. Krim malam digunakan pada malam hari dan sebaiknya digunakan mulai umur 30 tahun. Krim malam akan membantu kulit beregenerasi. Beberapa kegunaannya adalah menstimulasi produksi kolagen, menutrisi kulit, membantu kelainan hiperpigmentasi (contohnya bercak coklat dan hitam pada wajah), dan membantu mengurangi kerutan halus. Perhatikan ya krim malam akan berbeda pada Anda usia 20, 30-40, 50-60 tahun.
  • Mengonsumsi anti oksidan. Anti oksidan bisa didapatkan dengan mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian, sayuran, dan ikan. Makan secara teratur setiap hari dapat melindungi sel tubuh dari radikal bebas dan melawan penuaan.
  • Menggunakan serum vitamin C. Vitamin C dapat membuat kulit lebih cerah karena menghambat pembentukan pigmen warna. Selain itu juga akan meningkatkan dan merangsang produksi kolagen kulit yang membantu mempertahankan elastisitas kulit sehingga mengurangi kerutan halus.
  • Menghindari kebiasaan tidak sehat. Kebiasaan minum alkohol dan merokok dapat mempercepat penuaan. Begitu juga dengan kurang tidur dan stres. Sehingga usahan tidur minimal delapan jam setiap hari agar tubuh dan otot lebih rileks.

Tipsnya sederhana ya, murah dan tidak mengeluarkan biaya mahal. Kuncinya disiplin dan jangan malas. Haduh jangan malas ya… Jangan sering coba-coba make up malah bisa merusak kulit wajah. Kembali lagi, baca dulu petunjuk dan aturan pakai, apakah cocok dengan kulit kita atau tidak? Sebab cocok untuk A belum tentu cocok untuk B.

Oke, semoga bermanfaat. Punya tips lain share juga, yuk 🙂

Diposkan pada Artikel

Tips Lulus Passing Grade Ujian CAT CPNS

Hi…

Saya muncul lagi setelah agak lama vakum. Alasannya fokus mempersiapkan diri untuk ujian CAT. Salah satu tahapan mengikuti CPNS 2017. Usai dinyatakan lolos berkas administrasi peserta CPNS dipanggil mengikuti tahap berikutnya yaitu Tes Kompetensi Dasar (TKD) berbasis komputer secara online atau Computer Assisted Test (CAT).

Memang sih agak momok tersendiri TKD yang terdiri dari Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelejensia Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) ini ditambah beban passing grade yang lumayan. Sesuai Permenpan RB No 22 Tahun 2017 tentang nilai ambang batas TKD CPNS tahun 2017 yaitu TWK 75, TIU 80, dan TKP 143.

Jumlah soal TKD ini secara keseluruhan ada 100 soal terdiri dari TWK 35 soal, TIU 30 soal, dan TKP 35 soal yang dikerjakan dalam waktu 90 menit. TWK merupakan tes yang mengujikan wawasan kebangsaan bagi peserta CPNS yang meliputi empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TIU mirip soal potensi akademik ujian masuk perguruan tinggi negeri sedangkan TKP semacam psikotes.

Sistem CAT diterapkan agar penerimaan CPNS jauh dari praktek PUNGLI, transparan, dan menjaring sumberdaya terbaik. Karena itu, usai mengikuti tes ini skore pun akan langsung keluar sehingga peserta akan mengetahui lolos passing grade atau tidak. Saya sendiri awalnya tidak mau melihat skore karena takut tidak lolos tapi begitu waktu habis soal akan menutup sendiri dan langsung keluar rekapitulasi data kita dan skore ujian. Tarara… Saya syok, kaget, dan langsung berucap alhamdulillah… Saya lolos dengan nilai tidak mepet-mepet banget mengingat persiapan saya yang ya…ibu rumah tangga dengan dua batita tanpa pengasuh…bisa dibayangkan^^

Nah, untuk yang akan mengikuti tes ini, berikut tips dari saya supaya bisa lolos juga ya.

  • Banyak latihan soal. Kalau fresh graduate mungkin masih manjur metode menghafal ya. Tapi kalau yang sudah bekerja atau seperti saya mungkin banyak latihan soal akan sangat membantu. Saya sendiri tidak membeli buku latihan soal CPNS. Namun, kebanyakan download dan belajar dari contoh soal SNMPTN milik adik. Latihan soal ini menurut saya lebih efektif karena kita bisa mengetahui berbagai model soal daripada menghafal. Kalau menghafal materi kita kan sangat luas berbeda dengan ujian sekolah atau kuliah yang sudah ditentukan materinya. Lagipula banyak blog yang memposting contoh soal-soal CPNS.
  • Sering ikut simulasi CAT BKN. Karena yang memfasilitasi Ujian CAT ini adalah Badan Kepegawaian Negara (BKN) maka jangan sungkan “menengok” website-nya ya. Kita bisa ikut simulasi CAT secara gratis hanya cukup mendaftarkan email dan mengisi nomor KTP. Saran saya jangan cuma sekali tapi berkali-kali. Sebab, soal antara simulasi pertama dan berikutnya berbeda meski ada beberapa yang sama. Simulasi ini akan membiasakan otak kita dengan sistem CAT dan tentunya mengetahui model soal. Jadi sewaktu dihadapkan dengan CAT yang sesungguhnya kita sudah terbiasa dan tidak gaptek atau shock terlebih dahulu. Setelah dinyatakan dipanggil TKD ada jeda dua minggu untuk ujian CAT. Saya melakukan simulasi CAT sebanyak lima kali dan tidak ada yang lolos passing grade wahaha…
  • Yakin Kamu adalah Pemenang. Ada suatu pepatah saya lupa lengkapnya, kurang lebih ketahui medannya, jika kamu sudah merasa yakin lawanlah, maka dalam setiap pertempuran kamu akan memenangkannya. Yakin adalah suatu upaya psikologis agar otak kita merespon hal yang sama dan berusaha mewujudkannya. Psikis dan Mental sangat penting dalam ujian CAT. Sugesti positif akan sangat membantu agar dorongan semangat dan berpikir lebih lancar saat mengerjakan soal. Berbeda dengan orang pesimis, soal mudah pun akan terasa rumit karena otak sudah diajak untuk berpikir negatif.
  • Minta Restu Orang Tua dan Suami (kalau sudah menikah). Sebelum ujian saya menelpon bapak untuk minta do’anya tak lupa tentu ibu yang pasti terlebih dahulu. Meski do’a ibu adalah mustajab, jangan sepelekan do’a ayah ya. Terkadang usai kita minta restu, ayah akan memberi wejangan dengan logika-nya berbeda dengan ibu yang cenderung menggunakan sisi emosi. Jadi agar seimbang otak kita dalam menerima nasehat dan tentu saja karena kita wajib berbakti pada ibu dan bapak bukan ibu saja. Ketika menikah, ridho Alloh jika suami ridho, dari sejak memutuskan ingin mendaftar CPNS, saya melibatkan suami. Toh, saya bekerja bukan untuk mencari nafkah apalagi menggantikan posisinya. Saya ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku sekolah maupun kuliah atas jerih keringat orang tua saya agar berkah dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan bangsa. Juga ingin menjadi teladan bagi anak-anak saya. Beruntung, suami mengantar dan menunggui ujian, sebelum masuk ruang ujian saya kembali memohon doa darinya. Meresap banget lho ke hati dan sangat berperan dari sisi psikis. Terima kasih Ibu, Bapak, dan Suami senantiasa mendoakan yang terbaik bagi saya.
  • Pasrah dengan Yang Maha Kuasa. Setelah usaha dan ikhtiar telah dilakukan pasrah kepada Alloh SWT. Karena sepintar apapun kita, tanpa campur tangan-Nya, kita bukanlah apa-apa. Selalu memohon pertolongan dari-Nya dan mengingat-Nya dimanapun dan kapanpun kita berada. Sebelum ujian berdoa terlebih dahulu begitu pula setelahnya dan di sela-sela ujian, selalu berdzikir pada-Nya.
  • Manajemen waktu. Karena jumlah soal ada 100 dan waktu 90 menit berarti satu soalnya harus dikerjakan kurang dalam satu menit. Kerjakan yang mudah dulu. Lewatkan soal dengan paragraf panjang karena ini sangat memakan waktu. Sayang kan kalau waktu habis sebelum semua soal terbaca padahal bisa jadi setelah soal dengan paragraf panjang kamu bisa menjawab dengan jawaban yang benar. Terlalu lama di satu soal juga akan membuat kita bisa lebih panik begitu melihat waktu. Jadi kalau saya ya kerjakan yang mudah, baru berdasarkan tingkat kesulitan. Kalau mengerjakan paling sulit dulu takutnya energi kita keburu habis di soal tersebut dan malah soal yang mudah kita jadi kehilangan fokus dan tidak konsentrasi.

Semoga tips saya bermanfaat ya. Keep fight meraih impianmu. Jangan jadikan keadaan menjadi alasan yang menghalangi mewujudkan mimpi. Oia, salah satu teman saya yang lebih dahulu menjadi CPNS memberi nasehat, sing penting sinau, ga sinau, rugi, adoh-adoh, kesel awak (yang penting belajar, ga belajar rugi, jauh-jauh, capek badan). Kalimat itu menjadi cambuk bagi saya.

Meski sudah lolos, bukan berarti saya hip hip hura, karena saya masih harus menunggu dipanggil tes tahapan berikutnya, yaitu Tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Do’akan semoga saya dipanggil di instansti yang saya daftar ya, nanti saya akan share lagi pengalaman saya 😀

Ada yang ikut CPNS 2017 juga, share yuk!

Halten Geist!!!

Diposkan pada Artikel, Echi's Wife, ODOP

#ODOP23 Tips Melahirkan Normal

Melahirkan secara normal merupakan dambaan setiap ibu. Sebab, pemulihan seorang ibu lebih cepat, begitu juga ASI dipercaya lebih lancar. Kecuali untuk keadaan darurat demi menyelamatkan ibu dan bayi, persalinan melalui operasi sesar memang dibutuhkan.

Waktu kehamilan pertama banyak yang menyangsikan, saya dapat melahirkan secara normal. Fisik saya yang kecil dengan tinggi badan sekitar 150 sentimeter penyebab utama keraguan tersebut.

Agar bisa melahirkan secara normal. Persiapan-persiapan yang saya lakukan di antaranya:

  • Latihan napas. Saat melahirkan normal kita harus mengejan. Nah, saat mengejan ini kita butuh napas yang panjang. Sering – sering latihan napas panjang atau bisa dengan berjalan kaki.
  • Senam hamil. Iku kelas senam hamil mungkin lebih baik. Tapi kalau saya dulu hanya mengikuti petunjuk di buku pink dari bidan dan mencari di internet. Senam ini akan membantu mempersiapkan otot-otot yang berhubungan dengan kelahiran normal.
  • Banyak berdoa dan bersujud. Kalau kita Muslim, sujud dalam sholat secara ilmiah sudah terbukti akan membantu posisi bayi sempurna yaitu kepala di bawah. Saat sujud pula kita disarankan banyak berdoa karena waktu itu adalah waktu kita terdekat dengan Alloh.
  • Sering mengobrol dengan jabang bayi. Sejak dalam kandungan saya suka bicara sama anak. Misalnya kalau sudah waktunya lahir yang lancar ya, saling menguatkan sama ibu ya… dan sebagainya. Ini juga bisa menghilangkan stress atau rasa khawatir jelang waktu melahirkan lho,Bund.
  • Minta restu ibu dan suami. Jika masih mempunyai ibu, doa ibu adalah yang terbaik. Kalau ibu sudah meninggal jangan  berkecil hati. Karena setelah orang tua, saat kita sudah menikah, ridho Alloh jika suami sudah ridho. Saya sering meminta suami mendoakan saya dan anak. Jangan sungkan ya sama suami sendiri. Toh, kita sudah setuju dipinangnya seumur hidup.
  • Mantapkan niat dan tekad. Ada senior waktu di kampus yang menjadi contoh saya. Pinggangnya lebih kecil dari saya. Dia sudah divonis kelahiran sesar. Tapi, dengan niat dan tekad yang kuat ia akhirnya bisa melahirkan normal. Di kesempatan terakhir yang diberikan bidan, anak pertamanya lahir dengan sehat. Ibunya juga.

Alhamdulillah dengan melakukan hal tersebut, kedua anak saya lahir dengab normal. Dua-duanya lahir di bidan desa dengan kelahiran normal dan waktu bersalin yang lancar.

Tidak ada yang memungkiri rasa sakit seorang ibu yang hendak melahirkan. Namun, semua rasa sakit dan lelah tersebut akan terbayar dengan jerit tangis bayi yang lahir. Kemudian saat bidan meletakkannya di dada kita untuk di Inisiasi Menyusui Ini (IMD). Saat tangan kita menyentuh tubuh mungil darah daging kita.

Bunda sedang hamil, semangat ya. Semoga tips saya bisa membantu. Jangan mengeluh karena anak adalah amanah 🙂

images (1)
Sumber: Kumpulan Doa Pilihan

 

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Mencari Stalagtit Penghasil Bunyi Gooongg

“Senternya… Di dalam gelap!” Para tukang penyewaan senter itu segera menghampiri kami. Mereka berebut setiap wisatawan tampak berkunjung. Mencoba mengais rezeki bermodalkan senter penerang kegelapan. Kami menolak halus dan berlalu dari satu ke yang lainnya.

Hujan menyambut kami, saya dan suami begitu tiba di pelataran Goa Gong. Goa terindah di Asia Tenggara. Ikon Kota seribu satu goa, Pacitan. Sudah lewat duhur kami sampai usai menikmati merdunya Seruling Laut di Pantai Klayar. Takut keburu senja, kami segera meniti anak tangga menuju Gua Gong. Melewati dua patung penjaga, kalau tidak salah namanya patung gandapura. Patung penyambut yang biasa terdapat di candi. Kadang juga dijumpai di rumah maupun hotel penganut atau pecinta Jawa kuno.

jalan di dalam goa gong
Goa Gong (Foto: Wisata Kita)

Begitu memasuki lorong gua, ornamen gua yang cantik segera menyambut kami. Stalagtit yang tergantung dan stalagmit yang menjulang dipendar warna warni lampu bak pelangi. Menyusuri lorong gua sedalam kurang lebih 256 meter ini jalurnya sudah memadai. Guanya pun tak benar-benar gelap, beberapa lampu pijar membuat dalam gua temaram. Sehingga wisatawan bisa masuk sendiri meski pemandu tetap akan merayu menjajakan dongengannya.

Tak seperti keberadaan candi yang biasanya ditemukan oleh orang asing misalnya Candi Borobudur di Magelang yang ditemukan oleh Thomas Stanford Raffles, gua ini ditemukan oleh dua orang penduduk lokal. Namanya Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo sekitar tahun 1930. Mereka hendak mencari mata air karena kondisi Dusun Pule saat itu dilanda kemarau panjang. Berdasarkan sumber cerita dengan menggunakan obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang diikat, mereka mencoba menelusuri lorong-lorong gua. Setelah menghabiskan tujuh ikat obor, mereka menemukan beberapa sendang dan mandi di dalamnya.

Batu Gong-nya Dimana?

Goa ini dinamakan Goa Gong karena berdasarkan pengakuan masyarakat konon sering terdengar bunyi gong dari dalam goa ini. Gong alat tetabuhan musik Jawa yang bila dipukul akan memantulkan bunyi gooonggg dengan cukup keras.

Secara ilmiah suara mirip gong yang didengar oleh masyarakat sekitar merupakan bunyi tetes-tetes air yang jatuh di dasar gua. Suara tersebut kemudian bergema dan menyerupai bunyi gong. Namun, tak ada salahnya mencoba mencari batu gong kan ya?

Kami pun penasaran mencari batu gong tersebut. Kami mulai menuruni anak tangga yang cukup curam. Di dalam gua pun dibagi dalam beberapa ruang yang sudah ditandai dan terlihat jelas. Meski fasilitas tangga sudah baik dan berpagar pembatas dari besi tapi tetap harus berhati-hati. Terlalu asyik mengagumi fenomena alam ini bisa membuat kita terlena dan tergelincir. Batuan di dalam gua ini memiliki ujung-ujung yang lancip sehingga jika terkena bisa merobek kulit. Namun, batuan yang merupakan endapan beberapa mineral ini sangat keras tidak rapuh. Meski begitu kita tidak boleh sembarangan memegang. Sayang kan kalau kotor dan mengurangi nilai keindahan maupun estetikanya.

keindahan goa gong (1)
Ornamen Goa Gong ( Foto: Wisata-Kita.com)

Sembari menuruni anak tangga, ornamen yang terbuat dari karst, kristal, dan marmer membuat takjub. Keberadaan ornamen di dalam Gua Gong membuatnya menjadi gua terlengkap di Jawa. Siapapun pasti terpesona. Karena bingung mendiskripsikannya mengutip artikel Goa Gong, Keajaiban Dunia dari Pacitan, salah satu keindahannya adalah menyerupai gorden dengan bintik-bintik seperti mutiara di dalamnya. Beberapa stalagtit dan stalagmit pun diberi nama yaitu Cello Giri, Selo Citro Cipto Agung, Cello Pakuan Bomo, Cello Adi Citro Buwono, Cello Bantaran Angin dan Cello Susuh Angin.

Saat musim hujan seperti kunjungan kami di awal Januari ini, kita bisa menyaksikan proses pembentukan stalagtit dan stalagmit dari rembesan air tanah yang menetes ke dalam gua. Stalagtit adalah endapan yang menggantung di atas atap gua sebaliknya stalagmit adalah yang lancip ke atas. Tetes-tetes air ini terus mengendapkan kalsium yang dibawanya sehingga batu di dalam Gua Gong merupakan batu hidup yang bisa bertambah panjang 0.3-1.3 milimeter per tahun.

Begitu sampai di dasar gua, saking penasaran dengan batu gong, suami hampir menepukkan dengan tangan ke setiap batu. Saya pun menguntit setia sambil ikut penasaran. “Jadi yang mana? Yang itu mungkin?”

Yeayyy… yayy… di ruangan Batu Gong inilah penghasil suara tersebut. Suami pun mencoba menepukkan tangannya. Goonggg…suara pun bergema. Seulas senyum tersungging di bibir kami.

bebatuan goa gong
Stalagtit di Gua Gong (Foto: Wisata Kita)

Mitos sendang penyembuh penyakit.

Ada apa selain stalagtit dan stalagmit? Selain banyaknya stalagtit dan stalagmit, terdapat lima sendang yang dipercaya mengandung magis yang dapat menyembuhkan penyakit. Diantaranya Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Relung Nisto.

Selain sendang tersebut terdapat juga sendang bidadari. Konon beberapa orang melihat penampakan gadis cantik di sekitar lokasi ini. Mistis juga ya? Penasaran mau wisata horor boleh juga lho di tempat ini. Kalau saya pribadi langsung angkat tangan.

Ya, bau-bau mistis gua dan letaknya yang tersembunyi biasanya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk bertapa dan mencari pesugihan. Kalau Temans di era digital ini masih percaya dengan pesugihan yang membuat kita kaya?

Oleh-oleh

Berkunjung di Goa Gong, cindera mata yang banyak ditawarkan adalah batuan. Batu-batu semacam batu akik banyak dijual di sini. Kalung dengan bandul batu mirip bola dunia itu begitu memikat. Batu warna-warni yang akan mengkilap dalam gelap. Dan tak lupa oleh-oleh batu bandul buat ibu. Eitsss…tapi bukan batu enteng jodoh maupun pembawa berkah ya?

Bicara soal harga, jangan khawatir, sangat terjangkau. Sebab langsung ke perajin batunya. Tak ada salahnya mencoba menawar terlebih dahulu. Selain membeli kita juga bisa menyaksikan mereka saat berkarya mengubah batu-batu jadi bernilai ini secara langsung.

Bagaimana ke sana?

Lokasinya berada di Dusun Pule, Bomo, Kecamatan Punung sekitar 30 kilometer dari jantung kota Pacitan atau 10 kilometer sebelum Pantai Klayar. Bisa naik kendaraan umum maupun naik kendaraan pribadi.

Atau mencoba seperti kami yang berangkat dari Klaten naik sepeda motor. Dari Klaten kami mengambil arah Wonogiri. Mulai dari Wonogiri perjalanan mulai berliku khas kota pegunungan. Dari kota waduk Gadjah Mungkur ini, kami langsung menuju Pacitan dengan berbekal plang tanda penunjuk arah dari Dinas Perhubungan. Tak hanya di lokasi wisata, julukan Paradise of Java memang pantas menyemat untuk Kota Pacitan. Ciri khas kawasan karst layaknya Gunung Kidul dan Wonogiri akan menyuguhkan sajian panorama yang amazing. Jika Temans mau berkunjung naik mobil, usahakan jangan tidur selama perjalanan. Selamat mencoba!

Screenshot_2017-08-13-10-05-26-1

Belum ke sini? Ke sini, yuk! Sudah ke sini? Ke sini lagi, yuk! Sharing cerita perjalanan Temans juga ya^^

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Menantikan Merdunya Seruling Laut

Deburan ombak menghantam batuan karang. Dedaunan kelapa berdesir diembus angin. Paduan sempurna membentuk nada-nada indah. Nyanyian gelombang di tepi Pantai Klayar. Sihir seruling laut nan memikat pelancong.

Pntai-Klayar.jpg
Pantai Klayar (Foto: wisataindonesia77.blogspot.co.id)

Pagi-pagi benar, saya dan suami sudah tiba kembali di Pantai Klayar. Sebelumnya, kami datang kesorean dan hanya bisa menikmati sunset. Meski kurang sempurna karena tertutup gerombolan mega mendung. Kami tak berniat mengejar sunrise tapi penasaran menantikan merdunya seruling laut. Celah-celah batu karang yang mengeluarkan bunyi. Mix ciamik antara angin, air, dan gelombang yang menyembur laksana air mancur instan.

Untuk bisa menikmati karang-karang penghasil nyanyian ini, dari jalan masuk utama, ambil arah ke sebelah kiri sampai mentok. Letaknya di sisi timur atau ujung timur Pantai Klayar. Kita akan melewati pantai datar yang relatif tenang sebelum sampai ke lokasi pasir putih dengan ombak khas pantai selatan. Gelombang-gelombang besar akan bergantian datang menghantam karang-karang. Ya, sekitar 200 meter dari awal berjalan. Selamat, Temans sudah sampai di karang penghasil nyanyian gelombang!

Kalau seperti yang saya tonton di acara Jejak Petualang, paling asyik menikmati pancuran hasil air laut yang menembus celah karang ini dari puncak bukit. Sedikit berolahraga mendaki tebing yang ada di sekitar. Di sini akan terlihat jelas pancuran air yang bisa mencapai tinggi 15 meter saat air pasang.

Kalau ingin mendekat harus menunggu air surut lalu menaiki karang yang licin dan berbahaya. Di sepanjang jalur menuju seruling laut dipasang tangga dan pagar pembatas seadanya. Selain itu, juga terdapat bendera di titik-titik rawan. Tidak disarankan menuju lokasi tanpa pemandu. Kami ingin mendekat tapi karena pantai masih sepi dan tidak ada tanda-tanda guide, nyali kami ciut juga. Bagaimana kalau gelombang tiba-tiba menyapu kami tanpa seorang pun tahu. Nekad yang konyol itu namanya.

seruling-samodra-di-tebing-karang-pantai-klayar.jpg
Seruling Samudra (Foto: Jejak Piknik)

 

Tidak bisa melihat seruling laut dengan dekat tidak usah berkecil hati. Di hamparan pasir putih yang terapit karang ini kita bisa menikmati gulungan ombak yang besar, kalau saya baca-baca ombak di sini bisa juga untuk mereka yang ingin berselancar. Namun, kami tak melihat para peselancar ini mungkin waktunya yang tak pas. Ombak besar yang tingginya bisa empat meteran dari tengah laut itu perlahan memecah menuju kaki-kaki kami. Gelombang yang membuat takjub itu sampai juga menjadi riak membawa karang-karang kecil yang telah remuk menjadi butiran pasir.

Sejauh mata memandang ke depan samudra biru membentang dinaungi atap langit biru. Sejauh telinga mendengarkan, irama musik hasil tiupan seruling laut dipadu nyangian alam menjadi soundtrack menikmati panorama laut. Tak lupa, keindahan disimpan dalam hati. Maha karya sempurna dari Sang Pencipta yang wajib disyukuri dan dijaga selawasnya. Sempurna.

pacitan1.jpg
Pantai Klayar sisi barat (Foto: kabar24.bisnis.com)

Meskipun tidak ada larangan bagi siapapun datang ke pantai Klayar, menurut saya paling pas untuk mereka yang ingin pacaran halal atau honeymoon seperti saya waktu itu. Lokasinya masih lumayan sepi asal datangnya tidak berbarengan waktu liburan. Bisa juga untuk yang merencakan piknik keluarga. Pantai Klayar bisa mengakrabkan keluarga misalnya dengan kemah atau makan bersama. Saling bercengkerama dalam suatu waktu akan memperatkan hubungan bukan? Dan study tour, layaknya pantai-pantai di Gunung Kidul, pantai ini juga merupakan pantai di kawasan karst. Sehingga sangat cocok bagi mereka yang ingin belajar tentang geologi atau belajar mengenai teori pengangkatan laut menjadi daratan jutaan tahun lalu. Di salahsatu sisi pantai ini juga terdapat tanda kalau pantai ini merupakan situs geologi. Jadi teringat lagi jepretan foto-foto kami yang tak tersisa, semua moment hanya bisa terekam dalam memori.

Saya tidak menyarankan bagi yang berfisik lemah, orang yang sudah lanjut, atau yang membawa balita. Karena ya alasan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Ada beberapa tanjakan dan turunan. Saya sih mau banget datang ke sana kembali. Namun, tunggu Namiya dan Oziel bisa diajak piknik dulu. Saya bisa menikmati, mereka pun juga.

 

Cara lain menikmati Pantai Klayar. Kalau kamu memutuskan ke Pantai Klayar banyak kok yang bisa dieksplor. Di antaranya bisa mendaki bukit di sisi kanan dari jalan masuk. Tenang, anak tangga sudah di beton cuma tarik nafas dulu ya. Cukup menguras energi juga mendaki. Sesudah tiba di puncak bukit, terdapat gasebo yang bisa untuk bercengkerama dan menikmati lansekap Pantai Klayar dari atas. Gradasi perubahan warna dari Samudra Hindia hingga tepi pantai, warna yang bisa menginsipirasi siapapun yang ingin mencipta karya. Pemandangan di sebelah kiri adalah garis pantai Klayar dengan lambaian nyiur di sisinya. Dan, pastinya memandang karang-karang seruling laut yang disebut juga bentuknya mirip sphink atau patung singa di Mesir. Sphink ini juga dikenal juga dengan nama Watu Lumbung.

bukit-dan-pepohonan-yang-memperindah-pantai-klayar.jpg
Garis Pantai Klayar (Foto: Jejak Piknik)

Menyeruput kelapa hijau di warung-warung warga. Usai menikmati pemandangan dari atas bukit, degan ijo adalah minuman pas pelepas dahaga. Air kelapa hijau yang manfaatnya sudah tidak diragukan lagi. Dipercaya bisa mengganti ion-ion tubuh yang hilang . Apalagi degan ini belum melakukan perjalanan panjang ke kota ya, masih habis dipetik. Segarnya. Sruputtt!

Berjalan-jalan di atas batu berkarang. Di sini bisa belajar makhluk laut seperti ikan, bintang laut (Echirnodenata), kerang-kerangan (Mollusca), rumput laut, dan lain-lain. Namun, tetap waspada ya saat melangkah takut terjebak di antara karang. Paling pas menikmati saat air surut sehingga binatang-binatang terjebak di antara karang.

Mengenal budaya sekitar. Ketika berwisata ke suatu tempat tidak cukup hanya dengan datang, kagum, berfoto, kuliner, lalu pulang. Kalau bisa saya sendiri sih setidaknya mengobrol dengan satu orang penduduk asli bisa juga penjual di warung-warung. Dari obrolan ini biasanya kita akan lebih bersyukur pada diri kita sendiri. Belajar menghargai orang dan banyak makna perjalanan yang akan kita dapatkan. Misalnya kita belajar nama asal usul tempat. Klayar dinamakan dari istilah klayar kluyur yang artinya jalan-jalan.

Mitos di Pantai Klayar, Sumur Pembawa Berkah?

Layaknya cerita-cerita keangkeran Laut Selatan, Pantai Klayar juga mempunyai mitos sendiri. Tebing-tebing batuan bukan semata-mata terjadi akibat abrasi tapi dipercaya masyarakat terbentuk dari perang gaib penguasa Laut Cilacap yang ingin menguasai Pantai Klayar. Di balik tebing-tebing batu terdapat tiga sumur yang dipercaya membawa berkah, yaitu sumur sunyarata, cindelaras, dan satu sumur besar.  Dengan membasuh muka dengan air tersebut dipercaya dapat memancarkan aura kebaikan. Kalau Temans percaya?

Bagaimana ke sana?

Lokasi Pantai Klayar terletak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Pacitan, Jawa Timur berbatasan dengan Wonogiri, Jawa Tengah. Tepatnya di Kalak, Sendang, Donorejo. Untuk menuju Pacitan bisa melalui Yogyakarta dengan jarak tempuh sekitar 110 kilometer melalui Gunung Kidul-Wonogiri-Pacitan. Kalau dari arah Semarang (utara) bisa masuk lewat Solo-Wonogiri-Pacitan kurang lebih berjarak 100 kilometer. Sedangkan dari arah timur melalui Ponorogo-Pacitan dengan jarak kurang lebih 110 kilometer. Paling enak menggunakan kendaraan pribadi. Jalanan menuju Pantai Klayar bisa dikatakan memicu adrenalin. Jalanan menanjak, berkelok, menikung, dan turunan khas pegunungan. Jangan sampai terlena dengan pemandangan di sisi kiri kanan jalan ya. Kalau mau naik kendaraan umum, bisa naik bus ke Pacitan. Untuk menuju ke Pantai Klayar dengan naik ojek, bak terbuka, dan mobil matuk, mobil yang mengantar-jemput mereka yang pergi ke pasar.

Screenshot_2017-08-12-07-34-57-1

Dimana bermalam? Di Pacitan rasanya sayang kalau tidak memutuskan menginap. Perjalanan yang cukup jauh harus dibayar tuntas di sini. Kalau ingin mencari hotel dengan fasilitas lengkap terdapat di pusat kota. Namun, kalau ingin dekat dengan lokasi wisata, pilihan utama adalah homestay penduduk. Kalau kami waktu itu memilih menginap di rumah warga, keramahan penduduknya membuat kami kepincut untuk membaur bersama. Sangat terjangkau, satu kamar dengan dua bed lengkap dengan televisi plus satu kamar mandi bonus sarapan hanya 100 ribu per malam. Itu harga tahun 2014 ya.

 

Gimana keindahan Pantai Klayar, ciamik kan? Segera buka kalender cari dan tandai tanggal yang pas. Yuk, dengarkan sendiri seruling lautnya 🙂

 

” Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Pacitan Paradise Of Java yang diselengarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pacitan”

 

 

Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Borobudur International Festival 2017, Momentum Kembalikan Kejayaan Nusantara di Mata Dunia

Nenek moyangku orang pelaut,

gemar mengarung luas samudra,

menerjang ombak tiada takut,

menempuh badai sudah biasa.

Lagu ini diciptakan bukan untuk dongeng-dongengan semata. Tidak hanya Marcopolo, Vasco da Gama, Laksamana Cheng Ho, pelaut-pelaut Bugis pun melakukan petualangan melintas samudra dan benua. Hanya sayangnya, mungkin saat itu pelaut nusantara tidak gemar menuliskan petualangan sehingga kurangnya catatan sejarah. Negara kepulauan dengan pelaut-pelaut gagah berani juga membuat Indonesia menyemat Negara Maritim. Sebuah slogan yang kembali digaungkan Presiden Joko Widodo. Tak tanggung-tanggung untuk mewujudkannya dipilih Menteri Kelautan dan Kemaritiman yang tegas dan pemberani asal Pangandaran Ibu Susi Pudjiastuti. Tanpa ragu, beliau akan meledakkan dan atau menenggelamkan kapal asing yang melakukan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

Bukti lain kalau penduduk Nusantara gemar berlayar adalah dengan adanya relief kapal di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Saking indahnya, mantan Angkatan Laut Inggris Phillipe Beale yang berkunjung ke Borobudur tahun 1982 ingin membuat kapal serupa dan melakukan ekspedisi seperti yang dilakukan pelaut Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, cita-cita kapal dengan bahan baku kayu tersebut baru terwujud. Kapal mulai berlayar menjelajah Samudra Hindia hingga wilayah Afrika. Jika ingin melihat kapal tersebut dan menelisik lebih lanjut jalur ekspedisi kayu manis bisa berkunjung ke museum dengan nama yang sama, Museum Kapal Samudraraksa di kompleks Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah.

Kapal Samudraraksa

DSCN0375
Kapal Samudraraksa (Foto by berbagifun)

Jika orang asing saja tertarik dengan sejarah masa lampau Indonesia bahkan rela merogoh kocek, tenaga, dan pikiran untuk membuat replikanya dan merasakan “sensasi”nya, bagaimana dengan kita sebagai generasi muda?

Event International Festival Borobudur (IBF), 28-30 Juli 2017, mengusung Pesona Borobudur di Mata Dunia secara tidak langsung akan menyorot Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi Budha yang setiap Hari Raya Waisak dilaksanakan perayaan tapi bukan berarti candi ini hanya milik umat Budha saja. Candi Borobudur juga menjadi cermin kebhinekaan toleransi antar umat beragama di negara yang mayoritasnya Muslim ini. Sudah selayaknya kita tidak cukup hanya bangga, tapi juga menjaga dan merawat Warisan Budaya yang sudah diakui UNESCO tahun 1991 yang juga menjadi salahsatu dari tujuh keajaiban dunia ini.

Bagaimana kita mengambil hikmah dari peninggalan nenek moyang di abad 8 pada masa Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra ini, apakah kita harus membangun bangunan serupa? Tentu tidak. Tapi, setidaknya saya pribadi akan berkata, jika pada zaman dahulu sebelum teknologi dan era sebegitu mudahnya seperti sekarang bisa tercipta bangunan sedemikian megah, bangunan tanpa semen hanya dengan menyusun batu, lalu apa karya kita di masa sekarang?

Terlepas dari kekurangan manusia, di era Presiden Soeharto, beliau menggaungkan Indonesia menjadi salahsatu “Macan Asia”, hal ini salahsatunya diwujudkan oleh Pak BJ Habibie lewat pesawat-pesawat ciptaannya seperti N250 melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara, kala itu. Sebagai rakyat Indonesia, tentu kita akan bangga tinggal di negara maju. Tidak hanya itu, tapi di negeri yang baldatun thoyyibatun warobun ghofurrun. 

Borobudur, Negeri Kahyangan; Indonesia. Negeri Kaya dan Damai

Candi Borobudur dari Puncak Bukit Suroloyo (foto by panduanwisata.com)

Pernah mendengar Indonesia disebut-sebut sebagai Atlantis yang hilang? Ilmuwan asal Brasil Aryos Santos setelah melakukan penelitian selama 30 tahun menyebutkan Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Dalam buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” ditampilkan 33 perbandingan seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Terkait cara bercocok tanam bersawah, konon ini berasal dari Indonesia dan disebut pula dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 14 sebagai al harats. Para ahli sejarah percaya percaya bahwa nasi atau beras yang mudah penanamannya, peradaban awalnya berasal dari Nuswantarah (nama kuno Indonesia) sekitar 10.000-9.000 tahun yang lalu. Kemudian menyebar seiring penyebaran manusia  dan ditanam di kawasan tinggi Himalaya, daratan Thionghoa, Eropa Timur, Australia Barat, Afrika, dan Amerika. Karenanya, selain menyandang negara maritim, Indonesia juga menyemat Negara Agraris. Subhanallah sekali ya negara kita.

Karena itu, sudah selayaknya kita mengembalikan kejayaan Indonesia salah satunya melalui pesona Borobudur di mata dunia. Tidak usah berpikir rumit, ya, semua bisa mulai dari yang kecil misalnya dengan keahlian dan ketrampilan kita. Misalnya menulis seperti ini, buat Indonesia bangga karena melahirkan kamu. 

Terlepas fakta atau tidak, sematan benua atlantis yang hilang tidak boleh membuat generasi muda terlena. Saat ini kebutuhan travelling sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Misalnya saat mengunjungi Candi Borobudur, kebanyakan wisatawan mancanegara tidak hanya sekedar mengagumi tapi juga meneliti dan melakukan langkah lanjutan. Kita sebagai tuan rumah tentu harus lebih unggul, jangan sekedar ber-selfie. Banyak yang bisa dipelajari di Candi Borobudur dari arsiteknya, mempelajari reliefnya, filosofinya, dan sebagainya. Masa orang lain justru yang mengetahui lebih banyak tentang rumah kita. Atlantis dikenal mempunyai peradaban yang tinggi diantara ciri masyarakatnya yang bisa dicontoh, antara lain:

  1. Kehidupan yang dipenuhi kecerdasan.
  2. Teknologi yang tinggi
  3. Pengobatan yang maju
  4. Pendidikan anak yang ketat

Saya rasanya kok terlalu menggebu-gebu ya menulis tentang Candi Borobudur ini. Mungkin karena dari “zaman” piknik TK – SD, dan saat kuliah sering main ke sini. Saat kuliah tak terhitung berapa kali mengunjungi world heritage ini sebab lokasinya mudah terjangkau, kurang lebih bisa ditempuh satu jam naik sepeda motor. Teman-teman sudah ke sini belum? Yuk, kita napak tilas kejayaan Nusantara dengan berkunjung ke Candi Borobudur?

 

#GenPIJatengBorobudur

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Generasi Pesona Indonesia Jawa Tengah 2017 yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Jawa Tengah

Diposkan pada Artikel, ODOP

#ODOP8 Ibu Hamil Harus Mandi Saat Gerhana Bulan, Mitos atau Fakta?

“Nanti malam jangan lupa mandi pas gerhana bulan,” ucapan bernada mengingatkan dari ibu “senior” itu tiba-tiba menghentikan percakapan kami, tiga ibu muda yang tengah bercengkerama sembari menunggu anak-anak bermain. Kami bertiga saling memandang dan tertawa. Bukan meledek tapi bergurau sehingga tidak ada yang tersinggung. Maklum satu di antara kami ada yang tengah mengandung delapan bulan.

Saya yang belum pernah mendengar mitos ini langsung bertanya, memangnya kenapa? Katanya kalau tidak mandi nanti ada tanda lahir atau bulatan-bulatan gelap di kulit si bayi. Nah, si ibu yang hamil, mengatakan ada empat tanda di kepala anaknya yang sulung (5 tahun) karena waktu tengah kehamilannya tidak mandi. Kebetulan atau memang fakta karena pengaruh gerhana bulan?

Sebagai ibu generasi millenial tentu tidak boleh memakan mentah-mentah informasi ini donk ya. Memanfaatkan google saya mencari tentang mitos ini, belum ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa gerhana bulan menyebabkan cacat pada bayi dalam kandungan saat lahir nanti. Namun, sebagian besar masyarakat Bandung masih mempercayai tradisi dan kepercayaan ini. Seperti dikutip inilah, tahun 2011 malah puluhan ibu hamil mandi bersama saat gerhana bulan.

Karena penasaran, begitu pagi hari dan bertemu teman yang tengah hamil, saya langsung bertanya, “Tadi malam mandi pas gerhana bulan?”

“Iya, setengah dua-an,” jawabnya.

Hmmm… Skip…

Selain searching lewat mesin pencari biasanya saya juga berdiskusi dengan suami. Saya menyampaikan dulu uneg-uneg lalu meminta tanggapan. Bla…bla…bla… kami ngobrol tentang gerhana bulan dan mitos yang baru saya dengar. Tiba-tiba saya berceletuk, “Jangan-jangan tanda lahir di tangan Oziel (anak bungsu saya, 10 bulan) gara-gara tidak mandi waktu gerhana, kalau tidak salah waktu hamilnya kan terjadinya gerhana matahari total.”

Suami langsung tertawa, “Ah…itu mitos!”

Kalau menurut teman-teman bagaimana dengan mitos ini? Memang kadang sedikit susah ya dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat ini terlebih mitos terhadap ibu hamil. Jika tidak menuruti takut sang jabang bayi kenapa-kenapa, kalau diikuti kok tidak masuk akal.

Btw, yang kelewat gak menyaksikan fenomena alam ini, ini penampakan gerhana bulan parsial Selasa, 8 Agustus 2017 sekitar pukul 00.30 WIB-02.15 WIB hasil jepretan suami, @chidarma.

Mitos lain gerhana bulan yang pernah saya alami

Suara kentongan bertalu-talu. Disambung dengan bunyi kentongan yang lain. Bulannya dimakan buto (raksasa jahat).  Pukul-pukul terus kentongannya hinga buto memuntahkan bulan. Kami anak-anak bau kencur terus mendongak ke atas menanti bulan kembali bersinar. Lalu, ketika telah bersinar seperti biasa kami saling berceletuk, itu sudah dimuntahin, iya gak jadi dimakan, iya benar, dan lainnya. Itu ingatan kecil saya saat mendapati gerhana bulan ya sekitar awal tahun 1990-an bersama teman-teman kecil di Klaten.

Ketika telah memasuki era milenium, bergantilah bunyi kentongan menjadi ajakan sholat gerhana berjamaah lewat towa-towa masjid. Di Bandung, tidak hanya mengajak sholat berjamaah tapi lewat pengeras masjid juga bergema takbir layaknya menyambut hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Dini hari tadi Namiya (anak sulung saya) ikut-ikutan menyaksikan gerhana bulan, saya mengatakan kepadanya kalau bulan sedang dimakan buto seperti pemahaman saya saat kecil sambil menggendongnya dan menunjukkan bulan yang mulai tertutup bayangan hitam.

Lalu, apa katanya? “Bulannya dimakan monster, Ibu.” Hadeuuhh

Karena segera sadar tidak ingin memberi pemahaman yang salah, saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana yang bisa ditangkapnya, “Itu bulannya sedang tertutup bumi, makanya sinar matahari gak bisa sampai ke bulan.”

Dia yang baru mau tiga tahun pun menirukan, “Bulannya ketutup bumi ya, Ibu.”

“Iya”

Dan, malah ganti bertanya, “Mana bumi? Ibu, bumi mana?”

Ibunya mumet lagi mencari bahasa untuk menjelaskan 😀

Memahami Gerhana dengan Al-Quran

Jika saja bulan dan matahari bersujud atas keagungan Alloh SWT, mengapa sebagai manusia kita begitu angkuh? Kita eh saya pribadi kerap lalai melaksanakan sholat lima waktu. Setidaknya begitulah yang saya tangkap pada kultum usai sholat berjamaah gerhana tadi di Masjid Al Furqon, tempat saya tinggal. Peristiwa gerhana sudah seharusnya diambil pelajaran bahwa bulan dan matahari senantiasa tunduk dan sujud kepada Sang Pencipta dengan beredar pada garis atau poros yang sudah ditentukan.

Di masa Nabi Muhammad SAW dalam novel Humaira yang saya baca diceritakan terjadi gerhana bulan bertepatan dengan wafatnya salahsatu putra Beliau. Namun, sesuai bimbingan Alloh SWT, Nabi bersabda bahwa peristiwa gerhana tidak berhubungan dengan kehidupan dan kematian manusia. Sepertinya ini sudah menjawab mitos ya. *mohon koreksi kalau saya salah.

Ada sepuluh ayat lebih yang menjelaskan tentang matahari dan bulan di Al-Qur’an di antaranya:

وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ دَآئِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ٣٣

Dan Dia (Allah) telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim 14:33)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menangkap ayat-ayat Alloh SWT lewat penglihatan, pendengaran, maupun hati. Dan, termasuk orang yang bisa mengambil hikmahnya. Amiin …

Balik lagi, jadi ibu hamil harus mandi saat gerhana bulan, mitos atau fakta? 😀

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Diposkan pada Artikel, lomba blogging, ODOP

Cara Gampang Menjadi Citizen Journalism

Istilah citizen journalism sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa televisi juga telah menjadikan citizen journalism sebagai program untuk menarik penonton. Pengirimnya juga mendapat imbalan dari hasil peliputan berita ala warga. Selain itu saat ini mulai banyak portal-portal aduan warga ala jurnalis terhadap pelayanan publik.

Citizen jurnalism atau jurnalisme warga menurut Santhabriancha merupakan aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (yang bukan wartawan). Kegiatan ini mulai dari pengumpulan berita, pelaporan, analisis hingga menyebarkan informasi ke khalayak. Menjadi bagian jurnalisme warga ini semakin gampang di era digital ini yakni dengan mengakses melalui smartphone yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Setidaknya menurut saya ada tiga syarat jadi citizen journalism ini:

  1. Mempunyai rasa ingin tahu tinggi. Untuk menjadi “wartawan” ala warga dituntut mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Kita tidak akan bisa melaporkan sesuatu jika kita tidak peduli. Bagi mereka yang berjiwa curiosity tinggi akan penasaran jika terjadi kerumunan di jalan. Sementara sebagian lain mungkin abai. Nah, setelah ingin tahu seorang jurnalis warga akan mencari seseorang yang bisa ditanya untuk dilakukan cek dan recek. Jangan sampai hanya berdasarkan prasangka karena bisa menjadi hoax atau berita bohong. Ingat, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Jangan sampai niat berbagi berita karena tidak dikonfirmasi terlebih dahulu dan langsung posting malah membuat kita di-bully maupun di bui.
  2. Mempunyai jiwa berbagi. Setelah mendapatkan informasi di lapangan, seorang jurnalis pasti mempunyai keinginan untuk membagi apa yang dilihatnya dan informasi yang ia miliki. Ketika kita hanya memiliki informasi tapi hanya disimpan sendiri itu bukan berarti “wartawan” tapi ya hanya sekedar ingin tahu saja. Coba tengok para reporter mereka tidak hanya mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) tapi juga melaporkan kepada masyarakat melalui media baik online, cetak maupun elektronik.
  3. Bisa menulis dan bercerita. Syarat yang ketiga adalah bisa menulis, minimal bercerita. Kita mengetahui peristiwa, kita ingin berbagi tapi cara kita menyampaikan belepotan malah membuat orang lain susah mengerti, gagal donk jadi ala-ala wartawannya. Misalnya ada teman yang sedang menceritakan kerumunan di jalan saat ia hendak ke kantor tapi ceritanya ngalor-ngidul dulu, kening dibuat berkerut, jadi malas kan kita mendengarnya. Bukan hanya itu informasi pun tak sampai. Nah, dalam cerita tersebut harus mengandung 5W + 1H. Who, What, When, Where, Why, + How. Sehingga kabar dari sang jurnalis tidak diterima sepotong-potong tapi utuh sang jurnalis juga terhindar dari banyak pertanyaan mendasar.

Jika sudah memenuhi syarat tersebut hasil reportase bisa dikirim ke portal-portal pelayanan pengaduan terhadap pelayanan publik bahkan bisa dikirim ke media dan kita mendapat honorarium… yeayy. Untuk masalah teknis tinggal disesuaikan saja dan relatif lebih mudah dipelajari. Mau belajar citizen journalism salahsatu contohnya adalah atmago.

Warga Bantu Warga

Kita bisa mengakses lamannya di http://www.atmago.com atau mengunduh aplikasinya, atmaGo. Seperti pada umumnya untuk bisa mengakses lebih lanjut, kita akan diminta mendaftar bisa melalui email atau akun sosial media.

 

Setelah masuk ke aplikasi, kita bisa melakukan searching terkait laporan, berita, aduan, hingga acara yang dibuat oleh warga dan untuk warga yang membutuhkan informasi. Kita tinggal klik bagian kategori yang diinginkan. Kita juga bisa searching misalnya karena akan mencari berita dengan mengetik kata Bandung. Hasilnya tentu all about Bandung.

Screenshot_2017-08-07-19-37-21
Contoh hasil pencarian berita terkait Bandung di atmago.com

Jreng…jreng… jika naluri kewartawanan sudah muncul tinggal klik menu “tambah” di bagian tengah bawah. Tuliskan judul hasil liputan kita dan deskripsi yang jelas dan tidak bertele-tele serta tentu mengandung unsur 5W + 1H tadi. Untuk lebih meyakinkan tambahkan hasil jepretan untuk di-upload. Klik simpan dan tarara…berita kita sudah dimuat. Mudah sekali bukan?

Karena baru-baru install atmago, belum sempat mencari bahan liputan ala warga. Akhirnya saya mencoba posting acara hasil search di facebook. Ini dia tampilannya.

Screenshot_2017-08-07-20-00-23
postingan pertama saya di atmago.com

Tertarik juga, cobain yuk warga bantu warga. Siapa tahu lewat tulisan kamu bermanfaat bagi orang lain yang sedang membutuhkan informasi 🙂

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Diposkan pada Artikel, ODOP

#ODOP5 Tips Beradaptasi di Rantau

Tak banyak orang berani memutuskan merantau. Biasanya mereka adalah orang yang banyak pertimbangan. Makannya cocok, budayanya gimana, bahasa yang berbeda, dan lain-lain.

Sejak kecil, saya bermimpi ke Pulau Kalimantan. Kenapa? Saya penasaran dengan daratan terluas di Indonesia yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia itu. Begitulah kata pelajaran di sekolah. Saya ingin melihat hutan hujan tropis. Konyolnya saya kecil ingin menyaksikan garis khatulistiwa yang membelah bumi menjadi bagian utara dan selatan.

Masuk di jurusan Kehutanan saat kuliah membawa impian ke Borneo kian menggebu-gebu. Tentu saja sebab pulau ini kerap disebut-sebut saat mata kuliah. Tentang kayu ulin yang awet dan kuat, tentang keberadaan masyarakat lokal yang tergerus perusahaan, tentang konflik hutan dan tambang, tentang orang utan yang terancam punah, dan lainnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Begitu mendapatkan tawaran bekerja ke Kalimantan Barat tentu tak butuh waktu lama memutuskan. Yang berat adalah meyakinkan orang tua terutama ibu dengan ketakutan-ketakutannya yang lebih merupakan kekhawatiran pada darah dagingnya. Jauh dari saudara, jauh dari rumah, dan bagi orang desa di Klaten, Kalimantan merupakan antah berantah.

Kuncinya dengan pendekatan dari hati ke hati bukan dengan amarah. Kita mengalah dulu dengan mendengarkan ibu bicara. Apa alasannya hingga berat melepas kita? Setelah beliau berhenti dan mengambil jeda nafas, mulai dengan senyuman kita bisa menjelaskan apakah alasan-alasannya tadi masuk akal. Kita berikan gambaran yang membuatnya yakin dengan keputusan kita 🙂

Kekuatan Senyum
Sebagai perempuan dan masih fresh graduate nyali saya ditantang begitu menginjak bumi khatulistiwa. Namun, segala ketakutan yang sempat terbesit harus segera dibuang kala dari balik jendela pesawat tanah menghijau itu mulai nampak. Dengan sebuah senyuman kecil saja, pikiran kembali menjadi positif. Rasa bahagia karena berhasil mewujudkan impian saat kecil. Coba kalau saat pertama saya datang, saya takut ini itu, mungkin kepuasan hati itu tak akan terasa.

Tersenyum itulah pertama kali juga yang saya lakukan saat memasuki area kantor. Lokasi yang masih asing dengan rekan-rekan kerja baru. Meski mereka sudah senior toh dengan manfaat senyuman mereka menyambut baik kedatangan si cupu ini kala itu. Bayangkan saja kalau saat saya datang, muka masam yang saya tunjukkan pertama kali. Mereka juga pasti malas berkenalan apalagi mengenal lebih jauh dengan kita seperti kita juga yang sungkan dengan orang yang tak ramah di kesan pertama.

Bekerja bukan berarti kita lepas dari hidup sosial bermasyarakat. Saat hendak ke lokasi perkebunan tentu kita terkadang melewati perkampungan. Ketika ada warga yang tengah bercengkerama apa kita lalu lalang saja? Memberi salam dan menyapa itulah etika dan norma yang saya anut sejak kecil. Nah, memberi salam dan menyapa yang paling efektif ini adalah dengan menundukkan kepala sambil menyunggingkan senyum. Jadi, kenapa harus bingung dengan bahasa dan budaya yang berbeda karena kita masih memiliki bahasa tubuh. Senyuman adalah pengikat itu. 

Saya jadi berpikir kenapa kerap terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan ya mungkin salahsatunya adalah kesalahpahaman. Kedatangan orang kota dianggap ancaman apalagi jika mereka berperilaku angkuh terhadap penduduk lokal. Nasehat bapak yang selalu dan akan selalu saya ingat adalah ikutilah dimana kamu tinggal. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kita yang harus pertama kali beradaptasi karena kita pendatang. Bukan memaksa mereka menerima kita. Dengan kemampuan menyesuaikan diri itulah perlahan tapi pasti mereka akan merangkul kita. 

Kekuatan senyum ini membuat image ramah melekat pada diri saya. Setidaknya begitu kata teman kerja di Kalimantan. Selain itu, berawal dari senyuman tulus itu saya yang sendiri menjadi mempunyai keluarga, rumah untuk pulang saat akhir pekan. Salah satu karyawan menganggap saya anaknya paling sulung. Istri dan ketiga anaknya juga memperlakukan saya dengan sangat baik. Padahal kami terlahir dengan berbeda suku dan agama. Tapi dalam naungan kebhinnekaan, Indonesia Raya itulah kami tinggal.

Apakah semua persoalan baik pribadi maupun pekerjaan bisa diselesaikan dengan senyuman terlebih dahulu? Saya yakin iya. Syaratnya harus tulus bukan senyuman sinis atau mencibir. Saya setuju bahwa senyuman akan melahirkan sikap positif dalam menghadapi beragam tantangan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Karena dengan bersikap positif akan membantu kita dalam mencari jalan keluar dan menyelesaikan beragam tantangan dan masalah dengan baik. Dengan demikian hasil akhir yang bisa dicapai juga akan baik. Saya sudah membuktikkannya sepanjang hidup saya karena saya perantau bertemu suami saat dirantau dan kini tinggal di perantauan, kalau Temans?

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia