Diposkan pada blog competition

Konsumen Cerdas di Era Digital Itu…

koncer tribun newa
Image: Tribun Pontianak

Belum lama ini, temuan BPOM pada 27 merk ikan makarel atau sarden yang mengandung cacing parasit menggegerkan konsumen. Terungkapnya label kadaluawarsa palsu di sejumlah supermarket telah menambah keraguan konsumen untuk berbelanja. Nah, belum lagi minuman berpemanis buatan yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita begitu mudahnya terjangkau di warung-warung dengan tulisan di label yang hampir tak terbaca.

Contoh kasus tersebut, bagi saya pribadi menimbulkan rasa was-was bahkan hingga tidak percaya pada produk-produk tertentu. Sejatinya, produk atau jasa diciptakan agar bermanfaat orang lain. Namun, dorongan biaya produksi tinggi, menghidupi pekerja, harga bahan baku terus melambung terkadang mendorong produsen untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan melegalkan segala cara. Imbasnya, hak-hak konsumen terabaikan.

Padahal tanpa sadar cara yang tidak benar tersebut membuat distrust “raja” mereka sendiri. Sebab, pembeli adalah “raja”. Begitulah seorang pembeli atau konsumen seharusnya dilayani. Jika pelayanan buruk maka “raja” tidak akan segan-segan membuat keputusan untuk berhenti mengonsumsi dan berpindah ke lain hati. Raja atau pembeli memiliki kekuatan dahsyat.

Sebagai gambaran, ada minimarket baru di sebelah desa saya. Harganya pun miring. Awalnya ramai, orang desa yang biasa ke warung-warung kelontong berpindah ke swalayan karena ingin pengalaman belanja lebih modern. Pembeli ingin merasakan bebas memilih tanpa harus meminta tolong ke penjual untuk mengambilkan barang yang hendak dibeli tanpa sungkan. Baru setelah selesai dibawa ke kasir. Tapi tak lama minimarket itu pun sepi. Nyaris tak ada kehidupan kecuali kasirnya dan satu dua orang pembeli saja yang terpaksa atau tidak tahu. Kenapa? Ternyata kekuatan mulut “raja”. Sangat sederhana dari mulut ke mulut, tersebarlah jika barang yang dijual oleh swalayan tersebut ternyata banyak yang sudah kadaluarsa atau hampir kadaluarsa.

Termasuk saya dan suami menjadi korban, saat itu kami sedang pulang kampung. Karena ingin yang dekat kami mampir untuk membeli bekal air mineral dan beberapa snack untuk camilan suami di kereta yang akan balik ke Bandung lebih dulu. Sampai di rumah saya cerita pada ibu terkait harganya yang murah. Setelah tahu dimana membelinya, ibu langsung menyuruh saya mengecek tanggal kadaluarsa. Dan akhirnya kami merelakan beberapa snack dibuang karena benar sudah melewati batas layak konsumsi. Cerobohnya kami. Lalu, bagaimana ibu tahu? Ya dari kata tetangga-tetangga, komunikasi lisan yang dalam bahasa Jawa disebut getok tular. Berawal dari satu mulut informasi tersebar ke orang lain dengan cepat.

Konsumen Cerdas di Era Digital

Setelah mengamati, saya membagi dua jenis konsumen saat ini berdasarkan cara bertransaksi. Konsumen konvensional dan konsumen digital, keduanya saat ini berada di era digital. Konsumen konvensional atau tradisional bertransaksi dengan bertatap muka antar penjual dan pembeli begitu pula produk atau jasa yang ditawarkan. Sedangkan konsumen digital merupakan pembeli untuk pemasaran secara online, melihat produk atau jasa berdasarkan gambar dan penjelasan di dunia maya, usai membayar dengan online pula, barang pun datang.

Mana yang lebih rentan tertipu? Kalau kata saya, dua-duanya rentan. Sehingga harapan saya sebagai konsumen baik konvensional maupun digital adalah produk yang dijual dijamin berkualitas, kalau memang harganya murah tapi tidak murahan, dan tidak menipu dengan kata diskon. Sebab, terkadang kita menemukan harga murah tapi ternyata begitu sampai di rumah tidak layak dan penjual telah me-mark up harga barang terlebih dahulu lalu diberi embel-embel diskon.

Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari hal-hal yang merugikan tersebut? Di saat digitalisasi telah masuk ke hampir berbagai lini kehidupan, kita pun dituntut menjadi konsumen cerdas. Nah, menurut saya konsumen cerdas di era digital itu…

Memilah dan Memilih

Selalu mengusahakan kroscek atau teliti sebelum membeli barang. Melihat tanggal kadaluarsanya dan cek label SNI ini. Sebab, menjamin produk yang dikonsumsi sehat, aman, legal, dan ramah lingkungan. Kemudian menanyakan garansi. Hal ini bisa dilakukan dengan memperhatikan kemasan atau chat langsung dengan penjual jika membeli via online untuk menanyakan stok atau ganjalan terkait produk. Jangan pesan warna merah datang warna hijau atau pesan merk apple yang datang apel. Kita pun harus jeli memilih dimana akan membeli terutama jika online harus jelas kredibilitas tokonya dan keaslian produknya. Salahsatu caranya kita bisa membaca review atau ulasan dari pembeli sebelumnya maupun rating yang diberikan.

Selain itu, yang penting diingat adalah pembeli yang cerdas itu membeli berdasarkan kebutuhan bukan keinginan.

Seperti kancil

Konsumen yang cerdas dituntut bersikap dan perilaku cerdik, pintar, dan berhati-hati seperti kancil ketika hendak mengonsumsi barang atau jasa. Selalu banyak akal dalam menjalani kehidupan sehingga selalu terhindar dari marabahaya atau kecurangan dari penjual nakal. Karenanya kancil dijadikan simbol Hari Konsumen Nasional (Harkonas).

Si Koncer
Instagram @harkonas

Harkonas diperingati setiap tanggal 20 April sesuai Keppres Nomor 13 Tahun 2012. Berdasarkan tanggal diterbitkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Bangga Menggunakan Produk Dalam Negeri

Terkadang kita sudah sangsi dahulu untuk membeli produk dalam negeri. Kita sudah termakan branded/merk asing lebih bagus daripada produk dalam negeri. Padahal banyak produk kita, seperti furniture, fashion, craft  yang sudah go international. Sudah selayaknya kita pun mencintai barang sendiri. Namun, terkadang hambatan atau yang mengikis kepercayaan adalah oknum penjual nakal. Sehingga, konsumen cenderung menggeneralisasi jika semua produk lokal berkualitas rendah.

Keuntungan menggunakan produk dalam negeri ini berarti kita turut berpartisipasi dalam meningkatkan cadangan devisa, memperluas lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperluas kualitas produksi. Sehingga nilai persen impor barang konsumsi terus mengalami penurunan. Data Kementrian Perdagangan (kemendag) saat ini nilai persen impor barang konsumsi terhadap nilai total impor indonesia cenderung tetap pada kisaran 7-7,5% 2017. Sedangkan cenderung mengalami penurunan secara absolut yaitu sebesar 13,3% tahun 2011, 13,13% tahun 2013, dan 10,8% tahun 2015.

Berani Bicara

Berani bicara di sini berarti kita assertif untuk melaporkan kecurangan penjual nakal. Kemendag menyebutkan saat ini 42% konsumen memilih tidak melakukan pengaduan, 37% menilai kerugian tidak besar, 24% tidak mengetahui tempat pengaduan, 20% menganggap proses dan prosedur pengaduan lama dan rumit dan 6% mengenal baik pejual. Hal tersebut menjadi alasan konsumen kita enggan melakukan pengaduan.

Perilaku pengaduan konsumen di Indonesia masih rendah yakni sebesar 4,1 dibanding Korea Selatan yang sudah mencapai angka 64 per 1 juta orang. Angka ini harus ditingkatkan dengan sosialisasi, informasi, dan edukasi yang massif. Sebab, 39,2% tidak mengetahui Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK), 38,6% mengenal tapi tidak mengetahui fungsi LPK, dan  baru 22,2%  mengenal dan mengetahui  LPK.

Sehingga konsumen tidak lagi takut mengadu jika dirugikan saat membeli barang atau jasa. Namun, sebelum menegakkan hak-hak konsumen dengan mengadu pastikan terlebih dahulu kita sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai konsumen. Bukan langsung men-judge.

Hak Konsumen:

  1. Mendapatkan barang/jasa yang aman
  2. Mendapatkan pelayanan baik dan tidak diskriminasi
  3. Mendapatkan edukasi tentang barang/jasa
  4. Mendapatkan informasi yang benar
  5. Didengarkan keluhannya dan dibantu menyelesaikan sengketa
  6. Mendapatkan kompensasi dan ganti rugi

Kewajiban Konsumen:

  1. Mengikuti informasi dan prosedur pemakaian
  2. Beritikad baik dalam transaksi
  3. Mambayar sesuai yang disepakati

Ketika sudah memahami  hak dan kewajiban dan ternyata kita memang dirugikan, kemana mengadu?

  1. Langsung ke pelaku usaha terkait
  2. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat
  3. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) setempat
  4. Dinas yang menangani perlindungan konsumen kota/kabupaten

Selain keempat point tersebut, terdapat opsi lain, yaitu:

  1. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
  2. Aplikasi Pengaduan Konsumen oleh Kementrian Perdagangan. Di era digital aplikasi pada smartphone atau mobile app bukan hal yang asing bahkan cenderung dicari. Hadirnya aplikasi ini membuat kita tidak ribet atau repot saat mengadu. Tinggal download di playstore deh. Ketika saya mencoba mengunduh aplikasi ini pun sangat gampang, kita tinggal menginput identitas dan melaporkan kemudian cek status laporan kita. Nah, karena sudah dimulai, kemendag yang memulai inisiatif harus proaktif dalam merespon, layaknya customer service yang siap membantu menghubungkan dengan departemen terkait dalam waktu cepat dan pelayanan yang memuaskan. mobile app
  3. Surat terbuka. Kalau dulu surat terbuka hanya disediakan oleh koran-koran pada rubrik surat pembaca saat ini kita bisa membuat surat terbuka di internet lewat blog maupun media sosial. Namun, pastikan menulis tidak dalam keadaan emosi dan isi aduan jangan langsung menghakimi. Baca lagi surat kita. Kroscek dahulu. Jangan niat memperoleh keadilan malah dilaporkan balik atas tuduhan pencemaran nama baik. Sebab saat ini ada Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang mengatur netizen bijak dalam berinternet sehat.

Momentum Harkonas

Strategi Perlindungan Konsumen Nasional
Instagram @harkonas

Sudah seharusnya momentum Harkonas menjadi cambuk bagi kita untuk mewujudkan perlindungan konsumen nasional yang lebih baik. Meski demikian, sebagai konsumen kita sudah seharusnya dituntut berperilaku cerdas, begitu pula sebagai produsen harus bertanggung jawab terhadap produk/jasa yang dijual. Sehingga tercipta hubungan sehat atau timbal balik yang menguntungkan antara produsen dan konsumen. Lembaga atau pihak perlindungan konsumen terkait juga harus terlibat aktif dalam memberi informasi dan edukasi peranannya masing-masing. Pemerintah harus mengambil bagian dalam memaksimalkan kinerja sesuai tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) masing-masing dengan menjalankan strategi pokok yang sudah dibuat yaitu meningkatkan efektifitas peran pemerintah sebagai fasilitator, regulator, dan eksekutor, meningkatkan kepatuhan pelaku usaha, dan meningkatkan keberdayaan konsumen. Harapannya terwujud tujuan perekonomian nasional yang berdaya saing dan berkeadilan.

Salam koncer,

logo sikoncer

 

Iklan
Diposkan pada blog competition

[Happy Life Before 40s] Bebas Pusing Dana Pendidikan Anak

NamiyaOziel
Namiya dan Oziel 

Kalau ditanya apa yang paling saya khawatirkan di masa depan adalah pendidikan anak. Pendidikan adalah investasi masa depan bagi mereka. Sebagai orang tua, pendidikan adalah warisan utama yang ingin kami tinggalkan. Sebab dengan pendidikan berkualitas, mereka akan menjadi generasi emas bangsa dan mencapai segala yang mereka cita-citakan untuk menjadi manusia bermanfaat.

Untuk mewujudkan hal tersebut tentu saja tidaklah gampang. Biaya pendidikan itu tidak murah. Seperti orang berbelanja, saya menganut prinsip ada harga ada rupa. Tekad saya adalah pendidikan terbaik dan melampaui ayah dan ibunya. Anak sulung saya saat ini berusia 3,5 tahun dan adiknya 1,5 tahun. Selisihnya hanya dua tahun artinya persiapan jarak dana pendidikan untuk keduanya relatif singkat.

Jadi kebahagiaan di umur 40 tahun yang ingin saya capai adalah bebas pusing dana pendidikan anak. Saat ini saya mempunyai 10 tahun lebih sedikit untuk sampai ke umur tersebut. Penghasilan tetap keluarga kami saat ini adalah gaji suami. Itupun membuat ketar-ketir sebab pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan media cetak yang saat ini bersaing ketat dengan digital. Saya fulltime mom yang mendapat penghasilan tidak tetap dari hobi menulis dan merajut.

Lalu bagaimana agar #HappyLifeBefore40s tercapai? Opsinya, menabung di usia produktif pada sepuluh tahun tersisa, investasi emas, dan asuransi dana pendidikan. Persiapan pendidikan yang baru dilakukan menabung, keuntungannya memang fleksibel sesuai kemampuan tapi buruknya jadi kadang ikut terpakai saat mendadak butuh. Sehingga saya rasa perlu ada pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Terkait asuransi, saya sendiri termasuk awam. Kami tidak memiliki asuransi jiwa kecuali BPJS ketenagakerjaan suami dan BPJS kesehatan dari kantor suami. Asuransi diperuntukkan bagi kelas atas yang sudah berlimpah uang, begitu pandangan saya. Sampai akhirnya kami pindah ke rumah baru dan suatu ketika ada tetangga bercerita bagaimana ia harus pandai-pandai mengatur keuangan sebab ia juga harus menyetor tiga asuransi. Penghasilan kerja hanya dari suami yang juga seorang karyawan. Lalu, ada juga teman kerja suami saya, pendapatan utama dari suami sebagai karyawan dan istrinya sampingan berjualan sprei juga memutuskan ikut asuransi pendidikan. Katanya, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kedua contoh kasus tersebut mengubah pandangan saya terkait asuransi.

Sebenarnya, apa yang paling saya khawatirkan dari asuransi? Yup, dana yang kita setorkan tidak balik kecuali jika terjadi musibah. Tentu saja kita berharap hidup kita dijauhkan dari berbagai macam resiko. Namun, semua kekhawatiran tersebut tergantung pada produk yang dipilih nasabah.

Commonwealth Life menyediakan berbagai solusi pilihan asuransi. Ada Unit Link untuk menggabungkan investasi dan asuransi. Salahsatunya Prime Value yang memberikan perlindungan bernilai bagi kita dan keluarga untuk merencanakan masa depan seperti pendidikan anak, masa pensiun, dan pertumbuhan investasi yang fleksibel.

Ada juga produk sesuai tahap kehidupan. Saat ini saya berada pada tahap keluarga. Solusi untuk melindungi anak sebagai investasi terbaik bisa dengan Danatra Cendekia. Produk ini akan membantu menyediakan kepastian dana pendidikan dan manfaat jatuh tempo.

Ibarat menanam, asuransi membutuhkan proses untuk bisa panen, begitulah manfaat asuransi. Pertimbangkan dimana akan berinvestasi dan berasuransi dengan memilih yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sikap jeli akan menjauhkan kita dari perusahaan abal-abal dan investasi bodong yang hanya menawarkan promo menggiurkan di awal.

Teman sudah ikut asuransi apa?

download brosur Prime Value

Diposkan pada blog competition

Nokia 2: Tak Banyak Aplikasi Bawaan dan Awet

nokia_2-camera

Yang paling menarik bagiku saat pertama mengetahui Nokia 2 adalah tanpa aplikasi bawaan yang tidak perlu. Di dalamnya hanya terdapat berbagai macam aplikasi terpopuler dari google.

Banyaknya aplikasi bawaan yang tidak perlu pada smartphone malah membuat mubazir. Apalagi untuk emak-emak seperti aku. Aplikasi tidak terpakai tapi makan memori. Mau dihapus takut mempengaruhi system, kalau tidak dihapus ruang penyimpanan makin penuh dan ya itu tadi padahal tidak digunakan juga. Haduh dilema banget ya kan?

Dengan aplikasi populer dari google akan sangat membantu dan tinggal menambah aplikasi yang memang dibutuhkan. Jadi, ibarat rumah minimalis tapi optimal. Makin nyaman dengan design premium dan baterai yang awet.

Pernah ga sih mengalami saat kita luang karena anak-anak tidur, lalu mengambil smartphone untuk sekedar upload gambar jualan eh ternyata baterai sudah habis. Lalu lagi asyik-asyiknya menyimak tutorial di youtube tahu-tahu muncul peringatan baterai melemah kritis. Parahnya juga karena terlalu rempong dengan urusan dapur dan rumah tangga smartphone jadi terbengkalai lupa dicek baterai dan tahu-tahu sudah mati kehabisan daya.

Ngomongin Nokia adalah hp pertamaku sekitar tahun 2006, warisan dari bulek. Aku adalah tangan ketiga. Dari awal memang terkenal bandel dan tahan banting. Merk asal Findalia ini terkenal juga awet baterainya. Pengguna Nokia tak akan menyangkalnya. Akhirnya Nokia release smartphone dengan android… hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh pecinta Nokia seperti aku.

nokia_2-the_design.png

Nokia 2 hadir dengan mengunggulkan daya tahan baterai hingga dua hari. Kapasitasnya 4100 mAh. Ini sangat membantu model aku yang suka lupa menaruh hp tahu-tahu baterai habis. Karena repot ini itu dan lupa untuk charge. Selain itu, kalau kita sedang powerfull di lapangan tidak usah bingung mencari colokan atau sambil bawa-bawa power bank. Repot sekali ya dan bikin galau karena terkadang moment menjepret bisa datang kapan saja. Jangan gara-gara kehabisan baterai kita jadi melewatkan moment yang tidak datang setiap saat. Aku sering tuh huhu

Harganya berapa sih? Jangan-jangan muahal ternyata sangat terjangkau lho. Hanya 1,5 jutaan. Terjangkau kan ya untuk kantong ibu rumah tangga yang banyak pertimbangan, bayar listrik, anak mau sekolah, kondangan, ini…itu… Harga oke dapat merk yang sudah tidak diragukan lagi.

qualcomm_Final

Sistem operasi Android Nougat 7.1.1 OS yang sempurna, aman, dan terkini. RAM 1 GB, penyimpanan internal 8 GB, dengan penggunaan normal sudah cukup dan tidak akan lemot. Jaringan sudah LTE 4 sehingga tidak perlu khawatir sinyal. Kamera depan 5 MP dan utama 8 MP, jadi tidak akan blur saat mengambil gambar.

Dengan spek yang dimiliki tersebut, jadi bisa lakukan lebih banyak hal dengan Nokia 2 pastinya dalam membantu produktivitas ibu rumah tangga. Bagiku, hp bukan hanya buat gaya-gayaan tapi kalau bisa ya buat menghasilkan duit juga ya kan? Seenggaknya beli paket data sebulan tanpa minta suami. Jadi setidaknya aku bisa melakukan hal berikut tanpa khawatir:
Pertama, memasarkan ketrampilan merajut. Menjual jasa dan produk lewat media sosial.
Kedua, menjalankan usaha sampingan. Banyaknya aplikasi untuk pembayaran tagihan (listrik, PDAM, dll) maupun pulsa/paket data merupakan peluang usaha bagi aku sebagai ibu rumah tangga di sekitar rumah yang membutuhkan bantuan sehingga mereka tidak perlu berjalan jauh.
Ketiga, ngeblog lancar tanpa khawatir lagi asyik menulis tiba-tiba baterai habis keburu ide bablas. Bisa ngeblog sekalian curcol  dan ikut blog competition syukur-syukur kalau nyantol dan menang smartphone. Jadi ga cuma memakai hp warisan terus kan ya (sekarang memakai hp warisan suami). Karena kalau mau beli baru banyak yang dipikirkan buat biaya yang lain hehe

Pastinya juga dengan melakukan banyak hal produktif lewat hp, bisa bangga di depan suami juga kan? Bahwa emak-emak bukan hanya makhluk konsumtif walau di rumah tetap bisa berdaya.

Sekian dulu ya, semoga bermanfaat. Jangan lupa segera cek Nokia 2, yuk! Siapa tahu cocok^^

Screenshot_2018-03-18-11-37-33

Spesifikasi lengkap Nokia 2 yang aku ambil dari laman resminya:

Tersedia dalam kotak

Nokia 2 Anda

Pengisi daya

Kabel data/pengisi daya

Panduan cepat

Headset

Desain

Warna Pewter / Black, Pewter / White, Copper / Black

Ukuran 143,5 x 71,3 x 9,30 mm

Jaringan dan konektivitas

Kecepatan jaringan Kategori LTE 4, 150Mbps DL/50Mbps UL

Konektivitas 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.1, GPS/AGPS/GLONASS/Beidou, FM/(RDS)

Kinerja

Sistem operasi Android™ 7.0 Nougat

CPU Qualcomm™ Snapdragon® 212, Quad-core hingga 1,3Ghz

RAM 1 GB LPPDDR 3

Penyimpanan

_Penyimpanan internal 8 GB2

Slot MicroSD Hingga 128 GB

Audio

Konektor Jack headphone 3,5 mm

Speaker Single speaker

Layar

Ukuran dan tipe 5.0” HD LTPS LCD In-Cell Touch

Resolusi 1280 x 720

Rasio kontras 1:1300

Bahan Corning® Gorilla® Glass 3

Kamera

Kamera utama 8MP AF, LED flash

Kamera depan 5MP FF

Konektor dan sensor

Tipe kabel MicroUSB (USB 2.0)

SIM Slot kartu 2 Nano-SIM + 1 MicroSD (DualSIM) / Slot kartu Nano-SIM + 1 MicroSD (SingleSIM)

Sensor Sensor cahaya sekitar, Sensor jarak, Accelerometer (G-sensor), E-compass

Baterai

Tipe baterai Integrated 4100 mAh battery3

Lainnya

Perlindungan anti air (IP52)

*sumber gambar dari website resmi Nokia 2

Diposkan pada blog competition

Minum Air Mentah Penyebab Anyang-anyangan, Mitos atau Fakta?

Teman, pernah anyang-anyangan ga sih? Anyang-anyangan itu tuh pipis sedikit-sedikit dan bisa beberapa kali dalam jangka waktu dekat. Kadang diikuti rasa nyeri hingga mengeluarkan darah. Bukan anyang-anyangan dalam Bahasa Sunda yang berarti bermain ala anak kecil. Karena pernah aku dan suami roaming. Aku berasal dari Jawa dan suami orang Sunda. Waktu aku bilang sedang anyang-anyangan, suami gak langsung ngeh sampai aku menjelaskan. Nah, dia pun juga langsung menimpali kalau dalam Bahasa Sunda anyang-anyangan artinya main-mainan seperti masak-masakan.

Waktu masih sekolah aku sering anyang-anyangan. Seringkali dikatakan penyebabnya minum air setengah matang atau air mentah. Karena aku tinggal di desa dan biasa minum air putih dari sumur yang direbus.

Tentu saja, anyang-anyangan ini sangat mengganggu ya. Apalagi kalau harus bolak-balik kamar mandi. Kalau tidak bakalan merembes di celana dalam. Jadi pesing, basah, dan gak nyaman. Belum lagi untuk urusan ibadah salat, air kencing ini termasuk najis.

Solusi turun temurun mengatasi anyang-anyangan yakni dengan mengikat jempol kaki menggunakan karet gelang. Mitos atau fakta ya? Atau malah sembuh karena sugesti. Selain itu, sama ibu kalau aku anyang-anyangan dianjurkan minum air putih hangat yang banyak.

Lalu ada kaitannya gak ya mengikat karet di jempol dengan sembuhnya anyang-anyangan? Kalau menurut ardiba, mengikat karet gelang ini berdasarkan pada teori reflexiology sebab titik syaraf batu ginjal ada di titik ini. Tapi kalau mengikat terlalu lama atau kencang justru malah menyebabkan aliran darah terhambat dan jadi biru atau pucat dan terasa dingin. Kalau sudah begitu aku langsung melepas karet gelangnya. Karenanya, saran dari aku kalau ingin melakukan penyembuhan alternatif dengan menekan saraf ini biar dilakukan oleh ahli terapis ya, daripada…daripada…

Refleksi Kaki
Sumber : refleksiterapi

Risiko Anyang-anyangan bagi Kesehatan Wanita

Sedikit cerita, ibu guru agamaku saat SMA meninggal muda. Ia sering absen saat mengajar karena harus dirawat di rumah sakit. Suatu hari dalam kesempatan mengajar, almarhum sempat bilang kalau waktu muda suka menahan pipis. Sehingga beliau menyarankan agar murid-murid tidak sepertinya. Selang kurang lebih 4-5 tahun usai memberi nasehat tersebut beliau meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Meninggalkan anak yang masih kecil-kecil di usia 40an tahun. Ternyata kebiasaan buruk ini bisa memicu infeksi saluran kemih (ISK). Penyakit ini jika dibiarkan bisa fatal akibatnya.

Waktu beliau meninggal aku sudah kuliah. Kisah ini menjadi cambukan keras bagiku. Sebab, saat masih sekolah aku suka menahan pipis. Padahal jam pelajaran bisa sampai 7 jam belum kalau ada kegiatan tambahan. Waktu kuliah di Fakultas Kehutanan, kami sering keluar masuk hutan yang hampir tidak ada fasilitas toilet layak. Kadang aku juga mendaki gunung. Setelah bekerja di perkayuan hampir setiap hari dituntut ke lapangan. Usai menikah, aku juga kerap melakukan perjalanan delapan jam Bandung-Klaten, untuk selalu bersilaturahmi dengan keluarga. Jika kalian pernah naik kereta api, kebayang kan bagaimana pipis dalam keadaan bergerak dengan kecepatan tinggi. Aktivitas-aktivitas tersebut membuatku masih kerap menahan pipis.

Namun, sebisa mungkin kebiasaan menahan pipis di luar rumah ini aku hindari. Aku tidak mau mempunyai penyakit serius sebab aku sudah pernah merasakan sakit saat buang air kecil. Jika dibiarkan berlarut-larut takut ada darah dalam kencing dan ini sudah menunjukkan gejala ISK. Apalagi saat ini mempunyai dua balita. Kalau kalian masih muda bahkan anak kecil sekalipun, jangan meniru kebiasaan buruk ini ya!

Stop Menahan Pipis

15258996_1490745844276054_30506259350290432_n

Saat dipikir-pikir sendiri akhirnya aku sadar, penyebab anyang-anyangan adalah karena aku sedikit sekali mengkonsumsi air putih dan kebiasaan menahan pipis. Sebab kamar mandi umum biasanya terlihat kotor dan bau pesing. Kadang melihatnya dari luar sudah malas masuk. Hal ini membuat sungkan dan memilih menahan sampai rumah. Jadi kalau belum terpaksa banget, aku jarang banget pipis di toilet umum.

So, menahan pipis bukan hal yang sepele ya. Karena bisa menyebabkan anyang-anyangan dan akibatnya bisa fatal kalau dibiarkan. Kenapa? Dikutip dari laman Uri-Cran karena urin yang terlalu lama di dalam kandung kemih dapat menjadi tempat yang ideal untuk bakteri berkembang biak dan menyebabkan gangguan saluran kemih. Alasan inilah yang menjadi penyebab sakit saat buang air kecil kecil yang menyertai anyang-anyangan karena sudah terinfeksi bakteri. Sandip Vasavada, MD, dari Glickman Urological Institute, Cleveland Clinic, menyarankan untuk meluangkan waktu ke kamar kecil setiap 3 atau 4 jam sekali.

Terjawab ya, penyebab anyang-anyanganku ya memang karena kebiasaan menahan pipis ini. Air pipis yang bisa dua kali malah aku rapel seharian. Tapi tidak disarankan juga minum air mentah karena kemungkinan ada kuman dan bakteri dalam air. Sehingga, air harus mendidih sempurna agar mikrofauna “jahat” ini mati.

Tips dari aku supaya tidak menahan pipis saat di luar rumah:

Pertama, selalu membawa tisu kering untuk berjaga kalau air kurang bersih dan tidak disediakan tisu di toilet umum.

Kedua, kalau sedang di lapangan, mencari tempat agak tersembunyi tapi jangan terlalu jauh dari jangkauan teman yang lain. Sekiranya aman dan nyaman. Memberitahu teman atau ketua rombongan dan mengajak satu teman untuk berjaga. Lalu, kalau tidak dengan air mineral bisa dengan tisu kering untuk membersihkan.

Mengapa Perempuan Harus Peduli ISK?

Sebab dikutip dari laman uricran, 5 dari 10 perempuan beresiko ISK. Secara alami perempuan lebih rentan karena struktur saluran kemih (uretra) wanita cenderung lebih pendek hanya sekitar 2.5 – 4 cm. Berbeda dengan pria yang panjang uretranya sekitar 20 cm.

Gejala awal ISK salah satunya adalah anyang-anyangan. Walaupun tidak selalu setiap anyang-anyangan adalah gejala penyakit ini. Namun, harus dilihat frekuensi, rasa sakit buang air kecil, dan diagnosa dokter. Yang terpenting, kita tidak boleh meremehkan hal satu ini. Karena bisa saja ini menjadi lampu kuning bagi kita.

Cara mencegah anyang-anyangan dan mengatasi susah buang air kecil di antaranya:

Pertama, menjaga kebersihan organ intim dan tidak menggunakan pembersih sembarangan. Cara membilas organ kewanitaan usai buang air kecil adalah dari depan ke belakang, agar bakteri di anus tidak terbawa ke vagina. Kemudian menghindari pembersih bersifat basa karena memicu jamur dan menghilangkan mikrofauna alami. Cara menjaga kebersihan organ kewanitaan pernah aku tulis di sini.

Kedua, berhenti menahan pipis. Jangan sampai kantung kemih penuh dan malah anyang-anyangan. Uretra yang terbuka bisa menjadi jalan masuk bagi bakteri Escherichia coli yang hidup di saluran cerna dapat menyebabkan infeksi saluran kemih.

Ketiga, banyak minum air putih. Saran yang telah disepakati oleh dunia kesehatan adalah minum air putih 6-8 gelas per hari. Jangan menganggap sepele air putih ya. Karena dengan banyak minum air putih akan membantu mengeluarkan bakteri dan berkembang biak di saluran kemih. Tuh kan, jadi anyang-anyanganku juga karena kurang minum air putih ini. Jadi jangan sungkan membawa bekal air putih dari rumah.

Keempat, mengonsumsi Uri-Cran. Sebab suplemen ini mengandung ekstrak cranberry.

Review Prive Uri-Cran

P_20180213_164841

Karena kebiasaan buruk dan riwayat anyang-anyangan tentu saja aku merasa beruntung mengenal Prive Uri-Cran ini. Produk Uri-Cran dari Combiphar ada berbentuk kapsul dan powder sachet. Jenis bubuk ini pas banget buat aku yang tidak bisa makan obat berbentuk pil atau kapsul. Jadi, kalau mau meminumnya harus digerus atau dibubukin dahulu.

Nah, karena sudah serbuk tinggal dilarutkan dengan air putih. Sayangnya, petunjuk penyajian tidak tertera di label. Aku membaca di akun instagram @uricran.id, air yang digunakan adalah air normal/dingin sebanyak 100-150 ml. Sebab, jika menggunakan air panas bisa membunuh probiotik. Untuk gelasnya aku memakai gelas belimbing karena ukurannya sudah jelas 200 ml jadi gampang mengira-kiranya.

P_20180213_165013

Di label pun tidak ada keterangan kapan sebaiknya waktu minum. Hanya terdapat saran untuk mengonsumsi Uri-Cran 1-2 kali sehari. Aku minum Uri-Cran seperti minum susu waktu hamil dan menyusui. Waktu itu bidan menyarankan kalau minum susu sebaiknya sebelum makan. Jadi nutrisi susu akan tertumpuk dengan makanan. Bisa juga sebelum tidur karena waktu tidur tubuh kita tidak mengeluarkan energi sehingga penyerapan nutrisi bisa sempurna. Jadi aku minum Uri-Cran di kedua waktu itu. Harapannya bisa terserap sempurna kandungan ekstrak cranberry-nya.

Setelah dilarutkan warnanya pink sesuai dengan warna buahnya. Jadi memang alami dengan rasa khas buahnya pun masih kentara. Asam asam gimana gitu… Nah, kandungan Proanthocyanidin dari buah cranberry inilah yang mampu menghambat pertumbuhan E coli yang bisa melekat di saluran kemih.

Karena merupakan suplemen makanan, sehingga Prive Uri-Cran baik untuk tubuh. Sebab, tidak selalu makanan yang kita makan terpenuhi nutrisinya. Prive Uri-Cran aman bagi ibu hamil dan menyusui (sekedar informasi saat ini aku masih menyusui) dan boleh untuk anak-anak.

Kalau kamu pernah anyang-anyangan atau sering, cobain Uri-Cran juga ya karena Uri-Cran merupakan solusi alami untuk mencegah anyang-anyangan. Bukan menakut-nakuti, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati ya kan agar tidak menyesal kemudian? Jangan sampai anyang-anyangan mengarah pada ISK.

Nah, Uricran bisa didapatkan di apotek terdekat atau bisa juga via online dengan harga terjangkau. Teman tinggal pilih lebih suka yang kapsul atau sachet.

Prive Uricran 30 caps

prive-uricran-30-caps-4632-14541388-b788bcf7e9ae0980cad6fd23f2a61c4a-catalog_233

Prive Uricran plus 15’s 

prive-uricran-plus-1539s-5514-70961388-dfe715fcdb5ae237dad22b02e69ccd4f-catalog_233

 

Semoga bermanfaat ya☺

[UPDATE: 18 April 2018]

 

 

Diposkan pada blog competition

10 Langkah Mencintai Rupiah

10

Selembar eh bukan selembar lagi. Selembar uang 50 ribuan rupiah terpecah usai dijajakan. Tapi kok uang kembaliannya kucel, kumel, dan kusut begini. Jadi benar donk anggapan kalau uang adalah sarang kuman. Akibat sering berpindah tangan.

Haduh… aku kok tidak setuju ya jika uang disebut sarana menyebarnya penyakit. Bagiku, uang adalah sesuatu yang bernilai dan berharga, sudah selayaknya diperlakukan semestinya. Baik itu pecahan logam maupun kertas berapapun nominalnya.

Jpeg
Uang kumal (dok. pri)

Selain kasus, uang kumal, ada lagi orang yang kurang menghargai uang logam nominal kecil seperti 100 atau 200 rupiah karena yang lebih kecil sudah jarang dijumpai. Pernah ada yang membuang uang seratus rupiah di sebelahku. Spontan aku menatapnya. Mungkin dia mengerti maksud tatapanku, lalu mengatakan bahwa uang tersebut tidak laku bahkan untuk membeli permen. Ada lagi yang ngedumel saat mendapat kembalian uang receh. Pernah juga aku menjumpai, pengamen atau peminta-minta yang membuang uang 200 rupiah. Dalam hati aku membatin, bagaimana bisa kaya jika mental memperlakukan uang saja seperti itu. Tidak bisa menghargai alat pembayaran ini.

Pernah terpikir, kenapa Bank Indonesia terus mencetak uang logam nominal kecil ini. Sebab, di warung-warung sudah jarang dengan harga “ganjil” ini. Kalau di minimarket atau sistem kasir sih memang masih digunakan. Tapi, sebagai pengatur kebijakan keuangan tentu semua ada alasannya. Cuma sayang ya kalau kurang dihargai dan dibuang begitu kan? Aku pun kadang kalau lagi jalan suka memungut uang-uang ini lho. Tak peduli dijuluki apapun. Karena, ya menurutku setiap rupiah itu bermakna dan berharga.

Pernah melihat iklan Bank Indonesia Di Setiap Makna Indonesia tentang bagaimana uang bisa sampai ke tangan kita. Kalau belum bisa tonton klik di sini.

“Tahu ga kalau uang yang setiap hari kita pegang mempunyai cerita perjalanannya masing-masing. Pada awalnya, direncanakan, disiapkan, dan diantarkan ke seluruh penjuru Indonesia. Setelah itu, didampingi oleh alat-alat negara. Uang rupiah akan terbang di udara. Dan dibawa mengarungi luas samudra dengan perahu yang sangat besar hingga perahu yang kecil. Terkadang ada moment moment tersendiri yang membuat perjalanan ribuan kilometer itu semakin istimewa. Dari sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Demi melihat senyuman sampai akhirnya rupiah sampai di tangan. Hingga tanpa kita sadari rupiah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Membawa kebahagiaan, kenyamanan, dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. Inilah yang membuat perjalanan rupiah ini lebih bermakna. Kalau kalian pakai rupiah untuk apa?”

Kalau perjalanannya saja sedemikian rupa, dari percetakan di Perusahaan Umum Pencetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri), kenapa pas sampai ke kita malah semena-mena ya. Jangan hanya nominal besar yang disayang yang kecil dibuang.

Mulai tahun 2014 BI sudah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)  dan mengarahkan gaya hidup masyarakat menuju e-money. Menurutku, cara ini efektif untuk mengembalikan nilai recehan di mata masyarakat. Selain itu, memang banyak manfaat lainnya sih. Tapi, untuk masyarakat pedesaan, pedalaman, dan perbatasan mungkin masih membutuhkan usaha ekstra ditambah fasilitas dan akses yang menunjang secara lebih baik lagi ya kan. Kalau yang di kota mungkin sudah tidak asing lagi ya setiap transaksi menggunakan kartu, mau belanja, membayar tagihan, tol, dan lain-lain.

 

Rupiah, Tak Sekedar Uang

Nah, ngomongin soal rupiah ini, ada yang bilang kalau rupiah merupakan turunan dari rupee, mata uang India. Rupiah Indonesia berasal dari kata Rupya dari Bahasa Sansekerta berarti koin perak. Saat ini merupakan alat tukar menukar barang atau jasa yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rupiah jangan hanya numpang lewat, coba yuk mengamati dan mencermati desainnya. Bank Indonesia sebagai otoritas meneter telah menetapkan logo dan desain melalui proses panjang lho. Bahkan penentuan 12 gambar pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden (kepres). Gambar-gambar pahlawan nasional, wonderful Indonesia, dan seni budayanya bukan hanya untuk keperluan design semata tapi harapannya bisa diteladani dan lebih mencintai Indonesia. Aku yakin belum tentu kita semua mengetahui tentang rupa-rupa yang ada dalam rupiah tersebut. Dan, karena suka mengamati rupiah ini, suatu ketika membantuku menjawab soal tes wawasan kebangsaan tentang pahlawan nasional asal Papua yang mempunyai andil dalam Konferensi Malinau. Jawabannya ada di pecahan uang 10 ribu emisi 2016, Frans Kaisiepo.

Setelah lebih mengenal lebih dekat uang rupiah, saatnya mencintai. Nah, kalau mengaku cinta pasti ada tindakan terhadap si cinta ya kan. Kita bakal rela mengorbankan dan melakukan apa saja demi kebahagiaannya, kebahagiaan bersama. Istilahnya simbolis mutualisme, saling menguntungkan kedua belah pihak.

Nah, dalam mencintai rupiah setidaknya 10 hal yang aku lakukan:

  1. Menata berdasarkan nominal di dompet.
  2. Tidak menaruh/menyimpan sembarangan misal dekat makanan, air dan tidak meremasnya di tangan. Hal ini mencegah uang rupiah menjadi tidak layak edar karena kondisinya kumal bahkan sobek.
  3. Mengambil uang receh di jalan dan mengumpulkannya. Sebagai alternatif, bisa dimasukkan kotak infaq akan lebih berguna. Kotak infaq pun banyak tersebar di berbagai tempat selain masjid, di depan minimarket, di warung, dan tempat publik lainnya.
  4. Saat mendapat uang kumal berusaha merapikan kembali.
  5. Mengajari anak cinta rupiah. Lewat teladan, karena children see children do. Saat anak jajan sendiri tidak selalu memberikan uang kertas kadang juga logam. Tidak satu dua anak tetangga yang tidak mau saat diberi receh oleh orang tuanya, karena menganggap tidak laku buat jajan. Menurut saya ini kembali kepada perilaku dan penjelasan orang tua ya.
  6. Tidak mencoret-coret uang. Di era media sosial, banyak cara untuk narsis jadi sudah ga zaman vandalisme pada uang kertas
  7. Menjauhkan dari jangkauan anak bawah tiga tahun (batita). Karena mereka biasanya akan menggigit, memakan, merobek. Pengalaman pribadi, karena lalai si kecil (1 tahun) meraih uang 20 ribu di meja, lalu menggigitnya dan robek jadi tiga bagian. Sobekan pun sudah masuk mulut. Jangan sampai ya, karena kalau terbagi kecil-kecil bahaya juga kan kalau tertelan.
  8. Saat menerima kembalian, menyingkir dari kasir, dan mengambil waktu sejenak merapikan sehingga tidak langsung dimasukkan ke dompet dengan buru-buru.
  9. Bangga dengan rupiah. Kata Presiden Joko Widodo, setiap lembar rupiah adalah wujud kedaulatan sebagai negara. Aku sih belum pernah langsung tinggal di perbatasan ya tapi kalau berdasarkan cerita atau menonton film memang sih daerah perbatasan lebih rentan. Dalam film “Tanah Surga Katanya” yang ber-setting di perbatasan Kalimantan dan Malaysia, ada adegan anak kecil yang membantu dokter dari kota membawa barangnya. Saat membayar jasa sang anak, dokter memberikan selembar uang 50 ribu rupiah. Tapi si anak menolak karena mengaku tidak pernah melihat uang tersebut dan malah merasa ditipu. Lalu, datanglah seorang guru yang setelah mendengar cerita anak segera menukar uang dokter dengan dua lembar 10 ringgit Malaysia. “Ini baru duit,” kata sang anak sumringah. Selain itu Pak Jokowi juga mengajak agar menyimpan tabungan dalam bentuk rupiah, kalau ini mungkin untuk kalangan atas ya.
  10. Mendapatkan dan membelanjakan dengan cara yang halal agar berkah.

Demikian, pandanganku tentang uang yang harus dihargai. Karena menghargai uang itu menurutku bagian dari mental kita sendiri. Layaknya banyak jalan menuju roma, banyak langkah yang bisa dilakukan untuk mencintai mata uang kita. Dari hal yang paling sederhana hingga yang tak terpikirkan. Kalau kamu seperti apa?

 

*Grafis foto uang rupiah oleh di sini, design with canva