Diposkan pada Artikel, Echi's Wife, ODOP

Tips Melahirkan Normal

Melahirkan secara normal merupakan dambaan setiap ibu. Sebab, pemulihan seorang ibu lebih cepat, begitu juga ASI dipercaya lebih lancar. Kecuali untuk keadaan darurat demi menyelamatkan ibu dan bayi, persalinan melalui operasi sesar memang dibutuhkan.

Waktu kehamilan pertama banyak yang menyangsikan, saya dapat melahirkan secara normal. Fisik saya yang kecil dengan tinggi badan sekitar 150 sentimeter penyebab utama keraguan tersebut.

Agar bisa melahirkan secara normal. Persiapan-persiapan yang saya lakukan di antaranya:

  • Latihan napas. Saat melahirkan normal kita harus mengejan. Nah, saat mengejan ini kita butuh napas yang panjang. Sering – sering latihan napas panjang atau bisa dengan berjalan kaki.
  • Senam hamil. Iku kelas senam hamil mungkin lebih baik. Tapi kalau saya dulu hanya mengikuti petunjuk di buku pink dari bidan dan mencari di internet. Senam ini akan membantu mempersiapkan otot-otot yang berhubungan dengan kelahiran normal.
  • Banyak berdoa dan bersujud. Kalau kita Muslim, sujud dalam sholat secara ilmiah sudah terbukti akan membantu posisi bayi sempurna yaitu kepala di bawah. Saat sujud pula kita disarankan banyak berdoa karena waktu itu adalah waktu kita terdekat dengan Alloh.
  • Sering mengobrol dengan jabang bayi. Sejak dalam kandungan saya suka bicara sama anak. Misalnya kalau sudah waktunya lahir yang lancar ya, saling menguatkan sama ibu ya… dan sebagainya. Ini juga bisa menghilangkan stress atau rasa khawatir jelang waktu melahirkan lho,Bund.
  • Minta restu ibu dan suami. Jika masih mempunyai ibu, doa ibu adalah yang terbaik. Kalau ibu sudah meninggal jangan  berkecil hati. Karena setelah orang tua, saat kita sudah menikah, ridho Alloh jika suami sudah ridho. Saya sering meminta suami mendoakan saya dan anak. Jangan sungkan ya sama suami sendiri. Toh, kita sudah setuju dipinangnya seumur hidup.
  • Mantapkan niat dan tekad. Ada senior waktu di kampus yang menjadi contoh saya. Pinggangnya lebih kecil dari saya. Dia sudah divonis kelahiran sesar. Tapi, dengan niat dan tekad yang kuat ia akhirnya bisa melahirkan normal. Di kesempatan terakhir yang diberikan bidan, anak pertamanya lahir dengan sehat. Ibunya juga.

Alhamdulillah dengan melakukan hal tersebut, kedua anak saya lahir dengab normal. Dua-duanya lahir di bidan desa dengan kelahiran normal dan waktu bersalin yang lancar.

Tidak ada yang memungkiri rasa sakit seorang ibu yang hendak melahirkan. Namun, semua rasa sakit dan lelah tersebut akan terbayar dengan jerit tangis bayi yang lahir. Kemudian saat bidan meletakkannya di dada kita untuk di Inisiasi Menyusui Ini (IMD). Saat tangan kita menyentuh tubuh mungil darah daging kita.

Bunda sedang hamil, semangat ya. Semoga tips saya bisa membantu. Jangan mengeluh karena anak adalah amanah 🙂

images (1)
Sumber: Kumpulan Doa Pilihan

 

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Iklan
Diposkan pada Echi's Wife, ODOP

Perbedaan Karakter Anak

Bunda… Setiap anak itu unik. Kalau kata ibu saya, beda anak beda hati. Kalau anaknya dua ya hatinya dua. Mengerti maksudnya tidak? Jadi kira-kira begini, beda anak beda perlakuannya. Kita sebagai ibunya harus bisa membelah hati sesuai karakter mereka. Antara anak yang satu dengan yang lain tidak bisa diperlakukan sama. Makanya terkadang hasil didikan sama tapi anaknya tumbuh berbeda. Karena harus kita sadari meskipun anak terlahir kembar tapi sifat mereka berbeda.

Saya sedang belajar dan terus belajar dalam mendidik anak. Anak sulung saya perempuan dan adiknya laki-laki, terpaut umur dua tahun. Meskipun, sekarang masih balita justru yang rewel yang perempuan, si anak pertama. Kalau secara teori, yang besar yang mengalah, yang besar harus menjadi contoh. Memang benar tapi harus sesuai situasi dan kondisi juga ya, Bund.

20170505_120807
Foto: dok. pribadi

Anak Sulung, Si Pemimpin 

Anak sulung biasanya mendapat perhatian yang sangat dari orang tua, dari masa kehamilan hingga lahir. Karenanya, orang tua biasanya menaruh banyak harapan pada anak sulung. Harapan menjadi contoh bagi saudara yang lain maupun harapan jika tumbuh besar nanti. Jika tidak hati-hati kecenderungan orang tua ini akan menjadi beban baginya. Rata-rata karakter yang dimiliki si sulung adalah sosok yang dapat diandalkan, terstruktur, rapi, cenderung serius, penuh kendali, mencapai prestasi, dan berjiwa pemimpin.

Meski begitu sebagai orang tua kita tetap harus memberinya pilihan sesuai bakat dan kemampuannya. Biarkan juga dia berkembang optimal tanpa melulu dikte dari kita.

Anak Bungsu, Si Jenaka

Kerasa sih saya sama saya, ketika anak pertama, saya begitu detail dengan perkembangannya. Saya juga menanti-nanti, kapan ia tumbuh gigi, merangkak, berjalan, dan lainnya. Nah, giliran adiknya bukannya tidak memperhatikan ya tapi rasanya saya lebih percaya diri dalam mengasuh. Anak pun rasanya tumbuh dengan sendirinya. Karena perbedaan pola pengasuhan tersebut umumnya anak terkecil tumbuh menjadi pribadi menyenangkan, jenaka, ceria, rileks, mudah bergaul, sederhana, dan spontan.

Yang tidak boleh dilalaikan sebagai orang tua adalah tetap harus memupuk jiwa pemimpinnya. Apalagi kalau dia laki-laki. Meskipun dilahirkan bukan anak pertama tapi saya lebih mengarahkan jiwa pemimpin ini pada anak kedua. Boleh jadi secara urutan anak kedua saya laki-laki dan anak pertama perempuan. Tapi dalam pengasuhannya saya membaliknya. Seperti kata psikolog Valensia Gowanda, urutan lahir bukan hanya berdasarkan urutan kelahiran tetapi juga peran urutan lahir yang diberikan orang tua untuk anak. Seperti saya yang memperlakukan anak kedua sebagai pemimpin. Kalau bunda gimana?

Nah, selain karakter sulung dan bungsu, ada juga yang ditakdirkan menjadi anak tunggal. Anak tunggal ini biasanya perfeksionis dan umumnya serius. Karena mendapat curahan kasih sayang dari kedua orang tua, ia tumbuh dengan kepercayaan diri tinggi. Namun, kurang bisa menyesuaikan dengan diri dengan kebutuhan teman sebayanya.

Jika memiliki anak tunggal, sebagai orangtua harus melatih empati maupun kemampuan negoisasi karena ia tidak memiliki kakak atau adik. Kita juga tidak boleh mempunyai banyak harapan kepada anak tunggal. Biarkan ia tetap mandiri dan bertumbuh dengan style-nya.

Beda lagi dengan anak tengah, si fleksibel. Karena mempunyai kakak dan adik, ia pun merasa lebih nyaman. Karenanya, anak tengah biasanya mudah menyesuaikan diri, mementingkan persahabatan, pendamai, namun cenderung “memberontak” atau tampil beda.

Sebagai orang tua kita harus menyediakan waktu ekstra untuk anak tengah agar ia tetap berekspresi sesuai gayanya. Memastikan ia juga disayang seperti kakak dan adiknya sehingga tidak minder dalam pergaulan.

Selain urutan kelahiran, menurut Valensia, jarak usia juga perlu dipertimbangkan. Misalnya jarak anak pertama dan kedua selisih lima tahun. Biasanya anak pertama akan memiliki sifat anak tunggal dan anak kedua menjadi si sulung.

Begitu kira-kira, bunda, meskipun begitu pola asuh tetap sesuaikan dengan kepribadian anak agar mereka tumbuh optimal menjadi generasi emas. Sebagai ibunya, kita adalah orang yang paling mengetahui tentang anak kita. Jadi ibu itu tidak gampang tapi tidak berarti susah juga. Semoga kita bisa menjadi ibu yang amanah buat anak-anak kita ya 🙂

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Diposkan pada Echi's Wife

Sudah Matikan Lampu Belum?

Sebenarnya terlambat ya posting listrik naik ini. Tapi gapapa lah… Karena beberapa waktu lalu saya mendapat email yang subjeknya “Ini bukan #GaraGaraListrikNaik, tapi #EnergiBerkeadilan” dari Kominfo. Jadi tergelitik ingin menulis soal listrik ini.

Siapa yang syok waktu bayar listrik bulan kemarin? Khususnya yang memakai daya 900VA pascabayar, ya. Saya donk ngacung pertama kali hehe… Gimana tidak dari Rp 71,783 ribu menjadi Rp 178,203 ribu??? Hmmm… Sempat bingung dengan lonjakannya, perasaan sih makainya sama saja…

Eh, ternyata tetangga yang memakai daya yang sama juga ga kalah kaget. Dia mengaku biasanya membawa uang Rp 200 ribu bisa untuk membayar dua rumah malah ada kembalian. Ini kurang dan harus pulang lagi. Malu… akunya. Satu ibu rumah tangga lagi yang curhat ke saya, pajak listriknya per bulan biasanya sekitar Rp 60 ribu, di bulan April 2017 menjadi Rp 140 ribu. “Untung bawa uang lebih, kalau ga harus balik lagi,” katanya gitu.

listrik-untuk-semua-5
Jadi listrik 900VA ini ternyata mengalami penyesuaian tarif dalam tiga tahap. Ah kurang begitu mengerti sih saya. Untuk detail penyesuaian tarif bisa cek gambar di atas. Ya, pada intinya dicabut subsidinya begitu atau tidak dibantu oleh anggaran dari pemerintah. Karena dianggap tidak tepat sasaran sebab yang menikmati rata-rata dari golongan mampu. Sedangkan subsidi itu untuk kaum miskin dan tidak mampu. Landasan hukumnya UU No 30 Tahun 2007 tentang Energi pasal 7 dan UU No 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan pasal 4.

listrik-untuk-semua-1

Masuk akal sih ya meski masih grundelan hehe… Tapi bersyukurlah berarti kita termasuk golongan mampu, ya kan? Nah, sebagai informasi subsidi listrik paling besar dinikmati oleh pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA mencapai Rp. 49,32 Triliun (87%).

listrik-untuk-semua-2
Lalu, siapa saja yang berhak mendapatkan subsidi?
Sesuai Permen ESDM No 29 Tahun 2016 penerima subsidi adalah rumah tangga pengguna 450VA dan 900VA miskin dan tidak mampu. Penetapan rumah tangga miskin dan tidak mampu ini didasarkan pada Data Terpadu Penanganan Fakir Miskin yang dikelola oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Kementerian Sosial.
listrik-untuk-semua-3

Oya, jika kamu merasa layak mendapatkan subsidi atau menemukan orang yang seharusnya mendapat subsidi atau sebaliknya, kamu bisa mengadukan loh. Mudah kok. Kamu tinggal datang ke kantor kelurahan dengan membawa dokumen persyaratan di antaranya:
– salinan Kartu Tanda Penduduk ( KTP) atau surat keterangan domisili
– salinan Kartu Keluarga (KK)
– salinan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau Kartu Perlindungan Sosial (KPS), bila ada
– bukti pembayaran rekening listrik atau pembelian token listrik bagi yang sudah menjadi konsumen PLN
– listrik atau pembelian token listrik di alamat lama dan alamat baru, bila pindah alamat
– surat keterangan dari RT/RW setempat bila pindah alamat
– surat pernyataan yang telah ditandatangani bila pindah alamat

Selengkapnya bisa lihat gambar di bawah ini.


Listrik Untuk Semua; Subsidi Tepat Sasaran dan Energi Berkeadilan

listrik-untuk-semua-4

Sekitar tahun 2011, saya pernah beberapa waktu tinggal di Landak, Kalimantan Barat tepatnya di daerah Menjalin dan Senakin. Listrik benar-benar tak stabil. Dalam satu hari bisa beberapa kali lampu padam. Anehnya saat listrik padam sinyal handphone ikut menghilang. Selain itu listrik padam mendadak juga bisa berpengaruh terhadap keawetan perangkat elektronik seperti PC, kulkas, dan lainnya. Semoga hal ini sudah tak terjadi lagi di sana.

Karenanya, dengan dialihkannya subsidi listrik ini semoga bisa membantu saudara-saudara kita terutama yang masih belum mendapat aliran listrik. Saat ini masih ada 2.500 desa belum teraliri listrik. Sekitar 1,6 juta rumah tangga miskin dan tidak mampu  belum menikmati sambungan listrik. Sebanyak 12.659 desa juga masih kekurangan listrik. Begitu juga tingkat elektrifikasi yang masih harus ditingkatkan dari 88,3% tahun 2015. Berdasarkan KBBI, elektrifikasi artinya pemakaian atau penggantian dengan listrik (sebelumnya tidak digunakan listrik).

Semoga upaya penyesuaian tarif bisa mewujudkan listrik untuk semua. Dengan mendukung program pemerintah kita bisa membantu saudara yang masih membutuhkannya. Subsidi tepat sasaran demi mewujudkan energi berkeadilan. Setuju ga sih kalau listrik menjadi bagian kebutuhan dasar saat ini? Sebab listrik sudah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan terutama penerangan misalnya untuk belajar demi masa depan generasi bangsa. Dan manfaat listrik lainnya yang sudah tak diragukan lagi.

Oke… daripada mengeluh dengan penyesuain tarif ini sebagai ibu rumah tangga yang berperan sebagai menteri keuangan keluarga yang bertugas membayar tagihan listrik bulanan yang bisa kita lakukan adalah menghemat listrik. Tak lain tak bukan agar biaya bulanan tak membengkak. Karenanya berbagai upaya dilakukan untuk menghemat listrik.

Tips menghemat listrik

20170515_134213[1]
Foto: dok. pribadi
Begitu pulang dari membayar tagihan listrik bulan April 2017, masuk rumah saya langsung mematikan lampu dapur yang masih menyala. “Lihat, ibumu langsung matiin lampu gitu, Nam,” kata suami sambil merenges.

Tapi bukan hanya saja lho yang menerapkan ini. Tetangga saya juga ditegur suaminya. Sebab saat pulang kerja rumah dalam keadaan gelap gulita karena dia lagi menyetrika. Ia sengaja mematikan lampu selama menggosok baju demi menghemat listrik. Dasar ibu-ibu ya 😀

Tapi ngomong-ngomong soal lampu, ini memang menyumbang listrik yang tak sedikit lho. Kata adik saya, ya meskipun watt-nya kecil tapi kan menyala berjam-jam. Jumlah lampu di rumah juga ada beberapa kan? Ibarat peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit -dalam konteks biaya listrik-. Gambarannya misal satu lampu daya 5 watt nyala 12 jam, biaya per kwh anggap Rp 1.352 sesuai penyesuaian tarif tahap III atau bulan Mei. Nah, coba kita menghitung biaya listrik sehari untuk satu lampu.

Pemakaian per hari :
= (5 Watt /1.000) x 12 jam) x Rp 1.352,-
= Rp 81,12

Pemakaian per bulan (anggap 30 hari) :
= Rp. 81,12 x 30
= Rp. 2.433,60

Hasil tersebut merupakan gambaran pemakaian listrik satu buah lampu. Kalau di rumah ada lima lampu tinggal dikalikan lima atau sekitar Rp 12 ribu. Kita tidak bisa menyebut angka pasti sebab nyala listrik kan berbeda-beda tidak semua dan setiap harinya pasti 12 jam.

Sekarang coba kita memangkas 3 jam untuk kepeluan lampu ini, kita bisa menghemat sekitar tiga ribu rupiah. Lumayan bisa buat parkir kan? So, pastikan lampu dimatikan kalau kita mau pergi terutama di siang hari. Belum jika ditambah penghematan dari perangkat elektronik lainnya misalnya menyalakan dispenser saat butuh. Sebab, dispenser ini termasuk perangkat elektronik yang penggunaan listriknya dinamis sebab secara otomatis akan masak air. Contoh lain adalah setrika, rice cooker. Itulah mengapa perangkat elektronik yang berhubungan dengan panas memiliki kebutuhan daya yang tinggi terutama saat bekerja. Saat tidak membuat es batu sebaiknya kulkas dinyalakan pada pengatur suhu kondisi tiga. Pastikan tv mati kalau mau tidur. Jangan sampai tv nonton kita ingat meteran listrik jalan terus. Oiya…koreksi kalau perhitungannya salah.

Hasil tips tersebut, tagihan listrik bulan Mei saya sebesar jreng…jreng…jreng Rp 33,432 Saya lebih syok daripada pas naik bulan kemarin. Tapi mungkin angka ini masih karena dalam proses penyesuain oleh PLN ya. Coba kita lihat lagi bulan depan.

Ngobrol cantik soal tips menghemat listrik ini banyak lho yang sharing di facebook. Manggut-manggut kadang ngakak juga bacanya. Yang belum dapat share-nya, ini salahsatu yang saya ambil dari facebook.

1. belajar hemat ,, ojo nganti nyetel TV malah TV ne nonton sing nyetel  =D < budaya boros… *jangan menyalakan TV tapi malah TV-nya yang menonton kamu*
2. pakai alat listrik secara bergantian
3. usahakan mesin air memakai alat penampungan
jadi tidak sering menghidupkan mesin air
4. matikan lampu bila sudah tidak diperlukan
5. jangan menggunakan dispenser, pakailah kompor saja
6. pakailah lampu LED bukan lampu (TL maupun Bohlam)
#Semoga bermanfaat  (Y)

Mematikan lampu adalah tips sederhana yang bisa saya lakukan dalam upaya menghemat listrik. Kalau kamu apa tips hemat listrik mu? Share, yuk!

sumber infografis: kominfo