Mengembangkan Kemampuan Sosial Anak di Era Digital Melalui Pre-School

 

Oziel dan Namiya

Kemampuan sosial sangat membantu anak dalam mengoptimalkan prestasinya, setuju ya, Moms? Namun, sayangnya tidak setiap anak memiliki kemampuan sosial yang sama. Dalam arti, ada anak yang supel bergaul, ada anak yang susah bergaul, mungkin ada juga yang takut dengan orang yang baru dijumpai.

Saya pernah membaca, untuk mengasah kemampuan bersosialisasi dapat dilakukan sejak bayi berumur lima bulan atau bisa menatap sempurna. Ada juga yang bilang, kebiasaan yang dilakukan sang ibu saat hamil akan memengaruhi perilaku anak.

Bukan bermaksud membandingkan karena setiap anak itu berbeda dan istimewa, saya hanya ingin berbagi kisah antara Kakak (4,5 tahun) dan Adik (2,5 tahun). Siapa tahu bisa menjadi inspirasi buat Moms yang lain.

Ketika mengandung anak pertama, saya masih aktif ikut pameran dan workshop. Begitu juga saat ia sudah lahir. Ia pun sudah saya ajak ikut pameran meski masih dalam masa ASI Ekslusif. Tentu saja, saat pameran tersebut ia akan berpindah dari satu tangan ke tangan lain alias banyak yang mengajak. Intensitasnya bertemu orang “asing”  sangat tinggi.

Bersosialisasi sejak kecil

Kini diusianya yang belum genap lima tahun, Kakak dikenal sebagai anak yang supel dan pemberani. Bahkan, ketika kami harus berpindah kota, kendala bahasa tak membuatnya berubah. Di sekolah, ibu dari para murid bilang kepada saya, kalau anak saya itu berani. Karenanya, di saat anak-anak setempat masih banyak ditunggui ibu/ayahnya, dengan percaya diri sejak hari kedua, saya sudah melepasnya.

Namun berbeda dengan Adik. Karena jarak kehamilan yang pendek, saya total mengurangi aktivitas. Karena masih harus mengasuh anak pertama dan pertimbangan kesehatan jabang bayi, saya hampir tidak melakukan kegiatan “di luar”. Begitu pula saat anak kedua lahir, saya murni menjadi seorang ibu rumah tangga.

Perbedaan keduanya nampak saat bertemu orang lain selain orang tuanya. Anak pertama saya gampang kenal dan relatif mudah jika ingin mengajaknya. Sedangkan adiknya, sama sekali tidak mau ikut orang lain selain ibu dan ayahnya. Bahkan, jika dulu si sulung setiap pulang kampung langsung mau ikut “Mbah” (nenek/kakek) dan “Pakde” (Kakak saya) berbeda dengan si bungsu yang tidak mau ikut siapa-siapa.

Begitu menyadari hal tersebut, mengembangkan kemampuan sosial si bungsu menjadi PR saya sebagai ibu.

Usaha yang saya lakukan di antaranya mengajak adik saat ada agenda di luar dan mengusahakan setiap akhir pekan jalan-jalan agar si kecil bisa bertemu banyak orang. Kemudian saya mulai menitipkan si kecil jika harus ke luar kota meskipun harus pergi secara diam-diam.

Namun tentu saja tidak serta merta keberanian dan kemampuan sosial si kecil bertambah. Justru dia semakin tidak mau lepas dari saya. Begitu saya tidak nampak sebentar saja dari pandangannya, ia akan memanggil-manggil sambil menangis kencang.

Barulah setelah usianya dua tahun, ia mulai mau “good bye” saat berpisah dengan orang lain. Ia mulai mau pergi dengan orang lain yang sudah dikenal sebelumnya tanpa harus ada ibu disampingnya. Ia pun mulai mau main sendiri tanpa harus ditungguin. Saya pun tak harus selalu pergi diam-diam jika ingin melakukan aktivitas lain.

 

Tantangan Mengembangkan Kemampuan Sosial Anak di Era Digital

“Nanti kalau sudah besar juga berani sendiri.”

Ada yang menanggapi demikian terhadap perilaku si bungsu. Tapi pertanyaan kapan? Bagi saya kalimat tersebut hanyalah kalimat menghibur.

Sebagai ibu masa kini, saya tentu tidak boleh pasif. Apalagi saat ini merupakan era digital. Dunia digital sudah tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Tingkat penetrasi internet di Indonesia hingga Maret 2017 mencapai 50,4 persen. Tidak memungkiri kedua balita saya pun begitu antusias jika sudah melihat smartphone.

Oziel dan Gadget

Saat anak sudah asyik dengan smartphone, dia akan melupakan dunia sosial di luarnya.  Anak bungsu saya, begitu melihat smartphone dia akan betah berjam-jam menggunakannya jika perhatiannya tidak segera dialihkan. Begitu juga dengan si kakak.

Mengingat dampaknya, anak dan gadget telah menjadi menu menarik bagi para pemerhati anak, pendidikan, dan kesehatan. Badan kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan bayi di bawah satu tahun untuk tidak menatap layar sama sekali. Anak baru boleh menatap layar gadget pada usia dua tahun. Anak usia dua sampai empat tahun hanya boleh menonton layar gadget dengan waktu kurang dari satu jam.

Tapi berdasarkan pengalaman, sulit melakukan pembatasan waktu. Sebab, anak-anak akan mengandalkan jurus andalan jika smartphone ditarik seperti menangis teriak-teriak. Sehingga pendekatannya harus kembali ke sifat anak. Beda anak, beda perlakuan.

Inilah tugas sebagai orang tua dan instansi pendidikan, bagaimana mengembangkan kemampuan bersosialisasinya di tengah tantangan era digital. Era digital bukan untuk dihindari. Smartphone bukan untuk dilarang. Tetapi lebih kepada bagaimana menyeimbangkannya, kemampuan bersosialisasinya bagus dan bisa memanfaatkan gadget dengan baik.

 

Pentingnya Pendidikan Pre-School di Era Digital

“Pendidikan itu tidak menyemai benihmu tapi membuat benihmu tumbuh.” – Kahlil Gibran.

 

Mengoptimalkan potensi anak

Salahsatu cara menjauhkan anak dari dampak negatif gadget adalah dengan pendidikan anak usia dini baik melalui instansi atau keluarga. Namun, bukan berarti anak benar-benar tidak mempunyai akses terhadap teknologi dan informasi. Sebab, dia akan gagap teknologi. Karena saya masih menemukan anak yang berkata dilarang menggunakan smartphone oleh gurunya.

Untuk itulah perlu adanya sebuah pendidikan dengan sistem pembelajaran modern yang berkualitas. Tidak hanya mengunggulkan di bidang akademis, tapi bisa menggali setiap potensi anak, menjadikannya berkarakter kuat, dan memanfaatkan perangkat teknologi dengan bijak. Jika setiap potensinya berkembang optimal, kesuksesan masa depan sudah di depan mata. Apalagi anak 0-6 tahun saat ini akan menjadi tulang punggung bangsa 25 tahun mendatang.

Sebagai orang tua tentu kita harus jeli memilih instansi Pendidikan Anak Usia Dini yang berkualitas karena kita memercayakan golden age masa perkembangan pesat otaknya kepada orang lain. Sebagai orang tua, tentu kita ingin setelah anak sekolah, grafik perkembangannya semakin naik baik pertumbuhan fisik, kecerdasan otak, kemampuan motorik, kemampuan mengontrol emosi, kemampuan bergaul, maupun kemampuan lainnya.

PAUD yang berkualitas mengetahui cara mengembangkan potensi anak dengan menciptakan lingkungan belajar dan bermain yang nyaman, melatih kemandirian dan tanggung jawab, serta tidak hanya berfokus pada nilai akademis tapi bagaimana minat dan bakat anak itu bisa berkembang optimal. Sehingga anak tidak merasa terpaksa setiap ia hendak sekolah tapi dengan kesadarannya ia bangga bersekolah.

 

Berkenalan dengan Apple Tree Pre-School BSD

Apple Tree Pre-School BSD memiliki kurikulum pembelajaran yang modern dan terintegrasi dalam upaya mengarahkan dan mengikuti perkembangan era digital. Berdiri sejak Juli 2000, Apple Tree Pre-School BSD memiliki visi untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak masa kini dengan mendorong kepercayaan diri dan kemandirian setiap siswa.

Masa awal kanak-kanak atau yang dikenal dengan masa emas anak akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. Apple Tree Pre-School bertujuan menciptakan generasi-generasi emas bangsa yang tak hanya cerdas juga berkarakter.

Untuk mewujudkan generasi cerdas dan berkarakter, Apple Tree Pre-School mengadopsi kurikulum Singapura sehingga sejak kecil akan familiar dengan penggunaan Bahasa Inggris dan Mandarin. Upaya memberikan pengalaman nyata dan merangsang minat anak melalui agenda studi lapangan dan berbagai event di sekolah, menerapkan metode learning centre, dan dibimbing oleh para guru yang profesional, berdedikasi, dan peduli.

Dalam mendukung proses belajar tersedia berbagai fasilitas baik dalam maupun luar ruangan yang layak dan lingkungan belajar yang positif dan menyenangkan. Bagi orang tua siswa diberi laporan kemajuan dan prestasi individu anak secara komprehensif.

20190813_050458_0000

Apple Tree Pre-School BSD memiliki enam kelas yang dibagi berdasarkan usia anak dengan jumlah kelas kecil. Hal ini sangat menarik karena pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan anak sesuai umurnya. Jumlah kelas yang kecil memungkinkan setiap anak mendapat perhatian dari guru sehingga tidak ada yang luput dari pengawasan. Selain itu, interaksi antar anak juga menjadi semakin tinggi sehingga mendukung kemampuan sosialisasinya. Bagaimana, pasti tertarik ya, Moms?

20190811_201705_0000

Apple Tree Pre-School BSD bakal menggelar Open House Apple’s Neighbourhood, 7 September 2019 pukul 08.00-11.00 AM bertempat di Educenter Building lantai 3 dan 7, Kav Commercial International School II No. 8 BSD City Tangerang. Terdapat berbagai acara seperti seminar kesehatan, aneka lomba, hingga cek darah gratis. Pastikan sudah diagendakan ya, Moms and Paps! #appletreebsd

IG-Post-Open-House

Bagaimana kemampuan sosialisasi si kecil, berbagi yuk, Moms?

 

Referensi:

www.appletreebsd.com

WHO: Batas Penggunaan Gadget oleh Balita Maksimal 1 Jam. Dipublikasikan oleh www.kompas.com 28/04/2019 08:39 WIB

 

Infografis diolah dari www.appletreebsd.com  

Iklan

Berbagi Pengalaman Kelas Inspirasi di SDN 038 Kiara Condong Bandung

20190315_051834

Dua penari Jaipong cilik (Foto: koleksi pribadi)

Dua penari Jaipong cilik menyambut kami para relawan Kelas Inspirasi Bandung 7 SDN Kiara Condong 038. Mereka adalah Gishelle dan Shella siswa kelas 2. Refina kelas 5 melanjutkan sambutan dengan mendongeng “Situ Bagendit”.

20190315_052203

Mendongeng “Situ Bagendit” (Foto: Koleksi Pribadi)

Tak mau kalah dari kami para relawan menampilkan Pinguin Dance. Dipandu Bu Irma yang berprofesi sebagai Dewan Pembina Pramuka Bandung. Kami para relawan dan siswa SD Kircon 038 yang terdiri dari murid kelas 4, 5, dan 6 mengikuti hentakan musik. Para guru dengan malu-malu sedikit bergoyang menyemarakkan suasana pagi. Saya sendiri sebenarnya belum hafal gerakan jadi ikut barisan penggembira saja di belakang.

20190315_052507

Pinguin Dance (Foto: koleksi pribadi)

Kami rombel terdiri dari sembilan relawan pengajar termasuk saya, tiga fotografer, satu videografer, dan dua pendamping. Karena sekolah masuk pagi dan siang, kami hanya masuk di kelas pagi yaitu 4a, 4b, 5a, 5b, 6a, dan 6b. Jumlah siswa masing-masing kelas lebih dari 40 murid. Sehingga bolehlah saya menyebutnya kelas besar.

Sejak mengetahui hal tersebut saya memutar otak bagaimana menerapkan metode belajar yang asik agar semua siswa terlibat tidak hanya murid yang duduk di bangku depan saja. Momok kehilangan suara selesai KI menghantui saya ((tapi kok tidak kapok ikut KI ya)).

Baca: Berbagi Pengalaman Kelas Inspirasi, Jadi Guru SD Itu Ternyata Tak Gampang

Di hari inspirasi, Rabu, 20 Februari 2019, saya kebagian mengajar tiga kelas yaitu 4b, 5b, dan 6b. Karena jam pertama sudah terpotong oleh opening sehingga di kelas 4b saya tidak mengajar tapi hanya berdoa, hafalan surat pendek dan menyanyikan Indonesia Raya sesuai kebiasaan kelas mereka sebelum memulai pelajaran. Di kelas ini saya hanya berkesempatan memperkenalkan diri dan profesi serta membagi atribut yang dipakai para siswa.

IMG_1353

Membantu mengenakan atribut (Foto: Kak Ramitan)

Di kelas 6b, karena ruangan cukup besar saya menerapkan metode kelompok dengan lesehan. Saya membagi menjadi 7 kelompok yang terdiri dari 6-7 siswa. Satu kelompok ini saya berikan semacam puzzle untuk disusun sebagai jenis profesi termasuk salahsatu profesi saya ada disitu. Sengaja semua profesi dalam Bahasa Inggris karena agar anak-anak sekaligus belajar Bahasa Inggris.

Processed with VSCO with a4 preset

Proses belajar mengajar (Foto: Kak Visi)

Di kelas 5b, sekaligus jam terakhir karena biasanya siswa sudah tidak kondusif dan energi saya juga sudah mulai berkurang serta kebetulan ruangan tidak terlalu luas, saya tetap membagi kelompok tapi tidak lesehan. Mereka hanya menggeser bangku dan membalik kursi sehingga duduk berhadapan.

Di kelas ini juga untuk pertama kalinya sejak saya ikut KI ada seorang siswi yang menangis. Bagaimana menghadapinya? Pertama saya cari masalahnya. Ternyata dia menangis karena tidak mau dipaksa bergabung oleh siswa laki-laki di kelompok tersebut. Sementara kelompok yang lain sudah terpenuhi anggotanya. Sebagai pengecualian saya biarkan dia masuk kelompok yang lain tapi tetap geleng-geleng. Pada akhirnya saya biarkan saja dan menyuruhnya berhenti menangis. Karena waktu terus berjalan dan kondisi yang lain mulai gaduh.

Di kelas terakhir, saya agak kewalahan dikepung 51 siswa. Setelah materi saya tersampaikan dan karena suara saya kalah. Parno kehilangan suara jika memaksa akhirnya saya suruh perwakilan mereka yang bisa bernyanyi ke depan. Akhirnya pecah sekelas nyanyi bersama. Kenapa saya pilih alternatif ini, karena jika dilakukan ice breaking tidak ada space lagi. Jadi benar relawan pengajar harus mempunyai banyak alternatif pengajaran.

Kesimpulan saya menerapkan metode kelompok adalah kehilangan banyak waktu mengajar. Karena jam mengajar hanya 35 menit. Di kelas 6b, agar bisa lesehan dengan nyaman harus disapu dulu lantainya karena kotor. Kemudian di kelas 5b, mengoordinir pembagian kelompok ternyata tidak gampang juga. Sebab, ya ada model geng-gengan gitu. Anak ini maunya sama teman bermainnya saja sehingga untuk memberi pengertian juga butuh waktu.

Dengan metode kelompok, laptop hanya sekedar pajangan. Tidak seperti di KI sebelumnya, laptop meski tanpa infokus merupakan andalan saya mengajar (karena rata-rata kelas kecil). Untuk penyampaian materi hingga melihat video. Di KI ini saya juga tidak menyelipkan ice breaking dengan kondisi waktu dan ruangan yang tidak memadai.

Jadi begitulah pengalaman saya, sehari di SD Kircon 038, seru dan berkesan.

KI_BDG-16

Bersama para relawan KI Bandung #7 SDN 038 Kiara Condong (Foto: Dokumentasi KI)

DSC00388

Foto bersama siswa dan relawan (Foto: Dokumentasi KI)

 

“Langkah menjadi panutan, ujar menjadi pengetahuan, pengalaman menjadi inspirasi.”

 

Tujuh Keuntungan Pendidikan di Luar Sekolah

6. Bermain Lego

Taman Kanak-kanak (Foto: koleksi pribadi)

Hi Buddies,

Di kiriman kali ini saya ingin membahas tentang pendidikan di luar sekolah penting ga sih?

Sebelum memulai pembahasan ada baiknya, kita mengetahui jenis pendidikan terlebih dahulu. Di Indonesia terdapat tiga jalur pendidikan yang dapat ditempuh setiap warga negara yaitu pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan Formal

Pendidikan formal merupakan jenis pendidikan yang sudah dikenal secara umum sebagai sekolah. Pendidikan formal atau resmi diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 2. Bunyinya, Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pendidikan dasar yang diwajibkan pemerintah dikenal dengan nama wajar sembilan tahun (wajib belajar sembilan tahun) yaitu enam tahun di SD dan tiga tahun di SMP. Namun selain wajar sembilan tahun, jenjang pendidikan formal yang lain adalah TK, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, dan Perguruan Tinggi.

Pendidikan Nonformal

Nonformal menurut KBBI artinya tidak resmi; bersifat di luar kegiatan resmi sekolah. Pendidikan nonformal bersifat menunjang kegiatan pendidikan di sekolah. Di antaranya kursus, bimbingan belajar, lembaga pelatihan, Taman Pendidikan Alquran (TPA), Kelompok Bermain (KB), dan majelis taklim.

Pendidikan Informal

Dalam KBBI, informal sama artinya dengan nonformal yaitu tidak resmi. Pendidikan informal adalah pendidikan yang dilakukan secara mandiri dari diri sendiri dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai bagian pembentukan karakter. Misalnya agama, etika, sopan santun, dan moral.

Judul4

Setelah mengetahui jenis pendidikan yang ada di Indonesia tersebut, muncul pertanyaan, apakah dengan menempuh pendidikan formal sudah cukup untuk menjadi bekal di dunia kerja?

Apakah pendidikan formal saja sudah cukup menjadi bekal di dunia kerja?

Saya sendiri dengan mantap akan menjawab belum. Kenapa? Karena tidak semua pendidikan, keahlian maupun ketrampilan bisa dipenuhi dengan jam pelajaran di sekolah. Sebagai contoh, berikut beberapa pendidikan nonformal yang saya ambil di luar sekolah:

1. Taman Pendidikan Al qur’an (TPA)

Masih teringat jelas betapa malunya saya di kelas ketika pelajaran agama Islam. Saat itu guru menunjuk saya untuk membaca tulisan Arab bersambung di papan tulis. Saya terdiam cukup lama karena memang saya belum bisa membacanya. Rasa malu itu makin menjadi saat ada siswa menyahut membaca.

Dengan kejadian tersebut, saya yang duduk di bangku SD kemudian ikut TPA untuk mengejar ketertinggalan dalam baca tulis Al quran. Waktu saya kecil masih jarang TPA. Untuk TPA harus ke luar desa. Namun, semua itu ditempuh demi mengejar ketertinggalan. Karena tidak mungkin guru akan menggunakan seluruh jam pelajaran agama di sekolah hanya untuk mengajar saya seorang.

2. Ekstrakurikuler Jurnalistik

Saya suka menulis dimulai dari coret-coretan di diari. SMA saya dulu memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler untuk mewadahi hobi dan minat para siswanya. Berbekal kegemaran menulis, saya mengasah kemampuan dan meningkatkan pengetahuan di dunia tulis menulis dengan mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Di sini kami belajar teori menulis dan yang paling mahal adalah mendengar pengalaman para pengajar yang merupakan mantan wartawan.

3. Kursus Bahasa Inggris

Jika ingin sukses, kuasailah Bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan bahasa pergaulan internasional. Kemampuan Bahasa Inggris saya cenderung pasif dan kurang dalam listening maupun percakapan. Sehingga nilai saya jelek dalam ujian listening. Saat bertatap muka dengan penutur asli rasanya kikuk dan kurang percaya diri untuk melafalkan bahasa asing tersebut. Untuk menambal lubang tersebut, saya mengikuti kursus Bahasa Inggris di lembaga yang telah terakreditasi dan saya mendapatkan sertifikat kelulusan.

4. Kursus IT

Selain Bahasa Inggris, menguasai IT di era digital ini bisa menjadi modal di dunia kerja. Dulu ketika saya baru lulus SMA, komputer masih menjadi barang berharga. Orang bisa mengetik di word maupun mengolah data di excel sudah keren istilahnya. Namun, di era makin kompetitif ini, hal tersebut sudah tidak cukup. Rugi kata saya jika tidak bisa memanfaatkan gadget secara maksimal apalagi jika hanya digunakan untuk konsumtif alias buang-buang kuota.

Dunia IT sudah berkembang pesat. Di sela-sela memperoleh gelar sarjana waktu itu saya mengambil kursus website. Kalau dipikir tidak nyambung dengan jurusan kuliah saya di kehutanan. Tapi melalui kursus tersebut setidaknya memberi gambaran dan tidak membuat saya terlalu gaptek.

Saat itu sekitar 2009 mencari tempat kursus IT masih langka. Dari Klaten saya kursus di Yogyakarta yang berjarak sekitar 23 kilometer dengan jadwal belajar dari pukul 19.00 hingga 20.30 WIB. Sayangnya ketika kursus selesai dan hendak melanjutkan kursus dengan level lebih tinggi terkendala kuota. Pendaftar kurang dari 10 orang sehingga kursus tidak bisa dilaksanakan. Karena akhirnya saya lebih dulu mendapat panggilan kerja, alhasil ilmu tentang website yang masih setengah-setengah saya tinggal. Setelah mendapat sertifikat, kontak dengan pengajar juga terputus.

Sekarang sudah banyak menjamur kursus IT sehingga yang diperlukan adalah jeli melihat fasilitas, kredibilitas lembaga penyelenggara, dan para lulusan. DUMET School merupakan tempat kursus website, digital marketing, dan desain grafis di wilayah jabodetabek dengan cabang di Kelapa Gading, Grogol, Tebet, Srengseng, dan Depok.

Berbeda sekali dengan tempat saya kursus dulu, DUMET School memiliki jam yang fleksibel, sehingga tidak perlu malam-malam kursus apalagi jika jarak dari rumah cukup jauh. Menariknya, satu murid bisa langsung mulai sehingga tidak perlu menunggu kuota terpenuhi yang bisa memakan waktu dan merombak rencana yang disusun gara-gara jadwal kursus yang tentatif. Terdapat jaminan belajar sampai bisa dan konsultasi gratis seumur hidup.

20190225_174832

Ada beberapa paket kursus yang bisa dipilih di DUMET School yaitu Web Master, Web Programming, Digital Marketing, dan Graphic Design. Muridnya sudah lebih dari 8.000 tersebar di berbagai instansi terkemuka seperti Djarum, BCA, Universitas Indonesia, Detik.com, Kompas.com, Telkomsel dan sebagainya.

20190225_175034

Judul5

Dengan pengalaman tersebut, setidaknya ada tujuh point manfaat yang bisa saya peroleh setelah mengikuti pendidikan di luar sekolah.

1. Menunjang dan mengejar ketertinggalan pelajaran di sekolah

Untuk yang masih sekolah, pendidikan di luar sekolah bisa menunjang kegiatan di sekolah. Sebagaimana saya mencontohkan segera memutuskan ikut TPA. Walau artinya saya harus mengurangi jam bermain tapi saya tidak ketinggalan di sekolah dan nilai saya tetap bagus. Pendidikan di luar sekolah yang biasa diambil yaitu les dan bimbingan menjelang Ujian Akhir.

2. Mengembangkan diri

Mengambil kegiatan ekstrakurikuler, kursus, workshop maupun mengikuti komunitas tanpa disadari akan mengembangkan diri terhadap hal-hal yang menjadi minat kita. Hal ini bisa menjadi penyeimbang antara kegiatan akademis yang cenderung menggunakan otak kiri dengan hobi yang lebih ke otak kanan. Selain itu, bisa jadi kekurangan kita di akademis akan tertutup prestasi non akademik misalnya olahraga, seni, dan budaya.

3. Menambah jejaring

Seseorang dengan pergaulan yang luas akan nampak dari pribadi yang terbuka dan perilakunya. Jaringan tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah/kampus tapi juga dari luar. Saat saya kursus Bahasa Inggris kebanyakan peserta yang lain sudah bekerja. Di situ saya belajar berkomunikasi dan berbaur dengan orang yang lebih dewasa.

Pepatah mengatakan menjalin silaturahim memperbanyak rezeki. Artinya dengan memiliki teman yang banyak maka peluang rezeki bertambah. Pengalaman saya mendapatkan pekerjaan pertama karena jejaring ini. Bukan berarti lewat jalur belakang tapi lebih ke informasi lowongan. Coba kalau saya sungkan berkenalan dengan orang baru belum tentu saya akan mengetahui lowongan pekerjaan ke Kalimantan waktu itu.

4. Menambah nilai jual

Gimana berpengalaman kalau baru lulus?” Pernah ada yang berceloteh demikian mengomentari iklan lowongan kerja. Perusahaan mensyaratkan fresh graduate tapi yang berpengalaman. Kenapa tidak? Lulus kuliah saya bisa langsung bekerja dan tidak sedikit membuat teman seangkatan heran apalagi tidak ada kakak angkatan/almamater di perusahaan tersebut.

Menurut saya di antara pertimbangan saya diterima karena pendidikan nonformal yang pernah saya ambil seperti kursus Bahasa Inggris dan IT. Kemampuan saya menulis yang saya kembangkan melalui ekstrakurikuler saat SMA juga membantu saya menjadi kontributor saat kuliah dan sangat memudahkan saya dalam menulis proposal riset. Pengalaman dan prestasi tersebut mengantarkan saya diterima kerja sebagai karyawan bagian riset di perusahaan nasional meski masih fresh graduate.

5. Meningkatkan soft skills

Di dunia kerja tidak cukup dengan hard skill. Hard skill sangat berkaitan dengan kegiatan akademik dan yang telah dipelajari selama di bangku baik sekolah maupun kuliah. Soft skill berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi dalam diri dan bergaul dengan berbagai kalangan. Prestasi di dunia kerja dimiliki oleh orang yang bisa menyeimbangkan antara hard skill dan soft skill. Yaitu orang yang mempunyai kemampuan memimpin dan memecahkan masalah. Soft skill ini didapat di luar pendidikan formal seperti dengan berorganisasi dan melibatkan diri di komunitas.

6. Membuka peluang mandiri

Saat ijazah sekolah tidak membantu mendapatkan pekerjaan, sertifikat saat kursus bisa membantu menjadi wiraswasta. Dengan modal sertifikat kursus Bahasa Inggris bisa membuka bimbingan belajar maupun privat hingga jasa terjemahan. Hasilnya pun tidak kalah dengan yang berstatus karyawan.

7. Menemukan passion

Seringkali setelah beberapa waktu bekerja kita akan mengalami kebosanan. Ada yang menyebutnya karena bekerja tidak sesuai passion. Passion merupakan gairah dan antusiasme mengerjakan sesuatu. Mengambil ketrampilan atau keahlian baru akan membantu menemukan passion. Melakukan sesuatu sesuai yang kita sukai akan menjadi karya karena kita ikhlas. Karya tersebut bisa bermanfaat bagi orang banyak dan menjadi sumbangsih bagi bangsa dan negara.

Sehingga ketika ada pertanyaan, penting ga sih pendidikan di luar sekolah? Jawaban saya sangat penting.

Pandai di sekolah itu biasa, pandai di luar sekolah itu luar biasa. Karena saya percaya, pengalaman adalah guru terbaik.

Sampai di sini dulu ya artikel hari ini, mudah-mudahan bermanfaat^^

 

Referensi:

Arinda, CA (Juni, 2015). Jenis-Jenis Pendidikan. Diambil 24 Februari 2019 dari http://ayuarindaa.blogspot.com/2015/06/jenis-jenis-pendidikan.html

Guswandi, Rant (6 Februari, 2018). Antara Soft Skill dan Hard Skill, Apa Bedanya? Diambil 25 Februari 2019 dari https://www.linovhr.com/antara-soft-skill-dan-hard-skill-apa-bedanya/

KBBI Daring. Diambil 24 Februari 2019, dari https://kbbi.web.id/nonformal

 

 

ec83b-banner_lombamenulisblog_300x250

Pentingnya Peran Keluarga dalam Mendampingi Periode Emas Anak di Era Kekinian

Nye…nye… nyee… ocehan pertama keluar dari mulut si kecil. Ia lalu belajar menapakkan kaki. Terjatuh kemudian bangun lagi. Rasanya setiap tahap itu mungkin baru kemarin termasuk saat-saat rewelnya ketika mau tumbuh gigi. Hingga akhirnya ia bisa membuat rumah bak “kapal pecah”, berlari, memanggil “Ibu” dengan sempurna, hingga sekarang bisa berebut gadget.

Momentum pertumbuhan masa kecil anak akan berlalu dengan cepat dan tak bisa terulang. Setiap tahapannya istimewa terutama pada periode emas di lima tahun pertama kehidupannya. Penelitian menyebutkan pada masa keemasan perkembangan otak mencapai 90 persen, 50 persen di antaranya terjadi di usia 3 tahun pertama. Selain golden age ditekankan juga pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dimulai dari terbentuknya janin hingga kira-kira berumur 2 tahun.

Namun, di era teknologi dan komunikasi saat ini pemenuhan gizi dan nutrisi saja tidaklah cukup. Setiap anak harus dibekali karakter yang kuat sebagai pondasi masa depannya. Pendidikan karakter yang dimulai dari rumah diharapkan bisa membendung dampak negatif pesatnya dunia digital terutama karena mudahnya akses anak terhadap gadget.

Untuk itulah pelibatan keluarga sebagai bagian pendidikan sangat penting sesuai amanat Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang idealnya terdiri dari orang tua dan anak memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang bersinergi dengan satuan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

1

Keterlibatan Keluarga dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sesuai umurnya satuan PAUD kemudian dibagi menjadi Taman Kanak-kanak (TK) dengan prioritas umur 5-6 tahun, Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB), Kelompok Bermain (KB) dengan prioritas usia 3-4 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) dengan prioritas sejak lahir hingga usia 4 tahun, dan Satuan PAUD sejenis.

Namun, terkadang kita terjebak bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah dengan harus bersekolah di tempat baik yang difasilitasi pemerintah maupun non pemerintah. Sehingga banyak tetangga saya yang anaknya masih sekitar usia dua tahun sudah disekolahkan. Memang itu tidak salah dan kembali pada situasi dan kondisi masing-masing keluarga. Kata psikolog ada baiknya jika ibu tidak bekerja full time, anak balita lebih baik dekat-dekat dahulu dengan orang tua sebagai bagian penguatan bonding dan attachment (hubungan mesra antara orang tua dan anak).

Pendidikan anak usia dini bisa diajarkan dari rumah oleh ibu dan ayah, serta jika ada anggota keluarga yang lain seperti kakek dan nenek. Sebab, rumah adalah tempat belajar pertama bagi anak dan meletakkan pondasi dan bekal sebelum pendidikan lebih lanjut. Utamanya dari seorang yang ibu yang merupakan teladan maupun pendidik pertama bagi anak atau dikenal dengan ungkapan al ummu madrasatul ula.

2

Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua di rumah khususnya ibu untuk mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak apalagi di era kekinian dengan tantangan digital yang tak bisa dihindarkan. Masa depan anak sebagai generasi alfa kelak akan semakin kompetitif, filter dari efek buruk dunia digital pun harus dimiliki. Pengalaman belajar sambil bermain yang menyenangkan bisa dilakukan di rumah di antaranya dengan:

  • Mengenalkan dasar agama pada anak. Misalnya melibatkan anak saat salat bagi Muslim, berdoa sebelum memulai aktivitas.
  • Mengajarkan kebiasaan hidup yang baik. Misalnya cuci tangan sebelum makan, sopan dan menghormati yang lebih tua.
  • Menstimulasi kemampuan motorik dan kognitif. Misalnya bermain playdoh, mengajak berbicara dengan kalimat lengkap.
  • Melatih kepercayaan diri dan sosial anak. Di era globalisasi kemampuan sosial sangat penting, dulu saya “takut” bertemu orang asing tapi saat ini hampir di semua tempat kita dapat berjumpa dengan orang dari luar negeri. Agar di masa depan anak tidak minder saya mulai melatih anak sulung saya yang belum genap 4 tahun berani mengatakan “hai” pada turis saat berjumpa di jalan.
  • Termasuk membatasi gadget. Gadget tidak hanya smartphone tapi semua barang elektronik yang memiliki layar termasuk televisi. Durasi ideal mengakses gadget menurut psikolog anak Feka Angge Pramita yang dikutip dari HaiBunda.com adalah satu jam saja sehari untuk anak usia 2-5 tahun. Efek negatif gadget di antaranya otak pada anak tidak akan berkembang baik padahal periode emas, tidak baik untuk mata, dan paparan radiasi. Untuk anak dibawah dua tahun tidak disarankan ekspos pada layar dari gadget elektronik karena dapat mengakibatkan keterlambatan bicara dan gangguan tidur. Sebagai ibu, saya sendiri kerap memutar otak agar anak tidak kecanduan gadget khususnya smartphone karena kalau sudah memegang susah untuk mengambil kembali. Kalau kata artis Marcell yang pernah saya baca intinya adalah orang tua tidak memegang handphone saat bersama anak dan menjauhkan dari jangkauan. Solusi tersebut ampuh bagi saya, HP kerap saya sembunyikan dan saat anak tidak melihat HP tidak ada drama berebut HP lagi. Sebagai orang tua kita bisa menyiasati kecanduan gadget dengan berinteraksi secara maksimal dengan anak disertai berbagai media pembelajaran seperti buku, CD, playdoh, mainan edukasi, dan lainnya sehingga lebih menyenangkan. Namun, jika anak tengah memegang HP kita pun harus turut mendampingi dan mengawasi sehingga fungsi gadget sebagai sarana edukasi yang positif.

3

Dukungan Ayah

Di era kekinian, pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Walaupun porsi pengasuhan dari ibu memang lebih banyak sebab tugas utama ayah adalah mencari nafkah. Ada yang bilang kalau anak kurang perhatian dari ibu maka akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang kasih sayang/empati, jika kurang perhatian dari ayah akan tumbuh dengan sikap kurang menghargai terhadap orang lain.

Dari sisi psikologis, pola pikir perempuan cenderung emosional yang menuruti perasaan sedangkan laki-laki memiliki pola pikir rasional atau berdasarkan logika. Anak yang tumbuh dengan perhatian kedua orang tua akan bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut. Itulah pentingnya komunikasi antara suami dan istri yang telah berperan sebagai ayah dan ibu.

Di rumah saya membiasakan, kedua anak saya yang masih balita menyambut ayah saat pulang bekerja. Saat libur, kami menghabiskan waktu bersama. Ada kalanya saya membiarkan ayah dan anak main bersama. Ini sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan si kecil terutama dalam menyeimbangkan kecerdasan antara IQ, EQ, dan SQ.

4

Walaupun bisa dibilang capek bekerja tapi sebagai seorang ayah tidak boleh menomorduakan anak. Sebab anak adalah alasan kita membanting tulang. Di Indonesia sendiri perlu didorong keterlibatan ayah sebab Indonesia masih menempati peringkat kedunia fatherless country di dunia. Hal ini menunjukkan kesadaran ayah masih minim terhadap campur tangan pendidikan anak.

Merencanakan Keluarga Hebat

Tidak ada sekolah menjadi ibu dan orang tua pada umumnya. Menjadi ayah maupun ibu adalah belajar seumur hidup. Hal-hal inilah yang kadang membuat antara ayah dan ibu berbeda pola pikir sehingga cara pengasuhan pun berbeda antara keduanya. Komunikasi suami dan istri sejak awal sangat penting sehingga tidak saling menyalahkan.

Di rumah, suami adalah pencari nafkah dan saya sebagai ibu rumah tangga. Namun, kami sudah membicarakannya sejak sebelum menikah. Bersyukur dan menerima adalah kunci keharmonisan keluarga. Sebab, masalah ekonomi apalagi hidup di kota besar kadang memicu pertengkaran keluarga yang ujungnya berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap menjadikan anak sebagai korban.

Karena itu menurut saya agar masa keemasan yang juga merupakan pondasi pembangunan karakter anak bisa optimal harus dimulai dari keterlibatan keluarga. Kesiapan fisik, mental, dan ekonomi dari orang tua akan menciptakan keluarga harmonis yang melahirkan generasi hebat. Si kecil tumbuh optimal dalam lingkungan keluarga yang nyaman. Di antara hal yang bisa mewujudkan hal tersebut misalnya:

  1. Pembekalan pasca ujian akhir sekolah (UAS) sembari menunggu kelulusan SMA. Apakah piihannya mau kuliah, kerja, atau menikah. Pembekalan ini bisa kerjasama antara guru bimbingan konseling (BK) dan dinas pendidikan atau lembaga terkait misal komisi perlindungan anak. Yang dikhawatirkan adalah begitu lulus SMA langsung menikah. Usia yang belum matang akan berpengaruh dalam menghadapi persoalan rumah tangga dan ekonomi keluarga.
  2. Bimbingan sebelum menikah. Bisa difasilitasi dari KUA dan lembaga/dinas terkait misal Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPPA). Bimbingan ini di antaranya memberikan gambaran tentang keluarga sehingga mereka tidak hanya siap menikah tapi juga siap mental saat menjadi orang tua serta mencegah KDRT. Peserta bisa diketahui saat ada yang melapor untuk menikah. Lokasi bimbingan bisa di kelurahan atau kecamatan bahkan KUA.
  3. Pemerintah mengawasi perusahaan/kantor untuk menjalankan cuti melahirkan tiga bulan atau enam bulan bagi perempuan untuk mengoptimalkan pemberian ASI Ekslusif. Pemberian ASI Ekslusif merupakan rekomendasi WHO dengan manfaat yang sangat banyak.
  4. Pemerintah menganjurkan ruang bermain atau menyusui pada perusahaan termasuk instansi. Misalnya untuk usia 0 bulan sampai lima tahun plus ada pengasuhnya. Yang memanfaatkan bisa membayar atau potong gaji dengan syarat yang diatur perusahaan. Sehingga, kinerja ibu tidak menurun karena satu tempat dengan anak yang masih butuh pengawasan. Di sela-sela istirahat pun ibu bisa menengok anak sehingga mengurangi rasa khawatir. Hak anak pun tidak terabaikan.
  5. Pemerintah atau lembaga terkait secara rutin melakukan seminar/penyuluhan untuk terus meningkatkan pengetahuan orang tua di bidang parenting maupun tantangan di era teknologi dan komunikasi. Misalnya melalui posyandu.

5

Semoga dengan kesiapan orang tua yang telah memiliki pengetahuan awal bisa mewujudkan keluarga harmonis dan hebat yang melahirkan generasi emas Bangsa Indonesia agar bisa bersaing di kancah dunia. Peran keluarga hebat ini salahsatunya sudah ditunjukkan oleh Azzam Habibullah putra dari pasangan Henry Ridho dan Laila Sari. Di usia yang belum genap 17 tahun Dididik Langsung oleh Orangtuanya, Azzam Menorehkan Prestasi dengan menginjakkan kaki di Amerika Serikat dan Austria atas kepeduliannya pada lingkungan. #sahabatkeluarga

*foto-foto dokumen pribadi oleh Darma Legi

Merangsang Anak Berani Bicara di Depan Kelas

IMG_0558

Bicara di depan itu tak semudah tertawa dari belakang lho. Lalu, pernahkah kita menertawakan orang/teman yang sedang berbicara di depan saat melakukan kesalahan. Padahal belum tentu kita berani maju meskipun itu ditunjuk. Saya tanpa sadar mungkin pernah. Maafkan ya teman-teman atau siapapun itu yang pernah saya “lecehkan”.

Saya termasuk anak pendiam waktu di sekolah. Jarang mengacung untuk maju ke depan kelas kecuali ditunjuk. Jarang bertanya meskipun sebenarnya tidak mengerti. Tidak menjawab dengan inisiatif sendiri meskipun tahu. Parah sekali saya ya.

Meski akhirnya keberanian datang seiring berjalannya waktu, tapi saya merasa terlalu lambat. Sewaktu SMA di Klaten bahkan saya sempat minder dengan anak pindahan dari Bandung. Ia cas cis cus dan memiliki kepercayaan diri yang jarang dimiliki anak-anak desa seperti kami. Tak butuh waktu lama ia pun populer di kalangan siswa maupun guru.

Kenapa dia bisa pintar ngomong seperti itu? Kenapa dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi? Saya harus bisa? Saya juga harus berani?

Karenanya, ketika diberi kesempatan menjadi pengajar inspirator di Kelas Inspirasi (KI) Klaten #2 dan #3, saya selalu menstimulus agar para siswa berani maju ke depan dan berani bercerita. Siswa yang di belakang harus mendengarkan dan menegur jika ada yang menertawakan.

Keberanian untuk bicara di depan umum ini menurut saya sangat penting. Karena tidak semua mempunyai bakat alami. Tidak semua anak terlahir dari keluarga yang mendorong anak berani. Untuk itu perlulah guru memberi rangsangan. Keberanian menjadi salahsatu kunci kesuksesan anak di pekerjaan maupun di masa depan. Berani memulai, berani mandiri, berani mewujudkan mimpi, berani… berani…

Setiap masuk kelas, usai menyampaikan materi, saya mendorong anak agar berani maju ke depan untuk menjelaskan kembali. Kadang sekedar menceritakan cita-cita dan alasannya. Rata-rata mereka maju karena saya tunjuk dan iming-iming hadiah bahkan karena mau difoto hoho… Tetapi apapun itu, keberanian harus dimulai. Sebab, merekalah calon anak-anak hebat negeri ini.

IMG_20180208_112723

Dengan inspirasi dari kakak-kakak pengajar beragam profesi harapannya makin terbuka pemikiran mereka. Kian gigih mereka belajar. Di hari inspirasi 5 Februari 2018, murid SDN 01 Sudimoro, mendapat ilmu dan pengetahuan langsung dari Kak Aria dokter, Kak Tari pengusaha, Kak Novia perekam medis, Kak Tias purchasing, Kak Nuy konsultan engineering, Pak Soemantri perekayasa, dan saya sendiri. Mereka juga melihat langsung proses dokumentasi dari fotografer Kak Uken dan Kak Fisa, Videografer oleh Kak Zakaria, serta peran fasilitator yang mengatur kegiatan oleh Kak Dwi dan Kak Yuda.

Semoga sehari menginspirasi melekat dalam benak anak-anak untuk menjadi generasi emas Indonesia. Indonesia hebat!

IMG-20180207-WA0002

*foto dan grafis oleh team dokumentasi KI Klaten #3 SDN 01 Sudimoro