Perjalanan Menginspirasi – Terinspirasi

“Meski tidak bekerja, saya tidak akan diam.”

Saya tidak mengira bisa terjun ke Kelas Inspirasi. Walau di KTP status karyawan swasta belum dicoret, tapi sudah empat tahun ini saya adalah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga yang sok sibuk.

Awal-awal pernikahan hingga kelahiran anak pertama, saya sibuk bersama komunitas merajut dari pameran, workshop, dan berbagi. Belum genap dua tahun anak pertama, saya hamil anak kedua. Saya benar-benar mengurangi aktivitas.

Namun, justru moment tersebut membuat saya kembali melirik blog. Blog yang sudah lahir sejak pertengahan 2012 tapi tak terurus setelah bekerja. Tahun 2015, blog kembali perlahan-lahan muncul ke permukaan sebagai “me time”.

Bulan September tahun 2016, anak kedua saya lahir. Karena pertimbangan ini itu, saya meninggalkan Bandung sejenak untuk melahirkan di Klaten di kampung halaman. Saat usia si kecil 1-2 bulan, seperti secercah cahaya di ujung lorong, saya mendapati timeline twitter dibukanya relawan pengajar Kelas Inspirasi Klaten #2. Kelas Inspirasi merupakan satu hari menginspirasi anak-anak sekolah dasar untuk berani bermimpi dengan mengenalkan beragam profesi sesuai yang kita geluti.

Dorongan itu begitu kuat, saya harus mengambil bagian. Bolehlah, saya mempunyai pengalaman bekerja. Tapi, saya kan sedang tidak mempunyai pegangan istilahnya status pekerjaan? Nah, salahsatu syarat menjadi relawan pengajar KI, harus bekerja di profesi yang sama minimal dua tahun. BLOGGER jawabannya.

Di tengah hujan petir, bismillah saya mengisi formulir pendaftaran Kelas Inspirasi Klaten #2. Saya harus mengambil peluang. Kesempatan tidak akan datang kedua kali kecuali untuk dalam waktu yang lama.

asus1

Kecanduan Kelas Inspirasi

Siapa bilang perjalan Kelas Inspirasi yang pertama kali saya berjalan mulus. Begitu dinyatakan diterima di awal tahun 2017, tentu saja saya begitu terharu dan bergembira. Sebagai persiapan mengajar, tentu laptop atau smartphone adalah alat perang yang tidak boleh ketinggalan. Sebab, setiap inspirator diwajibkan membawa alat peraga untuk mengenalkan profesinya kepada anak-anak agar memberi warna baru dalam pengajaran dan tidak konvensional. Berbeda.

Saat itu saya memang memiliki notebook, tapi notebook tersebut mulai udzur. Untuk diajak online dalam beberapa menit dia akan kepayahan dan lemot minta ampun. Oke, kemudian saya mengandalkan smartphone. Ya Alloh menjelang Hari –H, smartphone tersebut tanpa sengaja saya duduki sendiri. Karena sudah pernah mempunyai riwayat jatuh, LCD-nya pun error. Layarnya akan bertahan sekian menit, kemudian mulai ada garis-garis, dan puncaknya tidak akan ada gambar apa-apa di layar. Ketika kembali dihidupkan seperti normal tapi akan seperti itu kembali.

Saya tidak mundur, saya membawa dua perangkat tersebut ke anak-anak SD Nengahan di Bayat. Saya mengakalinya ketika di depan kelas dengan bergantian menggunakannya. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

Menjadi inspirator di KI#2 Klaten

Oh my God, saya kecanduan Kelas Inspirasi dan bertekad untuk ikut seleksi lagi tahun depan. Karena meskipun sifatnya relawan tapi tetap ada seleksinya dan tidak main-main.

Awal tahun 2018, saya kembali diumumkan terpilih menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi Klaten #3. Saya sudah mendapat warisan smartphone ASUS dari suami. Tapi untuk laptop masih menjadi masalah. Apalagi saya sudah kembali ke Bandung. Artinya rombongan duo krucil akan ikut serta bedol desa ke Klaten. Membawa notebook bukan solusi, karena ya sudah lemot jika dikoneksikan ke internet. Membawa laptop suami, sangat rempong membawa banyak barang dengan moda kereta api.

Akhirnya pilihan jatuh dengan meminjam Laptop ASUS milik adik. Jauh hari saya mengabarinya akan meminjam laptop. Sebab sejak tahun 2015, dia sudah merantau untuk bekerja di Kudus namun setiap bulan pasti pulang ke Klaten. Yes, adikku yang baik bersedia meminjami bahkan sebelum aku tiba di Klaten laptop sudah ada di rumah. Karena dia takut tidak bisa pulang pas saya di rumah.

KI#3 Klaten

Bersama laptop Asus ((pinjaman)) saya lebih percaya diri mengenalkan profesi ini. Pengajarannya sebenarnya memang tidak ke teknis membuat blog tapi lebih mendorong rasa ingin tahu mereka, misalnya siapa dibalik artikel-artikel yang ada di google yang bisa saja membantu mereka mengerjakan PR. Mendorong budaya menulis. Untuk menulis yang baik harus banyak membaca. Kemudian, agar era digital ini mereka sejak dini bisa mengoptimalkan dengan baik, bahwa smartphone atau laptop ternyata bukan hanya komunikasi, main game hiburan, pamer foto, mengerjakan tugas tapi bisa untuk berkarya.

Jpeg

KI#3 Klaten

Bulan berikutnya, saya kembali terpilih untuk inspirator Kelas Inspirasi Bandung yang ternyata sudah digelar keenam kalinya. Saya dan anak-anak segera kembali bertolak ke kota kembang. Kali ini saya meminjam laptop suami untuk sehari menginspirasi.

IMG-20180305-WA0001

Menjadi inspirator di KI#6 Bandung

Perjalanan Ala Kelas Inspirasi

Kelas Inspirasi (KI) kebalikannya justru malah banyak memberi saya inspirasi dan pengalaman hidup. Melihat dunia dan impian dari cara pandang beragam latar anak-anak, mengenal berbagai profesi, bersilaturahim dengan orang dari daerah lain, mendengar cerita inspiratif dari para guru dan senior, menginjak tanah asing, dan masih banyak lainnya. Itulah makna perjalanan.

“Kelas Inspirasi, traveling gaya baru.” Begitu ucap Kak Arie salahsatu inspirator KI asal Blora yang berprofesi sebagai dokter umum. Di kalangan pegiat KI, ia dikenal sebagai selebgram. Selain mengajar sebagai tujuan utama, ia menggunakan KI sebagai sarana traveling, KI sendiri sudah diselenggarakan lebih dari 300 kota di Indonesia, Jawa maupun luar Jawa.

Relawan KI dari fasilitator, pengajar, dan dokumenter meski awalnya tidak saling mengenal namun saya akui kekeluargaan sangat kental. Para fasilitator dengan senang hati akan menjemput kedatangan relawan dari daerah lain di stasiun/terminal. Relawan yang kebetulan memiliki rumah berdekatan dengan lokasi inspirasi, dengan terbuka akan menawarkan rumah untuk menginap. Usai hari inspirasi, kesempatan para tuan rumah mempromosikan wisata/kuliner lokal… Saatnya Jalan-Jalan…

Jpeg

Jalan-jalan ke taman 1000 bunga usai menginspirasi

Melalui KI, kita bisa:

  • Menginspirasi – Terinspirasi
  • Bercengkerama dengan penduduk lokal ala couchsurfing
  • Mengetahui destinasi/kuliner lokal rekomendasi dari penduduk lokal

Saya sendiri sangat ingin mengikuti jejak Kak Arie. Sementara ini saya baru memutuskan konsisten ikut KI Klaten dan Bandung. Pertimbangannya karena kedekatan psikologis dilahirkan di Klaten dan tinggal di Bandung serta adanya duo krucil. Jika di Klaten saya bisa meninggalkan anak-anak bersama orang tua. Jika di Bandung, saya bisa bisa menitipkan mereka di rumah mertua. Setelah kondusif, saya pun ingin menjejak lebih banyak daerah di Indonesia lewat KI.

Untuk mendukung semua itu saya harus memiliki laptop yang mumpuni. Impian mempunyai laptop sendiri sebenarnya adalah bagian Resolusi 2018 saya. Kenapa?

Pertama. Untuk mendukung ngeblog yang selalu lebih baik sehingga inspirasi juga lebih mengena kepada anak-anak. Supaya menjadi orang beruntung, mengutip sebuah hadits nabi, hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Begitu juga dengan saya di dunia blog, awalnya blog hanyalah tulisan tapi terus berkembang ditambah gambar/foto penunjang hingga belajar mempercantik visualisasi dengan konten kreatif seperti penambahan infografis yang menarik. Sebab visualisasi yang baik akan lebih menarik pengunjung dan betah serta kembali lagi berkunjung. Untuk bisa mendukung grafis yang menarik butuh laptop yang mumpuni jika diinstal berbagai macam software grafis seperti Corel Draw, Photoshop, Movie Maker, dll. Saya sendiri masih terus berusaha meningkatkan skill ini tapi terkadang saat ingin belajar laptop dibawa suami bekerja sedangkan netbook sudah tidak mungkin diinstal software lagi karena akan makin berat.

Kedua. Mendukung mobilitas sebagai relawan pengajar KI. Saya sudah melirik laptop Asus sejak awal. Apalagi sering “dikomporin” adik yang begitu membanggakan Asus yang dimilikinya sejak kuliah. Asus yang digunakannya seri A450L. Sebagai anak jurusan teknis mesin, dia butuh laptop yang multitasking sehingga untuk program-program 3D seperti AutoCad, Inventor tidak lag atau patah-patah termasuk mendukung hobinya main game. Sebenarnya saya sendiri bukan sekali dua kali meminjam laptopnya. Hampir setiap ada di rumah saya lebih memilih menggunakan laptopnya hehe…

Keinginan memiliki laptop Asus semakin mupeng banget saat lihat instagram @travelerien. Warnanya, designnya belum lagi performanya. Karena setiap perjalanan saya juga membawa serta duo krucil, saya harus memiliki laptop yang ramah perjalanan.

View this post on Instagram

AKU MASIH DI SINI MENUNGGUMU Dear bloggers…ZenBook UX331UAL yang elegan dan canggih masih menunggumu sampai 30 September 2018. Gratis! 😆 Cek info lengkapnya di www.travelerien.com, atau klik link aktif di bioku ya 🙏 . . ZENBOOK 13 UX331UAL Laptop ultralight, ultra tipis, dan ultrapowerful dan dirancang khusus untuk memberikan mobilitas tertinggi, terutama karena telah tersertifikasi US military grade dengan desain metal casisnya yang ringan hanya 985 gram dan masa pakai baterai yang tahan sampai 15 jam sepanjang hari. Meskipun desainnya yang ringkas dan ultraportabel, ZenBook UX331 ini tidak berkompromi dengan kinerjanya: Prosesor Intel® Core™ i5 Generasi ke-8 yang supercepat, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCIe® memungkinkan pengguna menyelesaikan seluruh tugas dengan mudah, dan system audio Harman Kardon-nya juga memberikan suara imersif yang kencang dan kuat. Rp 14.799.000 (i5-8250U/8GB/512GB SSD/Win 10)  Rp 14.299.000 (i5-8250U/8GB/256GB SSD/Win 10) . 📸 @asusid team 📍 @abuella_cafe . #LaptopIdamanSobatTraveler #2018PakaiZenbook #2018GantiZenBook #ASUSxTravelerien #Travelerien

A post shared by Katerina S. | Travelerien.com (@travelerien) on

Karenanya, jika ada rezeki saya ingin laptop yang mumpuni untuk kebutuhan saya di atas. Pilihannya jatuh pada, Taraaaa….

ASUS ZenBook 13 UX331UAL

Sudah lihat video Raditya Dika di atas. Ada tiga point yang saya catat setelah melihat video yang berkolaborasi dengan Ridwan Hanif tersebut. Tiga hal yang dipertimbangkan untuk memilih laptop adalah:

1. Eco-friendly/ramah lingkungan
2. Performa handal
3. Body yang kuat

Ketiga hal tersebut dimiliki oleh Laptop ASUS ZenBook 13 UX331UAL khususnya terkait body. Kalau melihat video diatas sih percobaannya ekstrim banget ya. Dari diinjak dan diterjuni Raditya Dika yang berbobot 66.6 kg dan Ridwan Hanif dengan berat badan 81.4 kg. Kemudian dijadikan sebagai pemukul bola kasti. Puncaknya dilindas motor dan sepeda anak komplek. Dengan semuanya itu, layar laptop ini masih utuh dan masih nyala. Gokil… kata Bang Radit.

Kenapa bisa sekuat itu ya? Karena konstruksinya berbasis magnesium alloy yang membuatnya sangat tangguh. Apa sih magnesium alloy? Percampuran logam magnesium dengan metal lainnya yang disebut alloy. Umumnya campuran tersebut antara lain aluminium, zinc, mangan, silikon, tembaga, dan zirkonikum. Keunggulannya ringan dan kuat, tahan karat, tahan udara tinggi/beku bahkan tidak meleleh digunakan di dekat gunung api atau cuaca paling ekstrem sekalipun.

Kerennya lagi, laptop ini sudah memenuhi standar military grade MIL-STD 810G. Merupakan serangkaian ujicoba yang dirancang oleh militer Amerika untuk mengetes ketahanan perangkat mereka di medan perang. Uji ini memastikan kemampuannya beroperasi adalam berbagai kondisi agar bisa terus bertahan dan berfungsi sekalipun jatuh dari ketinggian. Kalau saya kok langsung membayangkannya dibawa ke medan perang ya haha… Super kece badai lah.

Dengan duo krucil yang notabene sedang aktif-aktifnya termasuk saat dalam kereta. Kalau ditaruh dibawah takut keinjak akrobat mereka, jika diletakkan diatas khawatir kegencet barang lain. Sehingga membawa laptop selalu menjadi bahan pertimbangan.

Begitu juga saat naik sepeda motor. Sebab, dari rumah menuju lokasi kelas inspirasi biasanya saya naik motor. Laptop akan saya masukkan ransel, terkadang jadi dilema jika digendong kok berat jika ditaruh di bagian depan jok kok takut kegajlek-gajlek (rawan benturan). Apalagi lokasi KI biasanya agak terpencil dengan akses jalan yang belum mulus kadang banyak lubang atau batu tersingkap. Sehingga takut mempengaruhi performa laptop.

Sepertinya ini juga menjadi kecurigaan saya, penyebab notebook saya turun performa karena dulu saat masih bekerja suka ditaruh di bagian depan jok motor. Ikut loncat jika ada polisi tidur, kejeduk jika mengerem mendadak dll.

laptop

Laptop ditaruh di depan jok motor rentan terjadi benturan

Dengan ketangguhan yang dimiliki ZenBook ini say godbye khawatir laptop kegencet dan rusak. Tidak takut berat lagi menggendong karena beratnya hanya 985 gram dengan ketebalan 13,9 milimeter.

Saat menjadi inspirator, saya biasa menyelipkan memutar video baik yang sudah saya download terlebih dahulu atau langsung dari youtube sebagai ice breaking ketika mereka mulai bosan dan agar suasana kelas kembali semangat. System audio Harman Kardon-nya memberi suara imersif yang kencang dan kuat. Terbayang kan suasana kelas anak SD yang super riuh jika sudah bikin gaduh. Kadang suara saya dibikin kewalahan pulang-pulang serak pernah juga sampai suara habis. Volume laptop full pun belum bisa mengalahkan mereka. Dengan nilai plus dari Asus ini tentu akan sangat membantu saya membawa suasana kembali kondusif di kelas.

Perpaduan hardware superior yang telah disesuaikan termasuk teknologi low distortion smart amplifier. Sebuah pengalaman audio terbaik yang meningkatkan volume 3,5 x menjadi nilai plus sebagai tambahan kinerjanya yang dibalut ProsesorIntel® i5 Generasi ke-8 yang supercepat, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCle®.

Lagi asyik-asyiknya melakukan peraga tiba-tiba muncul notifikasi baterai akan segera habis. Bingung nyari colokan kesana-kesini, parahnya kalau harus menarik-narik kabel roll. Ga banget ya. Karena setiap kelas “zaman dahulu” belum dirancang dengan kemudahan colokan. Tidak seperti sekarang yang dibawah meja pun kita bisa menemukan colokan. Baterai mati kelas jadi garing, OH NO!

ZenBook menjawabnya dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang memiliki daya tahan hingga 15 jam. Baterai polimer litium mempertahankan sebagian besar kapasitas pengisian asli mereka bahkan setelah ratusan kali siklus pengisian daya. Sehingga memberi masa baterai ini masa pakai 3x lebih lama dari baterai standar. No ribet nyari colokan lagi ya. Mengajar non-stop dan bebas berekspresi.

Namanya anak banyak orang ya, kadang ada saja yang usil membuka laptop saat ditaruh di depan kelas. Kadang pun saya kecolongan. Untuk itulah password atau pemberian sandi sangat penting diperlukan. Tapi tidak efektif juga setiap membuka harus mengetik sandi. So, sangat terbantu dengan cukup satu sentuhan berkat sensor sidik jari yang ada di touchpad dan Windows Hello. Cepat, praktis dan aman.

Satu lagi saya ini tipikal penulis panjang. Selain itu saya sendiri lebih nyaman mengetik menggunakan laptop karena jangkauan mata lebih besar sehingga memperkecil typo. Karenanya sangat nyaman mengetik dengan laptop. Keyboard backlit ukuran penuh dengan design kokoh akan sangat membantu dan memberi pengalaman mengetik yang luar biasa dalam segala kondisi pencahayaan.

Precision touchpad dirancang untuk kenyamanan dan akurasi maksimum, dengan penutup kaca untuk kontrol yang mulus. Didukung dengan teknologi palm rejection dan mendukung gerakan multi jari dan tulisan tangan.

Gimana-gimana keren banget ya spek unggulannya. Masih belum puas, ini dia spesifikasi lengkap laptop idaman saya bisa juga jadi #LaptopIdamanSobatTraveler atau langsung meluncur ke Asus, yuk untuk rekomendasi laptop sesuai kebutuhan Kalian.

Demikian tadi behind the scene perjalanan kelas inspirasi saya. Semoga impian memiliki laptop idaman untuk mendukung ngeblog terus lebih baik sebagai salahsatu cara menginspirasi untuk mengambil bagian dalam dunia pendidikan di Indonesia terwujud. Amiin…

Keterangan:

*Foto-foto:
koleksi pribadi, dokumentasi Kelas Inspirasi, Asus

**Referensi:
www.asus.com
www.travelerien.com
Magnesium alloy
MIL-STD 810G

Iklan

Pentingnya Peran Keluarga dalam Mendampingi Periode Emas Anak di Era Kekinian

Nye…nye… nyee… ocehan pertama keluar dari mulut si kecil. Ia lalu belajar menapakkan kaki. Terjatuh kemudian bangun lagi. Rasanya setiap tahap itu mungkin baru kemarin termasuk saat-saat rewelnya ketika mau tumbuh gigi. Hingga akhirnya ia bisa membuat rumah bak “kapal pecah”, berlari, memanggil “Ibu” dengan sempurna, hingga sekarang bisa berebut gadget.

Momentum pertumbuhan masa kecil anak akan berlalu dengan cepat dan tak bisa terulang. Setiap tahapannya istimewa terutama pada periode emas di lima tahun pertama kehidupannya. Penelitian menyebutkan pada masa keemasan perkembangan otak mencapai 90 persen, 50 persen di antaranya terjadi di usia 3 tahun pertama. Selain golden age ditekankan juga pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dimulai dari terbentuknya janin hingga kira-kira berumur 2 tahun.

Namun, di era teknologi dan komunikasi saat ini pemenuhan gizi dan nutrisi saja tidaklah cukup. Setiap anak harus dibekali karakter yang kuat sebagai pondasi masa depannya. Pendidikan karakter yang dimulai dari rumah diharapkan bisa membendung dampak negatif pesatnya dunia digital terutama karena mudahnya akses anak terhadap gadget.

Untuk itulah pelibatan keluarga sebagai bagian pendidikan sangat penting sesuai amanat Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang idealnya terdiri dari orang tua dan anak memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang bersinergi dengan satuan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

1

Keterlibatan Keluarga dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sesuai umurnya satuan PAUD kemudian dibagi menjadi Taman Kanak-kanak (TK) dengan prioritas umur 5-6 tahun, Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB), Kelompok Bermain (KB) dengan prioritas usia 3-4 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) dengan prioritas sejak lahir hingga usia 4 tahun, dan Satuan PAUD sejenis.

Namun, terkadang kita terjebak bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah dengan harus bersekolah di tempat baik yang difasilitasi pemerintah maupun non pemerintah. Sehingga banyak tetangga saya yang anaknya masih sekitar usia dua tahun sudah disekolahkan. Memang itu tidak salah dan kembali pada situasi dan kondisi masing-masing keluarga. Kata psikolog ada baiknya jika ibu tidak bekerja full time, anak balita lebih baik dekat-dekat dahulu dengan orang tua sebagai bagian penguatan bonding dan attachment (hubungan mesra antara orang tua dan anak).

Pendidikan anak usia dini bisa diajarkan dari rumah oleh ibu dan ayah, serta jika ada anggota keluarga yang lain seperti kakek dan nenek. Sebab, rumah adalah tempat belajar pertama bagi anak dan meletakkan pondasi dan bekal sebelum pendidikan lebih lanjut. Utamanya dari seorang yang ibu yang merupakan teladan maupun pendidik pertama bagi anak atau dikenal dengan ungkapan al ummu madrasatul ula.

2

Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua di rumah khususnya ibu untuk mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak apalagi di era kekinian dengan tantangan digital yang tak bisa dihindarkan. Masa depan anak sebagai generasi alfa kelak akan semakin kompetitif, filter dari efek buruk dunia digital pun harus dimiliki. Pengalaman belajar sambil bermain yang menyenangkan bisa dilakukan di rumah di antaranya dengan:

  • Mengenalkan dasar agama pada anak. Misalnya melibatkan anak saat salat bagi Muslim, berdoa sebelum memulai aktivitas.
  • Mengajarkan kebiasaan hidup yang baik. Misalnya cuci tangan sebelum makan, sopan dan menghormati yang lebih tua.
  • Menstimulasi kemampuan motorik dan kognitif. Misalnya bermain playdoh, mengajak berbicara dengan kalimat lengkap.
  • Melatih kepercayaan diri dan sosial anak. Di era globalisasi kemampuan sosial sangat penting, dulu saya “takut” bertemu orang asing tapi saat ini hampir di semua tempat kita dapat berjumpa dengan orang dari luar negeri. Agar di masa depan anak tidak minder saya mulai melatih anak sulung saya yang belum genap 4 tahun berani mengatakan “hai” pada turis saat berjumpa di jalan.
  • Termasuk membatasi gadget. Gadget tidak hanya smartphone tapi semua barang elektronik yang memiliki layar termasuk televisi. Durasi ideal mengakses gadget menurut psikolog anak Feka Angge Pramita yang dikutip dari HaiBunda.com adalah satu jam saja sehari untuk anak usia 2-5 tahun. Efek negatif gadget di antaranya otak pada anak tidak akan berkembang baik padahal periode emas, tidak baik untuk mata, dan paparan radiasi. Untuk anak dibawah dua tahun tidak disarankan ekspos pada layar dari gadget elektronik karena dapat mengakibatkan keterlambatan bicara dan gangguan tidur. Sebagai ibu, saya sendiri kerap memutar otak agar anak tidak kecanduan gadget khususnya smartphone karena kalau sudah memegang susah untuk mengambil kembali. Kalau kata artis Marcell yang pernah saya baca intinya adalah orang tua tidak memegang handphone saat bersama anak dan menjauhkan dari jangkauan. Solusi tersebut ampuh bagi saya, HP kerap saya sembunyikan dan saat anak tidak melihat HP tidak ada drama berebut HP lagi. Sebagai orang tua kita bisa menyiasati kecanduan gadget dengan berinteraksi secara maksimal dengan anak disertai berbagai media pembelajaran seperti buku, CD, playdoh, mainan edukasi, dan lainnya sehingga lebih menyenangkan. Namun, jika anak tengah memegang HP kita pun harus turut mendampingi dan mengawasi sehingga fungsi gadget sebagai sarana edukasi yang positif.

3

Dukungan Ayah

Di era kekinian, pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Walaupun porsi pengasuhan dari ibu memang lebih banyak sebab tugas utama ayah adalah mencari nafkah. Ada yang bilang kalau anak kurang perhatian dari ibu maka akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang kasih sayang/empati, jika kurang perhatian dari ayah akan tumbuh dengan sikap kurang menghargai terhadap orang lain.

Dari sisi psikologis, pola pikir perempuan cenderung emosional yang menuruti perasaan sedangkan laki-laki memiliki pola pikir rasional atau berdasarkan logika. Anak yang tumbuh dengan perhatian kedua orang tua akan bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut. Itulah pentingnya komunikasi antara suami dan istri yang telah berperan sebagai ayah dan ibu.

Di rumah saya membiasakan, kedua anak saya yang masih balita menyambut ayah saat pulang bekerja. Saat libur, kami menghabiskan waktu bersama. Ada kalanya saya membiarkan ayah dan anak main bersama. Ini sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan si kecil terutama dalam menyeimbangkan kecerdasan antara IQ, EQ, dan SQ.

4

Walaupun bisa dibilang capek bekerja tapi sebagai seorang ayah tidak boleh menomorduakan anak. Sebab anak adalah alasan kita membanting tulang. Di Indonesia sendiri perlu didorong keterlibatan ayah sebab Indonesia masih menempati peringkat kedunia fatherless country di dunia. Hal ini menunjukkan kesadaran ayah masih minim terhadap campur tangan pendidikan anak.

Merencanakan Keluarga Hebat

Tidak ada sekolah menjadi ibu dan orang tua pada umumnya. Menjadi ayah maupun ibu adalah belajar seumur hidup. Hal-hal inilah yang kadang membuat antara ayah dan ibu berbeda pola pikir sehingga cara pengasuhan pun berbeda antara keduanya. Komunikasi suami dan istri sejak awal sangat penting sehingga tidak saling menyalahkan.

Di rumah, suami adalah pencari nafkah dan saya sebagai ibu rumah tangga. Namun, kami sudah membicarakannya sejak sebelum menikah. Bersyukur dan menerima adalah kunci keharmonisan keluarga. Sebab, masalah ekonomi apalagi hidup di kota besar kadang memicu pertengkaran keluarga yang ujungnya berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap menjadikan anak sebagai korban.

Karena itu menurut saya agar masa keemasan yang juga merupakan pondasi pembangunan karakter anak bisa optimal harus dimulai dari keterlibatan keluarga. Kesiapan fisik, mental, dan ekonomi dari orang tua akan menciptakan keluarga harmonis yang melahirkan generasi hebat. Si kecil tumbuh optimal dalam lingkungan keluarga yang nyaman. Di antara hal yang bisa mewujudkan hal tersebut misalnya:

  1. Pembekalan pasca ujian akhir sekolah (UAS) sembari menunggu kelulusan SMA. Apakah piihannya mau kuliah, kerja, atau menikah. Pembekalan ini bisa kerjasama antara guru bimbingan konseling (BK) dan dinas pendidikan atau lembaga terkait misal komisi perlindungan anak. Yang dikhawatirkan adalah begitu lulus SMA langsung menikah. Usia yang belum matang akan berpengaruh dalam menghadapi persoalan rumah tangga dan ekonomi keluarga.
  2. Bimbingan sebelum menikah. Bisa difasilitasi dari KUA dan lembaga/dinas terkait misal Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPPA). Bimbingan ini di antaranya memberikan gambaran tentang keluarga sehingga mereka tidak hanya siap menikah tapi juga siap mental saat menjadi orang tua serta mencegah KDRT. Peserta bisa diketahui saat ada yang melapor untuk menikah. Lokasi bimbingan bisa di kelurahan atau kecamatan bahkan KUA.
  3. Pemerintah mengawasi perusahaan/kantor untuk menjalankan cuti melahirkan tiga bulan atau enam bulan bagi perempuan untuk mengoptimalkan pemberian ASI Ekslusif. Pemberian ASI Ekslusif merupakan rekomendasi WHO dengan manfaat yang sangat banyak.
  4. Pemerintah menganjurkan ruang bermain atau menyusui pada perusahaan termasuk instansi. Misalnya untuk usia 0 bulan sampai lima tahun plus ada pengasuhnya. Yang memanfaatkan bisa membayar atau potong gaji dengan syarat yang diatur perusahaan. Sehingga, kinerja ibu tidak menurun karena satu tempat dengan anak yang masih butuh pengawasan. Di sela-sela istirahat pun ibu bisa menengok anak sehingga mengurangi rasa khawatir. Hak anak pun tidak terabaikan.
  5. Pemerintah atau lembaga terkait secara rutin melakukan seminar/penyuluhan untuk terus meningkatkan pengetahuan orang tua di bidang parenting maupun tantangan di era teknologi dan komunikasi. Misalnya melalui posyandu.

5

Semoga dengan kesiapan orang tua yang telah memiliki pengetahuan awal bisa mewujudkan keluarga harmonis dan hebat yang melahirkan generasi emas Bangsa Indonesia agar bisa bersaing di kancah dunia. Peran keluarga hebat ini salahsatunya sudah ditunjukkan oleh Azzam Habibullah putra dari pasangan Henry Ridho dan Laila Sari. Di usia yang belum genap 17 tahun Dididik Langsung oleh Orangtuanya, Azzam Menorehkan Prestasi dengan menginjakkan kaki di Amerika Serikat dan Austria atas kepeduliannya pada lingkungan. #sahabatkeluarga

*foto-foto dokumen pribadi oleh Darma Legi

Merangsang Anak Berani Bicara di Depan Kelas

IMG_0558

Bicara di depan itu tak semudah tertawa dari belakang lho. Lalu, pernahkah kita menertawakan orang/teman yang sedang berbicara di depan saat melakukan kesalahan. Padahal belum tentu kita berani maju meskipun itu ditunjuk. Saya tanpa sadar mungkin pernah. Maafkan ya teman-teman atau siapapun itu yang pernah saya “lecehkan”.

Saya termasuk anak pendiam waktu di sekolah. Jarang mengacung untuk maju ke depan kelas kecuali ditunjuk. Jarang bertanya meskipun sebenarnya tidak mengerti. Tidak menjawab dengan inisiatif sendiri meskipun tahu. Parah sekali saya ya.

Meski akhirnya keberanian datang seiring berjalannya waktu, tapi saya merasa terlalu lambat. Sewaktu SMA di Klaten bahkan saya sempat minder dengan anak pindahan dari Bandung. Ia cas cis cus dan memiliki kepercayaan diri yang jarang dimiliki anak-anak desa seperti kami. Tak butuh waktu lama ia pun populer di kalangan siswa maupun guru.

Kenapa dia bisa pintar ngomong seperti itu? Kenapa dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi? Saya harus bisa? Saya juga harus berani?

Karenanya, ketika diberi kesempatan menjadi pengajar inspirator di Kelas Inspirasi (KI) Klaten #2 dan #3, saya selalu menstimulus agar para siswa berani maju ke depan dan berani bercerita. Siswa yang di belakang harus mendengarkan dan menegur jika ada yang menertawakan.

Keberanian untuk bicara di depan umum ini menurut saya sangat penting. Karena tidak semua mempunyai bakat alami. Tidak semua anak terlahir dari keluarga yang mendorong anak berani. Untuk itu perlulah guru memberi rangsangan. Keberanian menjadi salahsatu kunci kesuksesan anak di pekerjaan maupun di masa depan. Berani memulai, berani mandiri, berani mewujudkan mimpi, berani… berani…

Setiap masuk kelas, usai menyampaikan materi, saya mendorong anak agar berani maju ke depan untuk menjelaskan kembali. Kadang sekedar menceritakan cita-cita dan alasannya. Rata-rata mereka maju karena saya tunjuk dan iming-iming hadiah bahkan karena mau difoto hoho… Tetapi apapun itu, keberanian harus dimulai. Sebab, merekalah calon anak-anak hebat negeri ini.

IMG_20180208_112723

Dengan inspirasi dari kakak-kakak pengajar beragam profesi harapannya makin terbuka pemikiran mereka. Kian gigih mereka belajar. Di hari inspirasi 5 Februari 2018, murid SDN 01 Sudimoro, mendapat ilmu dan pengetahuan langsung dari Kak Aria dokter, Kak Tari pengusaha, Kak Novia perekam medis, Kak Tias purchasing, Kak Nuy konsultan engineering, Pak Soemantri perekayasa, dan saya sendiri. Mereka juga melihat langsung proses dokumentasi dari fotografer Kak Uken dan Kak Fisa, Videografer oleh Kak Zakaria, serta peran fasilitator yang mengatur kegiatan oleh Kak Dwi dan Kak Yuda.

Semoga sehari menginspirasi melekat dalam benak anak-anak untuk menjadi generasi emas Indonesia. Indonesia hebat!

IMG-20180207-WA0002

*foto dan grafis oleh team dokumentasi KI Klaten #3 SDN 01 Sudimoro

Apa Saja sih Persiapan untuk Kelas Inspirasi?

Bagi yang sudah terbiasa ikut Kelas Inspirasi (KI) mungkin hal ini tidak terlalu menjadi momok. Tapi bagi yang pertama? Pasti banyak dag dig dug-nya seperti kita mulai bekerja di hari pertama atau pertama masuk sekolah/kampus.

Namun, meskipun sudah bukan pertama kalinya, persiapan ini sangat penting lho. Karenanya, sebelum dilaksanakan hari inspirasi seluruh pegiat KI baik yang belum maupun sudah “wajib” ikut briefing yang diadakan panitia lokal. Briefing diadakan kurang lebih diadakan dua minggu sebelum KI tapi pada Kelas Inspirasi Klaten #3 dilaksanakan sehari sebelum Hari H. Kelebihan briefing dan hari inspirasi yang berturutan adalah waktu cuti bagi yang bekerja jauh sehingga tidak perlu bolak-balik.

Di sisi lain briefing yang berturutan dengan hari inspirasi dirasa kurang cukup waktu untuk menyiapkan pernak-pernik KI. Namun, semua itu bisa disiasati sebelumnya, sebab tak lama usai pengumuman relawan pengajar dan dokumentator yang diterima, fasilitator akan membentuk group lewat whats app tentu sesuai persetujuan kita terlebih dahulu. Tidak asal memasukkan ke group. Group online sangat membantu koordinasi jarak jauh sebelum bertatap muka.

Briefing KI Klaten #3 dilaksanakan di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Tulung, Jalan Cokro – Tulung Klaten. Aulanya yang luas sangat nyaman untuk dilaksanakan pembekalan rombongan belajar (rombel) dalam jumlah banyak. Meski di pinggir jalan raya tapi jauh dari bising kendaraan karena kiri kanannya sawah. *eh malah bahas tempat briefing*

Berikut point-point yang saya catat dalam pembekalan KI Klaten #3, 4 Februari 2018

Penguatan “Unggah-Ungguh” Sejak Dini
Point pertama yang saya catat dari pembekalan kali ini adalah “titipan” dari Pak Suroyo sebagai wakil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten. Sebelumnya Beliau menyayangkan kasus penganiayaan guru seni oleh muridnya hingga meninggal di Sampang. Menurutnya, hal tersebut karena kurangnya pendidikan karakter sejak dini. Penguatan karakter tidak hanya di sekolah tapi juga dari keluarga dan lingkungan.

Karakter yang harus terus dibina di antaranya disiplin, gotong royong, saling menghargai, dan tak kalah penting adalah menghormati yang lebih tua atau dalam masyarakat Jawa disebut unggah-ungguh. Dalam Bahasa Indonesia disebut tata krama. Contoh unggah-ungguh adalah penggunaan Bahasa Jawa yang terdapat tiga tingkatan yaitu krama inggil (paling halus), krama madya, dan ngoko (sesama). Bahasa Jawa atau bahasa daerah harus dibiasakan kepada anak sejak kecil.

Luruskan Kembali Niat Ikut KI
Point kedua yang saya catat dalam pembekalan KI adalah niat ikut KI. Pegiat KI Mbak Karina yang sudah malang melintang di dunia ini mengingatkan tujuh nilai KI yaitu sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung, siap bersilaturahim, dan tulus. Sudahkah kita menanamkan nilai tersebut saat mantap ikut KI? Sehingga ikut KI bukan karena kepentingan eksis di media sosial bahkan portofolio.

Fokus KI adalah orang yang ingin berkontribusi di bidang pendidikan tapi sudah bekerja. Di hari inspirasi, pengajar inspirator mengenalkan profesi dan bagaimana menjadi saya. Inspirator harus senang dengan profesinya bukan malah “curhat” kepada siswa-siswa SD. Inspirator juga harus menyelipkan empat nilai kepada anak-anak untuk meraih cita-cita yaitu kemandirian, kejujuran, kerja keras, dan pantang menyerah.

Dia juga mengingatkan agar selama di KI, semua pegiat KI harus tunduk terhadap UU Perlindungan Anak. Misalnya tidak mengupload foto anak di media sosial “seenaknya” atau berpotensi untuk hal negatif. Menghindari kekerasan dan pelecehan seksual. Berperilaku yang pantas, dan lainnya.

Manajemen Kelas
Point ketiga yang saya garis bawahi adalah bagaimana kita memanajemen kelas. Kali ini Mbak Titis menitikberatkan pada lesson plan. Sebab, adanya rencana ini yang akan menuntun pengajar tidak ngalor ngidul maupun menghindari kebuntuan di kelas.

Metode yang bisa digunakan adalah BOMBER B (Bang!, Outline, Message, Bridge, Example, Recap, Bang!). Bagaimana kita berkenalan dan menarik 5 menit pertama dengan cara yang unik dan menyenangkan, masuk ke pengajaran, dan bang! closing dengan cara berkesan.

Saat menulis ini pun saya dag dig dug, mau menyampaikan apa besok, bagaimana saya harus menyampaikan materi, ice breaking apa yang saya gunakan, lalu bagaimana menyiasati jangan sampai saya kehilangan suara lagi di akhir-akhir pelajaran seperti pengalaman ikut KI pertama, silakan mampir baca di sini.

Walaupun ini bukan pengalaman pertama, tapi rombel baru dan SD baru pula. Pengalamannya pun pasti berbeda ya kan. Jadi dijamin asyik dan seru!

IMG-20180204-WA0000_1

P_20180204_120215_1

Nantikan pengalaman hari inspirasi saya dan teman-teman di KI Klaten #3 SD Sudimoro Tulung ya 🙂

Berbagi Pengalaman Kelas Inspirasi; Jadi Guru SD Itu Ternyata Tak Gampang

Siapa di sini yang masih kecil bercita-cita menjadi guru? Saya ngacung. Karena bagi generasi 90-an seperti saya, cita-cita favorit rata-rata anak kecil adalah menjadi guru. Meskipun seiring berjalannya waktu cita-cita tersebut berubah. Bahkan, ketika bapak menyuruh saya untuk kuliah di fakultas keguruan, saya memilih jalan yang lain.

Tahun 2010-an ada gerakan Indonesia Mengajar (IM) yang diinisiasi oleh tokoh pendidikan Anies Bawesdan. IM merupakan wadah bagi para fresh graduate yang ingin mengabdikan diri setahun mengajar di daerah perbatasan atau pelosok nusantara. Pengalaman mereka ini pun dibukukan hingga sampailah ke tangan saya. Cita-cita menjadi guru seolah terpanggil. Namun, karena satu dan lain hal, saya tak jadi ikut IM.

Tahun 2012-an sebagai bagian dari IM, tercetuslah Kelas Inspirasi (KI), yang menjadi ruang unjuk gigi para profesional untuk mengajar sehari. Tidak harus nun jauh, karena KI diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Berawal dari Jakarta, Bandung, jumlah kota/kabupaten penyelenggara KI pun terus bertambah hingga ke seluruh pulau di Indonesia.

Tahun 2016, saat “libur” pasca melahirkan anak kedua di Klaten, tanpa sengaja di detik-detik akhir pendaftaran KI Klaten #2, saya menemukan formulir registrasi di linimasa twitter humas pemkab Klaten. Pendaftaran  dilakukan secara online dengan mengisi data diri dan menjawab pertanyaan yang cukup banyak menurut saya tapi gampang kok karena rata-rata tinggal menceritakan pengalaman kita meraih impian.

Tarara… awal tahun 2017, saya diantara sekian ratus dinyatakan terpilih menjadi pengajar inspirator untuk KI yang diselenggarakan kedua kalinya di kota kelahiran ini. KI ini ternyata sangat profesional, dari perekrutan, bagaimana mengoordinir para relawan sebelum hari inspirasi,  hingga pendanaan yang semua dilakukan secara mandiri.

 

Hari Inspirasi Tiba

Saya masuk dalam rombongan belajar SD Nengahan Kecamatan Bayat bersama lima relawan pengajar lainnya, tiga fasilitator, dan dua relawan dokumenter. Meski kami berasal dari beragam latar profesi dan asal, semua happy dan tak canggung. Karena sebelum hari H, sudah ada briefing oleh panitia lokal (panlok), dan pembentukan group lewat whats app. Semua persiapan sudah dibahas matang. Tinggal eksekusi di hari H, 18 Februari 2017.

Di luar dugaan saya sendiri, ternyata hobi ngeblog membawa saya berdiri sini, di depan anak-anak untuk menginspirasi agar mereka mempunyai mimpi di masa depan dan berani mewujudkan. Karena, dari lulus kuliah mungkin dari masih kuliah (part time), saya adalah seorang kutu loncat sejati, bekerja dari sini ke sana, pindah dari kota ini ke kota itu, saat teman bertanya saya kerja apa eh pas dia bertanya sudah berganti lagi, makanya cukup bingung juga saat harus menulis pekerjaan waktu registrasi. Tapi, terlepas dari semua itu, saya percaya banyak jalan menuju roma. Tahun 2012 saat masih menjadi karyawan perusahaan sedikit ternama, saya sudah berkeinginan ikut KI. Namun, empat tahun kemudian baru sempat mendaftar, saat sudah menjadi ibu rumah tangga. Semua indah pada waktunya.

Kembali, di depan anak-anak, saat itu saya harus bergantian masuk lima kelas kecuali kelas V (disesuaikan jam pelajaran dan jumlah inspirator) dengan pengajar lain. Di sini kita tidak menyuruh mereka bercita-cita seperti para profesional yang sedang menggantikan guru mereka di depan. Tapi, menceritakan profesi kita, bagaimana meraihnya, agar pikiran mereka terbuka bahwa banyak profesi di luar sekolah mereka. Untuk mewujudkannya harus dengan kerja keras, berusaha, tak menyerah, berdoa, berani, jujur sebagai bagian tujuh sikap kelas inspirasi yang diawali dari impian. Profesi rombel SD Nengahan yaitu pegawai pajak, karyawan, engineering consultant, pengawas, dan quality control.

Masuk kelas pertama di kelas IV, oke, saya begitu semangat, karena kami mengajar bebas alias tidak formal, lesson plan pun sesuai profesi masing-masing. Jadi cara mengajar pun berbeda, ada yang memakai pakaian sesuai profesi, membawa alat peraga, menonton film, atau dengan cara bermain.  Diawali yel-yel, menanyakan cita-cita, sangat kondusif dan menyenangkan…bla…bla…bla… Ketika masuk di kelas ketiga, kelas dua, situasi mulai agak, saya harus teriak-teriak, ada yang ngobrol sama teman, ada yang cuek,… suara sudah serak. Ahhh… ternyata itu belum seberapa, masuk kelas satu, lebih heboh lagi. Ada yang rebutan, ada yang mau nangis, oh dunia masa kecil…suara mana suara. Tapi untunglah, kelas saya berakhir di kelas 6 yang sudah mengerti dan kembali kondusif. Cuma sayangnya, suara saya tak selantang awal –awal haha…

Kesimpulannya, jadi guru SD itu tak mudah. Sebab, harus bisa mengendalikan situasi belajar mengajar anak yang masih “ngeyel” apalagi di kelas kecil 1-3 dan menjaga suara jangan terlalu berlebihan di awal karena rata-rata guru SD mengampu semua mata pelajaran dari awal hingga akhir jam pelajaran.  

Tapi, itu tak membuat saya kapok. Karena Februari 2018 ini, saya kembali menjadi salahsatu inspirator untuk KI Klaten #3. Kenapa Klaten? Karena sekaligus saya bisa pulang kampung dan saat harus menjadi inspirator tidak perlu khawatir dengan duo krucil karena mereka bersama mbah setri dan mbah kakung-nya juga pakde-nya.

Yuk, apapun profesi kamu, jadi bagian Kelas Inspirasi, karena setiap pengalaman itu berharga buat generasi bangsa ini dan setiap profesi itu pasti bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Dijamin canduuuuu!!!!

 

Foto oleh pribadi dan dokumentator (Pak Budi dan Mas Arif) KI Klaten #2 SD Nengahan, 18 Februari 2017

16789092_1851345155146297_7337569270047440896_n

IMG_9490

_DSC0351

IMG_9648