Diposkan pada blog competition, Education

Pentingnya Peran Keluarga dalam Mendampingi Periode Emas Anak di Era Kekinian

Nye…nye… nyee… ocehan pertama keluar dari mulut si kecil. Ia lalu belajar menapakkan kaki. Terjatuh kemudian bangun lagi. Rasanya setiap tahap itu mungkin baru kemarin termasuk saat-saat rewelnya ketika mau tumbuh gigi. Hingga akhirnya ia bisa membuat rumah bak “kapal pecah”, berlari, memanggil “Ibu” dengan sempurna, hingga sekarang bisa berebut gadget.

Momentum pertumbuhan masa kecil anak akan berlalu dengan cepat dan tak bisa terulang. Setiap tahapannya istimewa terutama pada periode emas di lima tahun pertama kehidupannya. Penelitian menyebutkan pada masa keemasan perkembangan otak mencapai 90 persen, 50 persen di antaranya terjadi di usia 3 tahun pertama. Selain golden age ditekankan juga pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dimulai dari terbentuknya janin hingga kira-kira berumur 2 tahun.

Namun, di era teknologi dan komunikasi saat ini pemenuhan gizi dan nutrisi saja tidaklah cukup. Setiap anak harus dibekali karakter yang kuat sebagai pondasi masa depannya. Pendidikan karakter yang dimulai dari rumah diharapkan bisa membendung dampak negatif pesatnya dunia digital terutama karena mudahnya akses anak terhadap gadget.

Untuk itulah pelibatan keluarga sebagai bagian pendidikan sangat penting sesuai amanat Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang idealnya terdiri dari orang tua dan anak memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang bersinergi dengan satuan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

1

Keterlibatan Keluarga dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sesuai umurnya satuan PAUD kemudian dibagi menjadi Taman Kanak-kanak (TK) dengan prioritas umur 5-6 tahun, Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB), Kelompok Bermain (KB) dengan prioritas usia 3-4 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) dengan prioritas sejak lahir hingga usia 4 tahun, dan Satuan PAUD sejenis.

Namun, terkadang kita terjebak bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah dengan harus bersekolah di tempat baik yang difasilitasi pemerintah maupun non pemerintah. Sehingga banyak tetangga saya yang anaknya masih sekitar usia dua tahun sudah disekolahkan. Memang itu tidak salah dan kembali pada situasi dan kondisi masing-masing keluarga. Kata psikolog ada baiknya jika ibu tidak bekerja full time, anak balita lebih baik dekat-dekat dahulu dengan orang tua sebagai bagian penguatan bonding dan attachment (hubungan mesra antara orang tua dan anak).

Pendidikan anak usia dini bisa diajarkan dari rumah oleh ibu dan ayah, serta jika ada anggota keluarga yang lain seperti kakek dan nenek. Sebab, rumah adalah tempat belajar pertama bagi anak dan meletakkan pondasi dan bekal sebelum pendidikan lebih lanjut. Utamanya dari seorang yang ibu yang merupakan teladan maupun pendidik pertama bagi anak atau dikenal dengan ungkapan al ummu madrasatul ula.

2

Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua di rumah khususnya ibu untuk mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak apalagi di era kekinian dengan tantangan digital yang tak bisa dihindarkan. Masa depan anak sebagai generasi alfa kelak akan semakin kompetitif, filter dari efek buruk dunia digital pun harus dimiliki. Pengalaman belajar sambil bermain yang menyenangkan bisa dilakukan di rumah di antaranya dengan:

  • Mengenalkan dasar agama pada anak. Misalnya melibatkan anak saat salat bagi Muslim, berdoa sebelum memulai aktivitas.
  • Mengajarkan kebiasaan hidup yang baik. Misalnya cuci tangan sebelum makan, sopan dan menghormati yang lebih tua.
  • Menstimulasi kemampuan motorik dan kognitif. Misalnya bermain playdoh, mengajak berbicara dengan kalimat lengkap.
  • Melatih kepercayaan diri dan sosial anak. Di era globalisasi kemampuan sosial sangat penting, dulu saya “takut” bertemu orang asing tapi saat ini hampir di semua tempat kita dapat berjumpa dengan orang dari luar negeri. Agar di masa depan anak tidak minder saya mulai melatih anak sulung saya yang belum genap 4 tahun berani mengatakan “hai” pada turis saat berjumpa di jalan.
  • Termasuk membatasi gadget. Gadget tidak hanya smartphone tapi semua barang elektronik yang memiliki layar termasuk televisi. Durasi ideal mengakses gadget menurut psikolog anak Feka Angge Pramita yang dikutip dari HaiBunda.com adalah satu jam saja sehari untuk anak usia 2-5 tahun. Efek negatif gadget di antaranya otak pada anak tidak akan berkembang baik padahal periode emas, tidak baik untuk mata, dan paparan radiasi. Untuk anak dibawah dua tahun tidak disarankan ekspos pada layar dari gadget elektronik karena dapat mengakibatkan keterlambatan bicara dan gangguan tidur. Sebagai ibu, saya sendiri kerap memutar otak agar anak tidak kecanduan gadget khususnya smartphone karena kalau sudah memegang susah untuk mengambil kembali. Kalau kata artis Marcell yang pernah saya baca intinya adalah orang tua tidak memegang handphone saat bersama anak dan menjauhkan dari jangkauan. Solusi tersebut ampuh bagi saya, HP kerap saya sembunyikan dan saat anak tidak melihat HP tidak ada drama berebut HP lagi. Sebagai orang tua kita bisa menyiasati kecanduan gadget dengan berinteraksi secara maksimal dengan anak disertai berbagai media pembelajaran seperti buku, CD, playdoh, mainan edukasi, dan lainnya sehingga lebih menyenangkan. Namun, jika anak tengah memegang HP kita pun harus turut mendampingi dan mengawasi sehingga fungsi gadget sebagai sarana edukasi yang positif.

3

Dukungan Ayah

Di era kekinian, pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Walaupun porsi pengasuhan dari ibu memang lebih banyak sebab tugas utama ayah adalah mencari nafkah. Ada yang bilang kalau anak kurang perhatian dari ibu maka akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang kasih sayang/empati, jika kurang perhatian dari ayah akan tumbuh dengan sikap kurang menghargai terhadap orang lain.

Dari sisi psikologis, pola pikir perempuan cenderung emosional yang menuruti perasaan sedangkan laki-laki memiliki pola pikir rasional atau berdasarkan logika. Anak yang tumbuh dengan perhatian kedua orang tua akan bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut. Itulah pentingnya komunikasi antara suami dan istri yang telah berperan sebagai ayah dan ibu.

Di rumah saya membiasakan, kedua anak saya yang masih balita menyambut ayah saat pulang bekerja. Saat libur, kami menghabiskan waktu bersama. Ada kalanya saya membiarkan ayah dan anak main bersama. Ini sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan si kecil terutama dalam menyeimbangkan kecerdasan antara IQ, EQ, dan SQ.

4

Walaupun bisa dibilang capek bekerja tapi sebagai seorang ayah tidak boleh menomorduakan anak. Sebab anak adalah alasan kita membanting tulang. Di Indonesia sendiri perlu didorong keterlibatan ayah sebab Indonesia masih menempati peringkat kedunia fatherless country di dunia. Hal ini menunjukkan kesadaran ayah masih minim terhadap campur tangan pendidikan anak.

Merencanakan Keluarga Hebat

Tidak ada sekolah menjadi ibu dan orang tua pada umumnya. Menjadi ayah maupun ibu adalah belajar seumur hidup. Hal-hal inilah yang kadang membuat antara ayah dan ibu berbeda pola pikir sehingga cara pengasuhan pun berbeda antara keduanya. Komunikasi suami dan istri sejak awal sangat penting sehingga tidak saling menyalahkan.

Di rumah, suami adalah pencari nafkah dan saya sebagai ibu rumah tangga. Namun, kami sudah membicarakannya sejak sebelum menikah. Bersyukur dan menerima adalah kunci keharmonisan keluarga. Sebab, masalah ekonomi apalagi hidup di kota besar kadang memicu pertengkaran keluarga yang ujungnya berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap menjadikan anak sebagai korban.

Karena itu menurut saya agar masa keemasan yang juga merupakan pondasi pembangunan karakter anak bisa optimal harus dimulai dari keterlibatan keluarga. Kesiapan fisik, mental, dan ekonomi dari orang tua akan menciptakan keluarga harmonis yang melahirkan generasi hebat. Si kecil tumbuh optimal dalam lingkungan keluarga yang nyaman. Di antara hal yang bisa mewujudkan hal tersebut misalnya:

  1. Pembekalan pasca ujian akhir sekolah (UAS) sembari menunggu kelulusan SMA. Apakah piihannya mau kuliah, kerja, atau menikah. Pembekalan ini bisa kerjasama antara guru bimbingan konseling (BK) dan dinas pendidikan atau lembaga terkait misal komisi perlindungan anak. Yang dikhawatirkan adalah begitu lulus SMA langsung menikah. Usia yang belum matang akan berpengaruh dalam menghadapi persoalan rumah tangga dan ekonomi keluarga.
  2. Bimbingan sebelum menikah. Bisa difasilitasi dari KUA dan lembaga/dinas terkait misal Kementrian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPPA). Bimbingan ini di antaranya memberikan gambaran tentang keluarga sehingga mereka tidak hanya siap menikah tapi juga siap mental saat menjadi orang tua serta mencegah KDRT. Peserta bisa diketahui saat ada yang melapor untuk menikah. Lokasi bimbingan bisa di kelurahan atau kecamatan bahkan KUA.
  3. Pemerintah mengawasi perusahaan/kantor untuk menjalankan cuti melahirkan tiga bulan atau enam bulan bagi perempuan untuk mengoptimalkan pemberian ASI Ekslusif. Pemberian ASI Ekslusif merupakan rekomendasi WHO dengan manfaat yang sangat banyak.
  4. Pemerintah menganjurkan ruang bermain atau menyusui pada perusahaan termasuk instansi. Misalnya untuk usia 0 bulan sampai lima tahun plus ada pengasuhnya. Yang memanfaatkan bisa membayar atau potong gaji dengan syarat yang diatur perusahaan. Sehingga, kinerja ibu tidak menurun karena satu tempat dengan anak yang masih butuh pengawasan. Di sela-sela istirahat pun ibu bisa menengok anak sehingga mengurangi rasa khawatir. Hak anak pun tidak terabaikan.
  5. Pemerintah atau lembaga terkait secara rutin melakukan seminar/penyuluhan untuk terus meningkatkan pengetahuan orang tua di bidang parenting maupun tantangan di era teknologi dan komunikasi. Misalnya melalui posyandu.

5

Semoga dengan kesiapan orang tua yang telah memiliki pengetahuan awal bisa mewujudkan keluarga harmonis dan hebat yang melahirkan generasi emas Bangsa Indonesia agar bisa bersaing di kancah dunia. Peran keluarga hebat ini salahsatunya sudah ditunjukkan oleh Azzam Habibullah putra dari pasangan Henry Ridho dan Laila Sari. Di usia yang belum genap 17 tahun Dididik Langsung oleh Orangtuanya, Azzam Menorehkan Prestasi dengan menginjakkan kaki di Amerika Serikat dan Austria atas kepeduliannya pada lingkungan. #sahabatkeluarga

*foto-foto dokumen pribadi oleh Darma Legi

Iklan
Diposkan pada Education

Merangsang Anak Berani Bicara di Depan Kelas

IMG_0558

Bicara di depan itu tak semudah tertawa dari belakang lho. Lalu, pernahkah kita menertawakan orang/teman yang sedang berbicara di depan saat melakukan kesalahan. Padahal belum tentu kita berani maju meskipun itu ditunjuk. Saya tanpa sadar mungkin pernah. Maafkan ya teman-teman atau siapapun itu yang pernah saya “lecehkan”.

Saya termasuk anak pendiam waktu di sekolah. Jarang mengacung untuk maju ke depan kelas kecuali ditunjuk. Jarang bertanya meskipun sebenarnya tidak mengerti. Tidak menjawab dengan inisiatif sendiri meskipun tahu. Parah sekali saya ya.

Meski akhirnya keberanian datang seiring berjalannya waktu, tapi saya merasa terlalu lambat. Sewaktu SMA di Klaten bahkan saya sempat minder dengan anak pindahan dari Bandung. Ia cas cis cus dan memiliki kepercayaan diri yang jarang dimiliki anak-anak desa seperti kami. Tak butuh waktu lama ia pun populer di kalangan siswa maupun guru.

Kenapa dia bisa pintar ngomong seperti itu? Kenapa dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi? Saya harus bisa? Saya juga harus berani?

Karenanya, ketika diberi kesempatan menjadi pengajar inspirator di Kelas Inspirasi (KI) Klaten #2 dan #3, saya selalu menstimulus agar para siswa berani maju ke depan dan berani bercerita. Siswa yang di belakang harus mendengarkan dan menegur jika ada yang menertawakan.

Keberanian untuk bicara di depan umum ini menurut saya sangat penting. Karena tidak semua mempunyai bakat alami. Tidak semua anak terlahir dari keluarga yang mendorong anak berani. Untuk itu perlulah guru memberi rangsangan. Keberanian menjadi salahsatu kunci kesuksesan anak di pekerjaan maupun di masa depan. Berani memulai, berani mandiri, berani mewujudkan mimpi, berani… berani…

Setiap masuk kelas, usai menyampaikan materi, saya mendorong anak agar berani maju ke depan untuk menjelaskan kembali. Kadang sekedar menceritakan cita-cita dan alasannya. Rata-rata mereka maju karena saya tunjuk dan iming-iming hadiah bahkan karena mau difoto hoho… Tetapi apapun itu, keberanian harus dimulai. Sebab, merekalah calon anak-anak hebat negeri ini.

IMG_20180208_112723

Dengan inspirasi dari kakak-kakak pengajar beragam profesi harapannya makin terbuka pemikiran mereka. Kian gigih mereka belajar. Di hari inspirasi 5 Februari 2018, murid SDN 01 Sudimoro, mendapat ilmu dan pengetahuan langsung dari Kak Aria dokter, Kak Tari pengusaha, Kak Novia perekam medis, Kak Tias purchasing, Kak Nuy konsultan engineering, Pak Soemantri perekayasa, dan saya sendiri. Mereka juga melihat langsung proses dokumentasi dari fotografer Kak Uken dan Kak Fisa, Videografer oleh Kak Zakaria, serta peran fasilitator yang mengatur kegiatan oleh Kak Dwi dan Kak Yuda.

Semoga sehari menginspirasi melekat dalam benak anak-anak untuk menjadi generasi emas Indonesia. Indonesia hebat!

IMG-20180207-WA0002

*foto dan grafis oleh team dokumentasi KI Klaten #3 SDN 01 Sudimoro

Diposkan pada Education

Apa Saja sih Persiapan untuk Kelas Inspirasi?

Bagi yang sudah terbiasa ikut Kelas Inspirasi (KI) mungkin hal ini tidak terlalu menjadi momok. Tapi bagi yang pertama? Pasti banyak dag dig dug-nya seperti kita mulai bekerja di hari pertama atau pertama masuk sekolah/kampus.

Namun, meskipun sudah bukan pertama kalinya, persiapan ini sangat penting lho. Karenanya, sebelum dilaksanakan hari inspirasi seluruh pegiat KI baik yang belum maupun sudah “wajib” ikut briefing yang diadakan panitia lokal. Briefing diadakan kurang lebih diadakan dua minggu sebelum KI tapi pada Kelas Inspirasi Klaten #3 dilaksanakan sehari sebelum Hari H. Kelebihan briefing dan hari inspirasi yang berturutan adalah waktu cuti bagi yang bekerja jauh sehingga tidak perlu bolak-balik.

Di sisi lain briefing yang berturutan dengan hari inspirasi dirasa kurang cukup waktu untuk menyiapkan pernak-pernik KI. Namun, semua itu bisa disiasati sebelumnya, sebab tak lama usai pengumuman relawan pengajar dan dokumentator yang diterima, fasilitator akan membentuk group lewat whats app tentu sesuai persetujuan kita terlebih dahulu. Tidak asal memasukkan ke group. Group online sangat membantu koordinasi jarak jauh sebelum bertatap muka.

Briefing KI Klaten #3 dilaksanakan di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Tulung, Jalan Cokro – Tulung Klaten. Aulanya yang luas sangat nyaman untuk dilaksanakan pembekalan rombongan belajar (rombel) dalam jumlah banyak. Meski di pinggir jalan raya tapi jauh dari bising kendaraan karena kiri kanannya sawah. *eh malah bahas tempat briefing*

Berikut point-point yang saya catat dalam pembekalan KI Klaten #3, 4 Februari 2018

Penguatan “Unggah-Ungguh” Sejak Dini
Point pertama yang saya catat dari pembekalan kali ini adalah “titipan” dari Pak Suroyo sebagai wakil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten. Sebelumnya Beliau menyayangkan kasus penganiayaan guru seni oleh muridnya hingga meninggal di Sampang. Menurutnya, hal tersebut karena kurangnya pendidikan karakter sejak dini. Penguatan karakter tidak hanya di sekolah tapi juga dari keluarga dan lingkungan.

Karakter yang harus terus dibina di antaranya disiplin, gotong royong, saling menghargai, dan tak kalah penting adalah menghormati yang lebih tua atau dalam masyarakat Jawa disebut unggah-ungguh. Dalam Bahasa Indonesia disebut tata krama. Contoh unggah-ungguh adalah penggunaan Bahasa Jawa yang terdapat tiga tingkatan yaitu krama inggil (paling halus), krama madya, dan ngoko (sesama). Bahasa Jawa atau bahasa daerah harus dibiasakan kepada anak sejak kecil.

Luruskan Kembali Niat Ikut KI
Point kedua yang saya catat dalam pembekalan KI adalah niat ikut KI. Pegiat KI Mbak Karina yang sudah malang melintang di dunia ini mengingatkan tujuh nilai KI yaitu sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung, siap bersilaturahim, dan tulus. Sudahkah kita menanamkan nilai tersebut saat mantap ikut KI? Sehingga ikut KI bukan karena kepentingan eksis di media sosial bahkan portofolio.

Fokus KI adalah orang yang ingin berkontribusi di bidang pendidikan tapi sudah bekerja. Di hari inspirasi, pengajar inspirator mengenalkan profesi dan bagaimana menjadi saya. Inspirator harus senang dengan profesinya bukan malah “curhat” kepada siswa-siswa SD. Inspirator juga harus menyelipkan empat nilai kepada anak-anak untuk meraih cita-cita yaitu kemandirian, kejujuran, kerja keras, dan pantang menyerah.

Dia juga mengingatkan agar selama di KI, semua pegiat KI harus tunduk terhadap UU Perlindungan Anak. Misalnya tidak mengupload foto anak di media sosial “seenaknya” atau berpotensi untuk hal negatif. Menghindari kekerasan dan pelecehan seksual. Berperilaku yang pantas, dan lainnya.

Manajemen Kelas
Point ketiga yang saya garis bawahi adalah bagaimana kita memanajemen kelas. Kali ini Mbak Titis menitikberatkan pada lesson plan. Sebab, adanya rencana ini yang akan menuntun pengajar tidak ngalor ngidul maupun menghindari kebuntuan di kelas.

Metode yang bisa digunakan adalah BOMBER B (Bang!, Outline, Message, Bridge, Example, Recap, Bang!). Bagaimana kita berkenalan dan menarik 5 menit pertama dengan cara yang unik dan menyenangkan, masuk ke pengajaran, dan bang! closing dengan cara berkesan.

Saat menulis ini pun saya dag dig dug, mau menyampaikan apa besok, bagaimana saya harus menyampaikan materi, ice breaking apa yang saya gunakan, lalu bagaimana menyiasati jangan sampai saya kehilangan suara lagi di akhir-akhir pelajaran seperti pengalaman ikut KI pertama, silakan mampir baca di sini.

Walaupun ini bukan pengalaman pertama, tapi rombel baru dan SD baru pula. Pengalamannya pun pasti berbeda ya kan. Jadi dijamin asyik dan seru!

IMG-20180204-WA0000_1

P_20180204_120215_1

Nantikan pengalaman hari inspirasi saya dan teman-teman di KI Klaten #3 SD Sudimoro Tulung ya 🙂

Diposkan pada Education

Berbagi Pengalaman Kelas Inspirasi; Jadi Guru SD Itu Ternyata Tak Gampang

Siapa di sini yang masih kecil bercita-cita menjadi guru? Saya ngacung. Karena bagi generasi 90-an seperti saya, cita-cita favorit rata-rata anak kecil adalah menjadi guru. Meskipun seiring berjalannya waktu cita-cita tersebut berubah. Bahkan, ketika bapak menyuruh saya untuk kuliah di fakultas keguruan, saya memilih jalan yang lain.

Tahun 2010-an ada gerakan Indonesia Mengajar (IM) yang diinisiasi oleh tokoh pendidikan Anies Bawesdan. IM merupakan wadah bagi para fresh graduate yang ingin mengabdikan diri setahun mengajar di daerah perbatasan atau pelosok nusantara. Pengalaman mereka ini pun dibukukan hingga sampailah ke tangan saya. Cita-cita menjadi guru seolah terpanggil. Namun, karena satu dan lain hal, saya tak jadi ikut IM.

Tahun 2012-an sebagai bagian dari IM, tercetuslah Kelas Inspirasi (KI), yang menjadi ruang unjuk gigi para profesional untuk mengajar sehari. Tidak harus nun jauh, karena KI diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Berawal dari Jakarta, Bandung, jumlah kota/kabupaten penyelenggara KI pun terus bertambah hingga ke seluruh pulau di Indonesia.

Tahun 2016, saat “libur” pasca melahirkan anak kedua di Klaten, tanpa sengaja di detik-detik akhir pendaftaran KI Klaten #2, saya menemukan formulir registrasi di linimasa twitter humas pemkab Klaten. Pendaftaran  dilakukan secara online dengan mengisi data diri dan menjawab pertanyaan yang cukup banyak menurut saya tapi gampang kok karena rata-rata tinggal menceritakan pengalaman kita meraih impian.

Tarara… awal tahun 2017, saya diantara sekian ratus dinyatakan terpilih menjadi pengajar inspirator untuk KI yang diselenggarakan kedua kalinya di kota kelahiran ini. KI ini ternyata sangat profesional, dari perekrutan, bagaimana mengoordinir para relawan sebelum hari inspirasi,  hingga pendanaan yang semua dilakukan secara mandiri.

 

Hari Inspirasi Tiba

Saya masuk dalam rombongan belajar SD Nengahan Kecamatan Bayat bersama lima relawan pengajar lainnya, tiga fasilitator, dan dua relawan dokumenter. Meski kami berasal dari beragam latar profesi dan asal, semua happy dan tak canggung. Karena sebelum hari H, sudah ada briefing oleh panitia lokal (panlok), dan pembentukan group lewat whats app. Semua persiapan sudah dibahas matang. Tinggal eksekusi di hari H, 18 Februari 2017.

Di luar dugaan saya sendiri, ternyata hobi ngeblog membawa saya berdiri sini, di depan anak-anak untuk menginspirasi agar mereka mempunyai mimpi di masa depan dan berani mewujudkan. Karena, dari lulus kuliah mungkin dari masih kuliah (part time), saya adalah seorang kutu loncat sejati, bekerja dari sini ke sana, pindah dari kota ini ke kota itu, saat teman bertanya saya kerja apa eh pas dia bertanya sudah berganti lagi, makanya cukup bingung juga saat harus menulis pekerjaan waktu registrasi. Tapi, terlepas dari semua itu, saya percaya banyak jalan menuju roma. Tahun 2012 saat masih menjadi karyawan perusahaan sedikit ternama, saya sudah berkeinginan ikut KI. Namun, empat tahun kemudian baru sempat mendaftar, saat sudah menjadi ibu rumah tangga. Semua indah pada waktunya.

Kembali, di depan anak-anak, saat itu saya harus bergantian masuk lima kelas kecuali kelas V (disesuaikan jam pelajaran dan jumlah inspirator) dengan pengajar lain. Di sini kita tidak menyuruh mereka bercita-cita seperti para profesional yang sedang menggantikan guru mereka di depan. Tapi, menceritakan profesi kita, bagaimana meraihnya, agar pikiran mereka terbuka bahwa banyak profesi di luar sekolah mereka. Untuk mewujudkannya harus dengan kerja keras, berusaha, tak menyerah, berdoa, berani, jujur sebagai bagian tujuh sikap kelas inspirasi yang diawali dari impian. Profesi rombel SD Nengahan yaitu pegawai pajak, karyawan, engineering consultant, pengawas, dan quality control.

Masuk kelas pertama di kelas IV, oke, saya begitu semangat, karena kami mengajar bebas alias tidak formal, lesson plan pun sesuai profesi masing-masing. Jadi cara mengajar pun berbeda, ada yang memakai pakaian sesuai profesi, membawa alat peraga, menonton film, atau dengan cara bermain.  Diawali yel-yel, menanyakan cita-cita, sangat kondusif dan menyenangkan…bla…bla…bla… Ketika masuk di kelas ketiga, kelas dua, situasi mulai agak, saya harus teriak-teriak, ada yang ngobrol sama teman, ada yang cuek,… suara sudah serak. Ahhh… ternyata itu belum seberapa, masuk kelas satu, lebih heboh lagi. Ada yang rebutan, ada yang mau nangis, oh dunia masa kecil…suara mana suara. Tapi untunglah, kelas saya berakhir di kelas 6 yang sudah mengerti dan kembali kondusif. Cuma sayangnya, suara saya tak selantang awal –awal haha…

Kesimpulannya, jadi guru SD itu tak mudah. Sebab, harus bisa mengendalikan situasi belajar mengajar anak yang masih “ngeyel” apalagi di kelas kecil 1-3 dan menjaga suara jangan terlalu berlebihan di awal karena rata-rata guru SD mengampu semua mata pelajaran dari awal hingga akhir jam pelajaran.  

Tapi, itu tak membuat saya kapok. Karena Februari 2018 ini, saya kembali menjadi salahsatu inspirator untuk KI Klaten #3. Kenapa Klaten? Karena sekaligus saya bisa pulang kampung dan saat harus menjadi inspirator tidak perlu khawatir dengan duo krucil karena mereka bersama mbah setri dan mbah kakung-nya juga pakde-nya.

Yuk, apapun profesi kamu, jadi bagian Kelas Inspirasi, karena setiap pengalaman itu berharga buat generasi bangsa ini dan setiap profesi itu pasti bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Dijamin canduuuuu!!!!

 

Foto oleh pribadi dan dokumentator (Pak Budi dan Mas Arif) KI Klaten #2 SD Nengahan, 18 Februari 2017

16789092_1851345155146297_7337569270047440896_n

IMG_9490

_DSC0351

IMG_9648