Cara Memasak Kare Ayam Praktis dengan Bumbu Indofood

IMG-20180607-WA0007

Bagi ibu menyusui (busui) kaya aku, memasak sahur memiliki tantangan tersendiri. Karena kita tidak tahu pasti kapan si kecil terbangun untuk enen. Padahal waktu sahur sangat sempit ya kan, Buibu?

Untunglah ada bumbu masak indofood. Memasak jadi praktis, gampang, dan cepat. Tinggal tumis dan cemplung-cemplung. Rasanya pun enak. Karena bumbu rempahnya sudah lengkap dan plus santan.

Untuk menu sahur praktis ini, aku hanya menyiapkan bahan ayam potong setengah kilogram, dua gelas air atau kurang lebih 400 ml, tiga lembar daun jeruk (opsional), dan satu sachet bumbu indofood. Simple banget kan?

Aku menambahkan daun jeruk karena berfungsi untuk menambah aroma dan perasa makanan. Kalau Buibu mau, bisa ditambahkan kentang yang dipotong dadu, wortel, kol, atau sayuran lainnya.Cara memasak sebenarnya sudah tertera dengan jelas di kemasan. Jadi kurang lebih seperti ini:

  1. Tumis bumbu indofood bisa menggunakan panci atau wajan. Karena sudah mengandung minyak jadi aku tidak menambahkan minyak goreng lagi. Gunakan api kecil ya biar tidak gosong.
  2. Setelah harum, masukkan air lalu potongan daging ayam. Masukkan daun jeruk. Aduk-aduk.
  3. Cicip. Apakah rasanya sudah pas atau belum? Kalau belum (biasanya karena kebanyakan air) bisa ditambah lah sendiri garam/gula/penyedap. Sebaliknya kalau keasinan ( sedikit air) bisa ditambah air secukupnya.
  4. Tunggu hingga mendidih dan kental sesuai selera.
  5. Sajikan panas.

Gimana gampang banget kan? Menu sahur praktis dan dijamin enak siap dihidangkan.

Satu bungkus indofood ini bisa untuk 4-5 porsi. Akan lebih praktis lagi jika dalam satu bungkusnya terdapat sambal dan bawang goreng ya. *Maunya yang instan hehe…

Bagi juga yuk, cara memasak cepat ala Buibu di waktu sahur?

Iklan

#FunCookingCompetition Chef vs Jurnalism

Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan bisa berkolaborasi memasak bareng juru masak beken dari Indonesian Chef Association (ICA). Kemampuan dapur saya yang amatir sebenarnya membuat kurang percaya diri. Tapi justru karena kelemahan itu saya malah tertarik mengikuti #FunCookingCompetition sebagai penutup rangkaian acara Seminar Nasional Potensi Wisata Kuliner Indonesia di Dunia Internasional bertempat di STP NHI Bandung, Jum’at (22/12/2017) lalu.

Chef-chef dari ICA ini ternyata friendly banget lho. Seulas senyum ramah dan ajakan bergabung dalam kelompok 2, membuat saya tidak sungkan berbaur. Sebenarnya, saya sudah mendapat kelompok 15 di sesi kedua. Karena sudah terlalu sore dan kelamaan meninggalkan krucil di rumah, saya berniat bertukar di sesi pertama. Tapi tidak diperbolehkan oleh panitia. Akhirnya, saya celingak-celinguk ngider pada kelompok di sesi pertama hingga akhirnya gayung bersambut dari Chef Dodo dan Chef Rian serta para senior chef yang begitu bersahabat.

Canggung, tentu saja berada di tengah dua chef muda yang tampak profesional sekali ini. Kalau saya memasak di depan mereka, mempermalukan diri sendiri pasti ya. Tapi dalam hati juga saya terpecut, bagaimana tidak, saya ini perempuan yang kodratnya harus pandai memasak tapi kalah dengan para lelaki ini. “Saya masih amatir, saya barisan penggembira aja ya. Saya percayakan pada ahlinya,” kata saya pada mereka sebelum memulai kompetisi. Haha…

Mereka tidak sok pintar dan menggurui bahkan selalu memberi kesempatan pada saya. Tapi, karena saya tidak ingin merusak kreasi dan imajinasi mereka, setiap mereka menyuruh saya selalu minta diberi contoh takut tidak sesuai ekspektasi yang mereka harapkan. Mungkin batin mereka saya seperti anak SD haha… Tapi, kesan yang saya tangkap mereka tidak pelit berbagi ilmu lho.

Selain have fun, saya banyak belajar pada kompetisi memasak dengan menu nasi goreng ini. Menu yang merupakan masakan Indonesia yang menduduki peringkat 2 di dunia lewat survei facebook oleh CNN tahun 2011. Gampang, praktis, banyak kreasinya, dan mendunia lagi ya.

Chef Rian tidak sungkan-sungkan memperlihatkan nyala api di kompor untuk panas yang pas saat membuat nasi goreng. Katanya, begitulah yang diterapkan di hotel-hotel sehingga menghasilkan nasi goreng yang enak. Saat nasi digoreng Chef Dodo yang juga koordinator kelompok meracik hiasan dari selada, cabai merah, daun bawang, udang, telur dadar.

Selama ini saya kalau membuat nasi goreng, kalau tidak diulek bumbunya ya pakai racik yang praktis. Mereka menggunakan metode tumis bawang merah dan bawang putih. Telur sudah didadar terlebih dahulu lalu diangkat. Ini baru buat saya lho.

Setelah tumisan harum ditambahkan bumbu-bumbu lain seperti garam, penyedap. Termasuk udang kupas yang sudah dipotong kecil-kecil. Karena saya juga membantu mengiris-iris, sehingga tidak bisa detail mengamati. Tahu-tahu sudah matang dan tinggal penyajian dengan hiasan. Ini nih tampilan hasil kreasi Chef Dodo.

nasgor
Usai membuat nasi goreng, peserta ditantang menyajikan dessert dengan menghias Bolu Susu Lembang. BSL ini tanpa embel-embel pun sudah lembut dan enak banget apalagi diracik kembali ya oleh para chef. Taburan bubuk coklat, selai, dan lemon. By the way, saya yang diminta menaburkan bubuk coklat, lihat hasilnya kacau banget. Tapi lupakan, over all… tarara… Yummy…
bslica
Saking antusias mengikuti lomba memasak ini tak perlu menunggu di rumah saya langsung mengoceh di depan suami begitu ia menjemput.
“Jadi bisa dipraktekkan donk belajar memasaknya,” kata suami usai saya berpanjang lebar cerita heboh.
Bagaimana kemampuan memasak kamu, share juga, yuk 🙂

Rendang, National Food untuk Indonesia?

Jepang mempunya Sushi, Korea Selatan mempunyai Kimchi, Vietnam ada Pho, Thailand ada Tom Yam, Nasi Lemak dari Malaysia pun telah diakui dunia, lalu bagaimana dengan masakan yang bisa mewakili negara Indonesia? Begitulah, kira-kira Bu Vita Datau Messakh, Presiden Akademi Gastronomi Indonesia melempar pertayaan yang membuat kami peserta seminar cukup bingung juga.

Ya, minggu lalu (Jumat, 21/12/2017) saya berkesempatan menghadiri seminar nasional “Promosi Pesona Indonesia Melalui Makanan ke Dunia Internasional” di Sekolah Tinggi Pariwisata NHI, Bandung. Materi gastronomi awalnya merupakan pembahasan yang jauh dari awang-awang saya. Apa sih gastronomi itu? Yang pernah saya dengar ya astronomi, itu pun berarti angkasa lalu gastronomi apa hubungannya dengan kuliner? Kira-kira begitu yang berkecamuk dalam pikiran saya sebelum mengikuti diskusi ini.

Gastronomi merupakan art seni kebiasaan makan yang baik (good eating). Gastronomi menjadi sangat penting untuk memperkenalkan kuliner Indonesia di dunia internasional. Dunia global memiliki persaingan yang ketat. Meskipun, Indonesia memiliki lebih dari 5000 resep masakan tradisional tanpa pengemasan dan branding yang baik akan gagal di pasar internasional. Apalagi jika ingin mendorong kuliner sebagai bagian dari pariwisata. Kunci sukses gastronomi adalah adanya locomotive food dan tagline atau branding yang tercipta di pikiran orang.

Kembali lagi, masakan apa yang bisa menjadi lokomotif di dunia internasional? Bukan saja peserta yang bingung sebab diakui Bu Vita, yang “diatas” antara pemerintah dan sektor-sektor terkait pun sedang memperdebatkan ini. Lalu, kenapa ini nampaknya sulit? Saking banyaknya makanan Indonesia menjadi galau dan takut dibilang egois. Ada yang ngotot memperjuangkan soto sedangkan dari Bu Vita memperjuangkan rendang.

Soto Madura

Kenapa soto tidak bisa mewakili Indonesia? Syarat locomotive food harus ada produk, filosofi, dan prosesnya. Nah, makanan ini sifatnya juga harus main course bukan sekedar numpang lewat. Soto biasa dimakan sebagai hidangan pembuka sedangkan rendang merupakan main course yang bisa divariasi. Kemudian filosofinya atau sejarah makanan tersebut nah yang ini cukup membuat saya tercengang, soto bagian pelengkapnya merupakan ayam yang disuwir-suwir. Karena dulu daging ayam termasuk makanan mewah sehingga agar semua kebagian ayam maka di suwir-suwirlah bagian ayam tersebut. Awalnya, soto merupakan lambang kemiskinan. Jadi ya masa, makanan nasional kita simbol ketidakmampuan. Rendang, merupakan bagian dari masyarakat Minangkabau yang diolah oleh para perempuan dengan kasih sayang dalam menunggu anak lelakinya atau suaminya “merantau”. Itulah proses, seperti pembuatan kimchi yang disebut kimjang yaitu satu keluarga berkumpul bersama untuk memasak saat liburan. Bahkan, kimjang juga telah didaftarkan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) PBB sebagai warisan budaya.

rendang

Survei CNN tahun 2011 melalui facebook menempatkan rendang sebagai makanan nomor satu di dunia diikuti nasi goreng. Eje Kim, penulis buku Happy Yummy Journey menganggap rendang sebagai representative Indonesia. Sebab dimana-mana rasanya sama atau dipertahankan sesuai aslinya. Nasi goreng meskipun tersebar di Indonesia tapi memiliki rasa yang berbeda-beda di tiap daerah sehingga tidak bisa mewakili lidah Indonesia. Ketika saya mencoba berpikir, mungkin begitu juga dengan soto ya, meskipun soto ada di seluruh tanah air tapi bahan yang digunakan berbeda dan rasanya pun tidak sama termasuk tampilannya. Saya pecinta soto langsung membayangkan soto bandung, soto lamongan, soto madura, soto betawi, soto banyumas, dan soto-soto lain yang pernah saya cicip. Ya, semua berbeda. Setuju?

Ketika Indonesia sudah memiliki makanan yang “dijual” di luar negeri tentu akan mudah membawa masuk makanan-makanan yang lain. Sebab, yang terpenting adalah image atau makanan apa? Seperti Thailand yang sukses di bidang kulinernya. Siapapun yang masuk ke restoran Thailand di luar negeri akan diajak berpengalaman semua inderanya. Tidak hanya penciuman dan pengecap yang digunakan saat makan tapi penglihatan, pendengaran, dan perasa seluruhnya bekerja. Itulah nuansa makan yang tak bisa dinikmati di restoran lainnya. Kenapa Indonesia tidak bisa seperti Thailand? Selain masih “galau” menentukan national food, Indonesia juga terkendala tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lintas sektor misalnya antar kementrian pariwisata, perdagangan, ekonomi kreatif. Berbeda di Thailand, yang dilakukan atas satu arahan. Bu Vita juga tengah memperjuangkan tagline “Indonesia Spice Up The World”. Indonesia adalah bumbu, bumbu adalah ruh atau DNA dari masakan itu sendiiri.

Jadi menurut Kamu, masakan apa yang pantas menjadi makanan nasional Indonesia?

 

ibu vita

 

Kabita BOLU SUSU LEMBANG, Mau dan Mau Lagi!

Begitu mendengar kata bolu, bayangan pertama saya adalah kue dengan rasa “eneg” apalagi dengan kandungan susunya. Dalam Bahasa Jawa eneg(k) berarti tidak enak, tidak menyenangkan. Kedua, image bolu bagi saya adalah kue yang membosankan dan monoton. Namun, semua yang jelek dalam benak saya hilang usai melihat tampilan Bolu Susu Lembang yang kekinian dan dijamin langsung bikin ngiler atau kata Orang Sunda, kabita.

Pada kesempatan Grand Launching Promo Bolu Susu Lembang (BSL), Minggu 17 Desember 2017 di Cihampelas Walk Bandung, antusias warga membuat Pak Syafei General Manager BSL merinding. Di sela-sela antrean pengunjung yang ingin membeli BSL, beliau bahkan mengaku tidak menyangka antusiasme warga Kota Bandung yang tinggi dalam menyambut kehadiran BSL. Acara sendiri sangat seru, selain launching BSL, berlangsung pula lomba mewarnai anak usia PAUD  hingga SD, demo memasak, menghias BSL, lomba food fotography, dan banjir doorprize.

Harga yang dibandrol untuk satu box pun sangat murah, hanya Rp 29 ribu. Harga murah yang tidak murahan lho. Ada tiga varian rasa yang ditawarkan yaitu susu original, vanila, dan coklat. Saya berkesempatan mencicip rasa susu coklat. Taraaa… begitu box dibuka taburan slices toping kejunya sudah membuat menahan liur. Begitu diiris, rasa manis coklatnya langsung terkirim di otak dan seketika membuat mood happy. Wajar karena coklat mengandung Phenylethylamine yang dapat menimbulkan perasaan senang dan bahagia bagi yang mengonsumsinya hingga layaknya seorang yang sedang jatuh cinta. Padahal ini belum dicoba, ya. Pas dicoba, dalam sekali gigit yummmy banget lembut dan terlebih ada kejutan lapisan coklat didalamnya. Apakah saya berlebihan? Untuk membuktikannya, Teman, bisa mencoba sendiri.

Dari soal harga dan rasa sudah tidak diragukan lagi. Bagaimana dengan kandungan gulanya? Tidak perlu khawatir, bagi penderita diabetes pun bisa mengonsumsi BSL ini. Karenanya, saya pun tak khawatir memberikan BSL sebagai oleh-oleh buat Abah yang benar-benar menjaga gula diabet ya. Setahu saya, mertua saya ini sangat menghindari makanan dengan kadar gula tinggi termasuk minum dengan gula. Bahkan, ketika Beliau ulang tahun, salah seorang kakak ipar saya mengirim kue ulang tahun. Karena, tidak ingin anaknya kecewa, Beliau memang menerimanya tapi tebak donk siapa yang kalap menghabiskan, SAYA!

 

Bakal Jadi Most Wanted di Bandung

Menurut Curhat Si Ambu, BSL ini elegan dan tidak kalah dengan menjamurnya cake-cake artis termasuk yang masuk ke Bandung. Ditambah lagi dari Cerita Ida, BSL pas buat oleh-oleh dan cemilan keluarga. Panganan yang aman, halal, dan higienis. Kandungan nutrisi hasil olahan berkolaborasi dengan Indonesian Chef Association (ICA) ini  juga sudah tidak diragukan lagi plus gizi dari susu lembang-nya.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak langsung ke media sosialnya BSL, facebook dan instagram @bolulembang. Jika ingin pesan via online bisa menghubungi telepon atau  whats app ke nomor 0811-1500-146. Dalam mempermudah konsumennya, BSL juga melayani delivery order lho atau “BSL Gancang”. Nah, kalau mau membeli kuliner anyar ini sembari melihat-lihat dulu bisa mendatangi mitra-mitra resmi berikut:

  1. Jalan Raya Bojongsoang No. 108, Terusan Buah Batu
  2. Jalan Jenderal Amir Machmud No. 218, Cimahi Utara
  3. Jalan AH. Nasution No. 105 Bandung
  4. Jalan Raya Jatinangor No. 172
  5. Jalan Malabar, Kosambi Bandung

Selamat menikmati ya 🙂

 

*Foto-foto dokumen pribadi

 

 

Tak Pernah Bosan Makan Tempe

12080506_1658887457683425_1945367139_n

Tempe goreng ijen (foto by Yunanta C Buana)

“Pagi ini tersisa tiga potong tempe sebagai lauk kami. Tempe ijen semacam ini favorit kawan saya yang namanya Sumeru. Tempe goreng tidak terlalu kering, gurih, dan masih hangat pas sekali buat lauk sarapan.”

Sebuah postingan Instagram milik @yunantabuana yang menggelitik buat saya. Ternyata tidak hanya saya yang doyan banget dengan lauk yang namanya tempe ini. Bahkan, saat hamil pun, saya pernah menghabiskan sepiring tempe goreng sendiri. Hingga oleh keluarga suami di Bandung, saya sering dijadikan bahan candaan. Kata mereka, mempunyai istri seperti saya ngirit, karena makannya cukup dengan tempe.

Eits, jangan salah ya, awalnya tempe memang diciptakan oleh rakyat makanya acap dipandang sebelah mata. Namun, kini pamor tempe tak kalah dibanding lauk lainnya. Warisan budaya bangsa ini telah menunjukkan tajinya di pentas global. Ia telah menjadi menu favorit di Jepang dan Korea. Dua negara macan Asia Timur yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tempe juga telah merambah negara Asia, Eropa bahkan Amerika. Bahkan di Jerman, sudah dilakukan penelitian tingkat terkait tempe untuk mendapat lebih banyak manfaatnya.

Fakta menarik lainnya tentang tempe yang belum lama saya ketahui adalah ternyata lauk favorit yang saya makan hampir setiap hari tersebut telah ada lebih dari 400 tahun. Hal ini pernah dimuat dalam manga “Shokugeki No Souma” pada chapter 43 page 11. Dalam manga tentang masak-memasak yang ditulis oleh Tsukuda Yuto tersebut, tempe disebutkan berasal dari Indonesia. Kartun Jepang dengan ilustrator Shun Saeki/ TOSH yang berkolaborasi dengan seorang Chef terkenal bernama Morisaki Yuki telah terbit secara mingguan di Shonen Jump sejak November 2012.

Tempe dalam manga

Tempe dalam manga “Shokugeki No Souma”

Menurut sejarawan Ong Hok Ham, penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia. Ia menyayangkan penemu tempe anonim karena tempe ditemukan sebelum zaman paten. Tahun 2014, hak paten yang berhubungan dengan tempe paling banyak dimiliki oleh Amerika Serikat sebanyak 35 buah kemudian Jepang 5 buah dan Indonesia dua buah. Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Teknik Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor Tien R Muchtadi.

Bukti lain jika tempe berasal dari Jawa dikemukakan oleh pakar tempe dari Universitas Gajah Mada Mary Astuti. Berdasarkan muasal katanya, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi. Artinya makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu dan tempe berwarna putih. Ia juga menemukan kata tempe dalam Serat Centhini jilid ketiga, yang menggambarkan perjalanan Mas Cebolang dari Candi Prambanan menuju Pajang. Ia mampir di dusun Tembayat wilayah Kabupaten Klaten dan dijamu makan siang oleh Pangeran ayat dengan lauk seadanya. Dalam serat yang dibuat sekitar abad ke-19 disebutkan, “…brambang jae santen tempe … asem sambel lethokan …” sambel lethok dibuat dengan bahan dasar tempe yang telah mengalami fermentasi lanjut. Pada jilid 12 kedelai dan tempe disebut bersamaan: “…kadhele tempe srundengan…“. Jadi, berdasarkan uraian tersebut menurut saya tempe bisa dikatakan berasal dari Klaten, kampung halaman saya. Makanan daerah yang kini mendunia.

Pada dasarnya proses pembuatan tempe adalah proses menumbuhkan spora jamur tempe, yaitu Rhizopus sp., pada biji kedelai. Dalam pertumbuhannya, Rhizopus sp., membentuk benang hifa. Benang tersebut yang mengikat biji kedelai satu dengan yang lainnya menjadi tempe. Pada masa fermentasi, jamur tersebut juga menghasilkan enzim pencernaan yang mengurai protein dalam biji kedelai sehingga membuat tempe lebih nyaman di perut. Karenanya, tempe baik untuk semua kelompok umur.

Potongan tempe rebus dapat dijadikan bahan dasar resep Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), baik campuran nasi tim maupun bubur. Saya pribadi pun tidak ragu memberikan kepada balita saya yang berusia satu tahun. Olahan tempe juga disarankan dikonsumsi oleh ibu hamil karena nilai gizinya. Tempe dapat membantu kebutuhan protein yang meningkat seiring pertumbuhan janin, dalam http://www.bidanku.com menyebutkan kebutuhan protein adalah 12 gram/kilo berat tubuh.

Dikutip dari laman http://www.kuherbal.com, pada 100 gram tempe mengandung sekitar 20.8 gram protein, sehingga cocok sebagai menu sehari-hari yang digunakan untuk diet tinggi protein. Namun, yang harus diingat untuk mengoptimalkan nutrisi tempe untuk tubuh adalah cara memasaknya yakni dengan direbus, dibacem, disemur, dan campuran berbagai sup. Sementara penelitian di Jerman telah membuktikan jika tempe mengandung superoksida dismutase yang bisa mencegah penuaan dini. Selain itu, dapat mencegah radikal bebas yang menyebabkan penyakit degeneratif (misalnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, berbagai jenis kanker).

Mengingat kandungan nutrisi dari tempe yang begitu besar diharapkan pemerintah dan stakeholders makin serius melakukan penelitian. Penelitian juga harus dilakukan pada tanaman kedelai agar kedelai lokal tidak kalah bersaing dengan impor yang menyebabkan setiap tahun harga kedelai naik. Akibatnya, petani, pedagang, dan masyarakat dibuat dalam kondisi tidak menentu. Menurut Ketua Yayasan Tempe Indonesia Dr Sapuan, pemanfaatan tempe dalam industri di Indonesia pernah dijalin dengan PT Sari Husada. Namun, karena krisis ekonomi yang membuat bahan baku meningkat membuat produk susu instan dihentikan.

Untuk saya sendiri, tempe goreng dengan bumbu garam, bawang putih, ditambah sedikit penyedap rasa masih andalan. Bumbu tersebut dihaluskan manual lalu ditambah air matang secukupnya. Irisan tempe direndam kemudian ditiriskan dan digoreng. Resep warisan dari ibu saya, mudah dan hasilnya tempe gurih yang nyam-nyam. Seperti kata teman saya di atas, enak disajikan saat hangat. Olahan tempe lainnya yang kerap saya makan yaitu tempe bacem, kering tempe, dan tempe penyet pedas. Namun yang paling favorit masih makanan khas Klaten, lethok, yang berbahan tempe. Cocok dihidangkan dengan ditumpangkan pada nasi gudangan dan ditaburi sambal bubuk kedelai. Apalagi jika yang membuat adalah tangan ibu, rasanya semakin rindu dengan kampung halaman.

Referensi:
Cara Membuat Tempe. http://www.caramembuattempe.com
Hak Paten/Hak Cipta Tempe. http://arinifatimah35.blogspot.co.id/
Indonesia dalam Manga Jepang. Posting 18 November 2013. http://otaku-indon.blogspot.co.id/
Kandungan Nutrisi Gizi Tempe dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. http://kuherbal.com/
Sejarah Tempe; Tempe makanan kita semua oleh Hendri F. Isnaeni. http://historia.id/kuliner/sejarah-tempe
9 Pilihan Makanan Sehat Bagi Ibu Hamil. http://www.bidanku.com
7 Makanan Khas Indonesia yang Mendunia oleh Hadi Hariyanto. Posting 21 April 2015. http://www.asliindonesia.net//