Diposkan pada Book Review

[Book Review] Meraih Mimpi dengan Beasiswa; Step be a Smart Mom

Siapa bilang ibu rumah tangga harus melupakan impiannya. Menjadi ibu bukan berarti lantas mengubur ambisi kita. Meneruskan jenjang ke pendidikan lebih tinggi, kembali ke karier, kenapa tidak? Buku ini dipersembahkan kepada siapa saja yang bertekad untuk maju lewat pendidikan. Saya ngacung!

Ibu merupakan madrasah pertama buat anak-anaknya. Jadi sangat penting menjadi ibu yang smart dan “melek”.

Ngomong-ngomong soal buku ini sebenarnya sudah pingin dari tahun lalu sejak rilis. Tapi harus tertunda dengan kelahiran anak kedua. Memang niat mau melanjutkan magister hihi…

20170922_094838-1

Judul:Meraih Mimpi dengan Beasiswa
Penulis: Abellia Anggi Wardani
Editor: Weka Swasti
Proof Reader: Herlina P Dewi
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Arya Zendi
Tebal: 228 halaman
ISBN: 978-602-7572-45-4
Penerbit: Stiletto Book

Blurb

Mendapatkan beasiswa merupakan impian banyak orang, karena dengan beasiswa, kita bisa menuntut ilmu di institusi-institusi terbaik di mana pun tanpa terbebani masalah biaya. Apalagi kalau beasiswa yang didapat tidak hanya memberikan kesempatan untuk menimba ilmu, tetapi juga untuk berkenalan dengan budaya-budaya bangsa lain.
Pasti seru!

Selain informasi seputar sumber beasiswa dalam negeri ataupun luar negeri, buku ini juga membahas A – Z persiapan mendapatkan beasiswa, di antaranya:

  • Checklist dokumen-dokumen yang diperlukan
  • Cara menulis CV yang menarik
  • Cara membuat surat motivasi dan surat rekomendasi yang baik
  • Cara menulis esai yang mencuri perhatian
  • Tip menjalani tes-tes di setiap tahap
  • Sampai, cara agar bisa survive di lingkungan baru dan lulus dengan predikat Cum Laude


Dituturkan dengan jelas dan detail oleh seorang penulis yang telah mendapat lebih dari 10 beasiswa, baik di universitas dalam negeri ataupun luar negeri. Penulis juga banyak membagi pengalaman pribadinya dalam buku ini, yang tentu saja akan membuat kalian lebih semangat lagi untuk mengikuti jejaknya.

 

REVIEW

Mengawali buku ini, penulis mengajak kita untuk percaya pada kekuatan keyakinan terlebih dahulu. Ya, faith. Seperti kata pepatah, apa yang kamu yakini itu yang akan terjadi. Sama halnya ketika kita akan apply beasiswa, kita harus yakin bahwa pengajuan beasiswa kita akan diterima.

Mengutip testimoni Icha Ayu yang juga penulis novel Distance dan Remember Paris terbitan Stiletto Book, “Once you apply for a scholarship, you already posses at least 99% of chance to win the scholarship.

Pengalaman dulu sih, banyak teman-teman yang bilang kalau mengurus beasiswa itu ribet. Harus mempersiapkan berkas-berkas persyaratan apalagi kalau harus ujian atau tes.

Membaca buku ini, kamu akan diyakinkan kalau mengurus pengajuan beasiswa bukanlah hal ribet tapi effort. Tidak ada sukses yang instant bukankah untuk mendapatkan sesuatu kita butuh perjuangan. Bahkan mengorbankan waktu dan tenaga kalau perlu materi. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Setuju, Mom?

Saat menempuh S1 saya pun mendapat beberapa beasiswa yang sangat membantu selama studi di Fakultas Kehutanan UGM. Di antaranya Branita Sandhini, Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), dan Karya Salemba Empat.

Oiya, seperti kata Abel, beasiswa bukan melulu karena kita tidak mampu tapi karena prestasi. Jadi jangan minder kalau mau mengajukan atau menerima beasiswa, lihat beasiswa apa dulu donk? Kita boleh sombong kok dengan beasiswa karena prestasi akademik maupun non akademik kita.

Begitu juga saat sudah berstatus ibu, saya sempat ragu untuk sekolah lagi. Namun, seorang “kakak” menyemangati saya. Justru pengalaman ibu rumah tangga belum tentu dimiliki mereka yang sama-sama kuliah. Ini bisa menjadi poin plus karena tantangannya berbeda, pengalamannya pun berbeda apalagi sudah pernah bekerja juga. Up…up…wake up!

Namun, yang penting diingat ketika sudah berstatus menikah, suami dan anak adalah yang utama. Sebelum memutuskan apapun sebaiknya meminta pertimbangan terlebih dahulu. Jangan sampai beasiswa sia-sia karena mundur ditengah jalan seperti ibu 35 tahun dengan dua anak kenalan Abel yang tak bisa melanjutkan magister karena satu dan lainnya seperti shock culture dan musim.

Untuk menyiasatinya, tak harus ke luar negeri, perguruan tinggi di Indonesia juga sudah banyak yang berkualitas bagus. Kita tinggal mengecek di internet mengenai akreditasi dan world ranking-nya.

Dalam buku ini, Abel juga memaparkan tes-tes bahasa asing dan tes potensi akademik yang wajib jika ingin menyeberang benua. Mulai dari gambaran tes hingga tips mengerjakan. Di lampiran, terdapat contoh curriculum vitae, motivasi, dan esai yang kerap dibutuhkan pemburu beasisw termasuk saya, baik banget ya Abel.

Baca sendiri dech, kamu bakal merasakan gigihnya Abel untuk mendapatkan beasiswa hingga lulus cumlaude tanpa harus meninggalkan pergaulan. Ke luar negeri juga tetap bisa traveling di sela studi dan mendapatkan pengalaman bekerja. Seru banget! Buku ini jauh dari kesan menggurui, tutur sangat ramah seperti warna tosca sampulnya, simple tapi tetap elegan dan cerdas.

Sukses untuk Abelia Anggi Wardani yang konsent pada bidang budaya dan wisata 🙂

 

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Book Review, ODOP

[Book Review] Critical Eleven; Skenario Tuhan

20170814_064559

Judul Critical Eleven

A novel by Ika Natassa

Paperback, 344 pages

Published August 10th 2015 by PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN139786020318929
BLURB
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

 

REVIEW

Mungkin terlambat banget ya me-review novel yang edisi pertama sudah cetak dari tahun 2015. Sedangkan saya baru membeli edisi keduapuluh dengan cover film tentu saja karena novel karya ke tujuh Ika Natassa ini sudah difilmkan. Ini buku kedua Ika Natassa yang saya baca. Twivortiare adalah buku yang saya baca di tahun 2012 dipinjami teman waktu di Jakarta. Menggunakan twitter dalam ceritanya membuat saya kurang bisa mengikuti alur ceritanya ya karena dulu saya belum sefamiliar ini dengan twitter.

Novel Critical Eleven ini sendiri maupun setelah film-nya sudah rilis, saya belum tahu ceritanya sampai menamatkannya sendiri. Karena saya pada umumnya lebih suka novel perjalanan, rekam sejarah, dan motivasi seperti karya Mbak Hanum Salsabila Rais, Pramoedya Ananta Toer. Cerita novel ini bisa menjadi koleksi perpustakaan pribadi karena buku yang ingin saya beli di toko buku online sudah tidak ready (saya telat Pre Order) daripada ribet refund saya mengganti buku yang ready dalam 24 jam. “Ini novel sudah difilmkan dan pemerannya Reza Rahardian (kepincut di akting Habibie Ainun) pasti bagus.” pikir saya. Tapi sebenarnya yang paling menarik tangan gatal membelinya adalah hadiah special post card-nya.

Review ini sudah ada dua bagian yang saya tulis sebelumnya yaitu mengenai perjalanan dan belajar dari kehilangan. Di tulisan ini saya akan melihat secara keseluruhan.

Ringkasan kisahnya Tanya Letitia Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) bertemu secara meet-cute dalam penerbangan Jakarta-Sidney. Meminjam istilah penerbangan critical eleven, 11 menit waktu krusial dalam penerbangan yaitu tiga menit take off dan delapan menit landing, keduanya saling tertarik. Hubungan berlanjut hingga setahun dari pertemuan mereka memutuskan menikah.

Tidak ada hambatan berarti, pernikahan sempurna layaknya impian banyak pasangan di dunia meskipun mereka saling LDR. Karena Ale tetap harus bekerja sebagai tukang minyak di laut lepas Teluk Meksiko. Dia pulang kurang lebih sebulan sekali setelah menempuh 26 jam penerbangan.

Kehidupan pernikahan yang bahagia itu kandas setelah bayi yang dalam kandungan penuh semangat itu meninggal sebelum dilahirkan. Tak dijelaskan secara pasti tapi pembaca sudah bisa menebak alasannya adalah kesibukan Anya dan jam terbang yang tinggi, menurut saya. Suatu ketika Ale keceplosan mengatakan bahwa jika Anya tak terlalu sibuk Aidan – nama bayi mereka- pasti masih hidup. Kalimat inilah yang memicu prahara rumah tangga romantis mereka.

Selama enam bulan mereka satu atap tapi pisah kamar tak banyak bicara. Perubahan drastis ditunjukkan oleh Anya sedangkan Ale terus menerus berusaha membuat kondisi lebih baik. Mungkin sikap Anya ini lebay tapi ya itulah respon seorang ibu yang berduka. Setiap wanita adalah makhluk lemah yang ingin dilindungi dipenuhi kasih sayang oleh pendampingnya mungkin begitu maksud penulis. Tapi Ale tidak peka. Ia hanyalah lelaki dengan logika bukan sisi emosional.

Saya mengira-ira bagaimana keduanya rujuk. Aidan-lah yang membuat papa-mamanya bersatu. Keduanya bertemu di pemakaman dan hilanglah semua benci menjadi kerinduan akan cinta. Dan, Anya hamil kembali. Bagaimanapun seorang anak ialah pengikat antara seorang ayah dan ibu, benar kan?

Kisah kehilangan bayi merupakan cerita yang dekat dengan kehidupan kita tapi diracik dengan metropop, gaya hidup kaum urban yang glamour. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Anya dan Ale. Meski novel berbahasa Indonesia banyak juga percakapan dalam bahasa Inggris. Saya yang sudah lama tak belajar bahasa Inggris pun harus membuka kamus agar tak kehilangan maknanya. Ciri khas novel Ika, selalu ada selingan percakapan Bahasa Inggrisnya. Maklumlah, Ika menyelesaikan novel pertamanya di usia 19 tahun dengan Bahasa Inggris.

Novel ini menunjukkan riset dan pengetahuan luas penulisnya. Tebakan saya terbukti di halaman belakang novel dimana penulis mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantunya dari Dewi Lestari, dokter kandungan, insinyur perminyakan, psikologi, tukang kopi, dan lain-lain.

Overall, saya suka buku ini, meski tidak dekat dengan kehidupan saya. Tapi memberikan gambaran baru tentang kehidupan kaum urban Jakarta sana yang mungkin tak terjamah oleh sebagian yang lain di Indonesia. Mereka rela menghabiskan uang demi liburan ke luar negeri, sepatu hak tinggi yang katanya membuat seksi, jam tangan super mahal simbol prestisius yang bahkan sebagian lain masyarakat Indonesia tak peduli dengan hal itu.

Pelajaran yang saya dapat adalah jangan pernah menganggap tidak penting setiap perjalananmu, selalu ada hikmah dibaliknya. Saat kita kehilangan bukan berarti kita kehilangan seluruh dunia tapi Alloh hendak menunjukkan siapa yang paling menyayangimu dan membuatmu naik kelas jika lulus dari ujian-Nya. Setiap kehilangan akan digantikan kado terindah. Sebagai manusia kita tidak boleh serakah bagaimanapun sempurnanya kehidupan tak ada gading yang tak retak. Karena itu setiap hari kita belajar, belajar menjadi manusia terbaik. Tidak perlu melulu belajar itu membaca buku tapi juga mendengarkan kisah orang lain, membaca apa yang kita lihat, belajar dari pengalaman orang lain, dan sebagainya.

Eh hampir kelewat padahal menurut saya ini menarik. Di bagian akhir cerita Ale flashback pertemuan pertamanya dengan Anya. Sewaktu keduanya telah saling mengucapkan salam perpisahan dan Ale meninggalkan Anya, ada dorongan yang membuat Ale menoleh. Saat itu Anya tengah menolong seorang kakek menurunkan bagasinya. Ale tersenyum tanpa diketahui Anya. Dalam hati Ale berkata benar-benar menginginkan Anya sebagai istrinya. Silakan dimaknai sendiri ya hehe…

Okay, sekian pandangan novel ini versi saya, kalau menurut Temans yang sudah membaca atau menonton filmnya bagaimana?

 

#ODOP # BloggerMuslimahIndonesia

 

 

 

Diposkan pada Book Review, ODOP

Belajar Kehilangan dari Critical Eleven

20170815_063251-1-1

Mungkin kalau dulu kamu ga terlalu sibuk, Aidan masih…” (hal.77)

Sebuah kalimat dari Aldebaran Risjad (Ale) yang terus terngiang oleh Tanya Letitia Baskoro (Anya). Kata-kata yang menjadi sumber tragedi dalam pernikahan mereka.

Aidan Athaillah Risjad, nama calon bayi mereka digariskan untuk menjemput ibundanya kelak di surga. Anya melahirkan bayinya tanpa nyawa setelah hampir sembilan bulan mengandung. Ale yang begitu menantikan jagoan kecilnya menerima tubuh mungil itu dari dokter untuk dikembalikan kepada Pencipta-Nya.

Anya terus berduka sejak kehilangan bayinya. Kamar Aidan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya dibiarkan. Bahkan, ia selalu membawa pakaian atau sekedar kaus kaki Aidan untuk menemani perjalanannya. Setiap malam ia memeluk pakaian Aidan. Ia sudah kehilangan kepercayaan pada laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya yang dikenalnya dalam “11 menit” perjalanan di pesawat. Karena sebuah kalimat.

Jika kemarin kita belajar makna perjalanan melalui novel Critical Eleven oleh Ika Natassa ini, di tulisan ini kita belajar menghadapi kehilangan.

Saya merasakan emosi yang diaduk-aduk ketika membaca buku ini. Memang ini hanyalah fiksi tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar. Ibu saya kehilangan dua bayinya. Kakak dan adik saya. Traumanya sampai sekarang. Jika ada bayi tetangga yang meninggal atau saudara, ibu tidak akan pernah sanggup bertakziah. Meski sudah lewat 25 tahun, duka seorang ibu nampaknya tidak akan pernah terhapus waktu. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Temans yang sudah pernah kehilangan apapun itu, dia pasti orang yang kuat, benar kan?

Kita harus mengikhlaskan orang yang sudah meninggal dunia. Karena sejatinya semua bukan milik kita tapi milik Alloh SWT, tempat berpulang. Bukan saling menyalahkan. Seperti Ale. Mungkin itu hanya kalimat pengandaian tapi itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung Anya berkali-kali. Dari kisah ini, kita belajar memilih kalimat jika ada saudara, teman, atau tetangga yang kehilangan. Jika kita tidak mempunyai kalimat lebih baik diam. Karena Alloh sudah menuntun kita mengucapkan, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ketika ditimpa musibah.

Back to cerita, apakah Anya dan Ale akan berbaikan setelah enam bulan berbeda kamar. Ale yang keberadaannya tak dianggap lagi oleh Anya. Dan, apakah Anya dan Ale sanggup mengikhlaskan Aidan?

Tunggu ya, saya selesaikan bacanya….

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Diposkan pada Book Review, ODOP

Mencari Makna Travel dalam Novel Critical Eleven

20170814_064559

Critical Eleven merupakan novel ketujuh Ika Natassa. Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini sudah cetak ke dua puluh kali di bulan Mei 2017. Kisahnya sudah diangkat dalam layar lebar terlihat juga dari sampul cover-nya.

Kisahnya tentang Tanya Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) yang bertemu pertama kali di sebuah pesawat penerbangan ke Sidney. Mengadaptasi dari istilah penerbangan critical eleven, 11 menit krusial yaitu tiga menit pertama pesawat take off dan delapan menit menuju landing. Bagaimana dengan Anya dan Ale, saya sendiri belum mengetahui ceritanya karena belum selesai baca novelnya. Tapi dibanding kisah drama cintanya saya lebih senang mengulik makna travel di novel ini yang tentu saja akan menambah wawasan kita dalam melakukan travelling.

Screenshot_2017-08-14-06-47-13-1

Travel is remarkable thing, right? Di pesawat, di bus, di kereta api, berjalan kaki, it somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. Di negara kita yang kurang paham bahasanya, travel is learning to communicate with just a smile. It’s where broken English is welcomed with a smile instead of being greeted by a grammar Nazi.

It’s simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but stranger.

But you know what travel means to me tonight?

This.

Ngobrol panjang tanpa pretensi apa-apa dengan seseorang. About nothing and everything.

Isn’t it funny that sometimes the best conversations are the ones that lead to nowhere? Ketika percakapan itu sendiri cukup gregetnya untuk jadi main act. Bukan sekedar opening act atau foreplay seperti biasanya. (hal. 9-10)

This is another thing that travel does to you. The sheer joy of laughing freely with a complete stranger. Just because laughing is a pretty good idea at the moment. (hal. 12-13)

Hmmm…

Kalau saya memaknainya, travel bukan sekedar tiba di lokasi tujuan tapi juga proses menuju tempat tujuan. Seperti arti travel itu sendiri perjalanan. Tersenyum dan mencoba berkomunikasi dengan penumpang di sebelah kita. Maupun sekedar ngobrol yang tidak penting dengan orang yang duduk di sebelah kita. Kalau pun kita naik kendaraan pribadi ada kalanya juga kita akan singgah sekedar mengisi bensin atau berhenti makan.

Jadi ingat waktu saya sering melakukan perjalanan sendiri dulu dengan kereta api maupun pesawat sudah tak terhitung berapa kenalan saya. Tak sekedar itu juga berlanjut dengan bertukar nomor handphone dan silaturahim meski sekedar ber-say hello. Dari obrolan yang tidak penting itu biasanya akan menjadi penting suatu ketika nanti. Misalnya saya membutuhkan tanaman hias eh ada kenalan yang ayahnya jualan, kebetulan sekali bukan? Harganya pun pertemanan. Jangan pernah menganggap sesuatu itu tidak penting.

Seperti Anya dan Ale ini meet cute di dalam pesawat.

Balik lagi ada yang sudah baca novel ini sampai kelar? Pecinta buku Ika Natassa pasti sudah apalagi sudah ada filmnya. Karena saya belum beres bacanya, saya akan melanjutkan membaca lagi. Sengaja sih tidak baca cepat sedang berganti gaya membaca. Tidak seperti dulu asal baca tahu jalan ceritanya, sudah. Padahal penulisnya sudah capek-capek memilih kata dan pesan yang ingin disampaikan. Sekarang baca bukunya mau dipahami dan diresapi. Begitu juga kalau baca Al Qur’an tidak mengejar khatam berapa kali tapi mending satu hari satu halaman plus terjemahan yang dibaca pelan-pelan (dihayati).

Penasaran cerita Anya dan Ale selanjutnya. Dan Travel. Bersambung ya…

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

Diposkan pada Book Review

My Passions is…

Judul buku: 23 Episentrum

Penulis : Adenita Priambodo

Penerbit: Grasindo

504 pages

Published: Maret 26, 2012

ISBN13: 9789790817425
Tiga anak muda mengejar dan menemukan profesi yang didamba.

Matari, mengejar penghasilan untuk membayar utang kuliah dan menjalani hidup sebagai reporter.

Awan, seorang pegawai bank yang menunggu waktu untuk mewujudkan impiannya sebagai penulis skenario film. 

Prama, seorang pekerja di perusahaan minyak yang berlimpah materi, namun belum menemukan kebahagiaan dan makna hidup.

Mereka mencari tujuan, ambisi dan keinginan sampai akhirnya menemukan makna “23 Episentrum”. Ini lah kisah perjalanan Mata, Hari, dan Hati yang menggugah.

—– 

Dalam paket novel ini terkandung kisah nyata yang dituturkan oleh 23 anak muda yang memilih untuk bekerja seturut kata hati dan kecintaan. Seorang sarjana arsitek malah ingin jadi penerbang; seorang insiyur kimia malah menjadi penggiat biogas di satu desa; seorang sarjana matematika malah menjadi penulis skenario; dan seorang insinyur mesin yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru.

Mereka semua membagi kisah sejati mereka mengenai kecintaan terhadap pekerjaan mereka. Mereka percaya bahwa sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi, bahkan prestasi.


REVIEW

Novel ini salah satu rekomendasi novel tentang passions. Bercerita tentang anak muda yang berusaha mendengarkan kata hati untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan passions bukan semata karena uang.

Melalui 23 Episentrum, kita bisa belajar tentang arti kerja keras. Melalui tokoh Matari, pembaca dapat belajar bahwa sesuatu yang tidak mungkin asal kita berusaha sekuat tenaga pasti ada jalan. Keajaiban itu selalu mengikuti orang-orang yang mau berkorban sedikit lebih banyak daripada orang lain, entah itu waktu, tenaga, atau pikiran.

Dari tokoh Awan, pembaca dapat belajar bahwa bekerja tanpa mendengar kata hati tidak membuat hidup kita lebih baik meski uang yang kita terima lebih banyak. Sebaliknya, dengan mendengarkan suara hati, meski sedikit uang yang diperoleh namun kepuasan batin terpenuhi. Itulah passions. 

Bagi saya, suplemen 23 episentrum lebih mengena dibanding novelnya. Suplemen yang berisi tuturan 23 anak muda dengan kisah berbeda-beda dalam mengejar passions mampu memotivasi pembaca untuk berani mengejar cita-cita. Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Kegagalan adalah tangga menuju keberhasilan.

Buku ini juga menggerakkan pribadi saya untuk berani keluar dari zona nyaman. Berani mengejar mimpi yang tertunda. Kita tidak pernah tahu hasilnya tanpa mencoba terlebih dahulu. Gagal bukan berarti kalah tapi banyak pelajaran maupun Hikmah yang bisa diambil. Kemudian menjadikan kita lebih bijak dan bermanfaat bagi sekitar. 

23 Episentrum bukan sekedar novel tapi buku motivasi yang tersembunyi dalam kisah tokoh Matari, Awan, dan Prama dilengkapi dengan suplemen non fiksi. Meski terbit tahun 2012, buku ini rasanya tidak akan kedaluwarsa terutama bagi mereka pencari kebahagiaan hati.

So, finding your passions… 😀