Diposkan pada Book Review

[Book Review] Meraih Mimpi dengan Beasiswa; Step be a Smart Mom

Siapa bilang ibu rumah tangga harus melupakan impiannya. Menjadi ibu bukan berarti lantas mengubur ambisi kita. Meneruskan jenjang ke pendidikan lebih tinggi, kembali ke karier, kenapa tidak? Buku ini dipersembahkan kepada siapa saja yang bertekad untuk maju lewat pendidikan. Saya ngacung!

Ibu merupakan madrasah pertama buat anak-anaknya. Jadi sangat penting menjadi ibu yang smart dan “melek”.

Ngomong-ngomong soal buku ini sebenarnya sudah pingin dari tahun lalu sejak rilis. Tapi harus tertunda dengan kelahiran anak kedua. Memang niat mau melanjutkan magister hihi…

20170922_094838-1

Judul:Meraih Mimpi dengan Beasiswa
Penulis: Abellia Anggi Wardani
Editor: Weka Swasti
Proof Reader: Herlina P Dewi
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Arya Zendi
Tebal: 228 halaman
ISBN: 978-602-7572-45-4
Penerbit: Stiletto Book

Blurb

Mendapatkan beasiswa merupakan impian banyak orang, karena dengan beasiswa, kita bisa menuntut ilmu di institusi-institusi terbaik di mana pun tanpa terbebani masalah biaya. Apalagi kalau beasiswa yang didapat tidak hanya memberikan kesempatan untuk menimba ilmu, tetapi juga untuk berkenalan dengan budaya-budaya bangsa lain.
Pasti seru!

Selain informasi seputar sumber beasiswa dalam negeri ataupun luar negeri, buku ini juga membahas A – Z persiapan mendapatkan beasiswa, di antaranya:

  • Checklist dokumen-dokumen yang diperlukan
  • Cara menulis CV yang menarik
  • Cara membuat surat motivasi dan surat rekomendasi yang baik
  • Cara menulis esai yang mencuri perhatian
  • Tip menjalani tes-tes di setiap tahap
  • Sampai, cara agar bisa survive di lingkungan baru dan lulus dengan predikat Cum Laude


Dituturkan dengan jelas dan detail oleh seorang penulis yang telah mendapat lebih dari 10 beasiswa, baik di universitas dalam negeri ataupun luar negeri. Penulis juga banyak membagi pengalaman pribadinya dalam buku ini, yang tentu saja akan membuat kalian lebih semangat lagi untuk mengikuti jejaknya.

 

REVIEW

Mengawali buku ini, penulis mengajak kita untuk percaya pada kekuatan keyakinan terlebih dahulu. Ya, faith. Seperti kata pepatah, apa yang kamu yakini itu yang akan terjadi. Sama halnya ketika kita akan apply beasiswa, kita harus yakin bahwa pengajuan beasiswa kita akan diterima.

Mengutip testimoni Icha Ayu yang juga penulis novel Distance dan Remember Paris terbitan Stiletto Book, “Once you apply for a scholarship, you already posses at least 99% of chance to win the scholarship.

Pengalaman dulu sih, banyak teman-teman yang bilang kalau mengurus beasiswa itu ribet. Harus mempersiapkan berkas-berkas persyaratan apalagi kalau harus ujian atau tes.

Membaca buku ini, kamu akan diyakinkan kalau mengurus pengajuan beasiswa bukanlah hal ribet tapi effort. Tidak ada sukses yang instant bukankah untuk mendapatkan sesuatu kita butuh perjuangan. Bahkan mengorbankan waktu dan tenaga kalau perlu materi. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Setuju, Mom?

Saat menempuh S1 saya pun mendapat beberapa beasiswa yang sangat membantu selama studi di Fakultas Kehutanan UGM. Di antaranya Branita Sandhini, Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), dan Karya Salemba Empat.

Oiya, seperti kata Abel, beasiswa bukan melulu karena kita tidak mampu tapi karena prestasi. Jadi jangan minder kalau mau mengajukan atau menerima beasiswa, lihat beasiswa apa dulu donk? Kita boleh sombong kok dengan beasiswa karena prestasi akademik maupun non akademik kita.

Begitu juga saat sudah berstatus ibu, saya sempat ragu untuk sekolah lagi. Namun, seorang “kakak” menyemangati saya. Justru pengalaman ibu rumah tangga belum tentu dimiliki mereka yang sama-sama kuliah. Ini bisa menjadi poin plus karena tantangannya berbeda, pengalamannya pun berbeda apalagi sudah pernah bekerja juga. Up…up…wake up!

Namun, yang penting diingat ketika sudah berstatus menikah, suami dan anak adalah yang utama. Sebelum memutuskan apapun sebaiknya meminta pertimbangan terlebih dahulu. Jangan sampai beasiswa sia-sia karena mundur ditengah jalan seperti ibu 35 tahun dengan dua anak kenalan Abel yang tak bisa melanjutkan magister karena satu dan lainnya seperti shock culture dan musim.

Untuk menyiasatinya, tak harus ke luar negeri, perguruan tinggi di Indonesia juga sudah banyak yang berkualitas bagus. Kita tinggal mengecek di internet mengenai akreditasi dan world ranking-nya.

Dalam buku ini, Abel juga memaparkan tes-tes bahasa asing dan tes potensi akademik yang wajib jika ingin menyeberang benua. Mulai dari gambaran tes hingga tips mengerjakan. Di lampiran, terdapat contoh curriculum vitae, motivasi, dan esai yang kerap dibutuhkan pemburu beasisw termasuk saya, baik banget ya Abel.

Baca sendiri dech, kamu bakal merasakan gigihnya Abel untuk mendapatkan beasiswa hingga lulus cumlaude tanpa harus meninggalkan pergaulan. Ke luar negeri juga tetap bisa traveling di sela studi dan mendapatkan pengalaman bekerja. Seru banget! Buku ini jauh dari kesan menggurui, tutur sangat ramah seperti warna tosca sampulnya, simple tapi tetap elegan dan cerdas.

Sukses untuk Abelia Anggi Wardani yang konsent pada bidang budaya dan wisata 🙂

 

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Book Review, ODOP

#ODOP15 [Book Review] Critical Eleven; Skenario Tuhan

20170814_064559

Judul Critical Eleven

A novel by Ika Natassa

Paperback, 344 pages

Published August 10th 2015 by PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN139786020318929
BLURB
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

 

REVIEW

Mungkin terlambat banget ya me-review novel yang edisi pertama sudah cetak dari tahun 2015. Sedangkan saya baru membeli edisi keduapuluh dengan cover film tentu saja karena novel karya ke tujuh Ika Natassa ini sudah difilmkan. Ini buku kedua Ika Natassa yang saya baca. Twivortiare adalah buku yang saya baca di tahun 2012 dipinjami teman waktu di Jakarta. Menggunakan twitter dalam ceritanya membuat saya kurang bisa mengikuti alur ceritanya ya karena dulu saya belum sefamiliar ini dengan twitter.

Novel Critical Eleven ini sendiri maupun setelah film-nya sudah rilis, saya belum tahu ceritanya sampai menamatkannya sendiri. Karena saya pada umumnya lebih suka novel perjalanan, rekam sejarah, dan motivasi seperti karya Mbak Hanum Salsabila Rais, Pramoedya Ananta Toer. Cerita novel ini bisa menjadi koleksi perpustakaan pribadi karena buku yang ingin saya beli di toko buku online sudah tidak ready (saya telat Pre Order) daripada ribet refund saya mengganti buku yang ready dalam 24 jam. “Ini novel sudah difilmkan dan pemerannya Reza Rahardian (kepincut di akting Habibie Ainun) pasti bagus.” pikir saya. Tapi sebenarnya yang paling menarik tangan gatal membelinya adalah hadiah special post card-nya.

Review ini sudah ada dua bagian yang saya tulis sebelumnya yaitu mengenai perjalanan dan belajar dari kehilangan. Di tulisan ini saya akan melihat secara keseluruhan.

Ringkasan kisahnya Tanya Letitia Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) bertemu secara meet-cute dalam penerbangan Jakarta-Sidney. Meminjam istilah penerbangan critical eleven, 11 menit waktu krusial dalam penerbangan yaitu tiga menit take off dan delapan menit landing, keduanya saling tertarik. Hubungan berlanjut hingga setahun dari pertemuan mereka memutuskan menikah.

Tidak ada hambatan berarti, pernikahan sempurna layaknya impian banyak pasangan di dunia meskipun mereka saling LDR. Karena Ale tetap harus bekerja sebagai tukang minyak di laut lepas Teluk Meksiko. Dia pulang kurang lebih sebulan sekali setelah menempuh 26 jam penerbangan.

Kehidupan pernikahan yang bahagia itu kandas setelah bayi yang dalam kandungan penuh semangat itu meninggal sebelum dilahirkan. Tak dijelaskan secara pasti tapi pembaca sudah bisa menebak alasannya adalah kesibukan Anya dan jam terbang yang tinggi, menurut saya. Suatu ketika Ale keceplosan mengatakan bahwa jika Anya tak terlalu sibuk Aidan – nama bayi mereka- pasti masih hidup. Kalimat inilah yang memicu prahara rumah tangga romantis mereka.

Selama enam bulan mereka satu atap tapi pisah kamar tak banyak bicara. Perubahan drastis ditunjukkan oleh Anya sedangkan Ale terus menerus berusaha membuat kondisi lebih baik. Mungkin sikap Anya ini lebay tapi ya itulah respon seorang ibu yang berduka. Setiap wanita adalah makhluk lemah yang ingin dilindungi dipenuhi kasih sayang oleh pendampingnya mungkin begitu maksud penulis. Tapi Ale tidak peka. Ia hanyalah lelaki dengan logika bukan sisi emosional.

Saya mengira-ira bagaimana keduanya rujuk. Aidan-lah yang membuat papa-mamanya bersatu. Keduanya bertemu di pemakaman dan hilanglah semua benci menjadi kerinduan akan cinta. Dan, Anya hamil kembali. Bagaimanapun seorang anak ialah pengikat antara seorang ayah dan ibu, benar kan?

Kisah kehilangan bayi merupakan cerita yang dekat dengan kehidupan kita tapi diracik dengan metropop, gaya hidup kaum urban yang glamour. Diceritakan bergantian dari sudut pandang Anya dan Ale. Meski novel berbahasa Indonesia banyak juga percakapan dalam bahasa Inggris. Saya yang sudah lama tak belajar bahasa Inggris pun harus membuka kamus agar tak kehilangan maknanya. Ciri khas novel Ika, selalu ada selingan percakapan Bahasa Inggrisnya. Maklumlah, Ika menyelesaikan novel pertamanya di usia 19 tahun dengan Bahasa Inggris.

Novel ini menunjukkan riset dan pengetahuan luas penulisnya. Tebakan saya terbukti di halaman belakang novel dimana penulis mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantunya dari Dewi Lestari, dokter kandungan, insinyur perminyakan, psikologi, tukang kopi, dan lain-lain.

Overall, saya suka buku ini, meski tidak dekat dengan kehidupan saya. Tapi memberikan gambaran baru tentang kehidupan kaum urban Jakarta sana yang mungkin tak terjamah oleh sebagian yang lain di Indonesia. Mereka rela menghabiskan uang demi liburan ke luar negeri, sepatu hak tinggi yang katanya membuat seksi, jam tangan super mahal simbol prestisius yang bahkan sebagian lain masyarakat Indonesia tak peduli dengan hal itu.

Pelajaran yang saya dapat adalah jangan pernah menganggap tidak penting setiap perjalananmu, selalu ada hikmah dibaliknya. Saat kita kehilangan bukan berarti kita kehilangan seluruh dunia tapi Alloh hendak menunjukkan siapa yang paling menyayangimu dan membuatmu naik kelas jika lulus dari ujian-Nya. Setiap kehilangan akan digantikan kado terindah. Sebagai manusia kita tidak boleh serakah bagaimanapun sempurnanya kehidupan tak ada gading yang tak retak. Karena itu setiap hari kita belajar, belajar menjadi manusia terbaik. Tidak perlu melulu belajar itu membaca buku tapi juga mendengarkan kisah orang lain, membaca apa yang kita lihat, belajar dari pengalaman orang lain, dan sebagainya.

Eh hampir kelewat padahal menurut saya ini menarik. Di bagian akhir cerita Ale flashback pertemuan pertamanya dengan Anya. Sewaktu keduanya telah saling mengucapkan salam perpisahan dan Ale meninggalkan Anya, ada dorongan yang membuat Ale menoleh. Saat itu Anya tengah menolong seorang kakek menurunkan bagasinya. Ale tersenyum tanpa diketahui Anya. Dalam hati Ale berkata benar-benar menginginkan Anya sebagai istrinya. Silakan dimaknai sendiri ya hehe…

Okay, sekian pandangan novel ini versi saya, kalau menurut Temans yang sudah membaca atau menonton filmnya bagaimana?

 

#ODOP # BloggerMuslimahIndonesia

 

 

 

Diposkan pada Book Review, ODOP

#ODOP14 Belajar Kehilangan dari Critical Eleven

20170815_063251-1-1

Mungkin kalau dulu kamu ga terlalu sibuk, Aidan masih…” (hal.77)

Sebuah kalimat dari Aldebaran Risjad (Ale) yang terus terngiang oleh Tanya Letitia Baskoro (Anya). Kata-kata yang menjadi sumber tragedi dalam pernikahan mereka.

Aidan Athaillah Risjad, nama calon bayi mereka digariskan untuk menjemput ibundanya kelak di surga. Anya melahirkan bayinya tanpa nyawa setelah hampir sembilan bulan mengandung. Ale yang begitu menantikan jagoan kecilnya menerima tubuh mungil itu dari dokter untuk dikembalikan kepada Pencipta-Nya.

Anya terus berduka sejak kehilangan bayinya. Kamar Aidan yang sudah disiapkan sebelum kelahirannya dibiarkan. Bahkan, ia selalu membawa pakaian atau sekedar kaus kaki Aidan untuk menemani perjalanannya. Setiap malam ia memeluk pakaian Aidan. Ia sudah kehilangan kepercayaan pada laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya yang dikenalnya dalam “11 menit” perjalanan di pesawat. Karena sebuah kalimat.

Jika kemarin kita belajar makna perjalanan melalui novel Critical Eleven oleh Ika Natassa ini, di tulisan ini kita belajar menghadapi kehilangan.

Saya merasakan emosi yang diaduk-aduk ketika membaca buku ini. Memang ini hanyalah fiksi tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar. Ibu saya kehilangan dua bayinya. Kakak dan adik saya. Traumanya sampai sekarang. Jika ada bayi tetangga yang meninggal atau saudara, ibu tidak akan pernah sanggup bertakziah. Meski sudah lewat 25 tahun, duka seorang ibu nampaknya tidak akan pernah terhapus waktu. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Temans yang sudah pernah kehilangan apapun itu, dia pasti orang yang kuat, benar kan?

Kita harus mengikhlaskan orang yang sudah meninggal dunia. Karena sejatinya semua bukan milik kita tapi milik Alloh SWT, tempat berpulang. Bukan saling menyalahkan. Seperti Ale. Mungkin itu hanya kalimat pengandaian tapi itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung Anya berkali-kali. Dari kisah ini, kita belajar memilih kalimat jika ada saudara, teman, atau tetangga yang kehilangan. Jika kita tidak mempunyai kalimat lebih baik diam. Karena Alloh sudah menuntun kita mengucapkan, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ketika ditimpa musibah.

Back to cerita, apakah Anya dan Ale akan berbaikan setelah enam bulan berbeda kamar. Ale yang keberadaannya tak dianggap lagi oleh Anya. Dan, apakah Anya dan Ale sanggup mengikhlaskan Aidan?

Tunggu ya, saya selesaikan bacanya….

 

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia

 

Diposkan pada Book Review

My Passions is…

Judul buku: 23 Episentrum

Penulis : Adenita Priambodo

Penerbit: Grasindo

504 pages

Published: Maret 26, 2012

ISBN13: 9789790817425
Tiga anak muda mengejar dan menemukan profesi yang didamba.

Matari, mengejar penghasilan untuk membayar utang kuliah dan menjalani hidup sebagai reporter.

Awan, seorang pegawai bank yang menunggu waktu untuk mewujudkan impiannya sebagai penulis skenario film. 

Prama, seorang pekerja di perusahaan minyak yang berlimpah materi, namun belum menemukan kebahagiaan dan makna hidup.

Mereka mencari tujuan, ambisi dan keinginan sampai akhirnya menemukan makna “23 Episentrum”. Ini lah kisah perjalanan Mata, Hari, dan Hati yang menggugah.

—– 

Dalam paket novel ini terkandung kisah nyata yang dituturkan oleh 23 anak muda yang memilih untuk bekerja seturut kata hati dan kecintaan. Seorang sarjana arsitek malah ingin jadi penerbang; seorang insiyur kimia malah menjadi penggiat biogas di satu desa; seorang sarjana matematika malah menjadi penulis skenario; dan seorang insinyur mesin yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru.

Mereka semua membagi kisah sejati mereka mengenai kecintaan terhadap pekerjaan mereka. Mereka percaya bahwa sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi, bahkan prestasi.


REVIEW

Novel ini salah satu rekomendasi novel tentang passions. Bercerita tentang anak muda yang berusaha mendengarkan kata hati untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan passions bukan semata karena uang.

Melalui 23 Episentrum, kita bisa belajar tentang arti kerja keras. Melalui tokoh Matari, pembaca dapat belajar bahwa sesuatu yang tidak mungkin asal kita berusaha sekuat tenaga pasti ada jalan. Keajaiban itu selalu mengikuti orang-orang yang mau berkorban sedikit lebih banyak daripada orang lain, entah itu waktu, tenaga, atau pikiran.

Dari tokoh Awan, pembaca dapat belajar bahwa bekerja tanpa mendengar kata hati tidak membuat hidup kita lebih baik meski uang yang kita terima lebih banyak. Sebaliknya, dengan mendengarkan suara hati, meski sedikit uang yang diperoleh namun kepuasan batin terpenuhi. Itulah passions. 

Bagi saya, suplemen 23 episentrum lebih mengena dibanding novelnya. Suplemen yang berisi tuturan 23 anak muda dengan kisah berbeda-beda dalam mengejar passions mampu memotivasi pembaca untuk berani mengejar cita-cita. Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Kegagalan adalah tangga menuju keberhasilan.

Buku ini juga menggerakkan pribadi saya untuk berani keluar dari zona nyaman. Berani mengejar mimpi yang tertunda. Kita tidak pernah tahu hasilnya tanpa mencoba terlebih dahulu. Gagal bukan berarti kalah tapi banyak pelajaran maupun Hikmah yang bisa diambil. Kemudian menjadikan kita lebih bijak dan bermanfaat bagi sekitar. 

23 Episentrum bukan sekedar novel tapi buku motivasi yang tersembunyi dalam kisah tokoh Matari, Awan, dan Prama dilengkapi dengan suplemen non fiksi. Meski terbit tahun 2012, buku ini rasanya tidak akan kedaluwarsa terutama bagi mereka pencari kebahagiaan hati.

So, finding your passions… 😀

Diposkan pada Book Review

[REVIEW BUKU] SUPERNOVA; Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Telat banget baca novel fenomenal ini. Kalau saja tidak menemukan buku ini saat beres-beres rumah mertua, mungkin, saya tidak akan membaca novel ini. Jujur saya, tidak tertarik membeli novel ini. Dari semua karya Dee, Filosopi Kopi dan Perahu Kertas yang menggelitik saya untuk menjadi bagian koleksi pribadi. Namun, ya, menemukan Supernova, kenapa tidak dibaca? Setelah sebelumnya, saya sudah menonton versi filmnya di salahsatu stasiun televisi.

Book Details
Judul : Supernova; Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis : Dewi ‘Dee’ Lestari
Penerbit : Truedee Books, 2001
ISBN : 979-96257-0-X

BLURB
Dhimas dan Ruben adalah dua orang mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Dhimas kuliah di Goerge Washinton University, dan Ruben di John Hopkins Medical School. Mereka bertemu dalam suatu pesta yang meriah, yang diadakan oleh perkumpulan mahasiswa yang bersekolah di Amerika. Pertama kali bertemu mereka terlibat dalam percakapan yang saling menyudutkan satu sama lain, hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang mereka, Dhimas berasal dari kalangan The have, sedangkan Ruben, mahasiswa beasiswa. Tetapi setelah Ruben mencoba serotonin, mereka menjadi akrab membincangkan permasalahan iptek, saint, sampai acara buka-bukaan bahwa Ruben adalah seorang gay. Ternyata tak disangka-sangka bahwa Dhimas juga adalah seorang gay. Maka jadilah mereka sepasang kekasih, meskipun mereka tidak pernah serumah dalam satu apartemen. Bila ditanya mereka menjawab supaya bisa tetap kangen, tetap butuh usaha bila ingin bertemu satu sama lainnya. Dalam pertemuan di pesta tersebut mereka telah berikrar akan membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.

REVIEW
Novel ini dibuka dengan deskripsi oleh Supernova. Sosok yang memiliki pandangan berbeda dan serba tahu. Dengan bahasanya, ia mencoba mengajak orang lain untuk membuka perspektif dari sudut berbeda.

Untunglah saya sudah menonton versi filmnya, kalau tidak mungkin saya akan kesulitan mencerna novel ini. Meski begitu, saya sering men-skip bagian Dimas dan Ruben sebab bahasa yang digunakan penulis terlalu jauh untuk saya tangkap. Ia menggunakan banyak kosakata sains, ilmu fisika, maupun matematika. Kalimatnya pun banyak yang tak saya mengerti. Mungkin bagi yang tertarik dengan ilmu-ilmu ini akan paham dengan membaca mendalam atau kedua kalinya. Namun, jujur saya tak tertarik jadi hanya membaca sekilas tanpa mengulik lebih jauh maknanya.

Bagian yang menarik buat saya adalah roman buatan pasangan gay tersebut. Kisah antara Ferre, Rana, dan Arwin. Rana, istri Arwin yang merasakan kehangatan dengan Ferre, sebuah cinta terlarang. Lalu, ada cerita Diva, sosok pelacur kelas atas dengan penuh harga diri.

Ferre dengan cita-cita masa kecilnya ingin menjadi ksatria, Rana, perempuan karier yang dipanggilnya, Putri, dan Diva…sang bintang jatuh. Dongeng kecil yang selalu diingatnya, ksatria ingin terbang, tak ada yang sanggup membawanya terbang jauh, hingga datanglah bintang jatuh yang membawanya melesat. Namun, saat ksatria melihat Putri, ia lepaskan genggaman sang bintang jatuh hingga ia hancur tercerai berai di angkasa lalu bintang jatuh mendekap sang putri dalam genggamannya.

Banyak yang menilai cerita novel ini maksa banget dan kontroversi. Bagi saya, novel ini memang berbeda dari novel-novel yang beredar dan saya baca. Ini bukan novel genre saya tapi dari novel saya lebih terbuka dan mempunyai pandangan baru terutama dalam dunia tulis-menulis.

So, membaca buku ini, meski tidak mengerti terkait sainsnya, bahasanya yang tinggi, saya suka sosok Arwin, suami yang berjiwa besar. Saking cintanya dan ingin melihat Rana bahagia, ia justru melepaskan.
“Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini…”
“Perasaan ini, cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa harus kamu ada.” -hal. 117

Diposkan pada Book Review

[REVIEW BOOK] Dengarlah Nyanyian Angin

image

Book Details
Judul : Dengarlah Nyanyian Angin
Original Title : KAZE NO UTA O KIKE
Penulis : Haruki Murakami
Penerjemah : Jonjon Johana
Cetakan Pertama, Oktober 2008
ISBN-13 :  978-979-91-0137-2
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Literary Awards : Gunzo Literary Award

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Dalam kisah ini, tokoh Aku pejantan tangguh tapi terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku gadis manis dan bersahaja tapi tak ragu-ragu menggugurkan janin dalam kandungannya, yang entah siapa ayahnya. Sobat kental Aku, Nezumi, anak hartawan tapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewati delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas di sebuah kota kecil di tepi laut.

Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an. Dengan ringan, Haruki Murakami berhasil menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memiliki bayangan ideal akan masa depan.

SINOPSIS
Dengarlah Nyanyian Angin merupakan novel pertama Haruki Murakami. Novel dengan judul asli “Kaze No Uta O Kike” menceritakan tentang sepenggal kisah “Aku” di jeda liburan kuliah saat musim panas. Ia berkunjung ke kota kecil dekat pelabuhan dan sebagian besar waktunya dihabiskan di konter Jay’s Bar. Di tempat inilah berkenalan dengan perempuan yang kemudian menemani masa liburannya. Nezumi, anak konglomerat tapi tak bangga dengan status tersebut. Satu lagi, seorang gadis penjaga toko penjual piringan hitam yang kehilangan satu jarinya.

Bersama Nezumi, ia banyak menghabiskan waktu untuk ngobrol di café. Lebih banyak keduanya menghabiskan waktu untuk membahas novel yang akan ditulis oleh Nezumi. Novel yang isinya agak menggelitik buat si “Aku”. Sedangkan dengan gadis penjaga toko, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan percakapan tentang dilema sehari-hari. Hubungan antara keluarga maupun percintaan. Di sela-sela hubungannya dengan kedua perempuan yang baru dikenalnya, ia juga mengisahkan tentang tiga mantan pacarnya.

Selain hal tersebut, novel ini menceritakan si “Aku” yang mengidolakan penulis Amerika yang sudah mati. Dengan gamblang bahwa ia menyebut idolanya sebagai penulis gagal. Bagi “Aku”, Derek Heartfield merupakan guru belajar menulis kalimat. “…dialah salah satu dari sedikit pengarang hebat yang mampu berperang dengan menjadikan kalimat sebagai senjata.” (hal. 3).

Ini novel pertama Haruki, namun baru saya baca setelah novel “Norwegian Wood” yang fenomenal. Kedua novel ini sama-sama menggunakan sudut pandang pertama, Aku. Isinya kalau saya bilang ada ciri khas dari pengarang, tentang kegamangan masa muda.

Melalui novel “Dengarlah Nyanyian Angin”, dapat terlihat jika pengarang dipengaruhi oleh penulis-penulis Amerika dan Prancis. Banyak nama penulis negara tersebut yang diselipkan di antara percakapan maupun pemikiran si Aku, misalnya Gustav Flaubert berkebangsaan Prancis.

Baik novel ini maupun “Norwegian Wood” dituturkan dengan deskripsi atau prosa yang mudah dipahami. Saya pun tidak kesulitan memahami makna novel terjemahan yang biasa sukar diungkapkan oleh si penerjemah. Saya selalu suka penggambaran tingkah laku tokohya yang detail. Ini menginspirasi tulisan saya. Overall, meskipun saya tidak bisa menangkap kenapa novel ini diberi judul “Dengarlah Nyanyian Angin”, I like this novel.

“Aku menyukai langit. Langit tidak pernah membosankan untuk dipandang kapanpun juga, tapi saat tidak ingin dilihat ya tidak perlu dilihat.” (hal. 105)

Diposkan pada Book Review

[Review Book] Titik Nol

image

Judul : Titik Nol; Makna Sebuah Perjalanan
Penulis : Agustinus Wibowo
Editor : Hetih Rusli
Cetakan keenam : Juli 2015
ISBN : 978 – 979 – 22 –  9271 – 8

BLURB
Perjalananku bukan perjalananmu
Perjalananku adalah perjalananmu

Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

“Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini.”
—Qaris Tajudin, editor Tempo dan penulis novel.

SINOPSIS
Titik nol menceritakan kisah nyata perjalanan penulis usai lulus kuliah di China. Melalui perjalanan darat, ia menuju negara yang disebut atap dunia, Tibet. Sebuah tempat surgawi akan panorama yang amazing. Di sini, ia mengisahkan pengalaman magisnya bersama para peziarah ke gunung suci. Ritual yang dilakukan pun bisa dibilang tak wajar karena lebih bisa dilihat sebagai bagian menyiksa diri. Kulminasinya ketika ia mencapai puncak Drolma-La, 5.630 mdpl. Naasnya, saat turun gunung, sendirian, ia mendekati kematian sebab tenggelam di sungai (hal. 55).

Meninggalkan negara yang sebagian besarnya berupa pegunungan, ia bergerak ke Nepal. Seperti di negara sebelumnya, penulis kembali melakukan pendakian. Ia mendaki dengan susah payah untuk menaklukkan Annapura, yang dilabeli sebagai destinasi trekking nomor wahid dunia (hal. 172). Di negara ini, ia juga bertemu dengan kelompok Maois yang dianggap bertentangan dengan negara.

Negara tujuan traveling berikutnya adalah India. Di sini ia menyaksikan India yang sangat kontras dengan penggambaran di film-film Bollywood. Kotor, miskin, kumuh, calo dimana-mana, dan segala hal mungkin di sini. Jika di Tibet, ia hampir kehilangan nyawa karena tercebur ke sungai, di sini ia terserang penyakit hepatitis yang mengharuskannya opname di rumah sakit. Di sisi lain, ia kembali bertemu bacpacker wanita asal Malaysia, Lam Li, yang banyak mengubah sudut pandangnya tentang makna perjalanan.

Dengan kondisi yang belum sembuh benar dari penyakit hepatitis, penulis menyeberang ke Pakistan. Negara yang sangat kental dengan nilai Islam. Di negeri ini seperti sebelumnya, ia juga bersentuhan langsung dengan masyarakat lokal. Ia merasa kagum dengan adat menjamu tamu di negeri ini. Di Pakistan, ia ikut menjadi saksi kerusuhan yang pecah akibat kartun Nabi Muhammad yang dibuat oleh media Denmark. Penjarahan dimana-mana disebabkan karena tokoh agama mereka dianggap diolok-olok.

Perjalanan belum berhenti, ia menyelami negara Afghanistan yang bunyi ledakan adalah hal biasa. Selain itu, di negara ini ia bekerja menjadi jurnalisfoto yang diidamkannya. Ia harus mengisi pundi-pundi uangnya jika ingin terus meraih mimpi perjalanannya hingga ke Afrika Selatan.

Saat impiannya hampir nyata, ia mendapat berita bahwa ibunya tengah sekarat. Agustinus harus memilih menjadi anak berbakti atau meneruskan perjalanan mimpinya.

Meskipun buku ini merupakan tentang traveling tapi dituturkan dengan cara berbeda. Jika seorang pejalan terbiasa memuji-muji daerah yang dikunjunginya, Agustinus menyampaikan dengan cara berbeda. Ini mengingatkan saya pada buku karangan Eric Weiner, “The Geography of Bliss”, kisah penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara yang paling membahagiakan.

Jika biasanya, seorang akan menulis dari sisi positif, kedua penulis ini justru menonjolkan dari hal negatif yang kerap diabaikan oleh seorang pejalan. Terkadang saya berpikir ini kurang etis menceritakan sesuatu yang jelek. Namun, jika dipikir-pikir lagi, ini menarik. Sebuah kejujuran terhadap pembaca karena setiap tulisan yang berhak menilai adalah pembaca. Dan, setiap penulis punya gayanya masing-masing begitupula setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.

Secara keseluruhan, saya menikmati kisah di buku ini. Tidak sekedar traveling tapi juga penuh filosofi hidup. Banyak pesan yang bisa diambil khususnya jika kita pecinta perjalanan. Buku ini membuat saya iri, bagaimana penulis mampu melihat yang traveler lain tak lihat, menyelami kehidupan lokal bahkan dari sisi ter-religius sekalipun.

Selain perjalanannya, di buku ini juga diceritakan tentang seorang ibu. Kisah ibunda sang penulis yang tetap tegar dalam menjalani hidup. Ibu, tempat kemana ia berpulang dari perjalanannya.

“Orang bilang, tak ada buku yang tanpa faktor kebetulan. Aku bilang tak ada cerita perjalanan yang tanpa kebetulan.” (Hal. 227)

Diposkan pada Book Review

[REVIEW BOOK] Humaira; Ibunda Orang Beriman

CUOPFLoUYAE6W-I.jpg

Penulis: Khamran Pasha
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Zaman
Tahun terbit: 2010
Cetakan ke: -1
ISBN: 978-979-024-200-5

BLURB
Empat belas abad silam, di tengah gurun pasir Arabia, seorang nabi diturunkan: Muhammad sang terpuji.

Saat risalah pencerahannya menyapu seluruh Jazirah Arab dan menyatukan suku-suku yang semula bertikai, istri kesayangannya, Aisyah binti Abu Bakar, yang berjuluk Humaira—yang berwajah kemerahan—mengisahkan kesaksiannya atas perubahan Muhammad dari seorang nabi menjadi salah satu negarawan paling berpengaruh di dunia.

Namun, tak lama setelah momen puncak kemenangan sang Nabi, beliau jatuh sakit dan wafat dalam pelukan sang Humaira. Sebagai seorang janda muda yang dihormati, Aisyah menemukan dirinya berada di pusat imperium muslim yang baru terbentuk dan kemudian beralih peran sebagai seorang guru bangsa, pemimpin politik, dan bahkan panglima perang.

Ditulis dalam prosa yang indah dan berdasarkan riset teliti, novel luar biasa ini adalah kisah menyentuh tentang pergulatan hidup dan cinta seorang perempuan istimewa yang ditakdirkan untuk membantu mengantarkan Islam ke pentas dunia.

REVIEW
Humaira, Ibunda Orang Beriman, ini adalah kedua kali saya membaca buku ini setelah membelinya tahun 2011 lalu. Sebuah buku yang menceritakan tentang Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW setelah Khadijah. Gadis yang dinikahkan pada usia sembilan tahun, yang kemudian dijuluki Humaira.
“Dan kau akan menjadi Humairah-ku. Si kecil dengan Wajah Bersemu Merah.” (Hal. 131).

Aisyah merupakan gadis kecil rupawan, lincah, dengan otak cemerlang, dan berdaya ingat tinggi. Begitulah penulis menggambarkannya dalam buku ini. Di usia belianya, Aisyah telah ditunjuk menjadi Ibunda Kaum Mukminin. Dengan sematan tersebut tentulah tugasnya mendampingi Rasulullah dalam keseharian termasuk saat perang.

Aisyah lahir di saat Islam baru-baru mulai lahir, ayahnya Abu Bakar Ash Shidiq pun termasuk sahabat yang pertama masuk Islam di Mekah. Gadis kecil ini menyaksikan Islam tumbuh dan mulai tersebar dari sebuah gurun. Islam yang mulanya mendapat pertentangan keras dari pemuka Quraisy di Mekah hingga mengharuskan mereka hijrah ke Madinah.

Aisyah remaja menjadi saksi penyebaran Islam yang damai namun juga tegas. Hingga akhirnya sebuah firman Tuhan tentang perang turun. Pertumpahan darah menjadi opsi terakhir dalam membela agama ini. Beliau pun menemani sang suami dalam perang pertama di Bukit Uhud. Perang dalam kondisi tidak seimbang antara musuh dan pasukan Muslim yang kecil. Begitu pula, dalam perang-perang berikutnya. Sampai ia bisa menjadi ahli strategi militer.

Selain menjadi pendamping seorang negarawan, Aisyah juga harus menghadapi kenyataan sebagai takdirnya sebagai manusia biasa. Sebagai wanita, kesetiaan Beliau pun diuji saat di sisi Nabi SAW mulai hadir perempuan-perempuan lain dalam rumah tangganya.

Istri kesayangan Nabi ini bahkan hampir terkena fitnah jika pertolongan Alloh SWT tidak datang melalui firmannya. Sebuah tragedi yang membekas dalam jiwanya dan merubah kehidupannya kelak terutama terhadap hubungannya dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu suaminya.

Hingga saat Rasulullah SAW wafat, tugasnya belum selesai. Putri Abu Bakar menjadi salahsatu perapal hadits. Ingatannya yang kuat tentang perkataan Nabi, perilaku, bahkan tanggapan Nabi akan suatu hal dihaturkannya kembali. Namun, kedamaian hatinya ini seakan tercoreng saat istri kesayangan semasa hidupnya Nabi ini terlibat dalam perang Unta dengan Ali.

Membaca novel ini, saya seakan menyaksikan sendiri sejarah awal Islam mulai menyebar. Khamran Pasha menuliskannya dengan detail baik dari penggambaran karakter tokoh hingga perilaku keseharian. Ia sendiri menyebut novel ini adalah fiksi dengan berlatar belakang sejarah.

Novel ini juga mengungkapkan peran perempuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan bisa menjadi ahli strategi militer, melalui pemikirannya perempuan bisa mempengaruhi suatu bangsa. Bahkan Aisyah menyatakan bahwa Khadijahlah yang menjadi pusat Islam sepanjang waktu. Sebab, tanpa keyakinan Khadijah yang mempercayai turunnya wahyu kepada suaminya, Islam tak akan pernah menyala.

Selain itu, untuk saya pribadi, adanya novel ini lebih membuat saya memahami sejarah penyebaran Islam daripada saat mengikuti pelajaran tarikh (sejarah Islam) saat di bangku sekolah. Mungkin terkait penyampaian penulis yang juga mantan jurnalis. Novel ini ringan, runtut sehingga mudah dibaca dan dimengerti.

Kendati begitu, sebagaimana diakui penulis, novel ini juga terdapat beberapa hal yang kontroversial. Saya sendiri berpikir apakah boleh menggambarkan sosok (wajah) Nabi Muhammad SAW termasuk saat berhubungan intim mengingat selama ini sang junjungan kerap diwujudkan dalam cahaya saat saya menonton film.

Namun, terlepas dari semua itu, novel ini sangat memukau buat saya. Mencoba meneladani kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dari sudut pandang Aisyah, sudut pandang yang digunakan penulis.

@Rina_Darma13

Diposkan pada Book Review

Review Book: Istanbul; Kenangan Sebuah Kota by Orhan Pamuk (pemenang nobel sastra 2006)

images

Judul : Istanbul, kenangan sebuah kota
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, edisi baru April 2015
Tebal : 561 hlm

Novel memoar “Istanbul, kenangan sebuah kota” karya Orhan Pamuk dibuka oleh pemandangan Bosphorus dengan kilau airnya. Bosphorus nampaknya memiliki arti tersendiri bagi penulis. Bosphorus yang hampir selalu dibahas pada setiap babnya. Deskripsinya membuat saya bisa membayangkan setiap detailnya. Seakan saya menyaksikan keeksotisannya dan segala misterinya dengan mata kepala sendiri.

“Bosphorus adalah kuncinya, jantung geopolitis dunia, dan inilah sebabnya semua negara di dunia dan pasukan militernya, terutama sekali orang-orang Rusia, ingin menguasai Bosphorus kami yang indah.” Hal 306.

Bukan Haghia Sophia yang sudah melekat tentang Turki khususnya Istanbul. Melainkan dari Bosphorus, Orhan mulai menggambarkan kemurungan kotanya. Reruntuhan Byzantium, Konstatinopel hingga menjelma Istanbul. Ibarat sebuah kota yang galau termasuk dalam peringatan 29 Mei 1453. Pembaca jadi mengetahui jika Orang Barat menyebut tanggal tersebut sebagai Kejatuhan Konstatinopel sementara Orang Timur menamainya dengan Penaklukan Istanbul. Suatu hal yang tidak banyak diketahui orang.

Membaca novel ini saya berhati-hati. Berbeda ketika saya membaca novel pada umumnya, biasanya saya menggunakan teknik membaca cepat. Pada novel peraih nobel sastra ini, seolah-olah saya tidak ingin ketinggalan memori sang penulis. Dari masa kecilnya, orang tuanya, kisah cinta pertamanya, masa pendidikannya degan jurusan arsitektur, dan tentunya sejarah Istanbul.

Hal yang mengganjal dalam proses membaca di antaranya kalimatnya yang panjang-panjang dan karena terjemahan jadi harus membaca secara utuh. Saya berpikir novel ini kekurangan keindahan bahasa, seperti halnya novel terjemahan lainnya. Kadang ada kalimat yang kurang bisa dimengerti.

Penulis kadang membuat kita berpikir dalam menyelami kehidupannya. Seolah-olah kita mengenalnya. Novelnya ditulis tidak dalam kronologis umur Orhan Pamuk. Meloncat-loncat. Kemudian, keterangan gambar tidak ditulis di bawahnya, tapi terdapat di bagian belakang buku. Jadi, untuk mengetahui foto itu karya siapa harus melihat di bagian tentang foto-foto. Menurut saya tidak efektif waktu. Satu lagi yang mengusik mata, terkait pemenggalan kata mengena-skan di halaman 316.

Overall, isinya sangat bagus. Kata saya, layak sebagai peraih nobel. Dari sini saya bisa mengetahui sejarah Turki yang kehilangan identitasnya. Apakah menjadi negara barat atau timur yang berefek pada warganya. Saya jadi ingat pada tokoh Fatma di novel “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabila Rais. Imigran Turki di Austria.

Saya juga mengenal penulis-penulis Turki yang menginspirasi Orhan termasuk penulis barat yang pernah mengunjungi Istanbul. Di antaranya Theopile Gautier, Yahya Kemal, dan Tanpynar. Penulis yang melukiskan pemandangan ke dalam kata-kata. Lalu, Ahmet Rasim, penulis besar Istanbul yang mempunyai ciri khas penggambaran detail sehari-hari dalam ceritanya.

Novel yang menggugah semangat saya menulis. Tentunya juga menjadikan Istanbul masuk waiting list daftar negara yang harus dikunjungi. Amiinn… 🙂

Paling suka dengan kalimat penutup novelnya. “Aku tidak ingin menjadi pelukis,” ujarku. “Aku akan menjadi penulis.” -hal 550.

@Rina_Darma13